Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 - Orang yang Selalu Datang Tepat Waktu
Rumah keluarga Prameswari kembali sunyi setelah mobil Dimas menghilang di balik gerbang.
Tak seorang pun langsung berbicara.
Pram masih memegang map kontrak itu. Jemarinya bergetar pelan.
"Ayah..."
Alea mendekat.
Pram menggeleng pelan, lalu mengembuskan napas panjang.
"Ayah benar-benar lengah."
"Ayah terlalu fokus mencari jalan keluar sampai tidak teliti membaca setiap pasalnya."
"Kalau tadi bukan Raka..."
Ia tak melanjutkan kalimatnya.
Semua orang tahu apa maksudnya.
Mereka hampir kehilangan perusahaan sekaligus rumah yang telah menjadi tempat berteduh keluarga itu selama bertahun-tahun.
Raka memecah keheningan.
"Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Orang yang sedang terdesak memang lebih mudah membuat keputusan terburu-buru."
Pram menatap menantunya beberapa saat.
"Aku berutang budi padamu."
Raka tersenyum kecil.
"Bapak tidak berutang apa pun."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun justru kesederhanaannya membuat Pram semakin menghormati pria itu.
---
Menjelang sore, Alea membantu ibunya membereskan ruang makan.
Biasanya rumah ini dipenuhi suara tawa para karyawan yang keluar masuk membawa dokumen.
Kini suasananya terasa lengang.
"Alea."
Ibunya membuka percakapan sambil melipat taplak meja.
"Iya, Ma?"
"Kamu bahagia?"
Pertanyaan itu membuat Alea terdiam.
Bahagia?
Ia bahkan belum sempat memikirkan perasaannya sendiri.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Ia kehilangan Arga.
Menikah dengan pria asing.
Lalu melihat keluarganya hampir kehilangan segalanya.
"Aku... belum tahu."
Ibunya mengangguk pelan.
"Ibu hanya takut kamu memendam semuanya sendirian."
Alea menggenggam tangan ibunya.
"Aku baik-baik saja."
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu dirinya sedang berbohong.
---
Sementara itu, di halaman belakang rumah...
Raka sedang menerima telepon.
"Aku sudah membaca laporan terbaru."
Suara di seberang terdengar berat.
"Pergerakan Dimas semakin agresif."
"Itu sudah kuduga."
"Lalu kapan kau mulai bergerak?"
Raka memandang langit yang mulai memerah.
"Belum."
"Kau menunggu apa?"
"Hingga semua kepingan gambarnya lengkap."
"Lalu kalau keluarga Alea lebih dulu hancur?"
Raka memejamkan mata sejenak.
"Itu tidak akan terjadi."
"Kau terdengar terlalu yakin."
"Bukan yakin."
Raka menjawab pelan.
"Aku akan memastikan sendiri."
Telepon pun berakhir.
Tanpa ia sadari, dari balik jendela dapur, Alea melihatnya berbicara dengan wajah yang jauh lebih serius daripada biasanya.
Lagi-lagi...
Ada kehidupan lain yang tidak pernah ia tunjukkan.
---
Menjelang malam mereka berpamitan.
Di dalam mobil, Alea memandang jalanan yang dipenuhi lampu kendaraan.
"Terima kasih."
Raka melirik sekilas.
"Untuk apa?"
"Sudah membantu ayahku."
"Itu hal kecil."
"Buat keluargaku, itu bukan hal kecil."
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Kemudian Alea tersenyum tipis.
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Sejak kita bertemu..."
"Kamu selalu muncul tepat saat aku sedang benar-benar membutuhkan bantuan."
Raka menggenggam setir sedikit lebih erat.
"Itu kebetulan."
Alea menggeleng pelan.
"Aku tidak terlalu percaya pada kebetulan."
Kalimat itu membuat dada Raka terasa sesak.
Karena perempuan di sampingnya benar.
Pertemuan mereka memang bukan kebetulan.
Ia sudah mengenal Alea jauh sebelum hari pernikahan itu.
Dan semua yang terjadi hari ini...
Adalah bagian dari keputusan yang ia ambil bertahun-tahun lalu.
---
Sesampainya di rumah, Alea langsung naik ke kamar untuk mandi.
Sementara Raka masuk ke ruang kerja.
Ia membuka laci meja yang terkunci.
Di dalamnya terdapat sebuah map cokelat tua.
Perlahan ia mengeluarkan isinya.
Beberapa foto lama.
Potongan artikel koran.
Dan satu surat dengan tulisan tangan yang mulai pudar.
Di sudut kanan surat itu tertulis sebuah nama.
**"Untuk Raka..."**
Ia belum sempat membukanya ketika ponselnya berdering.
Nama di layar membuat sorot matanya berubah tajam.
**Komisaris Adrian.**
Raka segera mengangkat telepon.
"Ada perkembangan."
Suara Adrian terdengar tergesa.
"Seseorang membobol gudang arsip malam ini."
"Dokumen yang berkaitan dengan kasus Prameswari hilang."
Raka langsung berdiri.
"Siapa pelakunya?"
"Belum diketahui."
"Tapi ada satu hal yang pasti."
"Apa?"
"Mereka sudah tahu penyelidikan ini belum dihentikan."
Raka menutup mata sejenak.
Artinya...
Musuh mereka mulai bergerak lebih cepat.
Dan itu berarti...
Alea berada dalam bahaya yang lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Di lantai atas, Alea yang baru keluar dari kamar mandi melihat lampu ruang kerja masih menyala.
Ia tersenyum kecil.
"Pria itu benar-benar gila kerja."
Ia sama sekali tidak tahu...
Bahwa pria yang kini menjadi suaminya sedang bersiap menghadapi perang yang bisa mengubah hidup mereka berdua.
**Bersambung...**