Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Api di Tengah Malam
"Reynard Sutanto."
Nama itu tinggal di kepala Meilan lebih lama dari yang ia akui.
Namun hidup tidak memberinya waktu untuk melamun. Tiga hari setelah mediasi, Patrick mengajaknya ke sebuah fabric workshop di pinggiran BSD City. Bangunan itu dulu dipakai untuk produksi kain kecil-kecilan, tetapi mesin tuanya sudah lama berhenti. Debu menempel pada meja potong, gulungan kain kusam menumpuk di sudut.
Meilan justru melihat peluang.
"Batik tidak harus terlihat tua," katanya sambil menggelar kain di meja. "Motif tradisional bisa dibuat lebih ringan. Warna tidak harus berat. Perempuan muda mau sesuatu yang bisa dipakai ke kantor, acara keluarga, bahkan makan malam."
Patrick mencatat. "Kamu bicara seperti pernah tinggal di kepala pelanggan."
"Aku pernah hidup dari membaca keinginan orang."
Ia mengambil kapur kain dan membuat tiga garis cepat di atas meja. Garis pertama untuk potongan kerja yang rapi, garis kedua untuk outer yang bisa dipakai di atas kaus polos, garis ketiga untuk kebaya modern yang tidak membuat pemakainya terlihat seperti sedang meminjam baju ibunya.
"Kita butuh cerita untuk tiap kain," lanjutnya. "Bukan cerita panjang. Cukup satu rasa. Embun. Mekar. Serasi. Pelanggan membeli baju, tapi yang mereka bawa pulang adalah bayangan diri mereka sendiri."
Patrick berhenti mencatat. "Aku mulai takut padamu."
"Bagus. Rasa takut membuat investor tidak ceroboh."
Dedi yang sedang mengangkat gulungan kain hampir tersandung. Ia tidak paham semua pembicaraan itu, tetapi ia paham bahwa perempuan yang dulu sering diremehkan di Griya Asri kini bisa membuat Patrick Pangesto diam dan mendengar.
Meilan menyentuh salah satu gulungan kain kasar. Workshop itu belum layak. Ventilasinya buruk, sistem listriknya tua, dan pintu belakangnya terlalu mudah dibuka orang luar. Naluri lamanya mencatat semua kelemahan itu sebelum matanya menikmati peluang bisnisnya.
"Sebelum produksi, kabel harus diganti," katanya. "Pintu belakang dipasang kunci ganda. Kamera kecil di sudut sini dan sini."
Patrick mengernyit. "Untuk toko kain?"
"Untuk apa pun yang mulai menghasilkan uang."
Di halaman workshop, anak-anak bermain di bawah pengawasan Sari dan Dedi. Yan duduk tenang menyusun balok kayu. Bobo membaca kartu huruf yang dibeli Meilan di toko murah. Lala mengejar kupu-kupu kecil sampai berhenti di pagar samping.
Di balik pagar itu, seorang anak laki-laki bertubuh bulat sedang berdiri dengan tangan di pinggang.
"Hei," katanya. "Itu kupu-kupu dari halaman rumahku."
Lala berkedip. "Kupu-kupu bisa punya rumah?"
Anak itu tampak berpikir. "Kalau hinggap di bungaku, berarti punyaku."
Yan langsung berdiri. "Kupu-kupu bukan barang."
Anak bulat itu menatap Yan, lalu Lala. Wajah galaknya melembut saat melihat Lala.
"Namaku Hugo Hartono."
"Lala," jawab Lala.
"Kamu mau lihat ikan di kolamku?"
Yan maju setengah langkah. "Tidak."
Hugo melotot. "Aku tanya Lala, bukan kamu."
Bobo menutup kartu hurufnya. "Lala tidak pergi tanpa Mama."
Hugo tampak tidak biasa ditolak oleh tiga anak sekaligus. Namun bukannya marah, ia malah makin penasaran. Ia memanjat pagar kecil dengan susah payah, perutnya membuat gerakannya lucu. Lala tertawa pelan.
"Kamu lucu."
Hugo membeku, lalu wajahnya merah. "Aku tidak lucu. Aku gagah."
Yan mendengus sangat pelan.
Meilan melihat dari pintu workshop dan hampir tersenyum. Untuk beberapa menit, dunia terasa seperti bisa menjadi normal.
Malam itu mereka menginap di rumah kecil di belakang workshop karena Patrick ingin mencoba pewarnaan kain sampai larut. Hugo beberapa kali muncul di pagar, mengirim kue dari rumahnya untuk Lala, lalu pura-pura berkata itu karena "kelebihan makanan".
Yan menolak makan kue itu.
Lala membagi dua dan tetap menyodorkan satu kepadanya. "Ko Yan jangan marah. Kue tidak salah."
Yan akhirnya memakannya dengan wajah kaku.
Sekitar tengah malam, ledakan memecah udara.
Jendela bergetar. Lala menjerit. Bobo langsung bangun dan menarik adiknya ke sudut seperti yang pernah Meilan ajarkan.
Meilan sudah berdiri.
Dari luar, langit berubah merah.
Rumah besar di sebelah workshop terbakar.
"Rumah Hugo!" teriak Lala.
Orang-orang berlari. Satpam berteriak minta air. Api menjilat lantai dua, terlalu cepat untuk kebakaran biasa. Bau bensin terbawa angin.
Meilan mengambil selimut, menyiramnya dengan air, lalu membungkus tubuhnya.
Patrick menahan lengannya. "Mei, jangan gila. Api sudah terlalu besar!"
"Hugo di dalam."
"Pemadam sedang dihubungi."
"Dia tidak punya waktu menunggu."
Bobo berdiri di pintu, wajahnya pucat. "Mama..."
Meilan menoleh. "Jaga Lala. Jangan mendekat."
Bobo menggenggam tangan Lala kuat-kuat. "Bobo jaga."
Meilan berlari masuk.
Panas menghantam wajahnya seperti dinding. Asap membuat mata perih. Ia merangkak rendah, menutup hidung dengan kain basah. Di ruang depan, seorang perempuan tergeletak, sudah tidak bergerak. Meilan memeriksa cepat. Tidak ada denyut.
Ia menelan rasa pahit dan terus masuk.
Di lantai, ada jejak cairan gelap yang terlalu lurus untuk tumpahan biasa. Nyala api merayap mengikuti garis itu, seperti seseorang sengaja menggambar jalan untuk maut. Meilan tidak punya waktu memotret, tetapi matanya menyimpan bentuknya.
Sebuah bingkai foto jatuh di dekat kakinya. Di dalam foto itu Hugo berdiri di antara sepasang suami istri, wajah bulatnya dipaksa tersenyum oleh tangan ibunya yang mencubit pipinya. Kaca bingkai pecah, tetapi bagian wajah Hugo masih utuh.
Meilan menggertakkan gigi.
Orang dewasa boleh berperang karena uang, dendam, warisan, atau bisnis. Tetapi menyeret anak kecil ke dalam api adalah batas yang tidak akan ia maafkan.
"Hugo!"
Batuk kecil terdengar dari arah bawah tangga.
Meilan mengikuti suara itu. Hugo terjebak di balik lemari yang jatuh. Wajahnya hitam oleh asap, matanya setengah terbuka.
"Lala..." gumamnya.
"Diam. Simpan napasmu."
Meilan mendorong lemari. Terlalu berat. Ia melihat struktur kayu di samping, mengambil tongkat besi dekorasi yang jatuh, menggunakannya sebagai tuas. Otot lengannya menegang. Lemari bergeser sedikit, cukup untuk menarik tubuh Hugo keluar.
Balok dari atas jatuh.
Meilan menutup tubuh Hugo dengan tubuhnya sendiri. Panas menyambar punggungnya. Rasa sakit menyala, tetapi ia tidak berhenti.
Di luar, Lala menangis memanggil nama Hugo. Yan memegangi bahunya, wajahnya putih.
Meilan keluar dari asap sambil menggendong Hugo.
Semua orang berseru.
Sari berlari membawa handuk basah. Patrick memanggil ambulans. Dedi muntah di pinggir jalan karena takut.
Meilan meletakkan Hugo di tanah dan memeriksa napasnya. Lemah, tetapi ada.
"Air. Jangan terlalu banyak. Basahi bibirnya."
Ia membuka kancing piyama Hugo yang hangus di bagian dada, memastikan tidak ada luka tusuk atau patah tulang besar. Napas anak itu berbunyi kasar. Asap sudah masuk terlalu banyak. Meilan menepuk pipinya pelan.
"Hugo. Dengarkan aku. Batuk kalau bisa."
Hugo tidak menjawab.
Meilan menekan titik di bawah tulang rusuknya dengan hati-hati. Tubuh kecil itu tersentak, lalu batuk keras. Lendir hitam keluar dari mulutnya. Sari terisak sambil menahan Lala agar tidak menerjang.
"Bagus," kata Meilan, suaranya rendah tetapi tegas. "Sekali lagi."
Hugo batuk lagi. Kali ini napasnya sedikit lebih terbuka.
Patrick menatap punggung Meilan. Kain basah di sana sudah robek dan kulit di bawahnya merah mengerikan.
"Punggungmu..."
"Nanti."
"Mei!"
"Kalau aku pingsan, baru teriak."
Lala merangkak mendekat, tetapi Bobo menahannya. "Mama bilang jangan dekat."
Hugo batuk keras. Matanya terbuka sedikit. Ketika melihat Lala, ia mencoba mengangkat tangan.
"Jangan nangis," bisiknya, nyaris tak terdengar.
Lala malah menangis lebih keras.
Tak lama kemudian, Nelson datang bersama petugas. Wajah tenangnya retak ketika melihat rumah yang hampir habis terbakar.
"Ada korban selamat?"
Meilan menatap Hugo yang sudah dibungkus selimut di belakang Patrick. Nalurinya berteriak.
Jika ini pembakaran terencana, anak yang selamat adalah target berikutnya.
Hugo tiba-tiba membuka mata sedikit. Bibirnya bergerak, hampir tanpa suara.
"Om... hitam..."
Meilan menunduk seolah membetulkan selimutnya. "Siapa?"
Namun Hugo sudah kembali lemas. Kata pendek itu tenggelam bersama batuknya. Meilan melihat ke arah jalan. Di antara warga yang berkerumun, beberapa orang sibuk merekam, beberapa menangis, beberapa hanya menonton dengan mata kosong. Seorang pria berjaket hitam berdiri di ujung gang, helm masih menutupi wajahnya meski ia tidak berada di atas motor.
Begitu pandangan Meilan menempel padanya, pria itu mundur.
Ia tidak mengejar. Lala, Bobo, Yan, dan Hugo ada di sini. Prioritasnya bukan menangkap bayangan, melainkan menjaga yang masih bernapas.
"Tidak," jawab Meilan.
Patrick menoleh cepat, tetapi tidak membantah.
Nelson menatapnya sejenak. Ia mungkin menangkap sesuatu, tetapi memilih melihat petugas yang mengangkat korban.
"Kita perlu data semua penghuni."
"Aku akan bantu," kata Meilan.
Di balik mobil, Hugo menggigil dalam pelukan Sari. Lala memegang ujung selimutnya, wajahnya penuh air mata. Yan berdiri di sisi lain, menatap api dengan ekspresi yang terlalu diam untuk anak seusianya.
Bobo menarik lengan Meilan.
"Mama bohong?"
Meilan berjongkok. "Untuk melindungi Hugo."
Bobo memandang rumah terbakar itu, lalu Hugo. Ia mengangguk pelan.
"Orang jahat akan cari dia."
"Iya."
"Kalau begitu Hugo tinggal di rumah kita."
Meilan mengusap kepala Bobo. Keputusan itu seharusnya dibuat orang dewasa, tetapi malam itu, anak kecilnya melihat inti persoalan lebih cepat dari banyak orang.
Ia menatap api yang masih menyala.
Siapa pun yang membakar rumah Hartono, mereka tidak akan berhenti karena gagal membunuh seorang anak.
Dan mulai malam ini, Hugo berada di bawah perlindungannya sepenuhnya.