NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Sebastian, Datang Lagi Bawa Buah

Dua hari kemudian, dokter mengizinkan Vivi kembali berlatih ringan.

Pukul sembilan pagi, ia berdiri di rumah latihan dengan pakaian hitam sederhana dan perban kecil masih menutup goresan di lutut. Cermin biasa memantulkan tubuhnya dari depan. Tidak ada ruang gelap di balik pantulan itu lagi.

Vivi menarik napas, lalu memulai pemanasan.

Baru sepuluh menit musik berjalan, pintu terbuka.

Sebastian masuk membawa piring putih. Di atasnya terdapat irisan apel berbentuk kelinci, lengkap dengan telinga kecil dari kulit merah.

Vivi menurunkan kaki dari barre. “Kamu membuat itu?”

“Tidak.”

“Syukurlah. Aku khawatir dapur kita kehilangan pisau karena kamu memotong jari sendiri.”

Sebastian menatap perban di tangan kanannya. “Tanganku masih berfungsi.”

“Dokter bilang jangan dipakai memukul apa pun.”

“Apel bukan orang.”

Ia meletakkan piring di meja kecil, lalu duduk di kursi sudut ruangan. Kursi itu tidak ada kemarin. Sandarannya tinggi, posisinya cukup jauh dari lantai latihan, tetapi tepat menghadap cermin.

“Kamu tidak bekerja?” tanya Vivi.

Sebastian membuka tablet. “Aku bekerja di sini.”

“Kenapa?”

“Kalau ada bahaya.”

Vivi memandang dua pengawal yang berjaga di luar pintu, sensor baru di jendela, dan kamera keamanan yang hanya mengarah ke lorong.

“Bahaya apa? Apel menyerang?”

“Bisa saja.”

Alasan itu begitu buruk sehingga Vivi tidak punya tenaga membantah. Ia kembali ke barre dan memulai tendu.

Selama dua puluh menit, Sebastian benar-benar membaca dokumen. Namun setiap kali Vivi berputar, tatapan pria itu sudah berada padanya sebelum ia sempat melihat ke sudut.

Setelah rangkaian pertama selesai, Vivi mengambil handuk. Pandangannya jatuh pada apel kelinci.

Ingatan tentang bubuk putih membuat perutnya mengencang. Piring itu datang dari dapur rumah sendiri. Pak Yanto mengawasi seluruh staf. Sebastian tidak mungkin berniat meracuninya.

Tetapi tubuh Vivi lebih cepat daripada logika.

Ia mengambil satu potong apel dan mengulurkannya. “Coba.”

Sebastian tidak bertanya. Ia membungkuk dan menggigit apel langsung dari tangan Vivi. Bibirnya menyapu ujung jari perempuan itu.

Vivi tersentak. “Kamu bisa mengambilnya dengan tangan.”

“Tanganku sakit.”

“Yang kiri sehat.”

“Terlambat.”

Ia mengunyah apel dengan tenang. Vivi menunggu beberapa detik, lalu mengambil potongan lain untuk dirinya sendiri.

Tidak ada rasa aneh. Hanya manis dan sedikit asam.

Sebastian memperhatikannya menelan. “Kamu pikir ada sesuatu di buah itu?”

Vivi menurunkan pandangan. “Aku tahu seharusnya aman.”

“Mulai sekarang, semua yang masuk ke ruangan ini diperiksa pengawal perempuan. Kamu boleh memintaku makan lebih dulu.”

Tidak ada ejekan dalam jawabannya. Vivi merasakan simpul di dadanya mengendur.

“Baik,” katanya. “Tapi lain kali jangan menggigit jariku.”

“Aku menggigit apel.”

“Bibirmu menyentuh jariku.”

“Itu kecelakaan.”

Wajahnya terlalu datar untuk dipercaya.

***

Hari berikutnya, piring yang datang berisi stroberi berbentuk hati.

“Terlalu jelas,” komentar Vivi.

“Bentuk aslinya memang begitu.”

“Tidak setelah dapur memotongnya satu per satu.”

Sebastian duduk di kursi sudut dan membuka laptop, mengabaikan tuduhan tersebut.

Pada hari ketiga, irisan kiwi disusun seperti bunga. Hari keempat, puding mangga dibuat dalam cetakan kucing. Hari kelima, Sebastian datang dengan susu kedelai hangat dan pisang karena Regina menilai Vivi kurang makan sebelum latihan.

Setiap kali, ia memakai alasan yang sama.

“Untuk memastikan tidak ada bahaya.”

Vivi mulai menyebut kursi sudut itu pos pengawasan buah. Sebastian tidak pernah membantah.

Pengawal perempuan menjalankan pemeriksaan tanpa membuat ruang latihan terasa seperti pos militer. Segel minuman difoto sebelum dibuka, baki dapur dicatat waktu masuknya, dan tidak ada staf yang dibiarkan masuk sendirian. Setelah tiga hari tanpa gangguan, Vivi mulai bisa makan tanpa memandangi setiap permukaan makanan terlalu lama.

Suatu pagi, Sebastian datang dengan dua potong roti kukus isi ayam. Ia meletakkan keduanya di piring Vivi lalu duduk dengan kopi hitamnya sendiri.

“Kamu belum sarapan?” tanya Vivi.

“Sudah.”

Perut Sebastian berbunyi kecil pada saat yang sangat tidak membantu.

Vivi menahan tawa. “Rupanya perutmu tidak menerima laporan yang sama.”

“Rapat dimulai terlalu pagi.”

Ia mengambil satu roti dan mengulurkannya. Sebastian hendak menggigit langsung dari tangannya lagi, tetapi Vivi cepat-cepat menarik makanan itu.

“Tangan kiri.”

Pria itu akhirnya menerima roti dengan tangan sehat. Vivi kembali ke lantai latihan, tetapi diam-diam memperhatikan sampai ia menghabiskannya.

Keesokan harinya, ia meminta dapur menyiapkan porsi kedua tanpa memberi tahu Sebastian.

Ketika pria itu melihat dua piring di meja, tatapannya berhenti pada Vivi.

“Jangan salah paham,” kata Vivi cepat. “Aku tidak mau pengawas buah pingsan karena lapar.”

“Aku tidak salah paham.”

Kelembutan tipis di matanya mengatakan sebaliknya.

Tubuh Vivi pulih lebih cepat daripada perkiraan. Daya tahannya meningkat, memar di siku memudar, dan rangkaian Angsa di Bawah Cahaya Bulan semakin utuh. Pada minggu kedua, ia mampu menyelesaikan koreografi tanpa kehilangan garis pada putaran terakhir.

Kehadiran Sebastian juga berubah dari gangguan menjadi bagian dari ruangan. Tatapannya masih membuat Vivi malu ketika rok latihannya terangkat saat berputar, tetapi ia tidak lagi salah langkah karenanya.

Ia bahkan mulai menebak isi piring sebelum pintu terbuka.

***

Regina datang pada suatu Selasa untuk koreksi penuh.

Sebastian mengantar buah pir yang diiris tipis, menyapa Regina dengan sopan, lalu keluar.

Vivi menatap pintu yang sudah tertutup.

“Dia tidak duduk di sana?” tanyanya.

Regina mengangkat alis. “Kamu ingin suamimu menonton saya membentakmu selama dua jam?”

“Tidak. Aku cuma bertanya.”

“Kalau begitu, fokus. Bahumu naik lagi.”

Vivi berlatih di bawah koreksi tanpa jeda. Namun setiap kali musik berhenti, matanya tetap bergerak ke kursi kosong di sudut.

Setelah latihan, Regina melihat piring buah yang tinggal setengah. “Dia menyiapkan semua ini?”

“Dapur yang membuat. Dia hanya membawanya.”

“Setiap hari?”

“Katanya untuk memastikan tidak ada bahaya.”

Regina tersenyum seolah memahami sesuatu yang tidak ingin dipahami Vivi. “Tentu.”

***

Hari-hari berikutnya mengalir menuju hitung mundur festival.

Sembilan hari sebelum pertunjukan, Vivi sudah memulai pemanasan pukul delapan. Delapan lewat sepuluh, kursi sudut masih kosong. Tidak ada suara langkah di lorong.

Ia melakukan plié pertama.

Matanya melihat pintu.

Pada tendu kelima, ia kembali menoleh.

Pukul delapan dua puluh, Sebastian belum datang. Vivi menghentikan musik dan memeriksa ponsel. Tidak ada pesan.

Mungkin rapat. Mungkin panggilan mendadak. Mungkin hari ini dapur tidak membuat buah berbentuk aneh.

Mengapa ia peduli?

Vivi meletakkan ponsel, memulai musik lagi, lalu salah menginjak pada hitungan ketiga karena mendengar langkah yang ternyata hanya milik Pak Yanto.

Ia menatap kursi kosong sekali lagi.

Pintu tetap tertutup. Kursi itu tetap kosong.

Kesadaran itu datang terlambat dan memalukan.

“Gawat,” gumamnya. “Aku mulai menunggunya?”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!