"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia benar ibu kandung ku
"Baiklah kalau begitu"
Tristan kembali duduk dan membuka amplop kuning yang sejak tadi masih belum sempat terbuka olehnya.
Sementara Adeline tidak sabar dan cukup deg-degan melihat Tristan yang menarik beberapa kertas dalam amplop kuning itu.Ia berharap kalau kali ini tidak salah.
"Melanie Adidaus,berusia 48 tahun,tercatat tinggal di negara X kota A sejak 20 tahun yang lalu"
Adeline masih mendengarkan,namun Tristan sudah berhenti dan menyimpan kembali kertas yang Ia barusan baca,dan mengambil sebuah kertas lain.
"Hanya itu?,apa tidak ada informasi lain tentang bagaimana dia selama ini hidup di sana?,atau dia sudah memiliki keluarga atau apa?"
Tristan hanya tersenyum dan menggeleng,"Coba lihat dulu,apakah dia benar ibu kandung mu?",Ia kemudian memberikan sebuah foto ke depan Adeline yang sejak tadi terus menatapnya begitu lekat, dengan tatapan penuh harap.
"Kau mendapatkan fotonya?",Ia bertanya dan langsung melihat foto itu.
"Itu di ambil secara diam-diam,dan itu di ambil baru kemarin siang di negara X, kemungkinan besar wajahnya pasti berubah setelah 20 tahun yang lalu,kau bisa mengenal nya lagi?"
Namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut Adeline,sebaliknya saat Tristan mengangkat kembali pandangan nya hanya air mata yang mengalir di wajah wanita itu dan Ia tau semua jawabannya.
Tak ada suara tangis,hanya air mata yang mengalir namun menjawab semuanya, yang membuat Tristan tak mengatakan apapun hanya diam,membiarkan keheningan dengan suara samar Isak tangis yang tertahan.
"Aku akan selalu mengenal nya, seperti apapun dia berubah aku bisa mengenalinya.Dia adalah ibu ku yang ku lihat untuk terakhir kalinya 20 tahun yang lalu"
Adeline tak lagi bisa menahan tangis dalam diam,hingga Isak tangis yang masih sedikit tertahan akhirnya keluar dengan setiap ucapan terbata,hingga pada akhirnya tak lagi ada ucapan apapun yang keluar dari dalam mulutnya hanya Isak tangis dan air mata yang terus mengalir, dengan memandangi wanita paruh baya dalam foto.
"Kau merindukan nya?"
Tristan bertanya dengan nada pelan,dan suara yang tercekat di dalam tenggorokan karna pada kenyataannya Ia juga menahan sesuatu.
"Mm"
"Aku akan menemanimu bertemu dengan nya besok?, Tidak peduli apapun yang terjadi besok aku akan selalu ada di samping mu dan menemani mu dalam keadaan apapun"
Namun ucapan itu terdengar tabu bagi Adeline,Ia mengusap air matanya dan kembali menatap lekat pada pria di depannya itu."Apa maksud mu?.Kenapa kau mengatakan itu,apakah ada sesuatu yang sengaja kau sembunyikan dari ku?"
"Tidak ada,kau akan melihatnya besok kan jadi kau harus bersiap"
"Iya aku tau,tapi sepertinya kau sengaja menutupi sesuatu dari ku kan?.Aku berterimakasih kau mau membantu ku mencari keberadaan ibu kandung ku,tapi boleh kah aku mengetahui semuanya sebelum aku bertemu dengan nya ku mohon?"
Namun sebelum Tristan sempat membalas ucapannya, suara telepon pria itu berdering.Hingga Adeline juga tak lagi menuntut pertanyaan saat melihat ponsel yang terletak di atas meja itu memperlihatkan penelepon dengan nickname 'Mama'
📞Leo,kau ini dimana.Kami sudah sampai 15 menit yang lalu tapi kau belum datang juga"
Suara wanita paruh baya langsung menyambar saat telepon baru saja di angkat,hingga Tristan bangun dan langsung menjauh dari meja.
"Ma aku akan sampai 5 menit lagi"
"Leo?"
Tristan kembali ke meja,"Adeline aku akan menjemputmu besok,jam 6 pagi.Kita berangkat dengan pesawat tercepat, menurut informasi yang ku dapatkan,besok ibu kamu akan meninggalkan kota itu pukul 10 pagi.Aku tidak tau pasti dia pergi kemana,tapi kita akan sampai di ibu kota itu dan ada di bandara yang sama dengan nya saat kita sampai"
"Baiklah"
Tristan tersenyum saat melihat kembali semangat di wajah wanita itu,Ia mengusap pucuk kepalanya sembari bangkit."Aku akan datang tepat waktu besok,tunggu aku kita pergi bersama"
"Tapi sekarang aku harus pergi,aku masih ada urusan.Aku sudah memesan taxi untuk mu pulang"
"Iya, terimakasih"
Setelah itu, Tristan sedikit terburu-buru pergi hingga melupakan amplop kuning berisi identitas ibu kandung Adeline,namun setelah Ia sampai di pintu keluar Ia kembali dengan langkah panjang dan cepat.
Di saat yang sama,Adeline melihat amplop kuning itu dan hendak membuka nya.Namun sebelum Ia sempat membukanya, seseorang tiba-tiba datang dan merampasnya dari tangannya saat Ia akan menarik secarik kertas dalam Amplop itu.
"Maaf,aku masih memerlukan nya.Aku akan membawanya.Mm,aku kembali ke sini sekedar memperingkatkan kalau taxi mu sudah menunggu di depan"
Terlihat jelas kegugupan di wajah Tristan,hingga ucapannya terdengar sedikit tegang dan setelah itu Ia langsung pergi dari sana.
Adeline terdiam di tempatnya, namun setelah nya Ia berhenti memikirkan hal lain lagi dan segera mengambil tasnya untuk segera pulang.
"Adeline maaf,tapi kau akan mengetahui semuanya besok"
Tristan berhenti sebentar di depan memandangi Adeline dari kaca yang transparan,sebelum akhirnya Ia benar-benar pergi.
Sementara saat Adeline akan meninggalkan meja,sebuah tangan besar menangkap tangannya."Ada hubungan apa kau dengan pria itu?"
Deg
Dalam persekian detik,jantung Adeline seakan berhenti berdetak.Ia berbalik melihat Damar dan menarik tangannya."Apa yang kau lakukan di sini?,dan apa urusanmu dengan urusan ku?"
Damar mengepal tangannya menahan sesuatu yang ingin membludak."Aku tau,tapi kau harus tau dia adalah teman ku,rekan kerja ku.Kau ingin mendekati nya untuk apa?"
"Apa untuk membuktikan kalau kau pantas bersanding dengan pria di kelas yang sama dengan ku?"
"Picik sekali pikiran mu,tuan Damar Pradipta.Aku tidak tau kalau kau adalah pria dengan mulut yang jahat.Tapi apapun itu,itu semua bukan urusan mu.Tolong urus diri mu sendiri,aku bisa mengurus diri ku sendiri"
"Permisi"
**
Semangat kk..
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu