Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT
Setelah selesai memasak, Salma menatanya di meja makan. Seperti pagi-pagi biasanya, jika Arun harus berangkat ke kampus Salma yang menyiapkan menu sarapan.
Arun bukannya tidak ingin membantu sang nenek, hanya saja Arun terlalu lelah saat harus bangun lebih awal apalagi semalam Arun pulang dari cafe hampir larut malam.
Arun keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, "Sarapan dulu, Run" ucap Salma.
"Iya nek" ucap Arun dengan tersenyum malu.
Heh! Udah kayak tuan putri aja, hidup gue!
Arun menatap makanan didepannya, "Maaf ya nek, Arun gak bantuin nenek" ucap Arun sambil tertunduk.
"Nah, Gak apa-apa atuh. Kamu kan mau ke kampus terus kamu teh pulang kerja malem, pasti kamu capek. Udah makan nanti kamu kesiangan"
Arun menatap Salma lalu menuangkan nasi keatas piringnya dengan lauk sarapan pagi ini, "Motor kamu teh kemana?" tanya Salma.
"Dipinjem bos nek"
"Pak Broto pinjem motor kamu?"
Arun mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya, "Bukan pak Broto nek, ini anaknya yang terakhir kalo gak salah. Dia yang pegang cafe sekarang" jelas Arun.
"Bio?"
"Kok nenek tau namanya?" tanya Arun heran.
Salma tersenyum, "Dulu waktu nenek dan kakeknya masih hidup, Bio sering dibawa pak Broto kesini. Bio dulu masih umur lima tahun, masih kecil"
Arun hanya menganggukkan kepala sambil menikmati makanannya, "Oh iya, kalo motor kamu gak ada. Kamu ke kampus naik apa?" tanya Salma.
"Arun dijemput Akbar, nek" balas Arun.
"Anak itu teh baik pisan, ya?" ucap Salma seolah menunggu persetujuan dari Arun.
Arun cengengesan namun tidak menjawab apapun pada sang nenek, bahkan untuk meiyakan pun Arun tidak melakukannya.
"Dulu teh, nenek sempet kepikiran buat jodohin kamu sama Akbar. Kakeknya Akbar teh juga pernah kepikiran sama kayak nenek"
"Apasih nek, jodoh-jodohan segala. Kayak zaman dulu aja"
"Kamu gak suka sama Akbar?"
Arun terdiam kemudian meneguk air yang ada di gelas miliknya, "Akbar udah punya pacar, nek" balas Arun sambil meletakkan gelas tersebut.
Salma memandang Arun dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan Arun masih memeriksa tas miliknya takut ada yang tertinggal.
Tin Tin
Suara klakson motor membuat Arun bangkit dari meja makan, lalu mencium tangan sang nenek. "Arun berangkat dulu nek" pamit Arun.
"Hati-hati ya" balas Salma.
Arun mengangguk sambil berjalan kedepan untuk menemui Akbar. Arun menenteng helm ditangan kanan namun saat didepan motor Akbar, Arun langsung memakainya.
"Lo gak jemput Bella?" tanya Arun.
Akbar menggelengkan kepala, "Bella udah berangkat duluan" balas Akbar.
Tangan Arun masih berusah mencari pengait helm tersebut, namun tidak kunjung menemukannya.
"Minta tolong neng kalo gak bisa" ujar Akbar sambil mengambil alih pengait helm yang Arun pegang lalu memasangnya.
Jarak mereka lumayan dekat. Sampai-sampai Arun bisa melihat mata Akbar yang berwarna hitam serta bulat sempurna tersebut.
"Udah" ucap Akbar lalu menarik mundur wajahnya.
Arun yang masih belum berkedip hanya diam tidak bereaksi apapun, "Kamu jadi nebeng gak? Kalo enggak aku tinggal" tanya Akbar.
"Eh, jadilah! Lo kira sepatu gue super bisa lari cepet, langsung sampe kampus" ujar Arun.
"Kamu, masih pagi udah ngelamun" ucap Akbar kemudian menyalakan mesin motornya.
"Gara-gara lo juga!" gumam Arun sambil menaiki motor Akbar.
"Apa? Kamu ngomong apa?" tanya Akbar.
"GAK! Udah cepet lah, nanti kita telat!" ujar Arun sambil memukul pelan bahu Akbar.
Tidak butuh waktu lama untuk Arun dan Akbar sampai di kampus mereka.
Arun turun dari motor saat mereka sudah sampai di parkiran kampus. Arun melepas helm miliknya lalu meletakkan di jok belakang motor Akbar.
"Gue titip helm ya? Males bawa-bawa" ujar Arun.
Akbar hanya mengangguk tanda setuju.
"ARUNN!" panggil Tia hampir membuat gendang telinga mengembang.
"Tia?!! Suara lo bisa pelan gak sih?" tanya Arun.
"Ya kali, gue manggil lo lemah lembut kayak sinden" balas Tia.
"Maksud gue itu, gak usah teriak-teriak! Lagian gue gak budeg ya!" ucap Arun.
Tia hanya cengengesan saat mendengar perkataan Arun, "Hai, Akbar" sapa Tia dengan nada lembut.
"Hai, Ti" balas Akbar sambil tersenyum.
Jangan ditanya reaksi Tia saat melihat senyuman Akbar. Akbar tuh punya lesung pipi jadi taulah kalo senyum manisnya gimana?.
Arun memukul bahu Tia, "Aww, sakit Arun!" ucap Tia dengan wajah kesal.
"Lagian lo manggil Akbar bisa tuh pelan, giliran gue aja kayak kesetanan!" protes Arun.
"Gue itu nyapa Akbar, kalo tadikan gue manggil lo dari jauh takut lo gak denger" alibi Tia.
"Mana ada lo jauh! Cuma lima langkah ya, Ti" ujar Arun.
"Udah-udah, masih pagi juga udah mau berantem" Akbar melerai mereka yang masih terus saling menyalahkan.
"Akbar?"
Tiba-tiba Bella memanggil Akbar dari arah belakang Arun. Semua mata tertuju pada Bella, "Kamu berangkat sama Arun?" tanya Bella saat Akbar menghampirinya.
"He'em" balas Akbar, "Kamu berangkat sama siapa?" tanya Akbar.
"Dianter papah" balas Bella. "Yaudah, ayok ke kelas" ucap Bella sambil mengaitkan lengannya pada lengan Akbar.
"Iya. Arun, Tia, Aku duluan ya?" pamit Akbar.
"Oh, okee. Thanks ya Bar" jawab Arun sedangkan Tia masih diam dan terus memandang Bella tidak suka.
Akbar pergi dengan Bella, "Ishh, kapan sih mereka putus!" ucap Tia.
"Mulut lo!" tegur Arun sambil melotot menatap Tia.
"Kenapa? Itu yang terbaik buat Akbar!" ujar Tia.
"Sok tau lo!! Udah jangan ngurusin hidup orang, kuliah lo aja belum kelar! Yok, ke kelas" ajak Arun sambil menggeret Tia dari parkiran.
"Oh iya, tumben lo nebeng Akbar? Kemana motor kesayangan lo itu?" tanya Tia lalu menghentikan langkahnya.
"Dipinjem bos" balas Arun sambil berjalan.
Tia menyamakan langkahnya dengan Arun, "Bos lo bangkrut apa gimana? Pinjem motor segala"
"Sembarangan lo! Ini tuh sebenernya bos baru gue, dia anak terakhirnya pak Broto pemilik cafe itu"
"Anaknya? Masih muda berarti?" tanya Tia penasaran.
"He'em, kayaknya baru lulus kuliah gitu tapi gak baru juga sih" ujar Arun.
"Nanti gue ke cafe" ujar Tia.
Kini giliran Arun yang menghentikan langkahnya, "Mau ngapain lo?" tanya Arun penasaran.
Tia hanya cengar-cengir sambil menggoyangkan tangannya ke depan dan ke belakang, "Oh tau gue! Lo mau moduskan?!! Dasar centil lo! Sini lo!!" teriak Arun yang siap melayangkan pukulan pada Tia.
Melihat gelagat Arun saat ini, Tia memutuskan untuk berlari untuk menghindari Arun, ralat pukulan dari Arun.
Berada di kampus saat banyak tugas terasa melelahkan dibanding dengan lembur di cafe.
Siang ini Arun sendirian, Tia pulang lebih dulu karena sedang ada acara keluarga di rumahnya. Arun duduk di bawah pohon besar yang ada di sekitar kampus tersebut.
Arun sengaja duduk disana karena dia menunggu Akbar yang masih ada kelas tambahan. Sepoi angin membuat Arun memejamkan matanya meski hanya untuk menikmati angin tersebut.
Saat Arun membuka matanya, tiba-tiba di langsung melihat sepasang heels berwarna hitam, dan berdirilah seseorang di depannya.
"Motor kamu kemana? Kalo aku boleh tau" ujar Bella.
"Dipinjem, makanya gue tadi pagi nebeng Akbar" balas Arun santi.
Meski Arun teman dekat Akbar, tapi Arun tidak bisa dekat dengan Bella. Entah apa yang terjadi, namun Arun rasa lebih baik mereka seperti ini hanya sekedar tahu, tidak lebih.
"Pasti sekarang kamu lagi nungguin Akbar?" Bella bersuara saat Arun menatapnya.
Arun hanya terdiam, sedangkan Bella sudah duduk disampingnya. "Tadinya sih aku mau minta tolong Akbar nganterin ke mall buat cari bahan kerja kelompok. Tapi waktu liat kamu duduk disini, aku batalin aja deh. Nanti aku cari sendiri aja" ujar Bella lalu berdiri dari duduknya. "Kalo gitu aku duluan ya" pamit Bella.
"Gue gak nungguin Akbar. Lo bisa pergi bareng dia" ujar Arun saat kaki Bella selangkah maju dari posisinya saat ini.
Arun mengeluarkan hpnya dan mengetikan sesuatu disana, "Engak papa kok, Run. Kasian kamu nanti gimana pulangnya? Aku bisa nanti" ujar Bella.
Arun bangkit dari duduknya, "Gue bisa naik ojek online, nih gue udah pesen bentar lagi sampe" ujar Arun sambil menunjukan hpnya pada Bella.
Baru saja Arun melangkah tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Helm gue pake aja gak papa, soalnya gue males ambil helm ke parkiran. Titip aja sama Akbar" ucap Arun sambil tersenyum.
Setelah itu Arun pergi meninggalkan Bella sendirian, sedangkan Bella masih berdiri dan menatap punggung Arun yang mulai menghilang.
Saat Arun berjalan menuju gerbang kampus, ternyata beberapa kali hp Arun bergetar menampilkan panggilan masuk disana. Namun Arun sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab panggilan tersebut.
Tbc.