Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Pintu Kerja
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, tak terasa mobil akhirnya berhenti tepat di depan mansion. Sopir lebih dulu membukakan pintu mobil. Oca langsung melangkah keluar berjalan ke pintu depan mansion.
Begitu memasuki mansion, suasana di dalam terlihat jauh lebih sepi. Mungkin karena Anthony juga belum pulang.
Seorang pelayan menyapanya sopan, namun Oca hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Oca langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Awalnya ia hanya berniat memejamkan mata sebentar, tetapi tanpa sadar tertidur hingga menjelang malam.
______
Ketukan pelan di pintu membuat Oca terbangun. Ia mengerjap beberapa kali, masih setengah sadar, sebelum suara seorang pelayan terdengar dari luar.
"Nona, maaf mengganggu. Tuan Anthony sudah menunggu di ruang makan."
Oca mengusap matanya, mencoba mencerna kalimat itu. "Sekarang?"
"Iya, Nona. Tuan sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.”
“Kalau begitu tolong bilang padanya, aku perlu membersihkan diri dulu sebelum turun.”
“Baik, Nona, akan saya sampaikan,” balas pelayan itu.
Begitu langkah kaki pelayan menjauh, Oca segera bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Sekitar lima belas menit kemudian, ia keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Wajahnya kini tampak jauh lebih segar. Tanpa membuang waktu, Oca langsung melangkah keluar kamar, menuruni tangga, lalu menuju ruang makan.
Begitu sampai, ia mendapati Anthony sudah duduk di kursinya seperti biasa. Namun kali ini penampilannya terlihat berbeda, memakai kaos hitam polos yang membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai.
Oca duduk di kursi seberangnya, lalu mulai menyantap makan malamnya dalam diam. Namun sesekali, matanya curi-curi pandang ke arah Anthony—memperhatikan wajah yang siang ini terpampang di ponselnya, sekarang duduk tenang tepat di depannya.
Anthony yang menyadari tatapan itu, mendongak. "Kenapa?"
"Nggak," jawab Oca cepat, kembali menunduk ke piringnya.
Beberapa detik kemudian, ia mencuri pandang lagi. Kali ini Anthony meletakkan sendoknya, menatap balik Oca lurus-lurus.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" ucapnya datar.
Oca menghela napas. Rasa penasarannya akhirnya nggak tertahan lagi. "Lo... beneran aktor?"
Hening sesaat. Anthony mengangkat pandangannya, lalu menatap Oca dengan wajah datar yang selalu ia tunjukkan.
"Iya," jawabnya singkat, lalu kembali menyantap makanannya seperti tidak terjadi apa-apa.
Oca melongo. "Terus selama ini kenapa nggak bilang?!"
"Kamu juga nggak pernah tanya," balas Anthony, masih dengan nada yang sama datarnya.
"Ya, tapi—" Oca menggebrak meja pelan, frustrasi. "Itu kan hal penting! Gue suami—eh, maksud gue, lo suami gue! Masa gue baru tau dari Instagram temen gue sendiri!"
Anthony menyeka mulutnya dengan serbet, lalu menatap Oca lebih serius. "Mulai besok, jangan sembarangan menyebut kalau kita menikah."
Oca makin kesal. "Emangnya gue bangga nikah sama lo?"
Anthony hanya menatapnya datar, tanpa terpancing emosi. "Bagus. Pertahankan itu."
Oca mendengus, merasa diejek, tapi memilih tak membalas lagi.
Anthony menyelesaikan minumnya, lalu meletakkan gelas itu perlahan di atas meja. Hening sesaat menyelimuti ruang makan sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.
"Dan satu hal lagi."
Oca yang baru saja hendak menyuap makanannya kembali mendongak.
"Jangan mengganggu pekerjaanku. Dan jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izinku.”
Mata Oca menyipit. “Alasannya?”
Ada jeda sepersekian detik sebelum Anthony menjawab. "Karena aku bilang begitu."
Jawaban singkat itu sukses membuat Oca semakin kesal. Namun, ia juga sedang tidak ingin berdebat lebih jauh. Akhirnya, Oca hanya menghela napas panjang sebelum kembali menghabiskan sisa makan malamnya dalam diam.
Setelah makan malam selesai, Oca langsung kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
Pikirannya terus dipenuhi pertanyaan. Kenapa Anthony begitu melarangnya masuk ke ruang kerja? Apa pria itu menyembunyikan sesuatu darinya?
Oca berguling beberapa kali di atas kasur karena frustrasi, sampai suara notifikasi ponsel menghentikan gerakannya.
Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, lalu membuka layar.
Ternyata grup chat sahabatnya sedang ramai. Andira heboh sendiri karena guru baru saja mengumumkan perubahan anggota kelompok. Bukannya lega, ia malah dipindahkan ke kelompok Reno—orang yang paling nggak ingin ia satu kelompok dengannya.
Oca terkekeh pelan membaca rentetan pesan Andira yang terus mengeluh, sementara Kinan sibuk meledeknya dengan stiker tertawa. Melihat obrolan mereka Oca pun ikut membalas beberapa pesan di grup, membuat obrolan mereka semakin ramai.
Tak lama kemudian, muncul satu notifikasi lain dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Hai, ini Dirga dari kelas sebelah. Berhubung kita satu kelompok, gue minta nomor lu ke Kinan."
Jari Oca langsung bergerak membalas pesan itu. "Dirga Askara?"
Tak butuh waktu lama, tanda "sedang mengetik..." langsung muncul di layar ponselnya.
Oca tanpa sadar menatap layar itu beberapa detik, menunggu balasan yang membuatnya penasaran.