Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Pintu Kerja
Tepat pukul 7 malam Oca terbangun ketika mendengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya. Ia mengerjap beberapa kali, masih setengah sadar, sebelum suara seorang pelayan terdengar dari luar.
"Nona, maaf mengganggu. Tuan Anthony sudah menunggu di ruang makan."
Oca mengusap matanya, mencoba mencerna kalimat itu. "Sekarang?"
"Iya, Nona. Tuan sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.”
“Kalau begitu tolong bilang padanya, aku perlu membersihkan diri dulu sebelum turun.”
“Baik, Nona, akan saya sampaikan,” balas pelayan itu.
Begitu langkah kaki pelayan menjauh, Oca segera bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Sekitar lima belas menit kemudian, ia keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Wajahnya kini tampak jauh lebih segar. Tanpa membuang waktu, Oca langsung melangkah keluar kamar, menuruni tangga, lalu menuju ruang makan.
Begitu sampai, ia mendapati Anthony sudah duduk di kursinya seperti biasa. Namun kali ini penampilannya terlihat berbeda, memakai kaos hitam polos yang membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai.
Oca duduk di kursi seberangnya, lalu mulai menyantap makan malam dalam diam. Namun sesekali, matanya mencuri pandang ke arah Anthony, memperhatikan wajah yang siang tadi terpampang di layar ponselnya. Kini, pria itu justru duduk tenang tepat di hadapannya.
Anthony yang menyadari tatapan itu, mendongak. "Kenapa?"
"Nggak," jawab Oca cepat, kembali menunduk ke piringnya.
Beberapa saat kemudian, Ocaa mencuri pandang lagi. Kali ini Anthony meletakkan sendoknya lalu balik menatap Oca.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" ucapnya datar.
Oca menghela napas. Rasa penasarannya akhirnya nggak tertahan lagi. "Lo... beneran aktor?"
Hening sesaat sebelum akhirnya Anthony menjawab."Iya."
Jawabannya sangat singkat, seolah itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Setelah itu, Anthony kembali menyantap makanannya tanpa memedulikan ekspresi Oca yang kini melongo.
"Hah? Serius?!" Oca membelalak nggak percaya. "Terus selama ini kenapa nggak bilang?!"
"Kamu juga nggak pernah tanya," balas Anthony, masih dengan nada datar.
"Ya, tapi..." Ia mengusap wajahnya sendiri, berusaha menyusun kata-kata. "Itu kan hal penting! Gue istri—" ucapannya terhenti sesaat sebelum buru-buru mengoreksi, "eh, maksud gue... lo suami gue! Masa gue baru tahu dari Instagram temen gue sendiri?"
Anthony menyeka mulutnya dengan serbet, lalu menatap Oca lebih serius. "Mulai besok, jangan sembarangan menyebut kalau kita menikah."
"Emangnya gue bangga nikah sama lo?" jawab Oca ketus.
Anthony hanya menatapnya datar, tanpa terpancing emosi. "Bagus. Pertahankan itu."
Oca mendengus pelan. Rasanya ingin membalas, tapi melihat wajah Anthony yang tetap datar, ia malah mengurungkan niatnya. Anthony menghabiskan sisa air di gelasnya, lalu meletakkannya perlahan di atas meja.
Hening sesaat menyelimuti ruang makan.
"Dan satu hal lagi."
Oca yang baru saja hendak menyuap makanannya kembali mendongak.
"Jangan mengganggu pekerjaanku. Dan juga jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izinku.”
Mata Oca menyipit. “Alasannya?”
Ada jeda sesaat sebelum Anthony menjawab. "Karena aku bilang begitu."
"Ih... nyebelin banget." gumam Oca kesal.
Namun, ia juga sedang tidak ingin berdebat lebih jauh. Akhirnya, Oca hanya menghela napas panjang sebelum kembali menghabiskan sisa makan malamnya dalam diam.
Setelah makan malam selesai, Oca langsung kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
Pikirannya terus dipenuhi pertanyaan. Kenapa Anthony begitu melarangnya masuk ke ruang kerja? Apa pria itu menyembunyikan sesuatu darinya?
"Memangnya apa sih isi ruang kerjanya sampai gue nggak boleh masuk? Jangan-jangan dia beneran gangster lagi, nyimpen senjata di sana." batin Oca menduga-duga.
Bayangan aneh itu justru semakin liar di kepalanya.
"Atau jangan-jangan di balik pintu itu ada brankas penuh duit... atau malah mayat?"
Oca langsung menggeleng keras. "Nggak... nggak. Mulai deh pikiran gue ke mana-mana."
Ia mendesah pelan sambil berguling beberapa kali di atas ranjang karena frustrasi. Sampai akhirnya suara notifikasi ponsel menghentikan gerakannya.
Oca segera meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, lalu membuka layarnya.
Ternyata grup chat sahabatnya sedang ramai. Andira heboh sendiri karena guru baru saja mengumumkan perubahan anggota kelompok. Bukannya lega, ia malah dipindahkan ke kelompok Reno—orang yang paling nggak ingin ia satu kelompok dengannya.
Oca terkekeh membaca rentetan pesan Andira yang terus mengeluh, sementara Kinan sibuk meledeknya dengan stiker tertawa. Melihat obrolan mereka Oca pun ikut membalas beberapa pesan di grup, membuat obrolan mereka semakin ramai.
Tak lama kemudian, muncul satu notifikasi lain dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Hai, ini Dirga dari kelas sebelah. Berhubung kita satu kelompok, gue minta nomor lu ke Kinan."
Jari Oca langsung bergerak membalas pesan itu. "Dirga Askara?"
Tak butuh waktu lama, tanda "sedang mengetik..." langsung muncul di layar ponselnya.
"Dih... kok lama banget, sih. Balesnya apa aja sampai mikir segitu?" gumamnya pelan.
beda lagi sama aku lebih suka bahasa formal GK trlalu gaul karena aku sendiri mereka suka seperti itu 🤣