Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Lima
Setelah menunggu berjam jam lamanya, akhirnya pintu rumah operasi itu terbuka juga, membuat anggota keluarga pak Galih lansung berdiri sigap melihat orang yang di dorong dari ruang operasi.
"Keluarga pak Galih." panggil dokter yang keluar bersama brangkar pak Galih.
"Saya istrinya dok, bagaimana keadaan suami saya?" ucap bu Soraya, tanpa memperdulikan bu Hindun yang sudah menatap garang kepadanya.
"Kami anak anaknya." ucap Ares tidak mau kalah.
"Saya ibunya." kesal bu Hindun tidak terima menatapi kesal ke arah bu Soraya.
Dokter menghela nafas pelan, lalu berkata " Luka pak Galih lumayan parah, pemulihan kakinya akan memakan waktu yang lama, untuk sementara waktu, pak Galih harus istirahat total." ucap dokter dengan berat hati.
Deggg.....
Semua orang terkejut mendengarnya, apa lagi bu Hindun anaknya bakal susah untuk bekerja.
"Tapi operasinya berjalan lancar kan dok? " tanya bu Soraya lagi.
"Saat operasi tadi, pak Galih sempat kehilangan banyak darah, dan sempat kritis, Alhamdulillah... Pak Galih bisa melewati masa masa itu, semua kembali normal, dan operasi pak Galih berjalan dengan lancar, mungkin semua berkat do'a dari keluarga." ucap dokter tersenyum lembut.
"Alhamdulillah..... " puji syukur mereka semua.
"Sekarang pasien di pindahkan ke ruang rawat, tapi ingat! jangan terlalu lama mengajaknya bicara, takut mengganggu waktu pemilihan dan waktu istirahatnya." ucap dokter lagi.
"Baik dok, terimakasih." jawab bu Soraya dengan hormat, lain lagi dengan bu Hindun yang terlihat khawatir, tapi bukan khawatir tentang kesehatan sang anak, justru khawatir anaknya nggak bisa memberi dia uang bulanan lagi, klau harus istirahat lama, uang dari mana anaknya dapat uang, apa lagi nanti harus kontrol ke rumah sakit, pasti membutuhkan banyak uang, sungguh dia tidak rela uang yang selama ini dia kumpulkan, akan di minta oleh anaknya itu.
Setelah dokter undur diri, bu Soraya dan anak anaknya lansung mengejar brangkar pak Galih yang di dorong oleh dua orang perawat menuju kamar pak rawat pak Galih.
"Ayo bu." ajak Tia menarik tangan sang ibu.
"Kita lansung pulang aja, nggak usah ikutin mereka, lagian abang kamu belum siuman ini, kamar itu pasti sumpek sekali, apa lagi ada mereka." ketus bu Hindun.
"Nggak boleh gitu lah bu, kita harus memastikan abang di rawat di ruang apa, setelah itu baru kita pulang." bujuk Tia.
"Baiklah, tapi sebentar aja di sana ya, ibu sudah capek dan males melihat orang orang tidak berguna itu." oceh bu Hindun memilih mengalah dengan banyak syarat.
"Baiklah..." ucap Tia mengalah.
Pak Galih sudah sampai di ruang rawatnya, perawat pun sudah keluar dari ruangan itu, bu Soraya menatap barang bawaannya menyusun di dalam nakas.
Anak anak pak Galih mengerubungi pak Galih di samping ranjang pak Galih.
"Papa cepat sembuh." ucap Gibran memegang lembut tangan sang ayah dengan penuh kasih sayang.
Laras dengan telaten merapikan selimut sang ayah.
Semua yang di lakukan oleh anak anak dan istri pak Galih, di lihat oleh Tia, ada sedikit rasa bersalah di hatinya, walau abangnya telah banyak melakukan kesalahan terhadap anak anak dan istrinya, tapi mereka tetap merawat sang abang dengan tulus.
Tapi Tidak dengan bu Hindun, dia menatap dengan tatapan mengejek.
"Dih, sok perhatian." cibirnya.
"Ayo Tia, kita pulang. Ibu sudah lelah." ujar bu Hindun yang tidak mau berlama lama di ruangan itu.
"Mmm... Baiklah." ujar Tia, lebih baik membawa ibunya pulang, dari pada kembali memancing keributan di sana.
"Mbak, aku pulang dulu, titip abang ya." ucap Tia membuka suara.
"Iya, hati hati di jalan." ucap bu Soraya menganggukan kepalanya.
"Ya iya lah hati hati, memang kami mau celaka juga kaya Galih." ketus bu Hindun.
Mulut Gibran sudah terbuka lebar ingin menyembuhkan laharnya namun buru buru di bungkam oleh tangan sang kakak, membuat anak itu tidak bisa berkutik.
Ares mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya dia memaki sang nenek, namun dia masih tau sopan santun, beda dengan sang adik yang selalu menggebu gebu.
"Ibu, ayo. " ajak Tia buru buru membawa ibunya keluar dari ruangan pak Galih, beruntungnya kamar kelas dua yang seharusnya di isi tiga orang, hanya ada pak Galih sendiri pasiennya, jadi tidak terlalu memalukan.
"Astaga.... Nenek lampir itu, bener bener mulutnya minta di jahit." kesal Gibran.
"Sudah, biarkan saja, kasihan papa klau dengar kamu berantem sama nenek." tegur Laras.
"Abis, nyebelin banget kak, mana tadi nampar mama kan dia." kesal Gibran tidak terima.
"Nggak usah di lawan, yang ada semakin kamu lawan nenek makin nggak suka sama kita." tegur bu Soraya lembut.
"Iiihhhh... Bagus dia nggak suka kita, makan hati tiap hari, mending makan hati sapi apa yang, enak buat tambah gizi, lah ini makan hati gara gara ucapan dia." sewot Gibran tidak terima.
"Assalam mu'alaikum." salam seseorang dari luar.
"Wa'alaikum salam." sahut mereka kompak.
"Maaf ya, kami baru datang, mau berangkat tadi, ehhh... Ada tamu yang mau pesan catering kita untuk hajatan bulan depan." ujar bu Rini memberi kabar bahagia.
"Alhamdulillah....." ucap syukur mereka bersama.
"Gimana keadaan Galih? " tanya pak Riki menatap wajah pak Galih yang belum sadar, wajahnya penuh luka lebam, kepala ada perban, kaki dan tangan juga di perban habis di operasi.
"Masih belum sadar, tapi sudah melewati masa kritis, kata dokter paling dini hari baru akan sadar." terang bu Hindun.
Pak Riki mengangguk tanda mengerti.
"Kalian makan lah dulu, tante kalian bawa makanan itu." ujar pak Riki mengusap sayang kepala Gibran.
"Tante paling tau, klau aku sudah sangat lapar, tenaga ku sudah sangat terkuras mengahadapi nenek lampir." keluh Gibran mengusap usap perutnya.
Semua orang terkekeh dengan tingkah Gibran itu.
"Dasar perut karung, ada aja alasanya." kekeh Laras geleng geleng kepala.
Bu Soraya mendapat telpon dari atasan sang suami, memberi tahu klau beliau belum sempat datang membezuk kerumah sakit, karena masih ada dinas di luar kota, namun ruang rawat pak Galih di pindahkan ke ruang VIP, biaya perawatan selama pak Galih di rawat di tanggung oleh perusahaan, berkat selama masa kerja, kinerja pak Galih selama ini sangat baik, dan juga kecelakaan ini terjadi saat pak Galih sedang menemui klien, dan atasan pak Galih juga mengirim sejumlah uang untuk kebutuhan selama di rumah sakit.
"Ada apa?" heran bu Rini menatap wajah sumringah temannya itu.
"Ada pesanan lagi, berapa banyak? " lanjut bu Rini.
"Bukan pesanan." geleng bu Soraya.
"Lalu? " heran bu Rini, yang lain hanya mendengarkan obrolan mereka sambil makan.
"Mas Galih di pindahkan ke ruangan VIP sama bosnya, trus biaya perawatan juga di tanggung dari kantor, nggak cuma itu saja, dia juga mengirim uang untuk keperluan selama di rumah sakit." ujar bu Soraya menceritakan semuanya kepada Rini dan di dengar oleh yang lain.
"Alhamdulillah..... " syukur mereka semua.
"Untung nenek lampir udah pulang, coba klau dia tau mama dapat uang, udah pasti di rebut sama dia." ceplos Gibra.
"Suuttt.... Kamu ini." tegur Laras.
"Apa. Memang benar kok, kaya nggak tau nenek aja." ucap Gibran tidak mau kalah.
Ares hanya terkekeh melibat tingkah sang adik, apa yang di ucapkan Gibran itu benar sekali adanya.
"Syukur lah, kamu nungguin mas Galih juga ada bisa istirahat dengan leluasa, klau anak anak mau nginap juga bisa jadinya." ujar bu Rini dan di angguki oleh bu Soraya.
"Rin, untuk sementara Catering sama warung aku serahin sama kamu ya, maaf aku ngerepotin terus." ucap bu Soraya tidak enak hati.
"Ck... Ngomong apa sih, kita ini saudara apanya yang ngerepotin, kamu fokus aja sama pemilihan mas Galih dulu, urusan catering sama warung serahin aja sama aku." ucap bu Rini menepuk dada.
"Kamu memang yang terbaik. " kekeh bu Soraya memeluk teman baiknya itu.
Bersambung......
tenang jangan kawatir duwitmu di minta, bu soraya lebih dari mampu untuk mengobati pak galih😏
sana beli sendiri🤣