"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pundak Yang Rapuh
Hening perlahan merayap.
Di sana, di sudut ruangan yang temaram, laki-laki itu duduk dengan kepala tertunduk.
Kedua tangan besarnya kompak menangkup parasnya yang kuyu, menyembunyikan gurat cemas yang tampak jelas dari wajahnya yang kelam.
Tepat di hadapannya, seorang perempuan terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya memucat pasi, rapuh bagaikan kelopak bunga yang hampir gugur karena hembusan angin.
Tak lama, pintu ruangan terdengar di ketuk. Menampilkan sosok Max yang perlahan mendekat dengan langkah ragu.
"Maaf atas kecerobohan saya tadi, Tuan." Seru Max, membungkuk dengan penuh penyesalan.
"Besok pagi, aku ingin kamu melaporkan semuanya padaku. Jika tidak, maka enyahlah dari hidupku, Max!" potong Leon telak.
Amarah itu memancar jelas dari rahangnya yang mengeras.
Karena kesalahpahaman itu, Alina hampir saja kehilangan bayinya. Meski sebelumnya Leon sendiri yang meminta Alina menggugurkan kandungannya, itu hanya sebuah gertakan agar perempuan itu tak lagi mengusiknya.
Max mengangguk pasrah. "Baik, Tuan."
Laki-laki itu kemudian memilih undur diri, meninggalkan Leon yang tengah terjerat dengan perasaannya yang begitu rumit.
Keraguan demi keraguan kini berkecamuk di dalam benaknya. Tentang kepergian Alina dulu, tentang kelahiran Marsha, juga tentang janin yang kini tengah bertahan di rahim perempuan itu.
Lagi, pintu ruangan itu di ketuk dari luar.
Sesaat kemudian, Ummi Hannah menyeruak dari celah pintu yang terbuka setengah.
"Bisa saya bicara dengan anda?"
Sejenak Leon terpaku, sebelum akhirnya mengangguk sebagai tanda setuju.
"Empat tahun lalu, Alina datang ke kampung kami." ujar Ummi Hannah, mulai bercerita.
"Saat itu, dia hanya membawa satu tas pakaian di bahunya. Wajahnya tampak kebingungan. Saya merasa kasihan, jadi saya bantu dia mencari kontrakan paling murah karena uangnya hanya tersisa beberapa ratus ribu setelah dipakai untuk membayar ongkos bus."
"Di awal kehidupannya di kampung, dia sering menangis. Setiap pagi saya mendapatinya dengan mata sembab setelah semalaman menangis. Saya bingung, tapi enggan menanyakannya karena takut terkesan ikut campur. Hingga suatu hari, dia dinyatakan hamil. Barulah Alina menceritakan semuanya. Saya tidak menyalahkannya, karena saya tahu, dia tidak punya pilihan saat itu."
"Waktu berlalu, Alina tetap bekerja keras meski tengah hamil besar. Katanya, kalau tidak bekerja, dia takut saat anaknya lahir nanti tidak bisa membeli susu dan popok bayi. Saya tidak punya pilihan selain membiarkannya. Lagi-lagi, karena saya tahu dia tidak punya pilihan lain."
"Hingga akhirnya... dia harus melahirkan di tengah perkebunan saat sedang bekerja. Rasanya begitu miris. Apalagi saat melihat Marsha kecil lahir dengan berat badan di bawah standar karena kurang gizi."
"Kami membesarkan Marsha bersama-sama. Gadis kecil itu tumbuh dengan baik di bawah pengasuhan Alina. Setiap malam, Alina selalu menceritakan banyak kisah untuknya, meski tubuhnya sendiri sudah teramat lelah setelah seharian bekerja di perkebunan."
Ummi Hannah menatap Leon lekat-lekat, menyalurkan rasa iba yang mendalam.
"Melihat keadaannya sekarang, rasanya saya tidak tega. Sudah terlalu banyak penderitaan yang Alina tanggung sendiri di atas pundaknya yang sebenarnya rapuh dan butuh sandaran."
"Jadi, saya berharap... setelah ini Anda bisa memperlakukannya dengan lebih baik. Anda jauh lebih dulu mengenalnya. Seharusnya Anda tahu dan yakin bagaimana sosok Alina yang sebenarnya—bukan percaya pada kata orang atau bukti yang belum tentu valid."
Ummi Hannah menghela napas panjang, mencoba meredakan sesak di dadanya.
"Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya sangat berharap Anda bisa bersikap lebih baik pada Alina ke depannya. Ini sama sekali bukan salahnya."
tapi tunggu up nya harus bersabar