NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pelarian di Bawah Bayang-Bayang

​Dani masih berdiri terpaku di mulut bunker, pipa besi di tangannya terasa dingin dan berat, namun pikirannya jauh lebih beku mendapati pemandangan di depan matanya. Taman rumah bibinya yang semula rapi dengan rumput sintetis kelas premium kini hancur total, menyisakan lubang-lubang besar di tanah beton. Tiga pria berjubah hitam yang beberapa menit lalu tampak seperti malaikat maut yang tak terkalahkan, kini tergeletak tak berdaya. Pemimpin mereka, pria yang memancarkan aura paling mengerikan, hanya bisa mengerang lirih dengan tubuh gemetar, kehilangan seluruh keagungan yang ia pamerkan sebelumnya.

​Dan di tengah-tengah kehancuran itu, berdiri Arkana Wijaya. Sahabat karibnya yang biasa mengeluh tentang susahnya algoritma pemrograman dan mahalnya harga sewa kos, kini berdiri tegak dengan aura yang begitu asing—dingin, tajam, dan berwibawa, seolah-olah ia adalah penguasa tunggal di malam yang kelam ini.

​"Ka... lo... kok bisa?" lidah Dani terasa kelu, menatap Arkana seakan-akan pemuda di depannya adalah makhluk asing yang menyamar menggunakan kulit sahabatnya.

​Arkana tidak langsung menjawab. Sepasang mata peraknya berkilat pelat di balik kegelapan kabut, menyapu area sekitar dengan kewaspadaan penuh. Indra pendengarannya yang super tajam menangkap suara kepakan baling-baling mekanis yang membelah udara dari jarak dua kilometer. Suara raungan sirene taktis milik Biro Keamanan Khusus bentukan pemerintah pusat mulai mendekat, memecah kesunyian distrik Puri Indah yang sempat lumpuh oleh EMP.

​"Gak ada waktu buat penjelasan sekarang, Dan," ucap Arkana, suaranya berat dan penuh penekanan, langsung memotong kepanikan Dani. "Pasukan Aditia Pramono bakal nyampe di sini dalam waktu kurang dari tiga menit. Kalau mereka nemuin kita di sini bareng orang-orang klan kuno ini, kita semua bakal diseret ke lab karantina militer tanpa pengecualian."

​Mendengar nama militer dan laboratorium karantina, Dani langsung tersadar dari keterpakuannya. Ia menelan ludah, lalu menatap Lisa, sepupunya yang masih menangis sesenggukan di sudut bunker dengan tubuh yang mulai memanas akibat lonjakan energi spiritual yang tak terkendali.

​"Tapi Lisa, Ka... dia lemes banget. Badannya panas kayak kompor," ucap Dani panik, mencoba membopong gadis remaja itu keluar dari lubang bunker.

​Arkana melangkah mendekat. Tanpa ragu, ia mengulurkan kedua tangannya dan mengangkat tubuh Lisa ke dalam gendongannya dengan gerakan yang sangat ringan, seolah-olah gadis berusia enam belas tahun itu tidak memiliki bobot sama achievement. Dani terbelalak melihat kemudahan fisik Arkana, namun ia memilih untuk tidak banyak bertanya lagi.

​"Ikuti gua dari belakang, Dan. Jangan lepas dari bayangan gua," perintah Arkana.

​Wusss!

​Arkana melompat melewati pagar beton yang hancur, bergerak menyusuri gang-gang sempit di balik kluster perumahan mewah. Dani mengerahkan seluruh tenaga di kakinya, berlari sekencang mungkin untuk mengejar bayangan hitam Arkana yang bergerak sangat mulus di tengah kabut keunguan. Beruntung bagi Dani, atmosfer bumi yang kini kaya akan energi spiritual secara pasif mulai meningkatkan stamina fisik manusia biasa, membuatnya tidak langsung ambruk setelah berlari beberapa ratus meter dengan kecepatan penuh.

​Tepat ketika mereka berhasil menyelinap keluar dari gerbang belakang kompleks Puri Indah, tiga buah helikopter taktis siluman berwarna hitam legam milik militer melesat di atas kepala mereka, memancarkan sorotan lampu putih yang membelah kabut tebal malam itu. Pasukan Aditia Pramono telah tiba di tempat kejadian, namun mereka terlambat; Arkana dan sasarannya sudah menyatu dengan kegelapan malam kota Jakarta.

​Arkana tidak membawa Dani dan Lisa kembali ke gedung kosnya di Jakarta Barat. Kosnya terlalu sempit dan rawan terdeteksi oleh radar pemindai lingkungan jika terjadi lonjakan energi lagi. Sebaliknya, Arkana mengarahkan pelarian mereka menuju sebuah kawasan industri terbengkalai di dekat pelabuhan tua—sebuah kompleks pergudangan kontainer yang sudah ditinggalkan sejak krisis ekonomi siber tahun 2038.

​Di dalam sebuah gudang kosong yang dipenuhi oleh sasis-sasis drone logistik yang berkarat, Arkana perlahan menurunkan tubuh Lisa ke atas sebuah matras busa usang yang tergeletak di sudut ruangan.

​Suasana gudang sangat sunyi, hanya disinari oleh rembulan yang menembus atap seng yang bocor. Di luar, kabut hijau keunguan melayang lambat di antara kontainer-kontainer besi, menciptakan isolasi alami dari dunia luar.

​"Hah... hah... gila... ini beneran gila," Dani ambruk di atas lantai semen yang berdebu, memegangi lututnya dengan napas yang terputus-putus. Keringat membasahi seluruh jaket denimnya. Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadarannya, Dani mendongak, menatap Arkana yang berdiri diam di samping Lisa tanpa ada satu tetes keringat pun di dahinya. "Ka, sekarang lo harus jelasin ke gua. Apa yang terjadi sama lo semalam? Dan siapa orang-orang berjubah hitam tadi? Mereka bilang lo... kultivator sejati?"

​Arkana menghela napas panjang. Ia berjalan mendekati sebuah jendela retak, menatap ke arah luar sejenak sebelum berbalik menghadap Dani. "Dunia yang lo kenal lewat layar holografik dan berita pemerintah itu palsu, Dan," ucap Arkana tenang. "Partikel E-01 yang dibilang orang kementerian tadi pagi... nama aslinya adalah Qi. Energi spiritual kuno yang menciptakan alam semesta. Energi itu mengering ribuan tahun lalu, membuat peradaban manusia beralih ke teknologi fisik untuk bertahan hidup. Tapi semalam, segel dunia runtuh. Qi kembali mengalir ke Bumi."

Arkana mengangkat tangan kanannya, membiarkan Cincin Kaisar Abadi di jarinya memancarkan pendaran cahaya perak keemasan yang murni di hadapan Dani. "Kakek gua adalah salah satu penjaga rahasia ini. Benda ini mewariskan teknik kultivasi sejati dari era kuno ke gua. Orang-orang berjubah hitam tadi berasal dari Klan Kuno—faksi-faksi lama yang selama ini bersembunyi di dimensi kantong atau pegunungan terpencil, menunggu fajar kebangkitan energi ini tiba buat menguasai dunia lagi."

Dani mendengarkan dengan mulut terbuka lebar. Jika kata-kata ini diucapkan oleh orang lain, Dani pasti akan menganggapnya sebagai orang gila yang terlalu banyak mengonsumsi obat halusinasi siber. Namun setelah melihat Arkana menghancurkan pagar beton dan meremukkan tulang monster jubah hitam dengan tangan kosong, Dani tidak punya pilihan selain mempercayainya.

"Jadi... dunia kita beneran bakal berubah jadi kayak novel-novel fantasi?" bisik Dani, bulu kuduknya berdiri.

"Lebih buruk dari itu," jawab Arkana dingin. "Di dunia baru ini, hukum teknologi bakal perlahan digantikan oleh hukum rimba kultivasi. Siapa yang kuat, dia yang bikin aturan. Dan sepupu lo, Lisa... dia ada di tengah pusaran itu sekarang."

Uhuk! Uhuk!

Lisa tiba-tiba terbatuk hebat, tubuhnya mengejang di atas matras usang. Kulit wajahnya yang semula putih kini memerah padam seperti kepiting rebus. Guratan urat nadi berwarna biru kehijauan di lengan dan lehernya menonjol keluar, berdenyut tidak teratur dan memancarkan suhu panas yang sangat tinggi hingga pakaian remajanya mulai mengeluarkan uap tipis.

"Lisa!" Dani langsung merangkak panik mendekati sepupunya. "Ka, tolongin dia! Badannya panas banget, gua takut dia bakal meledak kayak mahasiswa di kampus tadi!"

Arkana segera berlutut di samping Lisa. Ia menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan gadis itu, memeriksa denyut nadinya menggunakan persepsi batin ranah Spirit Gathering. Begitu energinya menyentuh sistem biologis Lisa, Arkana tersentak di dalam hati.

Situasi Lisa sangat kritis. Tingkat adaptasi spiritualnya yang mencapai dua puluh persen berarti tubuhnya memiliki bakat alami yang sangat tinggi untuk menarik Qi elemen kayu dari alam sekitar. Namun karena tidak memiliki wadah fisik yang ditempa seperti Arkana, dan tidak tahu cara mengalirkan energi tersebut, Qi elemen kayu yang liar terus merangsek masuk ke dalam tubuhnya, menyumbat jalur meridian utamanya dan bergesekan dengan energi darah fisiknya. Jika dibiarkan selama sepuluh menit lagi, pembuluh darah di otaknya akan pecah akibat tekanan energi, memicu Qi Deviation yang mematikan.

"Dan, mundur dua langkah. Jangan ganggu gua," perintah Arkana dengan nada mutlak.

Dani dengan patuh langsung mundur ke belakang, memegang dadanya dengan jantung yang berdebar kencang.

Arkana membalikkan tubuh Lisa hingga posisi duduk bersila, menyangga punggung gadis itu dengan tangan kirinya. Ia memejamkan mata, memfokuskan pusaran Dantian-nya sendiri. Aliran Qi Primordial berwarna perak keemasan yang sangat murni mulai mengalir dari perut bawah Arkana, merayap naik menuju telapak tangan kanannya.

Sret.

Arkana menempelkan telapak tangan kanannya tepat di tengah-tengah punggung Lisa, di antara kedua tulang belikatnya—titik pertemuan meridian Dazhui yang krusial.

"Kitab Primordial Kaisar Abadi... Aliran Penjinak Roda Langit, bergerak!" Arkana menggumamkan mantra batinnya.

BZZZZT!

Energi perak keemasan Arkana menyembur masuk ke dalam tubuh Lisa seperti aliran air es yang murni menembus tanah kering yang gersang. Begitu Qi Primordial milik Arkana masuk, energi elemen kayu yang liar dan kotor di dalam tubuh Lisa seolah-olah bertemu dengan raja tertinggi mereka. Getaran liar yang semula merusak dinding meridian Lisa seketika meredup, menjadi patuh di bawah tekanan hierarki energi Kaisar Abadi.

Menggunakan kehendak mentalnya yang tajam, Arkana dengan teliti membimbing energi spiritual yang terjebak di dalam tubuh Lisa. Ia membagi energi tersebut menjadi beberapa aliran kecil, lalu memaksanya mengalir mengikuti rute sirkulasi pernapasan dasar untuk membersihkan sumbatan-sumbatan racun polusi modern di dalam tubuh gadis itu.

Proses ini adalah bentuk penyederhanaan dari teknik Body Tempering yang dipaksakan dari luar. Kulit Lisa mulai mengeluarkan keringat hitam tipis yang berbau samir seperti belerang—impuritas tubuh fana yang mulai dikeluarkan secara paksa.

Waktu berlalu menit demi menit dalam keheningan yang menegangkan di dalam gudang tua tersebut. Wajah Arkana mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan kecil, beberapa butir keringat bening muncul di pelipisnya karena mengendalikan energi di dalam tubuh orang lain membutuhkan tingkat presisi mikro yang sangat melelahkan otak.

Setelah hampir satu jam melakukan bimbingan energi, seluruh jalur meridian utama di tubuh Lisa akhirnya berhasil dibuka dan distabilkan. Sisa-sisa Qi elemen kayu yang semula merusak kini telah terserap dengan aman ke dalam struktur tulang dan dagingnya, memperkuat fondasi fisiknya secara fundamental. Guratan urat nadi biru kehijauan yang menonjol di kulitnya perlahan memudar, menyerap masuk kembali ke bawah permukaan kulit dengan rona yang sehat.

Hah...

Lisa mengembuskan napas panjang yang membawa uap hangat, lalu perlahan membuka kelopak matanya. Sepasang matanya yang semula sayu kini tampak jauh lebih jernih dan berbinar, memancarkan vitalitas baru yang sangat segar. Rasa sakit yang menyiksanya sejak sore hari telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa nyaman dan ringan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.

"Aku... aku di mana?" bisik Lisa, menengok ke sekeliling ruangan dengan bingung sebelum tatapannya jatuh pada Dani. "Kak Dani?"

"Lisa! Astaga, lo gak apa-apa?!" Dani langsung menghambur maju, memeluk sepupunya dengan air mata kebahagiaan yang tidak bisa dibendung lagi. Ia memeriksa dahi Lisa; suhunya sudah kembali normal, bahkan kulit wajah sepupunya tampak jauh lebih bersih dan bersinar dari biasanya.

Arkana perlahan menurunkan tangan kanannya, menarik kembali sisa energinya ke dalam Dantian. Ia berdiri tegak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan jaket, lalu menatap Lisa dengan anggukan pelan.

"Tubuhnya sudah aman sekarang, Dan," ucap Arkana, suaranya kembali terdengar santai namun menyimpan kedalaman yang misterius. "Gua gak cuma nyelamatin nyawanya, tapi gua juga udah ngebantu dia ngebangun fondasi awal ranah Body Tempering Tingkat Satu. Bakat elemen kayunya sangat murni. Di masa depan, kalau dia melatih teknik yang bener, dia bisa jadi seorang kultivator yang sangat kuat."

Lisa menatap Arkana dengan mata melebar, merasakan aliran energi hangat yang kini berputar otomatis di dalam dadanya. Meskipun ia belum sepenuhnya paham apa yang terjadi, intuisi remajanya tahu bahwa pemuda bertudung hitam di depannya inilah yang baru saja menariknya keluar dari pintu kematian.

"Terima kasih... Kak Arka," bisik Lisa tulus, membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

Arkana tersenyum tipis, namun senyumannya tidak bertahan lama saat ia menatap ke arah luar jendela gudang. Di kejauhan langit Jakarta Barat, lampu-lampu sorot dari helikopter militer dan drone patroli tampak bergerak semakin intens, memperluas radius pencarian mereka hingga ke kawasan pelabuhan tua ini.

Fajar baru di tahun 2042 telah tiba, namun fajar ini tidak membawa kedamaian. Dengan klan kuno yang mulai berburu secara terang-terangan dan militer yang memperketat cengkeraman mereka, Arkana tahu bahwa masa-masa tenang sebagai seorang mahasiswa biasa telah berakhir. Untuk melindungi orang-orang di sekitarnya dan mencapai puncak tertinggi, ia harus bergerak lebih cepat, mengumpulkan sumber daya, dan bersiap menghadapi badai yang jauh lebih besar yang sedang berkumpul di cakrawala kota.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!