NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Bu Saras Mahendra tidak menangis ketika Alya datang.

Itu justru membuat Alya lebih waspada.

Perempuan berusia lima puluhan itu duduk di ruang tamu rumahnya dengan punggung tegak, kerudung krem rapi, dan tangan yang terlalu tenang di atas pangkuan. Di meja, teh melati dibiarkan mengepul tanpa disentuh.

Pak Mahendra, ketua komite audit Pradipta Group, berdiri di dekat rak buku. Wajahnya keras, tetapi matanya lelah.

"Maaf memanggil Anda mendadak," katanya.

Alya duduk di sofa seberang. Karina ikut duduk di sampingnya. Arga tidak ikut; tubuhnya masih butuh istirahat setelah makan malam keluarga Laksana.

"Bapak bilang ini berhubungan dengan audit," kata Alya.

Pak Mahendra melirik istrinya.

Bu Saras tersenyum tipis. "Berhubungan dengan rumah kami dulu, baru audit."

Alya tidak menyela.

Dari koridor, seorang perempuan muda masuk membawa nampan kecil. Wajahnya mirip Bu Saras, tetapi matanya lebih tajam. Ia menaruh piring kue di meja.

"Mbak Alya, ya? Saya Dina. Adik Bu Saras."

"Alya."

Dina tersenyum. "Saya sering dengar nama Mbak. Hebat sekali bisa mengurus Mas Arga sampai begitu."

Karina melirik Alya.

Pujian yang datang terlalu cepat biasanya membawa kait.

Pak Mahendra berkata datar, "Dina, kami sedang bicara."

"Saya cuma menaruh kue, Mas."

"Terima kasih."

Dina masih berdiri dua detik lebih lama, lalu pergi.

Setelah langkahnya menjauh, Bu Saras membuka suara.

"Saya sakit selama enam bulan terakhir."

Pak Mahendra mengepalkan tangan.

"Dokter menyebut stres, hormon, maag, macam-macam. Saya percaya. Dina yang mengurus obat saya karena dia tinggal di sini setelah bercerai."

Alya menatap cangkir teh.

Bu Saras menangkap arah matanya. "Hari ini saya tidak minum apa pun sebelum Anda datang."

Karina duduk lebih tegak. "Kenapa Ibu memanggil Alya, bukan dokter?"

Pak Mahendra menjawab, "Karena pola obat istri saya mirip dengan pola obat Mas Arga."

Ruangan itu dingin.

Alya mengangkat mata. "Siapa dokter yang menulis resep?"

Pak Mahendra mengambil map dari meja samping. "Dokter pribadi lama keluarga kami. Namanya juga muncul di daftar konsultasi yayasan."

Alya membuka map.

Nama itu ada.

Dokter Hendra Suripto.

Salah satu nama yang muncul di dokumen Rafi.

"Ibu Saras, saya bukan dokter utama Anda," kata Alya. "Saya bisa membaca pola dan menyarankan pemeriksaan independen, tapi keputusan medis harus lewat dokter yang tepat."

"Saya tahu."

"Saya perlu melihat semua obat, vitamin, minuman herbal, dan catatan lab."

Bu Saras mengangguk.

Pak Mahendra hendak memanggil ART, tetapi Dina masuk lebih dulu.

"Obat Kak Saras ada di kamar. Saya ambilkan."

Suara itu terlalu cepat.

Alya menatapnya. "Tidak perlu. Saya ikut ke kamar."

Dina tersenyum kaku. "Kamar Kak Saras agak berantakan."

"Saya datang bukan untuk menilai lemari."

Bu Saras berdiri perlahan. "Saya juga ikut."

Dina tidak bisa menolak.

Di kamar utama, botol obat tersusun rapi di laci. Terlalu rapi. Ada label, kotak vitamin, sachet minuman herbal, dan satu botol kecil tanpa etiket.

Alya mengambil botol itu dengan sarung tangan tipis dari tasnya.

Dina langsung berkata, "Itu minyak aromaterapi. Kak Saras suka susah tidur."

"Saya belum bertanya."

Dina menutup mulut.

Karina memotret semua posisi barang sebelum Alya memindahkannya. Pak Mahendra berdiri di pintu, wajahnya makin gelap.

Alya membuka kotak vitamin. Di dalamnya ada kapsul yang warnanya tidak sama.

"Bu Saras, siapa yang menyiapkan kapsul harian?"

Dina menjawab, "Saya. Biar Kakak tidak repot."

Alya menoleh. "Saya bertanya pada Bu Saras."

Wajah Dina memerah.

Bu Saras berkata pelan, "Dina."

Satu kata itu cukup.

Pak Mahendra masuk ke kamar. "Dina, keluar."

"Mas, saya cuma membantu!"

"Keluar."

"Kak Saras, kamu percaya orang luar daripada adik sendiri?"

Bu Saras menatapnya. Untuk pertama kalinya, wajah tenang itu retak.

"Aku percaya tubuhku yang makin lemah setiap kali kamu bilang aku harus istirahat."

Dina mundur setengah langkah.

Alya tidak menikmati adegan itu. Ia tahu terlalu baik rasa sakit ketika orang rumah menjadi tangan orang luar.

Ia memasukkan sampel ke kantong bukti.

"Pak Mahendra, ini harus diperiksa lab independen. Jangan lewat jaringan rumah sakit yang biasa."

"Saya paham."

Karina menambahkan, "Dan mulai malam ini, jangan ada obat dari tangan siapa pun tanpa catatan."

Dina tertawa getir. "Kalian menuduh saya meracuni kakak sendiri?"

Alya menatapnya. "Saya menuduh ada obat yang tidak sesuai. Kalau Anda bersih, hasil lab akan membantu Anda."

"Mbak Alya pintar sekali membalik kata."

"Tidak. Saya hanya tidak mudah dibuat takut oleh air mata."

Dina menatap Bu Saras. Matanya mulai basah.

"Kak, aku tinggal di sini karena kamu kasihan. Aku jaga kamu. Aku urus rumahmu. Sekarang perempuan ini datang dan kamu langsung--"

"Cukup," kata Bu Saras.

Suaranya tidak keras, tetapi Dina langsung diam.

"Kalau kamu benar menjaga aku, kamu akan senang aku diperiksa."

Dina tidak punya jawaban.

Di ruang tamu, Pak Mahendra menutup pintu setelah Dina masuk ke kamarnya sendiri. Ia menatap Alya seperti baru selesai melihat bagian rumah yang selama ini sengaja ia abaikan.

"Saya berutang."

"Bapak tidak berutang pada saya," kata Alya. "Bapak berutang pada istri Bapak untuk tidak menganggap urusan rumah sebagai hal kecil."

Pak Mahendra menerima kalimat itu tanpa membela diri.

Bu Saras memegang tangan suaminya.

"Mas, audit Pradipta jalan terus."

Pak Mahendra menoleh. "Kamu sakit."

"Justru karena aku sakit, aku tahu seperti apa orang yang dibuat diam pelan-pelan."

Alya menatap perempuan itu.

Bu Saras berkata, "Kalau dokumen yayasan menyentuh dokter yang sama, jangan tunggu rapat komisaris biasa. Buat jalur resmi. Saya akan hadir sebagai saksi kalau perlu."

Karina mengangkat alis. "Ibu yakin?"

"Saya sudah terlalu lama tidur."

Kalimat itu membuat Alya teringat Arga.

Orang-orang yang dibuat tidur mulai bangun satu per satu.

Dan ketika mereka bangun, Ratna tidak mungkin menenangkan semuanya dengan senyum pengajian dan kata nama baik keluarga.

Di dapur belakang, Dina berdiri dengan ponsel menempel di telinga.

"Mereka membawa sampel," bisiknya.

Suara di ujung sana pendek dan dingin. "Siapa?"

"Alya. Karina juga. Mas Mahendra percaya pada mereka."

"Kamu bodoh."

Wajah Dina memerah. "Saya sudah melakukan semua sesuai instruksi. Kak Saras sendiri yang lemah."

"Jangan sebut instruksi di telepon."

Dina langsung menutup mulut.

Dari ambang pintu, Bu Saras berdiri tanpa suara. Wajahnya pucat, tetapi matanya tidak lagi kosong.

Dina menurunkan ponsel perlahan.

"Kak..."

Bu Saras menatap adiknya seperti menatap orang asing yang dulu pernah ia suapi di meja makan.

"Berapa lama?"

"Bukan begitu."

"Aku tanya berapa lama."

Dina mulai menangis. "Aku cuma diminta membuat Kakak istirahat. Mas Mahendra terlalu keras di komite audit. Mereka bilang kalau dia terus ikut campur, banyak orang bisa terluka."

"Jadi kamu memilih membuat aku yang terluka."

"Aku takut."

"Semua orang takut, Dina. Tidak semua menjual tubuh kakaknya untuk rasa aman."

Dina terisak.

Bu Saras mengambil ponsel dari tangannya dan melihat nomor terakhir. Tidak ada nama. Hanya angka.

Ia menyimpannya ke saku.

Ketika kembali ke ruang tamu, Bu Saras menyerahkan ponsel itu kepada Alya.

"Nomor ini yang meneleponnya."

Pak Mahendra berdiri kaku. "Saras."

"Jangan lindungi aku dengan diam lagi, Mas."

Alya menerima ponsel itu.

Ia tidak perlu berkata banyak.

Nomor tanpa nama sering lebih jujur daripada nama keluarga yang terlalu besar.

Di perjalanan pulang, Karina melacak nomor itu lewat kontak lamanya.

Hasilnya tidak langsung memberi nama Ratna. Terlalu mudah kalau begitu. Nomor itu terdaftar atas sebuah perusahaan konsultan acara kecil di Tebet, perusahaan yang dua kali menerima pembayaran dari Yayasan Pradipta untuk program pengajian kesehatan.

Karina menunjukkan layar pada Alya.

"Jalur berputar."

"Tapi tetap jalur."

"Kamu mau langsung pakai ini?"

Alya melihat jalan malam dari kaca mobil. "Belum. Kalau kita tarik terlalu cepat, mereka akan memutus ujungnya."

"Lalu?"

"Kita biarkan Dina berpikir dia masih punya tempat untuk berlari."

Karina tersenyum tipis. "Kamu kadang membuat hukum terasa seperti memancing."

"Bukan memancing. Menunggu orang lapar mendekati umpan."

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!