NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Hadiah dari Kucing

Ardian tidak bertanya pada Sekar soal hitung mundur itu.

Ia hanya melihat status WA HappyPuppy sekali lagi sebelum tidur, lalu menutup ponsel dengan wajah seolah tidak peduli.

Keesokan paginya, sumber kekacauan baru masuk ke halaman belakang Rumah Tan tanpa izin.

Seekor kucing oranye.

Bulunya tidak benar-benar bersih, satu telinganya sedikit sobek, dan langkahnya sangat percaya diri untuk makhluk yang baru pertama kali resmi memasuki wilayah konglomerat. Ia berjalan melewati melati, mengendus mawar, lalu langsung naik ke kasur donat krem yang disiapkan Sekar.

Sekar yang sedang menyiram tanaman hampir menjerit bahagia.

"Pak Tan! Si Oranye datang!"

Ardian sedang di teras dengan tablet. Ia mengangkat mata.

Kucing itu menatapnya.

Ardian menatap balik.

Selama lima detik, dua makhluk paling gengsi di halaman itu saling mengukur.

Lalu Si Oranye menguap dan tidur.

"Tidak sopan," kata Ardian.

Sekar berjongkok di dekat kasur kucing, matanya berbinar. "Dia percaya rumah ini aman."

"Dia percaya kasur gratis."

"Itu juga bentuk kepercayaan."

Sekar mengambil mangkuk kecil dan mengisinya air. Snack kucing ia taruh sedikit, tidak terlalu banyak. "Pelan-pelan, ya. Nanti kalau kamu betah, kita ajak foto untuk kulkas."

Ardian menatapnya. "Kulkas bukan arsip hewan liar."

"Pak Tan sudah bilang itu soal Dufan juga. Sekarang fotonya menempel."

Ardian kalah bukan karena setuju, melainkan karena tidak punya kalimat baru.

Si Oranye baru benar-benar menguji kesabaran Ardian setelah makan.

Kucing itu turun dari kasur donat, berjalan mendekati kursi roda, lalu menggesekkan tubuhnya ke roda depan dengan manja. Ardian langsung menurunkan tablet.

"Jangan."

Si Oranye menggesek lagi.

"Kucing ini tidak paham perintah."

"Kucing paham. Dia hanya memilih mengabaikan," kata Sekar. "Mirip seseorang."

Ardian menatapnya.

Sekar pura-pura sibuk membuka snack. "Mau coba kasih makan?"

"Tidak."

Si Oranye duduk di depan kursi roda dan menatap Ardian dengan mata bulat.

Ardian menatap balik.

Sekar menuang sedikit snack ke telapak tangannya sendiri. "Begini. Jangan langsung banyak. Biar dia tidak sakit perut."

Kucing itu makan dari tangan Sekar dengan suara kecil. Sekar tersenyum begitu lembut sampai Ardian lupa menggeser pandangan.

"Tangan saya bau kucing," kata Sekar setelahnya.

"Cuci."

"Pak Tan mau coba satu?"

"Tidak."

Lima detik kemudian, Ardian mengambil satu butir snack dengan dua jari, mengulurkannya sejauh mungkin seolah sedang menandatangani kontrak berisiko tinggi.

Si Oranye maju dan memakannya.

Sekar menahan napas.

Ardian menarik tangannya kembali. "Sudah."

"Itu tadi manis sekali."

"Tidak."

"Saya belum bilang siapa."

Ardian membuka tablet lagi, tetapi telinganya sedikit merah.

Si Oranye ternyata punya cara sendiri membalas budi.

Hadiah pertama muncul siang hari.

Seekor kecoa mati diletakkan tepat di depan pintu teras.

Sekar menatap benda itu dengan wajah kaku.

Ardian melihat dari kursi roda. "Hadiah."

"Saya tahu. Saya sedang berusaha menghargai niatnya."

"Kamu terlihat ingin pindah rumah."

"Saya cuma tidak siap dicintai dengan kecoa."

Si Oranye duduk di dekat pot melati, ekornya bergerak bangga.

Sekar mengambil tisu tebal, memungut hadiah itu, lalu menguburnya di luar area taman dengan wajah sangat resmi. "Terima kasih, Si Oranye. Lain kali bunga saja."

Ardian berkata, "Dia kucing. Bukan florist."

Hadiah kedua datang sore hari.

Kali ini masih hidup.

Seekor tikus kecil berlari melintasi dapur, dikejar Si Oranye dengan semangat pahlawan. Staf rumah menjerit. Darren yang baru turun untuk mencari sisa burger naik ke atas sofa dengan kecepatan yang tidak pantas untuk direktur sementara.

"Koko! Ada tikus!"

Ardian menatapnya. "Turun."

"Tidak sebelum tikus itu menandatangani surat keluar!"

Sekar mengambil sapu, bukan untuk memukul, tetapi mengarahkan tikus ke pintu belakang. Si Oranye mengikuti dengan mata menyala. Setelah lima menit kekacauan, tikus berhasil keluar, kucing keluar, dan Darren masih di atas sofa.

Sekar berkacak pinggang. "Pak Darren, turun."

"Aku menjaga titik tinggi strategis."

Ardian berkata, "Kamu takut tikus."

"Aku menghormati jarak dengan satwa liar."

Malamnya, hadiah ketiga datang.

Ikan asin kering.

Tidak ada yang tahu dari mana Si Oranye mendapatkannya. Ia meletakkannya di bawah kursi roda Ardian, lalu duduk dengan wajah penuh harapan.

Sekar menutup mulut agar tidak tertawa.

Ardian menatap ikan itu. "Kenapa untukku?"

"Mungkin dia tahu Pak Tan bos rumah."

"Aku tidak makan ikan asin dari kucing."

Si Oranye mengeong.

Ardian diam.

Sekar melihat pria itu mengambil tisu, memungut ikan asin dengan sangat hati-hati, lalu menaruhnya di piring kecil di samping mangkuk kucing.

"Dibuang?" tanya Sekar.

"Disimpan sebagai bukti kejahatan."

Si Oranye mengeong lagi, kali ini terdengar puas.

Sekar duduk di bangku kecil dekat teras. "Lihat? Dia suka Pak Tan."

"Dia salah menilai."

"Kucing biasanya tahu siapa yang hatinya lembut."

Ardian menatapnya.

Sekar baru sadar kalimat itu keluar terlalu ringan. Ia cepat pura-pura mengatur snack kucing.

Malam itu, setelah jadwal pijat selesai, Ardian membuka buku catatan kulit cokelat. Di halaman kosong setelah "Aku tamat", ia menggambar dua bentuk sederhana.

Satu kucing duduk dengan wajah datar.

Satu anjing kecil tersenyum membawa sendok.

Gambarnya buruk.

Sangat buruk.

Tetapi ia menatapnya lama sebelum menutup buku.

Keesokan paginya, Sekar masuk ke kamar mandi tamu dekat ruang terapi untuk mengambil handuk hangat. Ia berhenti di depan wastafel.

Di sana, berdiri dua gelas kumur yang sudah dicuci bersih.

Satu pink.

Satu biru.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!