NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 – Empat Bintang yang Belum Saling Mengenal

Raungan Golem Penjaga menggema memenuhi Arena Celestia. Suara beratnya membuat tanah dibawah kaki para peserta bergetar hebat. Debu yang masih beterbangan perlahan menghilang, memperlihatkan wujud makhluk batu raksasa itu secara utuh.

Permukaan tubuhnya tersusun dari bongkahan batu hitam yang saling mengunci seperti lapisan zirah. Di sela-sela retakan batu itu mengalir cahaya biru terang, seolah terdapat inti sihir yang hidup di dalam tubuhnya.

Sepasang mata merahnya menyapu seluruh arena, murid-murid yang semula penuh semangat kini mulai menelan air liurnya, bahkan beberapa peserta tingkat akhir tampak memasang ekpsresi waspada.

“J-jadi… itu lawan kita? Itu terlalu besar.” Gumam salah satu murid tak percaya.

“Apa professor serius memberi kita lawan seperti itu?” Murid lain menyeru lagi dan hal itu membuat professor Cedric tersenyum tipis.

“Tenang. Tujuan kalian bukan untuk mengalahkannya.” Kalimat itu langsung membuat seluruh peserta menoleh bersamaan ke arah Profesor Cedric. “Kalian hanya perlu bertahan selama dua puluh menit dengan menunjukkan bagaimana kalian bekerja sama. Tetapi, kalau ada kelompok yang mampu melumpuhkan Golem lebih cepat, tentu nilainya akan jauh lebih tinggi.” Terangnya lagi.

Suasana yang semula tegang berubah menjadi riuh, beberapa murid mulai berbisik menyusun strategi, dan sebagian lagi tampak semakin gugup. Sementara itu, Aurelia masih menatap Golem yang berada didepan sana, ia bisa merasakan tekanan mana yang dipancarkan oleh makhluk itu, dan mana itu jauh lebih besar dari pada serigala bayangan yang ia temui di Hutan Ilusi.

“Relia,” suara Aeron membuyarkan lamunannya. Pemuda itu sudah memasang satu anak panah pada busurnya dan tatapannya pun terlihat tenang. “Kita jangan bergerak sendiri-sendiri.” Aeron kembali menyeru.

“Aku setuju,” Aurelia mengangguk tanda setuju.

“Aku punya firasat buruk.” Lyra menutup buku catatannya dengan pelan.

“Memang kapan kau tidak punya firasat buruk?” Celetuk Aurelia. Lyra mendengus pelan.

“Biasanya firasatku hanya 60% benar.” Timpal Lyra

“Kalau sekarang?” Aurelia kembali bertanya.

“99%,” jawab Lyra singkat dan mereka pun tertawa kecil bersamaan. Tawa yang terdengar sederhana itu justru sedikit mengurangi ketegangan di antara mereka. Sementara Selene menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka halaman demi halaman buku mantranya.

“Aku…” ia menggigit bibir bawahnya dengan ragu. “… akan berusaha.” Sambungnya lagi. Aurelia menoleh ke arahnya dan tersenyum hangat padanya.

“Kita semua akan berusaha,” sahut Aurelia. Ucapan Aurelia itu membuat tangan Selene yang semua gemetar mulai kembali tenang.

“Seluruh kelompok harap bersiap.” Suara Aldric kembali menggema. Tongkat sihirnya terangkat tinggi hingga sebuah lingkaran cahaya raksasa pun muncul di langit. “Mulai.” Serunya lagi.

Ledakan mana langsung memenuhi udara, dan seluruh kelompok mulai bergerak hampir bersamaan. Di antara mereka ada yang langsung menyerang Golem secara langsung, ada juga yang memilih berpencar, namun berbeda dengan kelompok Aurelia, kelompoknya memilih untuk tidak terburu-buru.

“Jangan maju dulu.” Aeron mengangkat tangannya dan disetujui oleh Lyra dengan sebuah anggukkan.

“Aku juga berpikir begitu,” Lyra menimpalinya.

“Kenapa?” Selene tampak bingung dengan perintah itu.

“Lihat.” Aeron langsung menunjuk beberapa kelompok lain hingga membuat mereka menoleh ke arah dimana Aeron menunjukkan jarinya.

Disana terlihat ada salah satu kelompok yang menyerbu Golem secara membabi buta. Puluhan mantra juga menghantam tubuh batu raksasa itu. Mulai dari api, es, petir, angin, dan ledakan demi ledakan pun memenuhi arena. Namun saat asap menghilang, tubuh Golem bahkan nyaris tidak mengalami kerusakan.

Usai asap menghilang dan Golem menunjukkan dirinya, ia hanya mengangkat satu lengannya, ia mengayunkan satu tangannya dan empat murid langsung terpental belasan meter. Untungnya penghalang sihir professor segera menangkap mereka sebelum mengalami cedera serius dan professor Elowen langsung mencatat sesuatu dibukunya.

“Kelompok Tujuh gagal menjaga formasi.”

“Dan terlalu percaya diri.” Profesor Lyren ikut menambahkan. Sedangkan Aldric hanya mengamati tanpa memberikan komentar.

“Aku tahu. Makhluk seperti ini tidak bisa dikalahkan dengan menyerang sembarangan.” Gumam Aeron.

“Tubuhnya terlalu keras jika kita hanya menyerang tanpa tahu aturannya.” Timpal Lyra yang juga ikut memperhatikan Golem yang masih di serang secara membabi buta.

“Ada,” saat membuka halaman baru, Selene menemukan sesuatu dan membacanya dengan cepat. “Makhluk batu biasanya memiliki pusat mana.” Tambahnya lagi dan Aurelia langsung memperhatikan makhluk tersebut.

“Tapi dimana?”

“Aku belum tahu, karena buku ini hanya menjelaskan teorinya.” Jawaban itu membuat Aeron tersenyum tipis.

“Itu sudah cukup,” jawab Aeron singkat dan membuat Lyra tidak mengerti.

“Cukup bagaimana?” Protes Lyra karena tidak mengerti dengan ucapan Aeron sebelumnya.

“Kita tidak perlu menghancurkan seluruh tubuhnya, kita hanya cukup menemukan inti sihirnya.” Aurelia mulai memahami dan menangkap maksud dari kalimat Aeron.

“Karena kalau inti itu rusak, seluruh tubuhnya akan berhenti bergerak.” Aeron mengangguk dan Lyra tersenyum lebar dengan rencana yang telah dibuat.

Menurut Lyra, rencana mereka terbilang sudah cukup matang, hanya tinggal mencari tahu dimana letak inti mana milik Golem. Namun, belum sempat mereka berpikir lebih jauh, Golem mendadak menginjakkan kaki kanannya.

DUUMM~

Gelombang kejut menyebar ke seluruh arena dan membuat tanah berguncang dengan hebat, Aurelia bahkan hampir kehilangan keseimbangannya. Selene terpeleset akibat guncangan yang disebabkan oleh Golem, namun belum sampai gadis itu jatuh, Aurelia sudah lebih dulu meraih tangannya.

“Kau tidak apa-apa?”

“Terima kasih,” Ucap Selene, dan saat itulah sebuah batu besar melayang ke arah mereka.

Aeron yang menyadari hal itu pun langsung melesatkan anak panahnya, dan hal itu berhasil membuat batu tersebut pecah di udara menjadi puluhan serpihan kecil, kemudian Lyra mengangkat kedua tangannya.

“Lux Mirage.”

Puluhan bayangan dirinya bermunculan memenuhi arena. Semua bayangan itu memiliki wajah, pakaian, bahkan aura mana yang sama persis dengan yang asli, hingga hal itu membuat para murid di tribun terkejut bersamaan.

“Itu ilusi tingkat tinggi.” Profesor Elowen tersenyum kagum melihat sihir yang diciptakan oleh Lyra dan Profesor Cedric mengangguk setuju.

“Untuk murid tahun pertama, itu merupakan kemampuan yang luar biasa.

Kini, seluruh bayangan Lyra mulai berlari ke segala arah dan membuat Golem kebingungan. Mata makhluk itu mengikuti setiap pergerakan yang diciptakan oleh ilusi tersebut, ia bahkan sampai mengayunkan lengannya berulang kali. Namun setiap pukulan hanya menghancurkan bayangan, Lyra tertawa puas.

“Dia berhasil tertipu.”

“Kerja bagus,” ujar Aurelia seraya melukiskan senyuman dibibirnya.

Kesempatan tersebut langsung dimanfaatkan oleh Aeron. Ia melompat ke sebuah batu besar dan kembali mengangkat busurnya. Kali ini ia memejamkan kedua matanya secara perlahan, ia juga mengatur napasnya dan angin di sekitar arena perlahan berkumpul. Rambut cokelatnya berkibar pelan, dan Lucien yang berada di arena yang sama sesekali memperhatikannya langsung terfokus padanya.

“Menarik.” Gumamnya. “Dia menggunakan sihir untuk mempercepat anak panah.” Pungkasnya lagi.

“Bukan cuma itu,” Rowan ikut memperhatikan. “Dia juga sedang membaca arah aliran mana.” Lanjutnya lagi yang tiba-tiba muncul disana.

Sedangkan Kael, ia tetap diam, namun tatapannya menunjukkan sebuah pengakuan bahwa Aeron bukanlah penyihir biasa. Aeron kembali menghela napasnya dan membuka kedua matanya, matanya tertuju pada makhluk yang berada didepannya.

“Wind Pierce.” Anak panah pun melesat ke arah makhluk itu, tapi bukan ke kepala atau dada, melainkan tepat di lutut kanan Golem. Lalu, retakan kecil muncul disana dan hal itu membuat Golem kehilangan keseimbangannya untuk sesaat.

“Berhasil.” Seru Lyra

“Tidak. Itu baru percobaan,” jawab Aeron tenang.

Di sisi lain arena, Caelum masih berdiri santai. Ketiga anggota kelompoknya tampak sibuk menyerang. Namun ia justru memperhatikan kelompok Aurelia.

“Hebat. Pemanah itu mampu membaca titik lemahnya.” Gumamnya dengan senyuman khasnya yang kembali terlukis di bibirnya. “Relia, kau juga selalu menarik.” Pandangannya langsung berpindah ke arah Aurelia dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya. Sedangkan Kael yang berada tak jauh dari sana hanya dapat mengepalkan tangannya, ia sungguh tidak menyukai cara Caelum memandang adiknya.

Pertarungan semakin sengit, setiap kelompok yang menyerah sudah mulai kewalahan menghadapi Golem. Sebagian dari mereka berhasil bertahan, sebagian lagi sudah di eliminasi, namun kelompok Aurelia masih tetap utuh.

Kelompok Aurelia mulai memahami ritme satu sama lain. Aurelia menjadi pelindung, Lyra mengacaukan konsentrasi lawan dengan ilusinya, Aeron mencelah, sedangkan Selene terus menganalisis setiap gerakan Golem, dan tiba-tiba mata Selene membesar.

“Tunggu.” Semuanya langsung menoleh ke arah Selene. “Aku menemukannya.” Sahut Selene lagi.

“Apa?” Ujar Aurelia dan Lyra bersamaan. Lalu, Selene menunjuk dada kiri Golem dan mata mereka langsung mengarah pada dimana Selene menunjuk.

“Tadi, setiap kali ia menyerang, cahaya biru dibagian itu berdenyut lebih terang.” Terang Selene dan membuat Aeron langsung memperhatikannya dan benar saja, retakan di dada kiri Golem sesekali memancarkan cahaya lebih kuat dibanding bagian tubuh lainnya.

“Itu inti mananya,” gumam Aeron. Kemudian Aurelia menggenggam tongkat Astralisnya lebih erat dari sebelumnya.

“Kalau begitu kita hanya punya satu kesempatan,” tutur Aurelia dan Lyra langsung menelan air liurnya.

“Rencana?” Aeron langsung menatap ketiga rekannya mendengar pertanyaan Lyra.

“Kita buat dia berhenti bergerak selama lima detik. Lyra, alihkan perhatiannya.” Lyra mengangguk mantap. “Selene, bantu Aurelia membaca waktu yang tepat.” Lanjut Aeron lagi dan membuat Selene menarik napas panjang.

“Baik,”

“Relia,” panggil Aeron seraya tersenyum tipis. “Begitu aku membuka celah, semua bergantung padamu.” Aurelia langsung memandangi teman-teman barunya. Baru beberapa puluh menit mereka saling mengenal. Namun entah kenapa ia benar-benar mempercayai mereka semua dan dengan mantap ia mengangguk.

“Baik. Kita akan lakukan bersama.” Kemudian mereka berempat saling berpandangan satu sama lain. Tidak ada lagi rasa canggung, yang ada hanyalah tekad yang sama.

Mereka mungkin berasal dari latar belakang yang berbeda dan juga memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Namun saat itu, empat warna telah menyatu menjadi satu tujuan. Tanpa mereka sadari, jauh di langit biru Akademi Aetherion, burung gagak hitam yang sejak tadi mengawasi perlahan mengepakkan sayapnya.

Mata merah gagak itu menyala lebih terang ketika melihat cahaya Astralis di tangan Aurelia saat mulai berdenyut semakin kuat. Di balik topeng putihnya, pria misterius yang berdiri di puncak bukit tersenyum tipis.

“Sudah waktunya Pewaris Astralis mulai menunjukkan cahayanya.” Namun di saat sama, Orion yang berdiri di atap Menara Astralis mendadak menoleh ke arah langit dan tatapan abu-abunya menyipit.

“Ada yang memasuki wilayah akademi.” Suara angin berhembus pelan, dan untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai, Orion merasakan firasat yang membuat dadanya dipenuhi kewaspadaan. Ancaman yang sesungguhnya ternyata sudah berada jauh lebih dekat dari yang mereka bayangkan.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!