“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: ALIANSI DALAM KEGELAPAN
Rumah aman itu masih diselimuti keheningan yang mencekam saat Alesha melangkah masuk.
Aroma tanah basah dan sisa-sisa bubuk mesiu dari pakaian yang ia kenakan semalam seolah menjadi pengingat bahwa dunia di luar sana sedang memburu mereka.
Ia menemukan Matteo di ruang kerja lantai bawah, sebuah ruangan tanpa jendela yang hanya diterangi oleh satu lampu meja yang redup dan cahaya dari beberapa monitor pengawas.
Matteo duduk di kursi rodanya, bahunya dibalut perban putih yang bersih, namun sorot matanya jauh lebih tajam daripada saat ia memegang kuas lukisnya.
"Kau pergi tanpa izin, Alesha," suara Matteo rendah, bergetar karena otoritas yang mulai kembali.
"Vincenzo hampir saja menyusulmu dengan senjata terkokang."
Alesha tidak membalas dengan omelan seperti biasanya. Ia berjalan mendekati meja kayu jati yang besar itu dan melemparkan kancing perak bermotif phoenix ke atas meja.
Suara denting logamnya terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
"Simpan amarahmu, Matteo. Aku punya sesuatu yang lebih baik daripada sekadar permintaan maaf," desis Alesha.
Ia mencondongkan tubuh, menatap Matteo tepat di manik matanya.
"Aku baru saja dari 'L’Eredità di Roma'. Penembak itu adalah pelanggan mereka. Dan kau tahu siapa yang memberikan referensi untuk jas itu? Kiara. Kakakku sendiri."
Matteo tidak tampak terkejut. Reaksinya yang datar justru membuat bulu kuduk Alesha merdiri. Pria itu menyandarkan punggungnya, jemarinya bertaut di depan dada.
"Aku sudah menduganya," jawab Matteo tenang.
"Kau sudah menduganya?!" Alesha meledak.
Ia memukul permukaan meja dengan telapak tangannya.
"Kakakku mencoba membunuh kita, Matteo! Dia bekerja sama dengan musuhmu untuk melenyapkanku, adiknya sendiri! Dan kau duduk di sana seolah aku baru saja melaporkan cuaca hari ini?"
"Duduklah, Alesha," perintah Matteo.
Kali ini suaranya tidak dingin, melainkan sarat dengan beban yang berat.
Alesha menarik kursi di depan Matteo dan duduk dengan kasar.
Ia menunggu penjelasan yang masuk akal, atau setidaknya sesuatu yang bisa meredam badai di dalam kepalanya.
"Musuh yang kita hadapi bukan sekadar saingan bisnis," Matteo memulai, suaranya bergema di antara dinding batu.
"Dia adalah darahku sendiri. Pamanku, Leonardo Al-Ricci. Dia adalah orang yang mengatur kecelakaan yang membuat aku... seperti ini."
Matteo melirik kakinya yang diam di atas pijakan kursi roda.
"Dia menggunakan Kiara karena dia tahu Kiara punya motif. Kakakmu bukan korban, Alesha. Dia serakah. Leonardo menjanjikannya posisi di dewan direksi Al-Ricci jika dia berhasil membawamu masuk ke dalam pernikahan ini sebagai 'mata-mata', lalu melenyapkan kita berdua saat waktunya tepat."
Alesha merasa dunianya runtuh. Selama ini ia mengira Kiara adalah alasan ia harus berkorban, ternyata Kiara adalah arsitek dari penderitaannya.
Namun, sebelum ia sempat memproses rasa sakit itu, Matteo melakukan sesuatu yang membuat napasnya berhenti.
Matteo memegang pegangan kursi rodanya, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia mendorong tubuhnya ke atas.
Alesha ternganga.
Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat pria yang selama ini ia kira lumpuh total itu berdiri dengan kedua kakinya.
Matteo berdiri tegak, menjulang tinggi di atas meja. Meski ia sedikit meringis karena luka di bahunya, kakinya tampak kuat dan kokoh.
"Kau..." Alesha berdiri, mundur beberapa langkah hingga menabrak rak buku.
"Kau bisa berjalan? Selama ini... kau bisa berjalan?!"
"Sarafku memang rusak sebagian, tapi aku tidak pernah benar-benar lumpuh total," Matteo melangkah perlahan mengitari meja, mendekati Alesha.
"Aku butuh Leonardo percaya bahwa dia telah berhasil menghancurkanku. Seorang pria di atas kursi roda dianggap tidak berbahaya. Itu adalah perisai terbaikku. Hanya Marcello dan Vincenzo yang tahu."
Kemarahan Alesha yang tadi ditujukan pada Kiara kini berbelok arah. Ia merasa di permainkan oleh dua pihak sekaligus.
"Kau membohongiku! Aku merawatmu, aku mengasihanimu, aku bahkan hampir menangis saat menjahit lukamu semalam karena aku pikir kau pria malang yang tidak bisa melarikan diri!"
Alesha melayangkan tamparan keras ke dada Matteo, namun pria itu menangkap pergelangan tangannya dengan satu tangan yang kuat.
"Aku harus melakukannya, Alesha! Semakin sedikit orang yang tahu, semakin aman rencanaku," Matteo membela diri, matanya berkilat penuh tekad.
"Aman untukmu, tapi tidak untukku!" teriak Alesha, air mata frustrasi mulai menggenang.
"Aku mempertaruhkan nyawaku di jalanan Roma tadi siang demi mencuri informasi untuk pria yang ternyata hanya sedang berpura pura lumpuh!"
"Dan itu membuktikan bahwa kau adalah satu-satunya orang yang bisa aku percayai sekarang," potong Matteo.
Ia menarik tangan Alesha, memaksa wanita itu untuk berhenti memukulnya.
"Alesha, dengarkan aku. Leonardo dan Kiara berpikir mereka telah memenangkan permainan ini. Mereka pikir aku terluka parah dan kau hanya gadis butik yang ketakutan."
Matteo memegang kedua bahu Alesha, menatapnya dengan intensitas yang meluluhkan kemarahan wanita itu sejenak.
"Kita berada di perahu yang sama. Jika mereka tahu aku bisa berjalan, mereka akan mengirimkan pasukan yang lebih besar. Jika mereka tahu kau sudah mengetahui rencana Kiara, mereka akan membunuhmu tanpa ragu."
Alesha terdiam, napasnya masih memburu. Ia benci dibohongi, tapi insting bertahannya mengatakan bahwa Matteo benar.
Di dunia yang penuh dengan serigala berbaju sutra ini, kejujuran adalah kemewahan yang bisa membunuh mereka.
"Jadi, apa rencanamu?" tanya Alesha akhirnya, suaranya serak.
Matteo melepaskan bahu Alesha dan kembali duduk di kursi rodanya, kembali ke dalam perannya.
"Kita akan memainkan permainan mereka. Kau akan tetap menjadi 'istri yang tidak tahu apa-apa'. Kau harus tetap terlihat panik, ketakutan, dan sibuk dengan butikmu. Aku akan tetap menjadi 'suami cacat' yang sedang dalam masa pemulihan."
"Dan Kiara?"
"Dia akan menghubungimu," ucap Matteo dingin.
"Dia akan berpura-pura menjadi kakak yang khawatir, mencoba mencaritahu kondisiku melaluimu. Saat itulah, kau akan memberinya informasi palsu. Kita akan memancing mereka keluar dari lubangnya, ke tempat di mana aku bisa menghancurkan Leonardo dan kau bisa menghadapi kakakmu."
Alesha menatap Matteo lama.
Pria ini bukan lagi sekadar pelukis atau investor, dia adalah seorang jenderal yang sedang menyusun strategi perang. Dan entah bagaimana, Alesha merasa terhormat sekaligus ngeri karena menjadi bagian dari rencana itu.
"Aku setuju," ucap Alesha tegas.
Ia mengusap air matanya dengan kasar.
"Tapi ingat ini, Matteo. Setelah ini selesai, setelah Kiara dan pamanmu tertangkap... kau punya banyak sekali hutang penjelasan padaku. Dan harganya tidak akan murah."
Matteo tersenyum tipis, sebuah senyum kemitraan yang kini terasa jauh lebih kokoh daripada kontrak pernikahan yang mereka tanda tangani.
"Aku tahu, Alesha. Aku akan membayarnya dengan apa pun yang kau minta."
Mereka menghabiskan sisa malam itu di ruang kerja yang gelap, membicarakan detail rencana, memetakan aset Leonardo, dan menyusun jebakan yang akan mereka pasang. Di ruangan itu, di tengah bayang-bayang dan konspirasi, pernikahan paksa yang dimulai dengan kebencian dan keterpaksaan itu telah berevolusi.
Mereka bukan lagi sekadar dua orang yang terjebak dalam satu rumah. Mereka adalah aliansi dalam kegelapan. Sebuah kemitraan yang dibangun di atas darah, rahasia, dan satu tujuan yang sama, balas dendam.
Saat Alesha akhirnya beranjak untuk istirahat, Matteo memanggilnya sekali lagi.
"Alesha?"
Alesha menoleh di ambang pintu.
"Terima kasih. Untuk tidak meninggalkanku di jalanan Trastevere tadi."
Alesha menatap pria di kursi roda itu, menyadari bahwa meskipun kebohongannya menyakitkan, perlindungan yang diberikan Matteo adalah nyata.
"Jangan berterima kasih padaku. Pastikan saja kau tidak membuatku menyesal telah menyelamatkanmu."
Alesha menutup pintu, meninggalkan Matteo dalam kegelapan, sementara di dalam hatinya, api yang lebih besar dari sekadar amarah mulai menyala, sebuah api yang siap membakar siapa pun yang berani mengusik rencana baru mereka.