NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Telah berlalu dua bulan sejak hari pernikahan mereka. Waktu enam puluh hari itu terasa berjalan begitu cepat bagi Dominic dan Isabella, dipenuhi riak-riak kecil yang hangat di dalam rumah.

Siang itu, suasana di ruang tamu kediaman Salvatore terasa sangat tenang. Isabella sedang duduk santai di sofa sambil menikmati potongan buah segar dari piring kecil di pangkuannya. Di atas karpet bulu tak jauh dari sana, Damian yang berusia lima tahun sedang sibuk menyusun balok-balok mainannya dengan serius. Dominic sendiri baru saja turun dari ruang kerjanya di lantai atas, berniat menyusul anak dan istrinya untuk melepas penat.

Namun, kedamaian itu pecah dalam sekejap.

Pintu ganda ruang utama terbuka dengan hentakan yang cukup keras. Langkah kaki dari sepatu hak tinggi yang tegas berdentum di atas lantai marmer. Seorang wanita paruh baya berpenampilan teramat elegan dan berkelas melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Dialah **Victoria Salvatore**, ibu kandung Dominic yang baru saja mendarat dari Eropa setelah mendengar rumor pernikahan rahasia putranya.

Begitu melangkah masuk, tatapan mata Victoria yang sedingin es langsung terkunci pada Isabella.

"Jadi, rumor menjijikkan itu benar," ucap Victoria, suaranya pelan namun sarat akan keangkuhan yang merendahkan. "Kau benar-benar membawa wanita kelas rendah ini ke dalam rumahmu, Dominic? Berani sekali kau mengotori silsilah keluarga kita demi jalang murahan ini!"

Isabella tersentak pias. Sendok buah di tangannya hampir saja terjatuh. Kalimat kasar yang tiba-tiba itu menghantam mentalnya, membuatnya seketika membeku di tempat duduknya.

Melihat Isabella yang mendadak pucat dan bergetar, Dominic langsung diselimuti rasa khawatir yang luar biasa.

Ia tahu seberapa beracun dan kejamnya lidah ibunya jika sudah membenci seseorang. Dengan gerakan cepat, Dominic langsung melangkah lebar, memosisikan tubuh kekarnya di depan Isabella, mendekap bahu istrinya dengan tangan kanan secara posesif seolah sedang menyembunyikan wanita itu dari dunia luar.

Sepasang mata elang Dominic berkilat penuh amarah yang menahan ledakan.

Sebelum Dominic sempat mengeluarkan suaranya untuk membentak sang ibu, sebuah tubuh kecil tiba-tiba bergeser dan berdiri tegak di depan mereka berdua, memotong jalur pandang Victoria.

Victoria seketika membeku. Langkahnya terhenti total saat matanya menangkap sosok bocah kecil berusia lima tahun itu. Ia menatap Damian dengan mata terbelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan karena rasa syok yang luar biasa.

Mereka sama sekali tidak saling kenal. Namun, melihat sepasang mata elang yang tajam, guratan rahang, hingga gestur tubuh sedingin es di depannya, Victoria tidak perlu bertanya lagi. Bocah ini adalah replika sempurna dari Dominic sewaktu kecil.

Dalam hitungan detik, otak Victoria langsung merangkai kesimpulan sendiri yang membuat dadanya bergemuruh hebat oleh rasa benci.

 'Dominic menyembunyikan anak ini... Itu artinya, wanita sialan ini sudah melahirkan anak Dominic secara rahasia bertahun-tahun lalu hanya untuk menjerat putraku dan merebut harta Salvatore!'

Kesimpulan keliru itu membuat rasa benci Victoria terhadap Isabella membumbung tinggi ke level terdalam. Tatapan penuh dendamnya kembali menghujam ke arah Isabella yang berada di balik tubuh Dominic.

Damian tidak membiarkan wanita asing itu terus-menerus menatap ibunya dengan pandangan menjijikkan. Bocah lima tahun itu melipat tangan di dada, mendongak, lalu berbicara dengan nada suara yang sangat tenang dan datar—namun setiap katanya keluar seperti peluru yang benar-benar pedas bagai orang dewasa yang sedang menguliti mental musuhnya.

"Nyonya asing," sela Damian, intonasi suaranya begitu menusuk. "Datang ke rumah orang lain tanpa undangan, berteriak histrionik, lalu melabeli Mommy-ku dengan kata 'murahan'... tindakanmu mencerminkan bahwa usia tua dan gaun mahal yang kau pakai tidak otomatis membeli kelas atau kecerdasan pada otakmu."

"Kau...!" Victoria tersentak, syok bukan main karena diserang secara verbal oleh anak kecil yang baru diketahuinya sebagai darah daging Dominic itu. "Berani sekali anak ini bicara begitu padaku! Siapa yang mengajarimu bersikap lancang?!"

"Aku hanya berbicara menggunakan logika dan fakta," balas Damian lempeng tanpa kedip. "Kau datang kemari dan menyebut Mommy-ku tidak berguna? Mari kita bicara fakta objektif. Selama dua bulan Mommy di sini, tekanan darah Daddy stabil, efisiensi kerja korporasi meningkat lima belas persen, dan rumah ini memiliki kehangatan. Sedangkan kau? Kau datang dari antah berantah hanya membawa polusi suara dan ego usang. Jika indikator 'berguna' di keluarga ini adalah memicu perang urat saraf, maka kau adalah kegagalan terbesar."

Wajah Victoria memerah padam, tubuhnya bergetar hebat karena malu dan murka yang bercampur menjadi satu. "Dominic! Lihat anak kecil ini! Dia benar-benar tidak dididik dengan benar! Jalang itu pasti yang mengajarinya untuk bermulut racun dan melawanku demi menguasai asetmu!" Victoria menunjuk Isabella dengan jarinya yang gemetar.

"Turunkan jarimu yang keriput itu dari hadapan Mommy-ku," sambung Damian lagi, suaranya menipis sedingin es. "Siapa pun dirimu, hubungan matrilinialmu dengan Daddy tidak memberimu imunitas untuk bertingkah bodoh di rumah ini. Jadi, angkat kakimu dari lantai marmer kami, sebelum aku menyuruh unit keamanan menyeret gaun haute couture mu itu ke luar gerbang utama."

Dominic yang sejak tadi mendekap Isabella, merasakan tubuh istrinya mulai sedikit tenang karena pembelaan berani dari Damian. Rasa khawatir Dominic kini berubah menjadi otoritas mutlak yang mematikan. Ia meletakkan tangan kokohnya di bahu kecil Damian, memihak penuh pada putranya tanpa ada sedikit pun rasa cemas atau ragu terhadap ibunya sendiri.

Dominic kemudian mengalihkan pandangan matanya yang sehitam jurang ke arah Victoria, mengunci pergerakan wanita itu dengan aura intimidasi seorang kepala keluarga Salvatore yang baru.

"Kau sudah mendengar kata-kata putraku, Mom," ucap Dominic dengan suara baritonnya yang berat, sangat dingin, dan tak terbantahkan

Ia mempererat dekapannya pada Isabella, memastikan istrinya merasa aman sepenuhnya.

"Damian tidak pernah salah dalam menganalisis situasi. Jika kau tidak keluar dari rumahku dalam hitungan tiga, aku sendiri yang akan memastikan kata-kata putraku tentang unit keamanan itu menjadi kenyataan."

Isabella yang merinding mendengar amarah suaminya, reflex mencengkeram kemeja Dominic dengan erat. "Dominic, sudah... cukup," bisik Isabella dengan suara bergetar, air matanya mulai menetes karena atmosfer ruangan yang teramat mencekam dan sesak.

Melihat air mata Isabella jatuh, rahang Dominic semakin mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Rasa khawatir dan protektifnya berubah menjadi kegilaan mutlak.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!