NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Langit siang itu mendung ketika Nayla menuruni anak tangga rumah Luna sambil menarik koper biru bergambar karakter kartun kesukaannya. Suasana rumah megah milik keluarga Raharja terasa lebih dingin dibanding biasanya. Entah karena cuaca, atau memang karena Nayla tahu bahwa setelah melewati gerbang rumah itu, hidupnya akan kembali menjadi sesuatu yang menyesakkan.

Dua ajudan berbaju hitam berjalan beberapa langkah di belakangnya. Mereka tidak banyak bicara sejak tadi. Tatapan mereka lurus ke depan, wajahnya datar, seperti manusia yang sudah terlalu terbiasa menerima perintah tanpa perlu bertanya alasan.

Nayla sebenarnya ingin marah.

Sangat ingin.

Namun kemarahan itu terasa percuma.

Di keluarga Raharja, perasaan Nayla tidak pernah dianggap penting.

"Nay..." panggil Luna pelan dari ambang pintu.

Nayla menghentikan langkahnya. Angin sore menggerakkan rambut panjangnya yang terurai. Ia menoleh perlahan dan mendapati sahabatnya berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Kalau ada apa-apa, kabarin gue, ya?" kata Luna lirih.

Nayla tersenyum kecil. Senyum tipis yang lebih mirip usaha agar orang lain tidak ikut sedih.

"Tenang aja. Gue udah biasa."

Jawaban itu justru membuat dada Luna terasa makin sesak.

Karena memang itulah masalahnya.

Nayla terlalu terbiasa menanggung semuanya sendiri.

Sebelum Luna sempat mengatakan apa pun lagi, salah satu ajudan membuka pintu mobil hitam yang sejak tadi terparkir di depan gerbang.

"Non Nayla, kita harus segera berangkat," ucapnya sopan.

Nayla mengangguk malas.

Ia melangkah masuk ke dalam mobil tanpa semangat sedikit pun.

Sepanjang perjalanan, Nayla memilih diam sambil memandang keluar jendela. Deretan pohon, lampu jalan, dan gedung-gedung tinggi berlalu begitu cepat di matanya. Kota itu tetap ramai seperti biasa, seolah tidak peduli bahwa ada seorang gadis yang sedang merasa ingin menghilang.

Nayla menyandarkan kepala pada kaca mobil.

Ia membenci rumahnya.

Bukan karena bangunannya jelek.

Justru sebaliknya.

Mansion keluarga Raharja terlalu besar, terlalu mewah, dan terlalu sunyi.

Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah.

Tidak ada kehangatan.

Tidak ada tawa.

Yang ada hanya aturan, tatapan dingin, dan tuntutan.

Nayla memejamkan mata perlahan.

Ingatan tentang beberapa tahun terakhir kembali memenuhi kepalanya.

Ia ingat bagaimana papahnya selalu menuntutnya menjadi sempurna.

Nilai harus tinggi.

Sikap harus elegan.

Penampilan harus dijaga.

Tidak boleh berteman sembarangan.

Tidak boleh keluar tanpa izin.

Tidak boleh membantah.

Tidak boleh menangis.

Tidak boleh terlihat lemah.

Semua kata "tidak boleh" itu perlahan berubah menjadi dinding besar yang mengurung hidup Nayla.

Mobil berhenti tepat di depan mansion besar bercat putih.

Nayla membuka mata.

Rumah itu berdiri megah di hadapannya seperti istana tanpa kehidupan.

Lampu-lampu taman menyala meski hari belum benar-benar gelap.

Gerbang besi tinggi perlahan tertutup setelah mobil masuk.

Dan entah kenapa, suara gerbang itu terdengar seperti bunyi penjara yang mengunci tahanannya.

"Non Nayla sudah sampai," ujar ajudan di kursi depan.

"Iya, saya juga tau," jawab Nayla pelan.

Ia turun dari mobil sambil menarik koper kecilnya.

Belum sempat melangkah jauh, seekor kucing abu-abu langsung berlari menghampirinya.

"Moci!"

Wajah Nayla yang sejak tadi muram seketika berubah cerah.

Ia buru-buru jongkok lalu mengangkat kucing gendut itu ke dalam pelukannya.

"Kangen banget sama gue, ya?" gumam Nayla sambil mengusap kepala Moci.

Kucing itu mengeong keras seolah sedang mengadu.

Nayla terkekeh kecil.

"Iya-iya, gue juga kangen."

Pemandangan itu membuat Bi Nani yang berdiri di dekat pintu utama tersenyum lega.

Sejak kecil, hanya Moci yang selalu berhasil membuat Nayla kembali terlihat seperti anak seusianya.

"Non Nayla belum makan, kan?" tanya Bi Nani lembut.

Nayla berdiri sambil masih menggendong Moci.

"Belum lapar, Bi."

"Tetap harus makan sedikit. Dari tadi siang bi lihat non pucat banget."

Nayla ingin menolak, tetapi tatapan khawatir Bi Nani membuatnya mengurungkan niat.

"Yaudah deh."

Mereka masuk ke dalam rumah.

Interior mansion itu sangat mewah. Lampu kristal menggantung besar di langit-langit, lantainya mengkilap, dan lukisan mahal memenuhi dinding.

Namun semuanya terasa dingin.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada obrolan santai.

Tidak ada aroma masakan rumahan yang hangat.

Yang terdengar hanya bunyi langkah kaki dan detak jam dinding.

Nayla baru saja duduk di ruang makan ketika suara langkah kaki lain terdengar dari arah tangga.

Ia langsung tahu siapa pemilik langkah itu.

Jevan Raharja.

Kakak sulungnya.

Cowok itu turun sambil memasukkan tangan ke saku celana. Rambut hitamnya sedikit berantakan, wajahnya tampak lelah sepulang dari kampus.

Tatapan Jevan langsung tertuju pada Nayla.

"Lo pulang juga akhirnya," katanya datar.

Nayla memutar bola mata.

"Iya. Terharu gak?"

Jevan menarik kursi di depan Nayla lalu duduk.

"Biasa aja. Rumah ini juga lebih tenang kalau lo gak ada."

"Wah, cocok. Gue juga mikir gitu."

Meski tinggal serumah selama bertahun-tahun, hubungan Nayla dan Jevan tidak pernah benar-benar dekat. Semakin dewasa, Jevan justru semakin menjauhi Nayla.

Bukan tanpa alasan.

Terlebih setelah melihat paket yang dikirim pada ayahnya beberapa hari yang lalu, membuat semua keyakinan dan kepercayaan yang dia miliki berukurang.

Nayla dianggap sebagai sumber kehancuran keluarga mereka.

Bagus percaya sejak Nayla lahir, hidupnya mulai berantakan. Terlebih saat banyak laporan yang menjadi bukti jika Nayla.buka lah anak kandungnya, makadari itu Bagus tidak pernah menganggap Nayla sebagai anak yang ia sayangi sepenuh hati.

Dan yang paling menyakitkan, Bagus terus menanamkan kebencian itu secara perlahan pada Jevan.

Awalnya Jevan menolak mempercayainya.

Namun semakin lama mendengar ucapan Bagus, semakin goyah pikirannya. Ia mulai melihat Nayla sebagai pembawa masalah. Setiap keributan di rumah, setiap pertengkaran, semuanya seolah selalu berhubungan dengan Nayla.

Pada akhirnya Jevan memilih menjauh.

Bukan karena Nayla melakukan kesalahan.

Tetapi karena Jevan terlalu terpengaruh oleh kebencian papahnya sendiri.

Bi Nani meletakkan semangkuk sup hangat di depan Nayla.

"Dimakan dulu, non."

Nayla mengangguk pelan.

Saat ia baru menyendok sup pertama, suara berat seseorang terdengar dari arah ruang kerja.

"Nayla."

Tubuh Nayla langsung menegang.

Papanya.

Bagus Raharja berjalan mendekat dengan ekspresi dingin seperti biasa. Jas mahal masih melekat rapi di tubuhnya.

Aura pria itu selalu membuat suasana berubah tegang.

Nayla perlahan menaruh sendoknya.

"Iya, pah?"

"Masuk ke ruang kerja sekarang."

Tidak ada nada marah.

Namun justru itu yang paling membuat Nayla takut.

Karena Bagus selalu berbicara tenang sebelum menghancurkan mental seseorang.

Nayla berdiri perlahan.

Ia mengikuti papahnya menuju ruang kerja besar di lantai bawah.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung terasa sesak.

Bagus duduk di kursinya sementara Nayla tetap berdiri.

"Duduk," perintah pria itu.

Nayla menurut.

"Kamu tahu kenapa saya menyuruh orang menjemputmu?"

Nayla menggeleng.

"Gak."

Bagus menatap putrinya beberapa detik.

"Minggu depan ada acara makan malam keluarga bersama rekan bisnis penting saya."

Nayla diam.

Ia mulai mengerti arah pembicaraan ini.

Dan ia sudah membencinya bahkan sebelum semuanya selesai.

"Kamu harus hadir," lanjut Bagus.

"Kalau cuma makan malam doang kenapa harus nyuruh ajudan jemput aku kayak buronan?"

Tatapan Bagus berubah tajam.

"Karena kamu sering sulit diatur."

Nayla tertawa hambar.

"Sulit diatur atau gak pernah dikasih pilihan?"

Ruangan hening beberapa saat.

Bagus menyandarkan tubuhnya.

"Nayla, semua yang saya lakukan untuk masa depan kamu."

Kalimat itu lagi.

Selalu itu.

Dan Nayla sudah terlalu lelah mendengarnya.

"Masa depan versi papah," balas Nayla lirih.

"Apa bedanya?"

Nayla menatap pria di depannya lama.

Papah kandungnya sendiri.

Tetapi terasa seperti orang asing.

"Bedanya... Papah gak pernah nanya aku maunya apa."

Bagus menghela napas pelan seolah pembicaraan ini membosankan baginya.

"Keinginan tidak selalu penting. Tanggung jawab lebih penting."

Nayla menggigit bibir bawahnya.

"Terus kapan aku bisa hidup buat diri aku sendiri?"

"Saat kamu cukup dewasa untuk berhenti bertindak emosional."

Jawaban itu membuat Nayla ingin tertawa sekaligus menangis.

Akhirnya gadis itu berdiri.

"Kalau cuma itu, aku capek."

"Nayla."

Langkah Nayla terhenti.

"Jangan membuat malu keluarga kita di acara nanti."

Nayla tidak menjawab.

Ia keluar dari ruangan itu dengan dada penuh sesak.

Begitu pintu tertutup, Nayla berjalan cepat menuju kamarnya.

Kamar besar bernuansa putih itu terasa terlalu sepi.

Nayla melempar tubuhnya ke atas kasur lalu menatap langit-langit.

Air matanya perlahan jatuh.

Ia benci menangis.

Namun terkadang rasa lelah memang terlalu besar untuk ditahan.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!