Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
"Gue gak sanggup!" Teriak Irwan membahana,sebentar ia menangis sebentar ia tertawa,ia juga membenturkan kepalanya ke meja secara berulang.
"Kalo gak sanggup gak usah minum lagi bego" Doni menyambar botol miras yang hendak Irwan teguk lagi isinya.
"Gue sayang dia,udah lama gue gak ketemu dia,berapa ya,,," Irwan tampak fokus menghitung jari-jari tangannya sambil terus meracau tak jelas.
"Yaelah,anak mamih sekalinya mabok ngerepotin orang." Doni menggelengkan kepalanya kesal.
Malam ini mereka menghabiskan waktu di sebuah club malam yang biasa Doni datangi.Doni yang mempunyai ide untuk mengajak Irwan ikut dengannya.Sahabatnya itu tampak galau beberapa hari kebelakang,tanpa banyak berpikir Irwan menerima ajakan itu walaupun ini merupakan pengalamannya yang pertama kali mendatangi tempat seperti ini.
"Gue ganteng kan?Riana,,,Ri...." Irwan menarik-narik tangan seorang gadis berpakaian seksi yang merupakan pengunjung di sana.Wanita itu sempat menoleh,namun kemudian Doni segera melepaskan tangan itu.
"Sorry,,,,,sorry,,,"'ucap Doni tak enak hati."Udah gak ketolong ini mah!" keluh Doni,tak ingin menambah masalah ia segera memapah Irwan untuk ia bawa pulang ke apartemennya tak mungkin ia membawa Irwan pulang dalam kondisi seperti ini karena ia izin pada Tante Lena, mereka akan bermain Playstation di apartemen Doni saja.
Doni memasukkan Irwan ke dalam mobilnya namun lagi-lagi pria itu berulah,kali ini ia memuntahkan semua isi perutnya di dalam mobil Doni yang sedang melaju.
"Anjir,gob*ok,pake muntah segala,sial banget gue ngajak elo" gerutu Doni kesal.
Pada pagi harinya Irwan bangun dengan kepala yang berdenyut kencang, badannya juga terasa sakit karna rupanya ia tertidur di atas sofa dalam ruangan yang ia kenali merupakan apartemen Doni.
Bau tak sedap menyeruak ke hidungnya,saat ia mencari sumbernya ternyata bau itu berasal dari baju yang dia kenakan.Ia segera melepas kaos yang ia pakai ke lantai dan berjalan sempoyongan menuju dapur untuk mencari air minum.
Saat kesadarannya mulai kembali,ia menuju kamar Doni berniat untuk mandi dan meminjam baju pria itu,tapi saat pintu di buka ia malah mendapati Doni masih terlelap dengan seorang perempuan dalam pelukannya,dan mereka sama-sama tidak memakai busana,Irwan tau karna selimut yang mereka pakai tersingkap kemana-mana.
Irwan berdecak malas,ia mengambil baju sendiri dari lemari yang ada di kamar itu selanjutnya ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Irwan keluar dari kamar mandi setelah selesai mengenakan pakaian,dan ia mendapati Doni sudah berdiri di sisi meja dapur.
"Loe mau kopi?" Doni menawarkan sambil mengangkat cangkir kopi di tangannya, Irwan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Thanks bro" ucapnya saat secangkir Americano sudah ada di tangan, dua pria itu memilih balkon sebagai tempat untuk menghabiskan kopi pagi mereka hari itu.
"Siapa lagi tuh cewe?" tanya Irwan penasaran,dagunya menunjuk pada arah kamar tidur Doni.
"Si Erin,minta di service,padahal semalem gue baru aja dateng bawa loe yang mabok,eh dia ternyata udah nungguin aja depan pintu." ucapnya santai,Irwan tertawa menanggapi.Temannya yang satu ini memang kelewat batas dalam hal pergaulan karena orang tuanya menetap di luar negri jadi tak ada yang benar-benar mengawasinya.
"Awas loe kena penyakit" Irwan mengingatkan,cukup khawatir dengan kebiasaan Doni yang hobby celup sana-sini.
"Gak lah,gue juga pilih-pilih kali cewenya yang mana" ia membela diri,ia kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya lalu mulai menyalakan sebatang di tangannya "Nih ya,gue kasih tau.Lain kali loe tuh gak usah minum,Loe payah bro,padahal baru nyicip dikit aja langsung tepar.Ngerepotin gue!" ejek Doni.
"Sorry,loe tau itu pertama kalinya buat gue.Tapi,,,,,,, gue suka!Suka rasa pahitnya pas nyampe di lidah suka sensasi kebakar di tenggorokan,tapi yang paling gue suka,sejenak gue bisa lupa sama semua masalah gue" tutur Irwan.
Saat mereka masih asik mengobrol,pintu kamar terbuka dari dalam,wanita yang bernama Erin yang baru saja mereka bicarakan keluar dari dalam kamar dengan pakaian tidur tipis,tanpa segan ia menghampiri Doni sambil memberikan kecupan mesra di bibirnya.
"Aku mau mandi dulu,mau bareng?"tawarnya sambil membelai rahang tegas Doni.
Doni tertawa menggelegar "Loe duluan aja,gue mau ngeroko dulu" ucapnya sambil meremas bokong sintal wanita itu sebelum pergi.Irwan berdecih,muak pada kelakuan sahabatnya itu.
"Kenapa loe bro?" tanyanya sambil menahan senyumnya." Mantep banget men,cobain deh sekali-kali dari pada pake tangan terus pegel anjir"
"Setan,jangan ngajak-ngajak gue!" Doni semakin terpingkal "Badan gue cuma boleh di pegang sama Riana,semuanya punya Riana" ucap Irwan bangga.
"Dan Ara?! Dia juga boleh dong?" tanya Doni usil.
"I-ya,boleh aja sih" jawabnya tak yakin.
Kali ini semakin meledak lagi tawa Doni sampai pria itu mengeluarkan air mata "Loe tuh lucu anjir,lagak loe kayak cowo sok suci tapi pengen punya bini 2.Kacau loe!"
Ck
"Mereka berdua sama-sama cantik.Gue tuh duluan ketemu si Ara daripada Riana,Ara jujur sabar banget sama kelakuan gue pas selingkuh sama Riana.Dan Riana,dia beda bro.Dia mau nemenin gue walau gue gak punya apa-apa dia bahkan biayain gue pas mamih ngusir gue dulu.Soal sabar Riana juga,kayaknya kadar sabarnya sama kayak Ara.Tapi hati gue lebih condong ke Riana sih" ungkap pria itu membandingkan dua wanita dalam hidupnya.
"Dan akhirnya loe pusing sendiri" ucapan Doni sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.
"Sebenernya gak pusing, andai Riana mau ngalah demi dapet restu mamih.Tapi pas Ara bilang Riana udah tunangan sama si Arif,itu yang bikin gue frustasi.Gue tau dari dulu tuh cowo naksir cewe gue,udah gue suruh jauh-jauh juga,tapi sekarang Riana malah nerima cowo itu" ucapnya lesu.
"Loe udah tanya orangnya?" tanya Doni, mengingat kini Tante Lena sudah tidak mengekang Irwan lagi, seharusnya Irwan bebas untuk menemui gadis itu lagi.
"Boro-boro nanya,telpon gue aja dia blokir,terus dia ngehindar terus kalo gue samperin, gak pernah gue liat batang hidungnya,orang-orang di sekitarnya juga kayak lindungi banget biar gue gak bisa ketemu dia.Apa gue semenakutkan itu?" Irwan mengacak rambutnya yang belum di sisir rapi itu.
Doni menatap prihatin pada sahabatnya, tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja di pikirannya "Gue punya ide, mungkin ini bisa bikin Riana mau Nerima loe!"
Mata Irwan sontak berbinar ia seperti mendapatkan secercah cahaya terang "Apa?" tanyanya penasaran.
Doni menggerakkan jari telunjuk minta Irwan untuk mendekat,setelah itu ia membisikkan sesuatu di telinga Irwan yang membuat pemuda itu mengernyitkan dahinya dalam.
"Gimana?oke gak?kayaknya patut loe coba sih" Rayu Doni.
"Sinting loe,ogah gue gak mau" tolaknya mentah-mentah.
"Ya udah,gue cuman ngasih saran.Tapi kalo cewe loe beneran nikah sama orang lain,jangan nangis-nangis lagi loe kayak semalem" ejek Doni,sedangkan Irwan tampak berpikir keras memikirkan ide konyol sahabatnya itu.