NovelToon NovelToon
Nenekku Pahlawanku

Nenekku Pahlawanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.

Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.

Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Di sebuah aula batu yang telah tertutup debu selama ratusan tahun...

Puluhan tetua berjubah abu-abu berdiri mengelilingi sebuah meja bundar. Tak seorang pun berbicara. Pria tua yang sebelumnya berdiri di depan bendera usang perlahan memasuki aula.

Seluruh tetua langsung memberi hormat.

"Salam kepada Ketua."

Pria tua itu mengangguk pelan lalu duduk di kursi paling depan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

"Sudah seratus tahun sejak terakhir kali Aula Leluhur dibuka."

Seorang tetua bertanya dengan hati-hati.

"Ketua, apakah benar hanya karena satu lambang kuno?"

Pria tua itu menggeleng.

"Bukan hanya lambangnya."

Ia mengangkat sebuah pecahan giok.

"Giok Leluhur kita bereaksi."

Semua tetua langsung membelalakkan mata.

"Itu mustahil!"

Pria tua itu berkata tenang.

"Mustahil atau tidak, kenyataannya sudah terjadi."

Ia mengepalkan giok tersebut.

"Artinya pewaris Keluarga Mei benar-benar masih hidup."

Suasana aula kembali sunyi. Seorang tetua lain bertanya,

"Tetapi apa hubungan Keluarga Mei dengan kita?"

Pria tua itu menarik napas panjang.

"Karena organisasi kita dibangun oleh leluhur Keluarga Mei."

Kalimat itu membuat seluruh aula terdiam.

Pria tua itu melanjutkan,

"Tiga ratus tahun lalu, ketika Kuil Kegelapan mulai berkembang, Leluhur Mei bersama para ahli terkuat dari berbagai perguruan membentuk organisasi rahasia. Tujuannya hanya satu. Menjaga Kunci Langit agar tidak jatuh ke tangan Kuil Kegelapan."

Seorang tetua mengepalkan tangannya.

"Kalau begitu... kemunculan pewaris Keluarga Mei berarti Kunci Langit juga telah muncul."

Pria tua itu mengangguk.

"Dan itu berarti kaisar Dewa Kegelapan pasti akan bergerak."

Suasana aula menjadi semakin berat. Pria tua itu perlahan berdiri.

"Mulai hari ini. Seluruh anggota Aula Leluhur menghentikan pengasingan. Kita berangkat menuju Kota Qinghe."

Seluruh tetua serempak membungkukkan badan.

"Patuh!"

Di sudut aula...

Sebuah peti batu kuno perlahan terbuka sendiri. Di dalamnya...

Terbaring sebuah pedang hitam yang telah tersegel selama tiga ratus tahun. Begitu segelnya retak...

Seluruh aula dipenuhi aura tajam yang membuat bahkan para tetua harus mundur selangkah. Pria tua itu menatap pedang tersebut dengan wajah serius.

"Sudah waktunya penjaga Langit kembali ke dunia."

Pria tua itu melangkah perlahan menuju peti batu. Tangannya menggenggam gagang pedang hitam itu.

Namun...

Ia tidak mencabutnya.

"Belum saatnya."

Ia kembali melepaskan tangannya.

"Pedang ini hanya akan bangkit ketika pemiliknya muncul."

Seorang tetua berambut putih mengernyit.

"Ketua... apakah benar ramalan leluhur akan terjadi?"

Pria tua itu mengangguk pelan.

"Leluhur pernah meninggalkan satu kalimat."

Ia memandang seluruh tetua.

"Saat Kunci Langit muncul kembali, dunia akan memasuki era baru. Seorang penyelamat dan seorang penghancur akan bangkit pada waktu yang sama."

Suasana aula kembali sunyi. Seorang tetua wanita bertanya,

"Apakah Kaisar Dewa Kegelapan adalah penghancur yang dimaksud?"

Pria tua itu tidak langsung menjawab.

"Tidak ada yang tahu. Ramalan itu tidak pernah menyebut nama."

Ia berhenti sejenak.

"Namun satu hal pasti. Siapa pun yang memperoleh Kunci Langit akan menjadi pusat dari seluruh badai."

Seorang pemuda berjubah abu-abu bergegas memasuki aula.

"Ketua! Ada laporan baru. Kuil Kegelapan telah mengirim Lima Raja Kegelapan menuju Kota Qinghe."

Beberapa tetua langsung berubah serius.

"Mereka bergerak secepat ini?"

Pemuda itu mengangguk.

"Selain itu, mereka juga mulai mengumpulkan cabang-cabang Kuil Kegelapan yang tersebar di berbagai kerajaan."

Pria tua itu mengepalkan tangan.

"Berarti mereka benar-benar berniat merebut Kunci Langit."

Ia memandang seluruh tetua.

"Mulai saat ini, tidak ada lagi yang bertindak sendiri."

"Kita menghadapi musuh yang telah menunggu kesempatan ini selama ratusan tahun."

"Kesalahan sekecil apa pun akan membawa bencana."

"Patuh!"

Seluruh aula menjawab serempak.

Pria tua itu kemudian menoleh kepada seorang pria bertubuh tinggi yang sejak tadi hanya berdiri diam di sudut ruangan. Pria itu membawa sebuah pedang panjang di punggungnya.

Tatapannya tenang.

Namun auranya jauh melampaui para tetua lainnya.

"Qin Feng."

Pria itu melangkah maju.

"Kau berangkat lebih dulu ke Kota Qinghe."

Qin Feng sedikit mengangguk.

"Apakah aku harus menemui Pendiri Aliansi?"

"Ya."

Pria tua itu mengeluarkan sebuah lencana giok berukir burung phoenix yang melingkari pedang hitam.

"Tunjukkan lencana ini."

" Nyonya Lin Xue akan mengerti."

Qin Feng menerima lencana tersebut.

"Kalau begitu aku berangkat sekarang."

Begitu kata-kata itu selesai...

Tubuhnya menghilang dari aula tanpa meninggalkan jejak.

Beberapa tetua saling berpandangan.

"Teknik Langkah Langit..."

"Dia sudah menguasainya sampai tingkat itu."

Pria tua itu menatap ke arah pintu aula yang kini kosong.

"Qin Feng adalah pendekar terkuat generasi kita."

"Kalau bahkan dia tidak mampu menghentikan keadaan berarti perang yang akan datang jauh lebih besar daripada perang seratus tahun yang lalu."

Di luar lembah...

Kabut perlahan tersibak. Sesosok bayangan melesat ke arah selatan dengan kecepatan yang hampir tak terlihat. Tujuannya hanya satu yaitu Kota Qinghe.

Sementara itu...

Di Kota Qinghe.

Suasana yang semula tenang mulai berubah. Berita mengenai puluhan perguruan yang berkumpul di Kediaman Keluarga Shen telah menyebar ke seluruh kota.

Semua orang membicarakan hal yang sama.

"Apa akan terjadi perang?"

"Aku dengar Pendiri Aliansi sendiri sudah muncul."

"Kalau sampai beliau turun tangan, berarti musuh kali ini bukan orang biasa."

...baru sampe sini

Di Kediaman Shen.

Setelah rapat selesai, para pemimpin perguruan mulai menempati posisi masing-masing.

Han Tian membentangkan sebuah peta besar Kota Qinghe.

"Kita membagi pertahanan menjadi empat wilayah."

Ia menunjuk gerbang timur.

"Yan Luo, kau memimpin wilayah timur."

Yan Luo mengangguk.

"Baik."

"Liu Cheng memimpin wilayah barat."

Seorang pria kekar melangkah maju.

"Perintah diterima."

"Xu Beiming menjaga selatan."

Seorang pria tua berjanggut putih memberi hormat.

"Serahkan padaku."

Han Tian lalu menunjuk gerbang utara.

"Aku sendiri akan menjaga wilayah utara."

Semua mengangguk tanpa keberatan.

Tidak ada yang meragukan keputusan itu.

Han Tian memang merupakan pendekar terkuat di bawah Lin Xue.

...

Di sisi lain...

Shen Yu masih berdiri bersama Lin Xue di halaman.

Ia memperhatikan semua persiapan itu.

"Nenek! Kalau mereka benar-benar menyerang apakah aku juga akan ikut bertarung?"

Lin Xue tersenyum tipis.

"Tentu. Tetapi bukan sekarang."

Shen Yu sedikit mengernyit.

"Mengapa?"

Lin Xue memandang langit.

"Karena musuh belum memperlihatkan kartu mereka. Kau juga tidak perlu memperlihatkan seluruh kekuatanmu."

Shen Yu langsung memahami maksud neneknya. Kalau ia bertindak terlalu cepat...

Lawan akan mengetahui batas kemampuannya.

...

Pada saat yang sama...

Ratusan kilometer dari Kota Qinghe. Qin Feng terus melesat di udara. Kecepatannya begitu tinggi hingga hanya meninggalkan riak tipis di antara awan.

Tiba-tiba...

Ia berhenti.

Tatapannya mengarah ke sebuah hutan di bawah.

"Keluar."

Beberapa detik berlalu.

Tak ada jawaban.

Namun...

Lima bayangan hitam perlahan muncul dari balik pepohonan.

Mereka bukan Lima Raja Kegelapan.

Melainkan lima anggota Kuil Kegelapan yang bertugas sebagai pengintai.

Salah seorang tersenyum sinis.

"Kami tidak menyangka ada orang yang bisa menemukan kami."

Qin Feng menatap mereka tanpa ekspresi.

"Kalian menghalangi jalanku."

Kelima orang itu tertawa.

"Hanya satu orang berani berbicara seperti itu?"

Qin Feng tidak menjawab.

Ia hanya melangkah satu langkah ke depan.

Seketika...

Tekanan yang luar biasa menyelimuti seluruh hutan.

Wajah kelima pengintai langsung berubah.

"Apa...!"

Belum sempat mereka bereaksi...

Sebuah kilatan cahaya melintas.

Sreet!

Dalam satu tarikan napas...

Kelima pengintai membeku di tempat. Sesaat kemudian...

Tubuh mereka roboh bersamaan. Tak seorang pun sempat menghunus senjata. Qin Feng bahkan tidak mencabut pedang di punggungnya. Ia kembali melanjutkan perjalanan seolah tidak terjadi apa pun.

Namun...

Di kejauhan, sepasang mata merah memperhatikan semuanya dari balik kabut.

"Hanya tekanan aura..."

"Orang itu berbahaya."

Sosok tersebut segera menghilang ke dalam bayangan. Informasi itu harus segera disampaikan kepada Lima Raja Kegelapan. Di atas langit...

Dua kelompok kuat kini bergerak menuju tujuan yang sama.

Sedangkan di tengah semua itu...

Kota Qinghe masih belum menyadari bahwa badai besar yang sesungguhnya tinggal selangkah lagi akan tiba.

1
anggita
like👍iklan☝, Shen Yu.
Mirage Ink: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!