Nafisha merasa hidupnya baik-baik saja.
Meski sering terlambat, sering dihukum guru BK, dan kerap terlibat masalah karena membela teman-temannya, setidaknya ia masih bisa menjalani hari-harinya bersama Rendi—sahabat yang selalu ada untuknya.
Sampai suatu hari semuanya berubah.
Sebuah kesalahpahaman membuat nama Nafisha menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dan tanpa sepengetahuannya, kedua orang tuanya telah menyiapkan keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Perjodohan.
Lebih buruk lagi, pria yang dijodohkan dengannya adalah Andrea—guru BK yang paling sering menghukumnya di sekolah.
Nafisha tidak pernah membayangkan harus hidup berdampingan dengan pria menyebalkan itu.
Namun semakin keras ia berusaha menjauh, semakin sering takdir mempertemukan mereka.
Mampukah Nafisha menerima takdir yang telah ditentukan untuknya? Saat guru BK yang selalu membuatnya kesal itu ternyata adalah pria yang harus bersanding dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dira.aza07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Andrea membuka pintu, dan mendapati Nafisha tengah duduk di depan ruangannya dengan Reksa.
"Nafisha, bisa ikut masuk ke ruangan saya sekarang?" tanya Andrea suaranya tegas seperti biasa.
Nafisha berdiri, dan mengikuti langkah Andrea memasuki ruangannya. Bagus dan Vania langsung menatap Nafisha.
"Silahkan kalian untuk meminta maaf kepadanya!" ucap Andrea dengan duduk di kursinya.
Mereka langsung berdiri dan menghampiri Nafisha.
"Tolong maafin aku, Naf!" ucap Vania.
Nafisha menatap gadis itu tanpa berucap sepatah katapun.
"Aku juga ya, Naf," ucap Bagus yang ikut memegang tangan Nafisha yang sebelahnya.
Nafisha perlahan berpindah melirik Andrea yang berada di mejanya. Andrea menganggukkan kepalanya.
Nafisha kembali melihat kepada kedua temannya yang berada di depannya.
"Untuk apa memaafkan kalian?"
"Nafisha!" tegur Andrea tegas.
"Saya belum selesai, Pak," timpal Nafisha cepat.
"Jika kalian hanya takut sama Pak Andrea, aku akan memaafkan kalian, jika kalian memang tidak mencari ribut denganku lagi."
"Kami sungguh-sungguh, Naf," ujar Vania yang diangguki Bagus.
Nafisha tertawa renyah. Ruangan pun seakan mengikuti tawanya.
"Kalian palsu, aku ga percaya," timpal Nafisha tegas.
"Benar, jika kami berbuat lebih dari itu, kamu boleh melaporkan kami," ucap Vania.
Bagus melirik tajam ke arah Vania.
Nafisha melihat ke arah Bagus dengan menyipit.
"Kamu ragu, Gus?" tanya Nafisha.
Terlihat senyum kecil terangkat di bibir Nafisha.
"Jangan hukum lagi, cape Naf," ujar Bagus akhirnya.
Nafisha menggeleng.
"Bagaimana Pak? Murid Bapak tidak sungguh-sungguh ini," ujar Nafisha.
"Maafkan saja dulu, Naf. Jika mereka melakukan kesalahan, biar itu menjadi urusan saya."
"Tahu rasa Lo," ujar Nafisha sambil merasa puas. "Ya oke deh, aku maafin."
Nafisha memberikan tangan kanannya untuk berbaikan. Sambil memberikan muka yang penuh kemenangan.
Andrea hanya menggeleng melihat tingkah siswinya itu.
"Ya sudah kalian sudah saling memaafkan—" ucap Andrea yang terjeda.
"Kami bisa bebas?" tanya Bagus matanya berbinar.
"Memang kalian dipenjara?" celetuk Nafisha sambil terkekeh.
"Kalian masih di sini, hanya Nafisha yang boleh keluar."
Suara Andrea membuat suasana di ruangan itu kembali hening. Nafisha melambaikan tangannya tepat di depan muka temannya itu. Ia melangkah keluar dan menemui Reksa.
"Rendi, di sini juga?" tanya Nafisha saat langkahnya keluar ruangan, ia mendapati Rendi dan Reksa tengah duduk di depan ruangan Andrea.
"Nunggu kamu, baik-baik saja?" tanya Rendi terlihat mimik muka khawatir.
"Oke dong, Yuk!" ajak Nafisha.
"Nggak jadi pulang?" sindir Reksa iseng sambil memperlihatkan giginya.
Nafisha mendelik. Sementara Rendi menyikut Reksa sambil melirik Nafisha.
"Nggak jadi, mereka sudah dapat hukumannya," timpal Nafisha dengan langkah santai dengan wajah bahagianya.
Reksa mendahului Rendi, ia langsung merangkul Nafisha. Gadis itu langsung melihat ke arah pemuda itu, dan langsung saja menyingkirkan tangannya itu dengan kasar.
"Naf, pelan-pelan napa," keluh Reksa dengan memegang tangannya.
"Jangan macam-macam jika tidak kalian akan berurusan dengan guru BK," sahut Nafisha sambil terus berjalan.
Rendi berjalan mendekati Nafisha.
"Sudah, jangan begitu. Reksa sudah membantumu menangkap dua cucunguk itu."
Nafisha melihat ke arah Rendi, gelak tawanya langsung menggelegar.
"Lo bisa juga buat nuansa hati cewek ini jadi asik," celetuk Reksa.
Rendi hanya tersenyum simpul.
"Memang gue susah ngalahin Lo," bisiknya tepat di samping Rendi.
"Gue sudah tahu dia seperti apa, dia teman kecil gue, jelas gue paham."
"Ajari gue, gue suka sama gadis itu," ujar Reksa.
Nafisha tertawa dan mendengar semua obrolan kedua lelaki itu. Ia tiba-tiba berhenti dan menatap kedua pria di hadapannya.
Kedua pemuda itu membeku di tempat, mereka saling sikut, seolah Nafisha adalah guru BK yang siap menghukum mereka.
Bersambung...