Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Syarat.
Keahlian bersembunyi dan melarikan diri D tidak perlu dipertanyakan lagi, yang harus dipertanyakan saat ini apakah dia masih hidup atau sudah mati? Pria itu menghilang seperti ditelan bumi, yang tersisa hanya kenangannya saja.
Sebagai orang yang bertanggung jawab atas nyawa D, Saka sudah melakukan apapun untuk menemukannya bahkan jika ia sudah menjadi mayat. Mengingat obrolan mereka di masa lalu, topiknya hampir sepenuhnya mengenai Prisha. D sangat menyayangi Prisha lebih daripada kelihatannya.
Kalau dipikir-pikir D pasti marah mendengar Saka menghina Prisha, tapi dia pasti memilih cuman mendengarkan sebab Ratih—ibunya Saka—menyelamatkan Prisha.
“Saka?”
Saat suara wanita lemah memanggilnya, Saka sadar ia telah mengabaikan Utami yang terbaring di depannya. Masalah D membuat dia terus kepikiran, sulit sekali mengendalikannya.
“Butuh sesuatu?” tanya Saka.
Utami menggelengkan kepala, kemudian dia menggenggam tangan Saka. Tiba-tiba saja matanya berkaca, mulutnya terbuka dan tertutup seolah ragu dengan apa yang ingin ia katakan. Saka menunggu dengan sabar, setidaknya sampai wanita itu menentukan kata-katanya.
“A-aku tau ... aku mandul.” Wajah Utami basah oleh air mata. Saka diam melihat wajah yang penuh kekecewaan pada diri sendiri itu. “Jadi ....”
Saka masih menunggu, membiarkan Utami menumpahkan lebih banyak air mata. Rasanya ingin mengatakan sesuatu, tapi Saka tidak begitu pandai menghibur orang. Lagipula jika seseorang ingin menangis, menurut Saka, tumpahkan saja daripada menahannya sampai mata timbul urat merah.
“Seseorang ... carilah seseorang untuk dinikahi.”
Begitu Utami selesai bicara, dia menatap Saka dengan tatapan yakin. “Ku mohon. Aku sadar apa yang dibutuhkan oleh orang dengan latar belakang sepertimu.” Genggaman tangan Utami semakin erat, dia tidak sadar sudah menimbulkan luka di kulit Saka oleh kukunya. “Tidak masalah jika aku menjadi istri kedua. Asal bisa bersamamu aku bahagia.”
Seseorang untuk dinikahi? Mendadak wajah Prisha muncul di benaknya. Saka segera menggelengkan kepala, bertanya-tanya kenapa dia begitu mudah sampai terpikir memiliki dua istri? Ketulusan Utami ini memangnya layak dikhianati? Dia mau berkorban demi Saka, tapi Saka tidak pernah berkorban untuknya.
Tetapi adakah cara lain selain memiliki dua istri untuk mendapatkan anak dan kekasihnya sekaligus? Jika ingin menikah pun Prisha bukanlah pilihan, karena dia belum tahu kabar D yang tidak mungkin rela Prisha menikah dengannya. Selain itu Prisha adalah gadis yang sangat mengerikan, takutnya ia menyiksa Utami habis-habisan.
“Akan kupikirkan,” balas Saka menatap langsung Utami yang tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Setelah itu perhatian teralihkan oleh suara ketukan di pintu, pelakunya ialah Adrian, dia memberikan kode untuk berbicara di tempat lain. Saka memandang Utami sejenak, anggukan Utami menandakan ia mengerti Saka sedang ada urusan.
Pembicaraan Saka dan Adrian dimulai ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang tertutup rapat. Adrian mengirimkan pdf ke ponsel Saka, sambil Saka melihat pdf dokumen itu Adrian menjelaskan.
“Pabrik meledak? Apa D ada di dalamnya?”
“Diperkirakan seperti itu, Tuan. Ada satu mayat gosong yang tidak dapat dikenali, tidak punya identitas atau keluarga, bisa jadi itu adalah D.”
“Kenapa kau berpikir begitu?” ucap Saka sambil melihat foto mayat tersebut.
“Di halaman empat, Tuan.”
Saka beralih bergeser ke halaman empat, terdapat foto-foto yang diambil dari rekaman CCTV bahwa D berjalan tertatih-tatih menuju pabrik itu sebelum meledak.
“Jelas dia terluka, pastinya dia dikejar. Mungkin niat awalnya bersembunyi dalam pabrik itu, sayangnya dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada pabrik itu selanjutnya,” jelas Adrian.
Semua bukti ini masuk akal, ini menjelaskan kenapa D sama sekali tidak bisa dihubungi. Saka menghempaskan punggungnya ke belakang, ia menarik napas panjang-panjang, mengenang dan bersedih untuk temannya yang sudah berpulang.
Prisha pasti akan menjadi pendiam lagi jika tahu ia sudah tidak memiliki siapapun yang mencintainya dengan setulus hati, orang yang ia rindukan, orang yang dipertanyakan keberadaannya. Lebih baik gadis itu tidak tahu, benar, itu jauh lebih baik.
“Sekarang bagaimana, Tuan?”
“Bagaimana apanya? Kalau aku bisa kompromi dengan malaikat maut, maka akan aku lakukan sejak lama.”
Adrian menutup mulutnya rapat, sepertinya pertanyaannya barusan tidak masuk akal karena kalimatnya kurang, maka dia mengulanginya lagi. “Maksud saya tentang ... permintaan Nona Utami. Maaf, saya mendengar pembicaraan Anda tadi.”
D sudah tidak ada lagi, jika ingin menikahi Prisha, Saka tidak perlu memikirkan perasaan orang yang sudah tiada itu. Tinggal memikirkan apakah dia punya sedikit malu untuk melanggar janjinya pada D?
Ini membingungkan, di sisi lain jika ingin menikah maka Prisha bisa jadi pilihan paling tepat: Gadis itu hanya memikirkan kemewahan, rupanya yang cantik cocok untuk dijadikan pajangan, sebagai seorang Kaelen dia pasti tahu cara berkomunikasi ala pebisnis.
“Aku akan berbicara padanya nanti,” kata Saka akhirnya, apapun itu ia harus membuat kesepakatan dengan Prisha.
Langit masih terang ketika ia tiba di rumah, beruntungnya di sepanjang langkahnya menuju kamar Prisha ia tidak bertemu orang yang biasa menghentikan langkahnya—Ratih. Saka ingin mendapatkan penyelesaian secepatnya, maka dia langsung pergi ke kamar Prisha.
Dia mengetuk pintu beberapa kali, lalu terlihatlah Bora yang tampaknya sedikit kaget oleh kehadiran Saka.
“Aku ingin bicara berdua dengannya.”
Bora mengerti, segera ia keluar dari kamar tersebut sementara Saka masuk. Prisha fokus di meja belajarnya, Saka melihat banyak sekali buku di lantai dengan sampul yang berbeda-beda. Bibir Saka terangkat sedikit karena Prisha benar-benar menggunakan sarannya.
“Apa catatan mereka membantu?” tanya Saka berdiri di samping meja Prisha sambil melihat apa yang ditulis gadis itu.
“Em, tapi perlu usaha ekstra untuk memilahnya.”
“Lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?”
“Iya, karena sebentar lagi ujian aku tidak punya pilihan lain. Omong-omong apa maksud kedatangan Kak Saka?”
“Akan kukatakan jika kau mau meluangkan waktu sibukmu sebentar.”
Prisha mengangkat kepalanya, kemudian melepaskan pena. Dia dapat merasakan pembicaraan ini serius dari bagaimana mata Saka menatap. Setelah itu Prisha pindah ke sofa, Saka mengikutinya dan mereka duduk secara berhadapan.
“Nah, jadi apa itu?” kata Prisha.
Saka ragu sejenak, ia khawatir D tiba-tiba bangkit dari kematian untuk mencekiknya. Namun demi bisa menikah dengan Utami, Saka harus menikah dengan Prisha dulu, ibunya pasti tidak akan memberikan penentangan lagi.
“Maukah kau menikah denganku dengan beberapa syarat?”
Mata Prisha menilik, jantungnya berdegup kencang karena sama sekali tidak menyangka Saka akan memilihnya dari banyaknya perempuan yang pernah dibawa Ratih ke rumah ini. Ia pribadi gugup saat memikirkan perubahan status serta tanggung jawab sebagai istri.
“Sya-syarat?”
“Benar, kau bisa menolak jika tidak mau.”
“Aku ingin tahu apa syaratnya dulu.”
Saka menyerahkan kertas yang sempat ia ketik dalam perjalanan pulang tadi. Saka mulai membacanya. Gadis itu tidak terheran sama sekali dengan isinya, justru dia tertawa. Setelah membaca, ia menandatangani kertas tersebut seperti tidak memiliki beban.
Usai meletakkan pena di atas kertas Prisha kembali duduk tegap. “Intinya Kak Saka ingin menikahi Utami setelah aku, kan? Tidak masalah, lakukan apapun selagi dia tidak masuk ke dalam rumah ini atau mengusikku, aku juga tidak akan mengganggunya.”
Saka berdecak lidah, sudah ia duga Prisha hanya mengincar kemewahan bukan cinta.
“Soal anak ... tidak masalah jika membiarkan Utami merawatnya, tapi jangan lupakan fakta bahwa aku ibu yang sesungguhnya.”
“Aku tidak menyangka kau akan semudah ini diajak berdiskusi.” Saka juga mulai menandatangani kertas tersebut. Perasaannya jadi lebih ringan karena pembicaraan bisa selesai secepat ini.
Tatapan Prisha tiba-tiba meredup, dia mengalihkan pandangan ke arah jendela. “Mau bagaimanapun aku berhutang 1,2 triliun. Meskipun kalian tidak mengungkitnya, tidak memintaku mengganti, selagi bisa dibayar dengan jasa akan kulakukan itu.”
“Huh? Rupanya kau pandai membalas budi.”
Tiba-tiba Prisha menoleh dan tersenyum lebar. “Begini, anggap saja 1,2 triliun itu adalah uang maharku. Maka sekarang panggil aku Pengantin 1,2 Triliun!” Prisha tertawa, Saka cuman menggeleng-gelengkan kepala dengan sebutan aneh itu.
Bersambung....