NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duke Kecil dan Rahasia yang Terlalu Besar

Ada banyak hal yang bisa membuat seorang Duke Utara kehilangan ketenangan.

Serangan bersenjata? Tidak.

Ancaman Ordo rahasia? Hampir tidak.

Teh dingin? Sedikit.

Melihat rekaman masa kecilnya di cermin ajaib, lengkap dengan versi mini dirinya yang memegang cangkir kecil? Ternyata, ya.

Cassian berdiri kaku di depan cermin retak seperti seseorang yang baru saja diserang oleh masa lalu. Wajahnya tetap datar, tetapi telinganya sedikit memerah. Aku berusaha keras tidak tersenyum.

Gagal.

“Duke North,” kataku pelan, “Anda anak yang sangat... konsisten.”

Ia melirikku. “Jangan lanjutkan kalimat itu.”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa minat Anda pada teh ternyata sudah mengakar.”

Mira memeluk selimut sambil menatap cermin dengan mata berkaca-kaca. “Duke kecil sangat menggemaskan. Hamba merasa seperti menemukan sisi hangat musim dingin.”

Cassian menatapnya. “Katakan itu pada orang lain, dan saya akan memindahkan semua sendok Anda ke dapur barat.”

Mira tercekik. “Itu ancaman yang kejam.”

Aku tertawa. “Anda menyerang titik terlemahnya.”

Adrian tidak ikut bercanda. Ia mengambil kertas bertuliskan Naskah asli disembunyikan dari tanganku dan membacanya ulang dengan wajah serius.

“Naskah apa?” tanyanya.

Itu pertanyaan yang sangat bagus. Sayangnya, jawabannya bisa membuatku terlihat seperti wanita gila yang mengaku membaca kehidupan orang dalam bentuk novel daring.

Aku memilih separuh kebenaran. “Mungkin catatan asli tentang kejadian masa lalu. Atau dokumen yang menjelaskan siapa yang menciptakan narasi bahwa Evangeline adalah penjahat.”

Cassian menatapku. “Kau menggunakan kata ‘narasi’ dengan sangat sadar.”

“Aku pernah membaca banyak drama keluarga bangsawan.”

“Di mana?”

“Dalam... buku.”

Mira mengangguk cepat. “Nona memang suka membaca novel romantis diam-diam.”

Aku menatapnya. “Kenapa kamu tahu?”

“Hamba yang menyembunyikan sampulnya saat Tuan Marquess lewat.”

Adrian menoleh tajam. “Kau membaca novel romantis?”

Aku menatap kakakku datar. “Kakak, aku sedang dituduh hampir membunuh saintess, diburu ordo rahasia, dan baru saja membuka menara beku dengan darah. Prioritasmu sekarang adalah genre bacaanku?”

Adrian terdiam. “...Benar juga.”

Aku kembali pada peta yang dipegang Cassian. Peta itu tua, terbuat dari perkamen tebal, menggambarkan kastel Northmere bagian lama. Di tengahnya ada menara beku, tetapi bukan hanya satu ruang. Di bawah menara terdapat jaringan lorong bawah tanah yang tidak ada dalam denah resmi.

“Ini jalur bawah tanah?” tanyaku.

Cassian mengangguk. “Saya tidak pernah melihat peta ini.”

“Padahal ini kastel Anda.”

“Northmere lebih tua dari keluarga saya yang sekarang memerintah. Banyak ruang ditutup setelah perang lama.”

“Dan ayah Anda tahu.”

“Sepertinya.”

Aku memperhatikan simbol kecil di sudut peta: mawar hitam dan serigala saling membelakangi, tetapi di antara keduanya ada mahkota retak.

“Ini bukan hanya tentang aku,” kataku pelan. “Ini tentang keluarga North, keluarga Arvella, dan mahkota.”

Adrian menggenggam gagang pedang. “Dan mungkin alasan ibu meninggal.”

Ruangan menjadi hening.

Aku menatap Adrian. Selama ini, kematian Lady Rosaline hanya disebut sebagai penyakit. Evangeline kecil kehilangan ibu, lalu tumbuh di rumah yang dingin dengan ayah yang lebih mencintai reputasi daripada anak. Tapi jika Rosaline terlibat dalam rahasia Ordo, kematiannya mungkin bukan penyakit.

Mungkin ia disingkirkan.

Aku merasakan kemarahan yang aneh. Sebagian milikku, sebagian mungkin milik Evangeline yang asli. Seolah tubuh ini masih menyimpan luka yang belum diberi suara.

Cassian melipat peta. “Kita perlu turun ke lorong bawah tanah.”

Mira langsung mengangkat tangan. “Hamba mengusulkan kita tidak turun ke tempat yang secara definisi lebih bawah, lebih gelap, dan lebih mungkin berisi makhluk yang tidak membayar pajak.”

Aku hampir tertawa. “Makhluk tidak membayar pajak?”

“Semua yang tinggal di bawah tanah mencurigakan, Nona.”

“Termasuk kentang?”

Mira berpikir. “Kentang pengecualian.”

Adrian berkata, “Kita turun setelah memanggil lebih banyak prajurit.”

Cassian menggeleng. “Terlalu banyak orang akan menarik perhatian. Jika ada mata-mata di kastel, mereka akan tahu.”

Aku menyilangkan tangan. “Berarti kita perlu kelompok kecil.”

“Benar.”

“Siapa saja?”

Cassian memandangku. “Saya, Anda, Adrian.”

Mira langsung maju. “Hamba ikut.”

“Tidak,” jawab tiga suara sekaligus.

Mira tersinggung. “Hamba menjatuhkan pembunuh dengan sendok. Rekam jejak hamba jelas.”

“Justru karena itu kau harus menjaga kamar,” kataku.

“Kenapa?”

“Jika ada penyusup, mereka akan meremehkanmu. Itu keunggulan strategis.”

Mira perlahan tersenyum. “Hamba menjadi perangkap?”

“Perangkap dengan pita rambut.”

Mira menaruh tangan di dada. “Hamba menerima misi ini.”

Cassian menatapku. “Kau pandai memotivasi orang aneh.”

“Aku juga bagian dari kelompok itu.”

Sebelum turun, kami kembali ke ruang duduk untuk menyusun rencana. Edmund dipanggil. Kepala rumah tangga tua itu mendengar penjelasan tentang peta bawah tanah tanpa ekspresi berlebihan. Aku mulai curiga staf Northmere dilatih sejak kecil untuk tidak bereaksi saat mendengar kabar seperti “lorong rahasia keluarga mungkin berisi naskah yang bisa menjatuhkan mahkota”.

“Apakah Anda tahu tentang lorong ini?” tanya Cassian.

Edmund terdiam sejenak. “Saya tahu ada ruang yang ditutup oleh mendiang Duke. Saya tidak tahu peta lengkapnya.”

“Kenapa ditutup?”

“Mendiang Duke berkata, ‘Ada ingatan yang jika dibuka terlalu cepat akan membunuh orang yang belum siap.’”

Aku mengernyit. “Ayah Anda juga dramatis.”

Cassian berkata datar, “Itu kalimat keluarga.”

Mira yang berdiri di belakangku berbisik, “Keluarga North dan keluarga Arvella cocok. Sama-sama menyimpan rahasia seperti menyimpan acar.”

“Jangan bicara soal acar saat ada naskah rahasia,” gumamku.

Kami memutuskan turun saat malam, ketika aktivitas kastel lebih sepi. Aku tidak menyukai keputusan itu karena semua hal buruk dalam novel biasanya terjadi malam hari. Tapi Cassian menjelaskan bahwa penjagaan di kastel lama justru lebih longgar saat malam karena prajurit berfokus pada gerbang luar.

“Ini rencana cerdas atau undangan kematian?” tanyaku.

“Keduanya sering mirip,” jawab Cassian.

Malam tiba terlalu cepat. Aku mengenakan pakaian gelap yang lebih praktis. Mira menyelipkan pisau kecil, roti, dan tentu saja sendok di kantongku.

“Nona, jika bertemu hantu, lempar roti dulu. Mungkin ia lapar.”

“Kalau hantunya bangsawan?”

“Lempar sendok. Bangsawan sulit puas.”

Nasihat spiritual dari Mira selalu unik.

Kami kembali ke menara beku melalui koridor sunyi. Adrian berjalan di depan, Cassian di sampingku, dan aku di tengah dengan perasaan seperti isi sandwich yang sangat mudah dibunuh. Pintu pertama masih terbuka. Cermin retak tidak lagi menampilkan rekaman, hanya bayanganku yang tampak terlalu cantik untuk orang yang akan masuk lorong bawah tanah.

Cassian menemukan tuas tersembunyi di balik ukiran serigala. Lantai di tengah ruangan bergeser, membuka tangga turun yang gelap.

Udara dari bawah berbau debu, batu basah, dan rahasia lama.

“Baik,” kataku. “Jika ada laba-laba sebesar kepala manusia, saya mengundurkan diri dari plot.”

Adrian menyalakan lentera. “Tetap di dekatku.”

Cassian menambahkan, “Jangan menyentuh apa pun.”

Aku mengangkat alis. “Mengapa semua orang bicara seolah aku anak kecil yang akan memasukkan artefak ke mulut?”

“Karena kau membuka pintu sihir dengan sarkasme,” jawab Cassian.

“Itu berhasil, jadi jangan iri.”

Kami turun. Tangga berputar cukup lama sampai aku mulai merasa lutut Evangeline mungkin mengajukan protes resmi. Di bawah, lorong bercabang dua. Peta menunjukkan jalur kiri menuju ruang arsip bawah tanah, jalur kanan menuju ruang penyimpanan lama.

Kami memilih kiri.

Sepanjang lorong, dinding dipenuhi ukiran tulisan tua. Aku tidak bisa membacanya, tetapi beberapa kata tampak familiar. Mawar. Serigala. Mahkota. Darah. Perjanjian.

“Ini bukan sekadar lorong keluarga,” kata Adrian.

Cassian menyentuh salah satu ukiran. “Ini tempat perjanjian lama.”

Tiba-tiba lentera berkedip.

Aku berhenti. “Tidak. Jangan lakukan itu. Lentera tidak boleh berkedip di lorong rahasia. Itu aturan dasar keselamatan.”

Lentera berkedip lagi.

Dari ujung lorong, terdengar suara langkah.

Satu. Dua. Tiga.

Adrian mengangkat pedang. Cassian menarikku ke belakang.

Sosok muncul dari kegelapan.

Bukan hantu.

Lebih buruk.

Seorang pria tua berpakaian imam istana berdiri di sana, membawa lentera hitam. Di dadanya, tersembunyi di balik jubah, tampak simbol gagak.

Ia tersenyum. “Akhirnya Mawar Hitam membawa serigala muda ke bawah tanah.”

Aku menatapnya.

“Kau siapa?”

Pria itu membungkuk. “Penjaga naskah asli.”

Jantungku berdegup keras.

Cassian mengarahkan pedang. “Bagaimana kau masuk ke kastelku?”

Pria itu tertawa pelan. “Yang Mulia Duke, ada pintu yang diwariskan kepada darah. Ada pintu yang dibuka oleh kunci. Dan ada pintu yang terbuka karena seseorang sudah lama diundang.”

Aku merasa dingin menjalar di punggung.

Pria itu menatapku langsung.

“Lady Evangeline, ibumu tidak mati karena penyakit.”

Adrian menggeram.

Pria itu tersenyum lebih lebar.

“Ia mati karena mencoba menghapus namamu dari naskah.”

Aku menggenggam tangan hingga kuku menusuk telapak.

“Naskah apa?”

Pria itu mengangkat lentera hitam.

“Takdir kerajaan.”

Lalu lorong di belakang kami tertutup oleh dinding batu.

Dan tawa pria itu menggema di bawah Northmere.

Aku melirik ke belakang. Dinding batu yang menutup jalan keluar tampak sangat kokoh, sangat tua, dan sangat tidak peduli pada kondisi mentalku. Aku mengetuknya dua kali.

Tok. Tok.

“Permisi,” kataku, “apakah ada layanan pelanggan?”

Tidak ada jawaban.

Cassian menatapku. “Apa yang kau lakukan?”

“Menguji apakah dinding ini punya rasa malu.”

“Tidak.”

“Sayang sekali.”

Malric menatapku seolah aku adalah percobaan yang tidak sesuai teori. Itu memberiku sedikit kepuasan. Orang-orang seperti dia terbiasa membuat orang takut. Mereka tidak siap menghadapi tahanan eksekusi yang mengajak dinding berkomunikasi.

Adrian berbisik, “Eva, tetap di belakangku.”

Aku mengangguk, tetapi mataku tidak lepas dari Malric. “Kau bilang aku diundang. Oleh siapa?”

“Darahmu.”

“Jawaban puitis tidak dihitung.”

“Tidak semua pintu dibuka oleh kunci. Beberapa dibuka oleh luka yang diwariskan.”

Mira tidak ada di sini, tetapi aku bisa membayangkan ia berbisik, “Nona, lukanya butuh salep?”

Aneh, membayangkan Mira membuatku lebih tenang.

Aku mengangkat dagu. “Kalau begitu, kau salah mengundang orang. Aku datang bukan untuk menangisi luka. Aku datang untuk menagih siapa yang membuatnya.”

Untuk pertama kalinya, Malric tidak langsung menjawab.

Cassian bergerak setengah langkah ke depan. “Kau mulai membuatnya kesal.”

“Bagus. Aku butuh hobi di bawah tanah.”

“Pilih hobi yang tidak membunuhmu.”

“Itu juga sedang kuusahakan.”

Jika ini permainan kata, aku harus menang. Jika ini perang takdir, aku harus lebih cerewet daripada naskahnya.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!