NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Gangguan dari Tanah Utara

Beberapa hari setelah berita pertama sampai ke istana, laporan-laporan lain mulai berdatangan dari penjuru utara Kerajaan Aetheris. Isinya semakin jelas dan membuat hati Valerius serta para penasihat terasa gelisah. Di wilayah lembah perbatasan yang subur, tanah yang biasanya gembur dan kaya unsur hara mulai mengeras seperti batu, air sungai yang jernih perlahan berubah menjadi keruh dan terasa sedikit pahit, sementara kabut dingin yang tak wajar turun bahkan di tengah musim panas.

Bagi penduduk setempat, perubahan ini membawa kekhawatiran besar. Tanaman yang ditanam mulai layu sebelum berbuah, dan ternak-ternak mereka menjadi lesu serta kehilangan nafsu makan. Apa yang awalnya dianggap sebagai perubahan cuaca biasa, kini mulai terasa seperti tanda-tanda yang tertulis dalam lembaran sejarah kuno — pertanda bahwa kekuatan kuno yang selama ini terkurung mulai berusaha bangkit kembali.

Suatu sore, di ruang sidang utama yang hanya dihadiri oleh orang-orang terpercaya, Valerius membacakan laporan terbaru itu dengan wajah serius. Di sampingnya, Elara duduk mendengarkan dengan saksama, berusaha memahami seberapa besar bahaya yang sedang mengancam kerajaan tempatnya kini menjadi bagian di dalamnya.

“Menurut catatan yang kita temukan, gangguan semacam ini terakhir terjadi lebih dari tiga ratus tahun yang lalu,” ujar Lord Eldrin, penasihat tua yang bijaksana, sambil menunjuk ke arah gulungan kulit kayu yang terbentang di atas meja. “Saat itu, muncul makhluk bernama Morgrath — penguasa kegelapan yang mengumpulkan energi negatif dari ketidakseimbangan alam. Ia dikurung di dalam Gua Kedalaman, tepat di bawah Pegunungan Utara, oleh leluhur kita dengan menggunakan kekuatan gabungan dari tujuh permata pelindung.”

“Permata itu sekarang ada di mana?” tanya Elara dengan suara tenang namun penuh perhatian.

“Selama ini, ketujuh permata itu tersebar dan dijaga di tujuh titik sakral di seluruh penjuru kerajaan,” jawab Valerius sambil menoleh ke arahnya. “Namun seiring berjalannya waktu, beberapa penjaga garis keturunan telah punah, dan lokasi pasti dari sebagian di antaranya perlahan terlupakan. Jika gangguan ini benar-benar berasal dari bangkitnya kekuatan Morgrath, maka kurungan yang menahannya pasti mulai melemah. Dan untuk memperkuatnya kembali, kita harus menemukan dan menyatukan kembali ketujuh permata itu sebelum ia benar-benar bebas keluar dan menghancurkan segalanya.”

Suasana ruangan menjadi hening. Semua orang menyadari beratnya tugas itu. Mencari benda-benda kuno yang tersembunyi selama berabad-abad bukanlah perjalanan yang mudah, apalagi jika harus dilakukan secepat mungkin sebelum bahaya meluas ke seluruh wilayah.

Malam itu, saat mereka berdua sendirian di teras istana yang menghadap ke arah utara, Elara melihat Valerius termenung memandang cakrawala yang mulai gelap. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, memikul beban tanggung jawab sebagai pemimpin sekaligus kekhawatiran akan keselamatan rakyatnya.

“Valerius,” panggil Elara lembut sambil mendekat dan berdiri di sampingnya. “Anda berencana untuk pergi sendiri mencari permata-permata itu?”

Valerius mengangguk perlahan. “Aku harus pergi. Sebagai Raja, akulah yang paling bertanggung jawab melindungi tanah ini. Perjalanan ke utara itu berbahaya — jalannya terjal, hutan-hutannya lebat dan menyimpan banyak makhluk liar, serta energi negatif yang menyebar bisa memengaruhi pikiran dan perasaan siapa saja yang melewatinya. Aku tidak bisa membiarkan orang lain memikul risiko ini sendirian.”

“Kalau begitu, saya ikut serta,” jawab Elara dengan tegas tanpa ragu sedikit pun.

Mendengar itu, Valerius segera menoleh dan menatapnya dengan tatapan campur aduk antara rasa terharu dan kekhawatiran. “Elara, ini bukan perjalanan singkat atau sekadar tugas belajar. Ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun lebih, dan bahayanya nyata. Aku tidak sanggup membayangkan sesuatu terjadi padamu.”

Elara menggenggam tangan Valerius erat-erat, menatap matanya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. “Anda pernah berkata kita akan menghadapi segala rintangan bersama-sama, bukan? Sekarang saatnya membuktikannya. Selain itu, saya datang dari dunia lain, mungkin saya memiliki pandangan atau kepekaan yang berbeda terhadap energi alam yang bisa berguna. Jangan memisahkan saya dari bahaya, karena itu sama saja memisahkan saya dari tempat saya seharusnya berdiri — di sisi Anda.”

Kata-kata itu meluluhkan hati Valerius. Ia tahu bahwa apapun yang ia katakan, Elara tidak akan mundur. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukan, merasakan kekuatan yang tiba-tiba datang dari keberanian Elara.

“Baiklah, kita pergi bersama. Tapi janjikan satu hal: apapun yang terjadi, kita tetap berpegang teguh satu sama lain. Jangan bertindak sembarangan dan selalu waspada,” pesannya dengan nada lembut namun tegas.

“Janji,” jawab Elara mantap.

Persiapan segera dilakukan dalam waktu singkat. Mereka memilih rombongan kecil yang terdiri dari Kaelen dan lima prajurit paling terlatih dan setia, agar perjalanan bisa lebih cepat dan tidak menarik perhatian yang tidak perlu. Perbekalan disiapkan secukupnya, termasuk peta kuno yang digambar ulang dari catatan sejarah, jubah pelindung yang ditenun dari serat tanaman sakral untuk menahan hawa dingin dan energi negatif, serta bekal makanan dan obat-obatan untuk perjalanan jauh.

Dua hari kemudian, saat matahari baru saja terbit menyinari puncak-puncak gunung yang tertutup kabut tipis, rombongan kecil itu berangkat dari gerbang utama istana. Banyak warga dan pejabat tinggi yang datang mengantar, mendoakan perjalanan mereka selamat dan cepat kembali membawa kedamaian.

Setelah melewati daerah pemukiman terakhir, jalanan mulai menyempit dan berubah menjadi jalur setapak yang dikelilingi hutan lebat. Pepohonan raksasa menjulang tinggi hingga menutupi sebagian cahaya matahari, membuat suasana di dalam hutan terasa redup dan hening. Sesekali terdengar suara angin berdesir di antara dedaunan, namun tak ada suara burung atau hewan lain yang biasanya meramaikan hutan itu — tanda pertama bahwa gangguan energi sudah mulai terasa di wilayah ini.

Di hari ketiga perjalanan, mereka tiba di tepi Sungai Kabut, yang namanya sudah tercatat di peta kuno. Namun pemandangan yang terlihat di depan mata membuat mereka tertegun. Air sungai itu tidak lagi mengalir jernih, melainkan berwarna abu-abu keruh, dan kabut tebal menyelimuti permukaannya, membuat pandangan hanya bisa melihat sejauh beberapa meter saja.

“Di sinilah kita harus lebih berhati-hati,” kata Kaelen sambil mengangkat perisai dan memegang gagang pedangnya. “Kabut ini bukan kabut biasa. Ia bisa memutarbalikkan arah dan menimbulkan ilusi jika kita tidak tetap tenang.”

Valerius dan Elara saling bertatapan, lalu mengangguk. Mereka melintasi sungai itu dengan hati-hati, mengikuti arus air yang masih mengalir agar tidak tersesat. Selama perjalanan melintasi sungai, Elara merasakan hawa dingin yang menyentuh kulitnya, membawa perasaan sedih dan takut yang tiba-tiba muncul begitu saja, seolah berasal dari dalam dirinya sendiri. Ia segera mengingatkan dirinya untuk tetap fokus, memikirkan tujuan mereka dan orang yang dicintainya, sehingga perasaan negatif itu perlahan menghilang.

Setelah berhasil menyeberang dan keluar dari kabut, mereka beristirahat sejenak di tepi hutan yang lebih terbuka. Elara duduk memandang ke arah jalan yang masih panjang di depan, menyadari bahwa tantangan baru ini jauh lebih besar daripada sekadar intrik politik di istana. Kali ini, mereka melawan kekuatan alam dan kegelapan kuno yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan kebijaksanaan atau hukum semata.

“Kita sudah melewati rintangan pertama,” ujar Valerius sambil duduk di sampingnya dan menyerahkan air minum. “Masih ada banyak tempat berbahaya menuju Pegunungan Utara. Tapi selama kita bersama, aku yakin kita bisa mengatasinya.”

Elara tersenyum, merasa tenang mendengar kata-kata itu. Ia menoleh ke arah langit yang mulai memerah menjelang senja, lalu berbisik dalam hati: Apa pun yang menanti di depan, saya akan hadapi semuanya. Demi Aetheris, demi Valerius, dan demi rumah yang kini saya miliki.

Namun di kejauhan, jauh di dalam kegelapan gua yang dalam, mata merah menyala perlahan terbuka. Suara dengungan rendah bergema di antara dinding batu, seolah merasakan kehadiran orang-orang yang datang mengganggu rencananya. Kekuatan Morgrath terus meningkat, dan waktu yang tersedia bagi mereka semakin menipis.

Perjalanan baru saja dimulai, dan bahaya sesungguhnya baru akan mulai muncul ketika mereka semakin mendekati jantung kegelapan itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!