Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7_Mengulang dari awal
"Berry, hari ini pertama untukku menjadi CEO perusahaan ya?" tanya Elvara sambil merapikan blazer hitam yang melekat sempurna di tubuhnya.
"Benar, Nyonya Elvara. Hari yang selama ini Anda perjuangkan akhirnya tiba juga." Jawab Berry tersenyum bangga.
"Aneh sekali. Dulu aku selalu membayangkan hari ini, tapi saat benar-benar terjadi, aku malah merasa tidak percaya." Lanjut Elvara tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca.
"Itu karena perjalanan Anda tidak mudah." jawab Berry menatap penuh hormat.
Elvara terdiam sesaat.
Matanya memandang ke luar jendela apartemen yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi menjulang.
Beberapa tahun lalu, hidupnya hancur dalam sekejap.
Suami yang sangat dicintainya memilih wanita lain.
Rumah tangga yang ia bangun dengan penuh pengorbanan runtuh tanpa ampun. Bahkan saat itu, banyak orang menganggap dirinya tidak akan pernah bangkit lagi.
Namun mereka salah. Sangat salah.
"Aku masih ingat saat semua orang menertawakanku." Kata Elvara tersenyum pahit.
"Dan sekarang mereka justru mengagumi Nyonya." Sahut Berry tersenyum bangga.
"Dulu aku menangis setiap malam." Ucap Elvara menunduk pelan.
"Tapi sekarang Nyonya membuat orang lain menangis karena iri melihat kesuksesan Nyonya." Sahut Berry tertawa kecil.
Elvara ikut tertawa.
"Berry, kau memang pandai menghibur." Puji Elvara dengan tertawa hangat.
"Karena saya menyaksikan sendiri perjuangan Nyonya." Jawab Berry tersenyum tulus.
Tak lama kemudian mereka tiba di gedung utama perusahaan.
Puluhan karyawan sudah berdiri berjajar menyambut kedatangan pemimpin baru mereka.
Saat Elvara turun dari mobil, tepuk tangan langsung menggema.
"Selamat pagi, Bu CEO!" seru para karyawan bersamaan dengan antusias.
Elvara sedikit terkejut.
"Astaga, kalian membuatku gugup." Kata Elvara tertawa malu.
"Kami hanya ingin menyambut pemimpin terbaik kami." Ucap karyawan dengan senyum hormat.
"Kalau begitu jangan buat aku semakin gugup." Balas Elvara tertawa kecil.
Suasana langsung dipenuhi tawa.
Seorang manajer senior mendekat.
"Kami sudah menunggu kedatangan Anda di ruang rapat." Katanya tersenyum sopan.
"Baik, mari kita mulai." Jawab Elvara dengan senyum percaya diri.
Di ruang rapat utama. Puluhan direktur dan investor telah duduk menunggu.
Saat Elvara masuk, seluruh ruangan langsung berdiri.
"Selamat atas jabatan baru Anda, Bu Elvara." Sapanya hormat.
"Terima kasih. Saya berharap kita bisa tumbuh bersama." Balas Elvara tersenyum ramah.
Rapat pun dimulai.
Satu per satu laporan perusahaan dipresentasikan. Kemudian giliran Elvara berbicara.
"Saya ingin meningkatkan ekspansi perusahaan ke pasar internasional." Ucap Elvara menatap serius.
Beberapa direktur saling pandang.
"Sampai sejauh itu?" Tanyanya dengan ekpresi terkejut.
"Kenapa tidak?" Balas Elvara tenang.
"Itu membutuhkan modal yang sangat besar." Sahutnya ragu.
"Saya sudah menyiapkan strateginya." Ucap Elvara yakin.
"Anda sudah memikirkannya?" Tanyanya dengan mata membesar kagum.
"Bahkan sejak tiga tahun lalu." Sahut Elvara tersenyum tipis.
Ruangan mendadak hening.
Semua orang mulai menyadari bahwa wanita di depan mereka bukan CEO biasa. Ia sudah menyiapkan semua ini jauh sebelum menduduki kursi tertinggi.
Seorang investor asing mengangkat tangan.
"Jika strategi ini berhasil, keuntungan perusahaan bisa meningkat dua kali lipat." Katanya tersenyum kagum.
"Itulah target saya." Balas Elvara tersenyum percaya diri.
"Menarik sekali." Ujarnya mengangguk puas.
Setelah rapat selesai, para investor berebut ingin berbicara dengannya.
Berry yang melihat itu sampai tersenyum lebar.
"Dulu mereka bahkan tidak melirik Nyonya." Ucap Berry tertawa kecil.
"Dunia memang lucu." Balas Elvara tenang.
"Sekarang mereka justru berebut perhatian Nyonya." Kata Berry tertawa geli.
"Aku hanya fokus pada pekerjaanku." Jawab Elvara santai.
Siang hari.
Elvara akhirnya bisa duduk santai di ruang CEO yang sangat luas.
Ruangan itu dulunya milik pemilik lama perusahaan. Kini seluruhnya menjadi miliknya.
Ia memutar kursinya perlahan.
"Aku benar-benar berada di sini." Ucap Elvara tak percaya.
"Dan Nyonya pantas mendapatkannya." Sahut Berry tersenyum bangga.
"Kadang aku masih merasa seperti bermimpi." Katanya tersenyum haru.
"Kalau ini mimpi, maka mimpi itu sudah menghasilkan miliaran rupiah." Canda Berry tertawa kecil.
Elvara kembali tertawa.
Namun beberapa saat kemudian wajahnya berubah tenang. Sebuah nama tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Arsenio.
Mantan suaminya. Pria yang pernah menghancurkan seluruh hidupnya.
Elvara menatap Berry.
"Berry." Ucap Elvara dengan wajah serius.
"Ya, Nyonya?" Jawab Berry berdiri tegak.
"Aku sempat mendengar kabar tentang Arsenio." Tanya Elvara menatap datar.
Berry tampak ragu.
"Anda ingin membahasnya?" Tanya Berry hati-hati.
"Hanya penasaran." Balas Elvara tersenyum tipis.
"Baik." Sahut Berry mengangguk pelan.
Elvara menyilangkan tangan.
"Jadi, bagaimana kehidupannya sekarang bersama Celine?" Tanya Elvara menatap tajam, namun tenang.
Berry menghela napas.
"Sejujurnya... tidak terlalu baik." Ucap Berry dengan wajah serius.
"Oh?" Jawab Elvra mengangkat alis.
"Perusahaan mereka mengalami banyak masalah." Jelas Berry sambil menatap tablet.
"Masalah seperti apa?" tanya Elvara penasaran.
"Beberapa proyek besar gagal." Sahut Berry dengan wajah datar.
"Lalu?" tanya Elvara menatap fokus.
"Investor mulai menarik dana mereka." Balas Berry menghela napas.
Elvara hanya diam.
Tidak ada rasa puas. Tidak ada rasa bahagia. Ia hanya mendengarkan.
Berry melanjutkan.
"Hubungan Arsenio dan Celine juga sering menjadi bahan gosip." Ucap nya dengan wajah serius.
"Mereka bertengkar?" tanya Elvara penasaran.
"Hampir setiap minggu." Balas Berry mengangguk.
"Serius?" Tanyanya terkejut kecil.
"Menurut beberapa sumber, Celine sangat boros." Jelas Berry menatap layar.
Elvara tersenyum tipis.
"Dulu Arsenio bilang Celine wanita paling sempurna." kata Elvara tersenyum sinis.
"Nyatanya tidak ada yang sempurna." Lanjutnya mengangkat bahu.
"Lalu bagaimana keadaan Arsenio sendiri?" tanya Elvara menatap penasaran.
Berry terdiam sejenak.
"Dia berubah." balas Berry dengan wajah serius.
"Berubah bagaimana?" Tanya Elvara mengernyit heran.
"Lebih mudah marah." Sahut Berry menghela napas.
"Benarkah?" tanyanya terlihat heran.
"Ya." jawab Berry mengangguk.
Di saat yang sama.
Di kantor Arsenio. Suara bentakan terdengar keras.
"Apa maksud laporan ini?!" bentak Arsenio sambil membanting berkas ke meja. Wajah merah penuh amarah.
"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha memperbaikinya." Jawab Karyawan dengan wajah pucat ketakutan.
"Berusaha? Hasilnya tetap gagal!" Ucap Arsenio mengepalkan tangan dengan marah.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Celine masuk dengan wajah kesal.
"Arsenio, kartu kreditku ditolak lagi!" ucap Celine cemberut kesal)
Arsenio langsung memejamkan mata.
"Celine, aku sedang bekerja." Kata Arsenio dengan wajah lelah.
"Jadi?" Tanya Celine melipat tangan dengan kesal.
"Aku sudah bilang kurangi pengeluaranmu." Sahut Arsenio menghela napas panjang.
"Aku cuma belanja sedikit!" Rajuk Celine mencibir kesal.
"Sedikit? Tiga ratus juta dalam sehari itu sedikit?" Bentak Arsenio melotot marah.
Celine terdiam.
Kemudian suasana semakin panas.
Saat itulah seorang sekretaris masuk tergesa-gesa.
"Pak, ada kabar penting." Katanya dengan wajah gugup.
"Apa lagi?" tanya Arsenio kesal.
"Perusahaan Elvara baru saja menandatangani kerja sama internasional." Kata Karyawan itu dengan wajah tegang.
Arsenio membeku.
"Apa?" Murka Arsenio dengan mata membesar tidak percaya.
"Nilainya mencapai ratusan miliar." Balasnya terlihat kagum.
Arsenio langsung berdiri.
"Mustahil." Elak Arsenio dengan wajah kaku.
"Itu sudah resmi diumumkan." Jelasnya mengangguk pelan.
Wajah Arsenio berubah gelap.
Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat.
Wanita yang dulu ia tinggalkan. Wanita yang dulu ia anggap tidak akan bisa hidup tanpanya. Kini justru berdiri jauh lebih tinggi darinya.
"Elvara..." gumamnya lirih. Wajahnya penuh penyesalan dan kemarahan.
Sore harinya...
Berry kembali masuk ke ruang CEO.
"Selamat, Nyonya. Kerja sama internasional itu resmi disetujui." Ucap Berry tersenyum bangga.
"Syukurlah." Ucap Elvara tersenyum lega.
"Semua media sedang membicarakan Nyonya." Kata Berry tersenyum lebar
"Semoga mereka membicarakan perusahaan, bukan aku." Canda Elvara tertawa kecil.
"Terlambat. Mereka membicarakan keduanya." Sahut Berry tertawa geli.
Elvara berjalan mendekati jendela. Menatap langit senja yang mulai berwarna jingga.
Dulu ia pernah hancur. Dulu ia pernah ditinggalkan. Dulu ia pernah menangis hingga merasa tidak mampu bangkit lagi.
Namun kini semuanya berubah.
Berry menatap punggungnya.
"Apakah Anda masih membenci Arsenio?" Berry bertanya pelan.
Elvara tersenyum tipis.
"Tidak." Jawab Elvara tersenyum damai.
"Tidak sama sekali?" Ulang Berry terkejut.
"Aku sudah terlalu sibuk membangun masa depan." lanjutnya tersenyum tenang.
"Jadi Anda tidak ingin membalasnya?" tanya Berry penasaran.
Elvara menggeleng perlahan.
"Tidak." jawab Elvara tersenyum lembut.
"Lalu apa yang Anda inginkan sekarang?" Tanya Berry menatap penuh rasa ingin tahu.
Elvara memandang langit senja.
"Aku hanya ingin terus sukses dan hidup bahagia." Jelas Elvara tersenyum penuh ketenangan.
"Dan saya yakin Anda akan mendapatkannya." Lanjutnya tersenyum bangga.
Elvara mengangguk pelan.
Karena kali ini, ia tidak lagi hidup untuk membuktikan sesuatu kepada mantan suaminya.
Ia hidup untuk dirinya sendiri.
Dan itulah kemenangan terbesar yang pernah ia raih.