Berawal dari kecelakaan berujung di pelaminan. Kaylo Albert Lyman X Sayla Lovanda Maulvi.
Hari tersial bagi keduanya yang harus menikah karna sebuah kecelakaan. Mereka belum saling kenal bahkan bisa disebut tidak saling kenal, tetapi mereka harus menikah? Mengapa? Keduanya punya kehidupan masing-masing dan hanya dalam satu hari berubah begitu saja. Kalian berfikir tinggal membantah? Tidak semudah itu. Keluarga mereka keluarga terpandang sekali memutuskan tidak akan bisa di ganggu gugat. Sudah tertimpa kecelakaan harus terperangkap dalam pernikahan pula. Kebebasan keduanya berakhir saat ini? Tentu tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NngNr.Laela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Panas
"Say besok lo sekolahkan?" tanya Galen yang tengah duduk selonjoran di kursi. Yah dia dan Elvan ikut ke rumah Rey, seperti dua pria pengangguran yang asik kemana-mana.
Sayla menoleh padanya. "Iya, kenapa emang?"
"Basa-basi doang sih hehe" ucap Galen cengengesan.
Sayla menatapnya heran. Tubuh saja dewasa tapi sikapnya anak TK. Sayla kembali fokus menonton tv sembari memakan Snack, ia memikirkan pertanyaan Galen barusan. Benar juga, besok ia sekolah dan perlengkapan sekolahnya masih berada di apartment Kay. Bagaimana caranya ia mengambilnya? Sedangkan sekarang ia tidak mau bertemu dengan pria itu.
Sayla menyimpan Snack diatas meja, lalu ia memposisikan tubuhnya menghadap Galen.
Galen terlihat risih karena Sayla memandanginya disertai senyuman yang mencurigakan. Galen melirik sekilas padanya lalu dengan cepat ia kembali fokus lagi menatap layar tv. "Cewek kalo dah senyam-senyum kek gitu pasti ada maunya nih? Acuhin aja jangan ditanggapin!" batin Galen was-was.
"Kak Galen.." ucap Sayla dengan nada manja.
Galen tidak menyahutinya, ia pura-pura budeg untuk kali ini.
"Ih kak Galen!" Sayla mengguncang - guncangkan tangan Galen. Sehingga mau tidak mau pria itu akhirnya menoleh padanya.
"Apa? Pasti ada maunya kan lo, yakan?" tebak Galen, Sayla menganggukkan kepalanya. "Satu kata buat lo. Ogah!" belum apa-apa Galen sudah menolaknya.
"Bantuin gue dong, ambilin perlengkapan sekolah gue di apartment Kay!" pinta Sayla memaksanya.
Galen menunjuk sebuah jam besar dipojok kanan. "Lo liat sekarang jam berapa?"
Dengan polosnya Sayla mengangguk. "Setengah sebelas" ujarnya.
"Sekarang siang atau malem?"
"malem"
"Nah jadi gue gak mau karena ini udah malem, nggak baik loh bujangan kayak gue keluar malem-malem. Nanti bisa diculik sama tante-tante." ucap Galen dramatis.
Sayla mengerucutkan bibirnya kesal, ia memukul pundak Galen cukup keras. "Ih kak Galen gue serius!"
"Gue duarius!" Galen tertawa terbahak-bahak puas melihat raut wajah kesal Sayla.
Elvan yang duduk disebelahnya ikut terganggu karena pertikaian kecil mereka berdua. Ia menatap Galen sinis.
Galen sedikit demi sedikit berhenti tertawa setelah melihat sorot mata tajam Elvan. Percayalah tatapan Elvan begitu mematikan membuat siapa saja yang melihatnya takut bahkan dirinya sekalipun.
"Gal!" ujar Elvan.
Seakan mengerti Galen menghembuskan nafas pasrah. "Iya gue ambilin! Tapi kenapa lo gak minta sama Rey aja sih Say?"
Bukannya Sayla yang menjawab, Elvan malah mendahuluinya. "Pahamilah situasinya!" sungut Elvan.
Galen beranjak berdiri. "Ngerepotin bet dah lu" ucapnya sambil menyentil kening Sayla.
Sayla cengengesan seraya mengusap keningnya. "Makasih om Galen"
"Gue bukan om lu! Lagian gue masih muda untuk dipanggil om!" setelah mengucapkannya Galen berlalu pergi.
Rey baru keluar dari ruang kerjanya, ia ikut duduk bersama Sayla dan Elvan. "Loh Galen udah pulang?" tanya Rey.
"Belum kak, dia ambilin perlengkapan sekolah ku dulu" jawab Sayla.
----
Rey mengantarkan Sayla ke sekolahnya. Namun mobilnya tidak sampai didepan gerbang sebab Sayla memintanya berhenti cukup jauh dari gerbang sekolah. "Kau yakin mau turun disini?" tanya Rey.
Sayla mengangguk. "Iya, disini saja" Sayla tak mau diantar sampai depan gerbang sekolahnya. Ia tidak mau jika nanti banyak temannya yang menanyakan siapa yang mengantarkannya. Ia bisa stress jika sampai itu terjadi. Ketahuilah, jika teman-temannya sudah kepo mereka mendadak menjadi reporter bahkan lebih parah lagi bisa jadi stalker.
Rey mengangguk mengerti. "Hmm baiklah"
Sayla melepaskan seatbelt. Ketika ia hendak membuka pintu, Rey menahannya. Sontak Sayla langsung menoleh lagi padanya. "Ada apa kak?" tanyanya tegang karena Rey menatapnya serius.
"Kau pulang jam berapa?"
"Itu aja? Kirain mau apa" Sayla bernafas lega. "Jam dua" jawabnya.
"Akan ku jemput" ujar Rey disertai senyumannya. "Kau tunggulah aku, akan ku usahakan tepat waktu."
Sayla menggelengkan kepalanya menolak tawaran Rey. "Enggak usah kak," ucapnya sedikit tak enak.
Rey mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya.
"Pulang sekolah nanti aku mau pergi ke toko buku bersama kedua temanku" tutur Sayla.
"Baiklah, hati-hati. Jika ada apa-apa kabari saja aku hmm" ucap Rey lembut penuh perhatian.
Sayla menanggapinya dengan senyuman, lalu ia keluar dari mobil Rey. Ia melambaikan tangannya setelah mobil itu melaju meninggalkannya.
"Ya ampun kak Rey lembut banget perhatian lagi umm.. kalo aja gue dijodohin sama dia pasti hidup gue bahagia tiap hari!" batin Sayla.
Ketika Sayla masih terlarut dalam pikirannya sendiri. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, membuat dirinya terkejut. "Aarrggh!" Sayla menjerit sambil menutup kedua bola matanya rapat. Tangannya refleks menonjok orang tersebut.
"Aduuuhh muka gue! Gila lo Say" ringis orang itu kesakitan sambil memegangi wajahnya. "Ini wajah Say bukan samsak tinju!"
Sayla membuka matanya perlahan. Ia tertawa setelah melihat orang yang membuatnya terkejut dan menerima pukulan mentahnya ternyata dia temannya sendiri, Monik.
"Parah lo Say! Tawa aja terus" kesal Monik.
"Definisi best friend tuh gini, tawain dulu baru tolongin" ucap Sayla masih menertawakannya.
"Sakit tau!" ketus Monik.
Sayla berhenti tertawa, lalu ia merangkul pundak Monik. "Iya sorry, lo juga sih ngagetin. Tau sendiri kan tangan gue suka refleks melindungi tuannya"
"Sapa yang ngagetin coba? Gue kan niatnya mau nyapa. Lo juga napa ngelamun?" Monik menatapnya curiga. "Hayoo ngelamunin siapa lo? Punya doi ya? Ngaku deh jangan main rahasia-rahasian sama gue, lo taukan gue keponya ngalahin stalker!" ucap Monik heboh.
Sayla tersenyum canggung, ia memikirkan cara supaya Monik melupakan ke-kepoanya. "Eh, Ocha mana?" tanya Sayla mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Monik mengedarkan pandangannya untuk mencari temannya yang satu itu. "Tuh lagi jajan dia" Monik menunjuk kearah salah satu toko diseberang sana.
Sayla mengikuti arah pandang Monik. Dilihatnya Ocha tengah memilih-milih makanan disana. Sayla berinisiatif memanggilnya. "OCHA!" teriaknya keras. Bukan hanya Ocha yang melirik padanya, orang-orang yang tengah berjalan disekitarnya pun ikutan menatapnya.
Lengkingan suara cemprengnya mampu menyita perhatian, jika saja wajahnya tidak cantik mungkin Sayla akan mendapat teguran.
Diseberang sana Ocha mengisyaratkan tunggu menggunakan tangannya. Ocha membayar belanjaannya lalu bergegas menghampiri kedua temannya.
"Banyak banget belanjaan lo" ucap Monik sambil memperhatikan kantung plastik berukuran sedang yang dibawa Ocha.
"Doyan jajan tapi badan lo kurus-kurus aja ya? Hebat banget Cha," timpal Sayla.
Ocha berdecih sambil memutar bola matanya. "Ini pujian atau hinaan sih?"
"Dua-duanya" ucap Sayla dan Monik bersamaan, mereka berdua tertawa seraya bertos ria. Mereka mengatakan itu hanya bercanda walaupun terkesan menghina tapi itulah pertemanan para remaja gokil sepertinya.
---
Jam istirahat sebentar lagi berbunyi, Sayla duduk bosan di kursinya. Kenapa pelajaran hari ini terasa lebih lama dari sebelumnya? Mungkin karena ia tidak niat belajar jadi waktu terasa melambat.
KRIIINGG!
Akhirnya suara yang begitu dicintai oleh seluruh penghuni sekolah telah berbunyi. Murid-murid di kelasnya berhamburan keluar, ada juga yang diam dikelas berkumpul sembari mengobrol.
"Say sini gabung, ada berita panas nih!" ajak Monik yang tengah berkumpul bersama teman-teman penyuka gosip.
Sayla melirik malas padanya. "Gak mau gue takut dosa, yakan Cha?" Sayla menoleh ke bangku Ocha namun gadis itu tak ada ditempatnya.
"Sorry Say, gue gak mau ketinggalan berita ter-hot!" sahut Ocha yang sekarang sudah berada di antara kerumunan temannya yang dominan dipenuhi perempuan.
Sayla berdecak sebal. "Bodo amat deh" gumamnya.
Selang beberapa menit kerumunan itu bubar berlarian keluar. Membuat Sayla mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengan mereka?
"Say jangan diem aja dong! Ayo buruan kita keluar!" ajak Ocha.
"Ada apaan sih?" tanya Sayla.
Ocha menghampirinya lalu menarik tangannya dan membawanya keluar dari kelas. "Ada apa sih Cha?" tanya Sayla sekali lagi.
"Sekolah kita bakal kedatangan donatur terbesar, dan katanya dia ganteng tajir melintir!" Ocha menjelaskannya sembari berjalan menuju lapangan.
"Kok lo bisa tau? Gue aja nggak tau"
"Mangkanya jangan so suci lo, tadi itu lagi bicarain soal ini"
"Monik mana?"
"Dia udah duluan daritadi, Monik kalo udah denger cogan pasti paling depan"
Lapangan sekolah sudah penuh, ternyata berita itu cepat menyebarnya. Sayla dan Ocha tidak bisa nerobos ke depan karena padatnya siswa dan siswi. Mereka berdua berada di barisan paling belakang sehingga tidak dapat melihat jelas donatur terbesar di sekolahnya tersebut.
"Ganteng tajir melintir? Gue yang jarang banget kepo jadi ikut-ikutan kepokan. Mana gak keliatan lagi disini, duh siapa sih dia?"
dkit asal jngan, trllu vulagar kan bisa
hambar bnget jdinya
Masih ada aq disini
dulu dia memuja2 vera bilang vera lebih baik dari say, dan baru sekarang dia nyadar say lebih segalanya dari vera
digiliran kay dah nyadar, sekarang malah say yang mikir rey lebih segalanya dari kay
karma tuh kay, makanya jangan buka matanya lebar2, dapet bini yang segalanya eh milihnya yang kek batu apung gabisa ngapa2in.. nyesel kan sekarang dibutakan cinta palsu vera