Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
------------------------------
## BAB 26: Tuntutan dari Penguasa Lama
Langkah kaki Elena Vance mendadak tertahan di atas lantai marmer lobi paviliun utama. Aura dingin yang memancar dari sosok pria tua berjas putih kuno di hadapannya terasa begitu pekat, seolah sanggup membekukan seluruh pasokan udara di dalam ruangan. Kakek Agung Syailendra—sang tirani sejati yang membangun fondasi imperium bisnis terbesar di negeri ini—berdiri tegak laksana dinding batu karang yang tak tergoyahkan.
"Nicholas," suara berat sang Kakek memecah kesunyian, nadanya datar namun sarat akan penekanan yang mengintimidasi. "Kamu mengumumkan pernikahan megah, memenjarakan sepupumu, dan malam ini menyeret bibimu sendiri ke markas besar kepolisian. Apakah kamu pikir setelah aku menyerahkan kendali CEO kepadamu, kamu bisa memperlakukan silsilah keluarga Syailendra seperti mainan?"
Nicholas tidak melepaskan dekapannya pada pinggang ramping Elena. Sebaliknya, pria itu justru mempererat dekapannya, melangkah maju satu tapak untuk menyandarkan tubuh Elena ke sisi tubuh tegapnya secara posesif.
"Kakek," sapa Nicholas, suaranya terdengar berat dan kokoh, tanpa ada sedikit pun setitik ketakutan di depan penguasa lama tersebut. "Ardi melakukan spionase korporat, dan Bibi Sarah memalsukan data medis untuk menyerang istri saya di depan media internasional. Saya hanya melakukan pembersihan agar nama besar Syailendra Group tidak menjadi bahan lelucon dunia."
Kakek Agung Syailendra tidak langsung membalas ucapan cucunya. Ia perlahan mengalihkan pandangan mata elangnya yang sedingin es langsung ke arah Elena. Tatapannya terkunci pada cincin berlian hitam yang melingkar di jari manis Elena, seolah sedang membaca seluruh rahasia yang tersembunyi di balik draf kertas emas pernikahan kontrak mereka.
"Elena Vance... wanita dengan dokumen Prancis yang begitu rapi," ucap Kakek Agung sembari mengetukkan tongkat perak berukir kepala naganya ke lantai marmer dengan satu ketukan keras.
Tok!
"Ikut aku ke ruang kerja utama. Ada draf perjanjian yang harus kita luruskan malam ini juga," perintah pria tua itu tanpa bantahan, lalu berbalik melangkah dengan wibawa absolut menuju koridor lantai dua.
------------------------------
Suasana di dalam ruang kerja utama Kakek Agung terasa begitu mencekam. Dinding ruangan yang dilapisi kayu jati tua dipenuhi oleh deretan buku hukum korporat dan piagam penghargaan internasional. Kakek Agung duduk di kursi kebesarannya, sementara Nicholas dan Elena berdiri tegap di hadapan meja kerja raksasa tersebut.
Pluk.
Pria tua itu melempar sebuah draf map hitam tebal ke atas meja. "Dua tahun. Itu adalah batas waktu pernikahan kontrak yang kalian tanda tangani di atas kertas emas sebulan lalu, bukan?"
Deg!
Jantung Elena mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Sepasang mata indahnya membelalak samar karena terkejut. Bagaimana mungkin Kakek Agung yang selama lima tahun ini mengasingkan diri di luar negeri bisa mengetahui detail rahasia draf kontrak pernikahan mereka yang dijaga sangat ketat oleh sistem enkripsi Syailendra Group?
Elena melirik Nicholas lewat sudut matanya, namun wajah suaminya tetap tampak tenang bagai air danau yang dalam, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.
"Jangan terkejut, Elena. Di dalam dinasti Syailendra, tidak ada satu pun draf aliran dana atau pergerakan dokumen hukum yang bisa lolos dari pengawasanku," desis Kakek Agung dengan senyuman miring yang terlihat sangat dingin dan kejam. "Nicholas memalsukan identitas Prancismu agar bisa membawamu masuk ke rumah ini demi memenuhi syarat takhta CEO yang kuberikan. Pernikahan kalian palsu. Dan silsilah keluarga Syailendra tidak akan pernah membiarkan seorang wanita penipu memegang saham warisan utama dinasti kita."
Pria tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Nicholas dengan tatapan tirani yang mematikan. "Besok pagi, aku akan merilis draf pembatalan jabatan CEO milikmu ke dewan komisaris, Nicholas. Kamu resmi didepak dari tampuk pimpinan tertinggi karena telah membohongi dewan keluarga."
"Tunggu, Kakek."
Suara berat dan dalam milik Nicholas memotong kalimat sang Kakek dengan ketegasan mutlak yang sanggup meruntuhkan atmosfer ruangan. Nicholas melangkah satu tapak maju, menghadang pandangan sang Kakek dari arah Elena.
"Draf kontrak dua tahun itu dibuat hanya sebagai jaminan hukum perlindungan aset pribadi Elena dari Vance Jewelry Prancis," ucap Nicholas, suaranya terdengar begitu tenang namun penuh dengan intrik kelicikan berkelas. "Pernikahan kami bukan rekayasa demi takhta CEO. Dan malam ini... saya punya satu bukti nyata yang tidak akan bisa Kakek batalkan dengan draf dokumen mana pun."
Kakek Agung menyipitkan matanya dingin. "Bukti apa, Nicholas?"
Nicholas berbalik perlahan, menatap langsung ke dalam manik mata indah Elena yang kini dipenuhi oleh kebingungan. Dengan gerakan yang sangat posesif dan manis, Nicholas mengulurkan tangan besarnya yang hangat, mengelus lembut perut datar Elena di balik gaun malam emas hitamnya di depan mata sang Kakek.
"Elena saat ini sedang mengandung anak kandung saya, darah daging sah dari penerus takhta Syailendra Group," ucap Nicholas dengan nada suara yang merendah namun sarat akan kepastian mutlak yang mengguncang isi ruangan. "Usia kandungannya baru menginjak beberapa minggu. Apakah Kakek masih berniat mendepak ayah dari calon cicit pertama Anda dari kursi CEO?"
Boom!
Pernyataan ekstrem Nicholas laksana hantaman bom waktu yang meledakkan seluruh keheningan malam di dalam ruang kerja tersebut.
Elena Vance seketika menahan napasnya yang mendadak sesak. Seluruh tubuhnya membeku mematung diserang oleh rasa syok yang luar biasa masif. Hamil? Mengandung anaknya? Skenario gila apa lagi yang sedang Nicholas umumkan ini? Draf kontrak di atas kertas emas mereka sama sekali tidak pernah memuat poin tentang kebohongan kehamilan palsu ini!
Kakek Agung Syailendra tertegun sejenak, genggaman tangannya pada tongkat perak berkepala naga mengencang. Pria tua itu menatap intens ke arah perut Elena, mencoba mencari kebohongan di sepasang mata Elena, namun yang ia temukan hanyalah kilat ketegasan yang sengaja Elena pasang demi menutupi kepanikannya.
"Mengandung?" Kakek Agung mendesis rendah, perlahan bangkit dari kursi kebesarannya. "Nicholas, jika kata-katamu malam ini adalah kebohongan baru untuk menyelamatkan jabatanmu... aku sendiri yang akan memastikan kamu dan wanita ini membusuk di jalanan tanpa sepeser pun uang warisan."
"Dua minggu lagi, tim medis pribadi Kakek bisa melakukan tes ultrasonografi darurat untuk membuktikannya sendiri," jawab Nicholas dengan senyuman miring penuh pesona kemenangan yang terlihat sangat seksi namun penuh tirani.
Pria itu langsung merangkul pinggang ramping Elena kembali dengan sangat erat, membalikkan tubuh mereka untuk melangkah keluar meninggalkan ruang kerja Kakek Agung tanpa memberikan kesempatan bagi pria tua itu untuk membantah lebih jauh.
Ketika mereka kembali ke dalam kamar tidur utama paviliun yang sunyi, Elena langsung menyentakkan tangan Nicholas dari pinggangnya dengan kasar. Napasnya memburu penuh amarah, sepasang mata indahnya berkilat memancarkan api kemarahan.
"Nicholas! Apa-apaan semua kebohongan gila itu?!" bentak Elena, suaranya bergetar hebat menahan gejolak emosi di dadanya. "Hamil?! Mengandung anakmu?! Bagaimana bisa kamu membuat skenario ekstrem seperti itu tanpa persetujuanku?! Dua minggu lagi Kakekmu akan mengirim tim medis, dan saat mereka tahu rahimku kosong... kita berdua akan tamat!"
Nicholas tidak langsung menjawab kemarahan Elena. Pria itu mengunci pintu kamar dengan rapat, melepaskan tuksedo hitam mahalnya dengan gerakan lambat, lalu melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka hingga Elena terpaksa mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang kelambu yang kokoh.
Sret!
Nicholas mengunci tubuh Elena dengan kedua lengan kekarnya di sisi kanan dan kiri tiang ranjang, menundukkan kepalanya hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma parfum maskulin bercampur tembakau tipis miliknya seketika mengepung seluruh pertahanan logika Elena. Sepasang mata elang Nicholas memancarkan kegilaan posesif dan gairah asmara asli yang kini meledak pecah tanpa sisa di dalam kamar tidur malam itu.
"Siapa bilang itu akan menjadi kehamilan palsu, Elena?" bisik Nicholas, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, serak, dan penuh dengan getaran menuntut yang sensual tepat di depan bibir merah merona Elena. "Dua minggu adalah waktu yang lebih dari cukup bagi kita untuk mengubah kebohongan di depan Kakek tadi... menjadi sebuah kenyataan yang nyata di atas ranjang ini malam ini."
Elena Vance membelalakkan matanya samar karena terkejut, jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur laksana genderang perang saat merasakan sentuhan jemari tangan hangat Nicholas yang perlahan mulai bergerak naik menyentuh leher jenjangnya. Batas-batas draf kertas emas pernikahan kontrak mereka kini telah hancur total digulung oleh api gairah asli yang siap membakar habis sisa malam pertama mereka yang sesungguhnya. Babak baru dari kepunahan total sandiwara bisnis kini telah resmi mengunci sepasang penguasa takhta dalam sebuah ketegangan asmara romantis yang teramat intens dan mematikan.