NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Komedi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"

Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.

Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.

Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.

Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Gerbang Perpisahan

Matahari pagi naik tinggi di atas gerbang marmer putih Kota Lembah Anggrek. Ribuan kereta kuda dan pendekar pengelana berbondong-bondong meninggalkan kota turnamen menuju tempat asal mereka masing masing.

Sekte Pedang Langit yang masih menanggung malu akibat kekalahan telak Jiang Chen memilih pergi lebih awal melalui jalur utara dalam diam.

Di gerbang selatan lembah, rombongan kecil Sekte Lembah Bambu Biru sedang merapikan muatan pelana kuda mereka.

Paman Guru Lin mengikat peti hadiah emas juara turnamen ke atas kereta dengan senyum lebar yang tak putus-putusnya. Zhou Hao dan Chen Wu sibuk memeriksa tali kekang kuda dengan semangat baru.

Saat Wei Changqing hendak menaiki kudanya, derap langkah kaki ringan terdengar mendekati gerbang.

"Changqing!"

Sebuah panggilan merdu membuat Changqing menoleh.

Dari balik kerumunan pendekar yang berlalu-lalang, Shen Yue berlari kecil menghampirinya didampingi oleh Kakak Senior Liu Fang. Gadis cantik berseragam putih salju itu tampak sedikit kehabisan napas, namun wajahnya berseri-seri menatap Changqing.

"Nona Yue," Changqing turun kembali dari kudanya dan membungkuk sopan dengan senyuman hangat. "Rombongan Sekte Teratai Salju juga sudah bersiap bertolak ke utara?"

"Benar," jawab Shen Yue sambil membetulkan letak pita sutra peraknya yang sedikit miring karena berlari. Matanya menatap lurus ke mata hitam Changqing dengan kelembutan yang sangat dalam. "Kami berangkat sebentar lagi. Aku... aku sengaja meminta izin pada Kakak Senior Liu Fang ke gerbang selatan ini untuk mengucapkan selamat jalan padamu."

Liu Fang yang berdiri di belakang Shen Yue mengangguk hormat pada Changqing—sikapnya kini seratus persen berubah menjadi penuh rasa kagum pada sang juara muda.

Shen Yue melangkah maju satu jengkal, menatapkan matanya pada jubah abu-abu Changqing.

"Ingat janjimu malam perjamuan kemarin, Tuan Changqing," bisik Shen Yue dengan pipi merona samar di bawah terik matahari pagi. "Saat musim semi tiba dan bunga anggrek mulai berganti daun bambu... aku akan datang berkunjung ke Taman Obat Luar Lembah Bambu Biru untuk menyeduh teh bersamamu."

"Janji seorang pendekar pedang lebih keras dari batu karang, Nona Yue," jawab Changqing lembut, suaranya mengandung janji yang melintasi dua kehidupan. "Aku akan menyiapkan teh terbaik dan menunggu kedatanganmu."

Shen Yue tersenyum begitu indah, lalu melambaikan tangannya mundur perlahan sebelum berbalik menyusul rombongan sektenya yang menunggu di persimpangan jalan utara.

Changqing menatap kepergian Shen Yue dengan hati yang tenang dan damai. Alur takdir Shen Yue untuk saat ini telah aman seratus persen dari incaran Jiang Chen maupun perang sekte.

Namun, tepat saat Changqing memutar tubuhnya untuk kembali ke kudanya...

Srrr...

Kepekaan indera tingkat Nirwana-nya menangkap seberkas tatapan mata dingin namun sarat rasa hormat dari arah tebing pohon pinus di atas gerbang kota.

Changqing mendongak sekilas ke atas tebing batu.

Di sana, berdiri seorang gadis berjubah sutra hitam di bawah naungan dahan pinus. Itu adalah Mu Qingxue.

Sebagai anggota dari klan rival, Qingxue tidak turun ke jalan raya untuk menyapanya secara terbuka. Namun gadis pembunuh itu berdiri di sana, menatap Changqing dari kejauhan dengan sepasang mata jernih yang tidak lagi menyimpan aura pembunuhan.

Saat mata mereka bertemu melintasi jarak seratus meter, Mu Qingxue mengangkat tangan kanannya, menyentuhkan kepalan tangannya ke dada kiri—sebuah salam hormat tertinggi rahasia dari Klan Teratai Darah untuk seorang penyelamat hidupnya.

Di dalam benak gadis jenius itu, telah tertanam sebuah keputusan kuat, ia akan mencari tahu lebih dalam siapa sebenarnya pemuda 19 tahun bermata hijau ini, dan akan mengikutinya diam-diam ke wilayah barat.

Changqing membalas salam hormat Qingxue dengan anggukan kecil yang samar.

"Sudah siap berangkat, Changqing?" seru Chen Wu dari atas kudanya di depan gerbang.

"Siap, Kakak Senior," jawab Changqing melompat naik ke atas pelana kudanya.

Klotak! Klotak! Klotak!

Roda-roda kereta dan derap kuda rombongan Sekte Lembah Bambu Biru mulai bergerak di jalan raya selatan, meninggalkan megahnya Kota Lembah Anggrek di belakang mereka.

Empat hari perjalanan menaiki kereta kuda melintasi perbukitan barat terasa begitu singkat dan ringan bagi rombongan Sekte Lembah Bambu Biru.

Ketika siluet atap-atap pagoda biru sekte mereka mulai terlihat di ujung jalan setapak gunung pada sore hari keempat, suara tabuhan gendang perayaan dan tiupan terompet bambu bergema keras memecah keheningan pegunungan.

Kabar tentang kemenangan spektakuler Wei Changqing merebut gelar Juara Utama Konferensi Turnamen Lembah Anggrek telah tiba lebih dulu dua hari sebelumnya!

Di depan gerbang batu bertuliskan Sekte Lembah Bambu Biru, ratusan murid dari pelataran luar hingga halaman utama berbaris rapi mengapit jalan masuk. Ketua Sekte Zhao Wuji berdiri di paling depan dengan jubah kebesarannya, didampingi oleh seluruh tetua sekte yang wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan yang luar biasa.

Klotak! Klotak! Klotak!

Begitu kereta kuda yang membawa Paman Guru Lin, Chen Wu, Zhou Hao, dan Wei Changqing memasuki pelataran gerbang, sorak-sorai gemuruh meledak dari ratusan murid sekte!

"Hidup Lembah Bambu Biru! Hidup Kakak Senior Chen Wu! Hidup Kakak Senior Wei Changqing!"

Bahkan Sun Meng dan barisan murid halaman utama yang dulu sempat meremehkan Changqing kini menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan rasa hormat dan segan saat rombongan melintas.

Zhou Hao melompat turun dari kereta kuda sambil mengangkat tinggi-tinggi Piala Anggrek Emas—piala penghargaan tertinggi turnamen lima tahunan benua timur!

"Kita menang! Kita mengalahkan seluruh sekte besar di Lembah Anggrek!" teriak Zhou Hao kegirangan, disambut sorak sorai penonton yang semakin membahana.

Chen Wu turun dari kudanya dan langsung membungkuk hormat kepada Guru Zhao Wuji. "Ketua Sekte! Murid telah kembali. Namun seluruh kehormatan kemenangan ini adalah berkat bimbingan dan kehebatan Adik Changqing."

Guru Zhao Wuji tertawa bangga, melangkah maju dan menepuk bahu Changqing serta Chen Wu secara bergantian dengan mata berkaca-kaca terharu.

"Kalian berdua adalah murid terbaik Lembah Bambu Biru!" ucap Guru Zhao dengan suara bergetar karena bahagia. "Sejak sekte kita didirikan seratus tahun lalu, belum pernah satu kali pun kita berhasil menembus babak perempat final turnamen benua. Hari ini... kalian membawa pulang mahkota juara ke gerbang rumah kita!"

Tepat pada saat perayaan di gerbang batu itu mencapai puncak kemeriahannya, terdengar suara derap langkah sepatu bot kecil berlari kencang membelah barisan murid luar.

Tap! Tap! Tap!

"Kakak Guru Changqing!"

Sebuah panggilan nyaring membuat Changqing menoleh dengan senyuman lebar.

Baii Ling kecil berlari sekuat tenaga menghampirinya. Gadis sebelas tahun berseragam katun hijau itu melompat langsung ke dalam pelukan Changqing. Mata hitamnya basah oleh air mata rindu dan haru yang tak terbendung.

"Kakak Guru pulang! Kakak Guru menang!" tangis Baii Ling bahagia di dalam gendongan Changqing, kedua lengannya memeluk erat leher gurunya.

Changqing menurunkan murid mudanya itu ke lantai batu, lalu menepuk kepalanya dengan bangga. Kepekaan indera Changqing langsung merasakan kepadatan hawa dingin es yang mengalir sangat teratur dan jernih di dalam Dantian gadis kecil itu.

"Kau tidak malas berlatih selama satu bulan aku pergi, Ling-er," puji Changqing dengan mata berbinar. "Pancaran energi mu... kau sudah berhasil menembus Pendekar Rendah Tahap 3!"

Baii Ling mengangguk cepat sambil menyeka air matanya, menunjukkan pedang kayu pemberian Changqing terikat rapi di pinggangnya. "Ling-er menjaga taman obat setiap hari dan merawat tanaman herbal seperti yang Kakak Guru perintahkan! Tidak ada satu tanaman pun yang mati!"

"Anak pintar," senyum Changqing hangat.

Malam harinya, pesta perayaan penyambutan rombongan digelar besar-besaran di halaman utama sekte. Seluruh lampion dinyalakan, meja makan dipenuhi hidangan daging dan arak herbal terbaik sekte.

Namun di tengah pesta yang meriah itu, Changqing tidak hanyut dalam pujian atau arak perayaan.

Saat tengah malam menjelang, Changqing meminta izin pada Guru Zhao Wuji untuk kembali ke kebun herbalnya di lereng barat. Ia tahu bahwa pertarungan di Lembah Anggrek dan pertempuran malam melawan Mu Qingxue serta Gao Tianhao telah memberikannya pencerahan baru yang harus segera dimantapkan.

Langkah kepulangan telah selesai dengan sempurna.

Kini, di dalam ketenangan Taman Obat Luar lereng barat, Changqing bersiap untuk memasuki masa refleksi dan pemantapan kekuatan baru.

1
Arman Jaya
alur ceritanya bagus..
lanjutkan Thor.....👍👍🙏
Jhon
mantap thor👍
Suhartini Wahono
suka jg.....😍👍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Jimmi
Aku sangat menyukai cerita ini😍😍😍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fatih Al
lanjut lagi🙏🙏
Fatih Al
mantap thor💪
Budi Xiao
Lanjut, semangat thor👍
Celestial Quill
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, vote supaya novel ini semakin dikenal dan semangat author untuk update juga semakin besar. Terimakasih sudah membaca🙏
Fatih Al
Cerita bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!