NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:717.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 16

Setelah kejadian memalukan Ayunda kepergok tidur saat jam kerja, dia sangat berhati-hati agar terhindar dari rasa malu lebih parah lagi.

Ayunda sedang berada di sebuah restoran Jepang, menunggu kedua sahabatnya.

Seila, Dwira baru tiba sepuluh menit setelah kedatangan Ayunda.

“Pesen apa aja yang kalian mau. Kali ini aku traktir,” ucap Ayunda, wajahnya sumringah.

“Beneran?” netra Dwira berbinar, dia langsung melihat buku menu.

“Iya.” Angguknya, senyum lebarnya perlahan sirna kala melihat raut wajah Seila seolah tengah menimbang-nimbang. “Sei, ini uang halal kok, hasil dari gaji yang baru saja kita terima.”

Seila tidak bergegas memilih menu, dia melepaskan sweater rajut lalu disandarkan pada kepala sofa berbusa. “Ya walaupun aku sedikit sangsi, paling gak menghargai niat baik mu ini.”

“Halla … bilang aja kamu seneng ditraktir. Gengsi kok digedein,” cibir Dwira.

“Wanita itu wajib punya gengsi biar gak mudah terjerumus ke lembah nista, berakhir kehilangan harga diri. Kalau udah kayak gitu, mana ada artinya lagi, yang ada dianggap rendah, hina,” sarkasnya dengan nada tajam.

“Lu bisa gak sih kalau kita lagi ngumpul, mulutnya direm? Biar gak ngomong kasar terus!” Dwira membanting buku menu.

“Kok lu yang sewot? Gua kan ngomong fakta!” Sei menaikan nadanya.

Di bawah meja, Ayunda mencubit kulit pahanya. “Kita lagi mau makan loh, malu jadi pusat perhatian.”

Dwira mengedarkan pandangan, ada dua sampai tiga pengunjung melihat ke arah tempat duduk mereka. “Seila memang gak tahu tempat banget. Ngajak ribut terus!”

Yang dikatai bersikap biasa saja, malah memanggil pramusaji berjarak dua meja darinya.

“Saya pesan Donburi (Rice Bowl), Yakitori (sate ayam), minumnya jus Kiwi. Sudah itu saja. Terima kasih.” Seila mendorong buku menu ke Ayunda.

“Teppanyaki daging sapi saus teriyaki, minumnya oren jus. Terima kasih, Kak,” katanya ramah.

Sedangkan Dwira memesan menu Sushi Salmon Mentai, California Roll, dan Nigiri. Minumnya lemon tea.

“Eh aku punya gosip _”

“Gua gak berminat dengan gosip gak berfaedah. Jangan bahas disini! Cukup hari-hari dikantor lu berisik banget muja-muja dua artis kebanggaanmu!” Seila memotong kalimat Dwira.

“Yang lu katai barusan, salah satunya calon istri bos kita. Bayangin kalau sampai mereka menikah,” Dwira seperti tersinggung, dia termasuk fans garis keras Syafira dan Vinira.

Seila membalikkan ponselnya di atas meja, lalu menatap geli sang sahabat. “Apa urusannya sama karyawan? Pernikahan dan pekerjaan itu dua hal berbeda. Gak mungkin perusahaan sekelas Wangsa group bisa terpengaruh apalagi diacak-acak cuma kehadiran orang baru meskipun dia istri dari pimpinan tertinggi.”

“Ya bisa aja. Kamu dengar sendiri kan wawancara kapan hari, nona Syafira bilang kalau dia dan tuan Daksa saling mendukung, sudah tentu sama-sama cinta. Santer kabar juga mau segera menikah. Laki-laki itu kalau udah kecintaan, apapun akan dilakukan untuk membuat wanitanya bahagia,” bela Dwira.

Cih. Seila mendecih, sorot matanya mengejek Dwira. “Tinggal kita lihat saja endingnya mereka gimana.”

Ayunda hanya menjadi pendengar, malas ikut campur, terlebih kalau Seila sudah mengeluarkan kata-kata mutiaranya.

“Yunda, kamu dapat bocoran kemana kita liburan nanti gak?” tiba-tiba Dwira teringat tentang liburan tahunan perusahaan yang jatuh pertengahan bulan ini.

“Kemungkinan ke pulau seribu, kan cuma dua hari. Di sana tempat yang cocok, dekat dengan Jakarta,” sebelumnya dia sudah membahas hal ini dengan Yusniar kala dimintai pendapat oleh Iyan.

“Apa para pimpinan divisi sudah setuju?” Seila tertarik tentang ini daripada gosip yang dianggap gak guna bagi dirinya.

Ayunda mengedikkan bahu. “Sebagian udah, tapi ada juga yang nolak. Mereka mengusulkan ke Bali.”

“Bali ya kejauhan, harus naik pesawat lagi. Mana cukup waktunya. Kalau aku milih kepulauan seribu – banyak pantai bisa dikunjungi, bisa snorkeling juga,” Dwira mengutarakan keinginannya.

“Aku terserah para atasan saja,” jawab Ayunda tidak peduli.

Seila langsung menatap Ayunda. “Jangan bilang lu gak ikut lagi?”

“Males, Sei. Kamu kan tahu aku gak suka keramaian, apalagi angin dan pasir pantai sering buat kulitku gatal-gatal,” ucapnya jujur.

“Kan bisa tinggal di hotel tanpa harus turun ke pantainya. Ikut ya, Yunda. Biar rame, kalau kamu gak ada … rasanya seperti ada yang kurang,” Dwira mulai membujuk.

“Lihat nantilah,” jawabnya belum pasti.

“Tuan Daksa sama pak Iyan bakalan ikut atau absen lagi?” tanya Dwira.

“Dari yang tak denger, Tuan Daksa gak pernah ikut liburan tahunan. Kalau pak Iyan sekali atau dua kali mau ikut,” sahut Seila.

Ayunda menggeleng, tanda tidak tahu, dan malas mencari informasi. Dia masih malu atas kejadian beberapa hari telah berlalu.

“Bisa kejang-kejang para karyawan wanita kalau sampai kedua pria tampan itu ikut. Bakalan gak bisa fokus, sibuk curi-curi pandang.” Dwira senyum-senyum sendiri.

“Itu sih lu, gua biasa aja lihatnya. Cuma menaruh segan karena memang aura tuan Daksa itu berkharisma, dan dia seorang pemimpin bijaksana,” aku Seila.

Obrolan terhenti dikarenakan pesanan mereka sudah datang, terhidang di atas meja. Kali ini tidak ada lagi drama adu mulut, sama-sama menikmati sampai perut kenyang.

“Aku gak bisa ikutan keliling mal ya, ada keperluan mendadak.” Ayunda memasukkan ponsel dalam tas kecil.

“Lu gak lagi dapat panggilan persis kupu-kupu yang suka melambaikan tangan di pinggir jalan pas malam hari kan?” Seila menelisik Ayunda, kalimatnya mengarah pada wanita pemberi kepuasan pria.

“Mulai lagi lu ya, Sei! Nyebelin banget jadi orang,” Dwira membela Ayunda.

“Kalian hati-hati. Jaga dompet baik-baik, biar gak kalap gesek kartu pas kebetulan baru gajian,” Ayunda tidak mau menanggapi pernyataan penuh kecurigaan. Sebelum pergi, dia menaruh lembaran merah di atas bill tagihan.

Ayunda berjalan dengan langkah sedikit tergesa-gesa. Pesan dari Vinira sangat mengganggu, penuh kalimat ancaman apabila dia tidak segera sampai tempat lokasi syuting.

***

Dua puluh lima menit kemudian, mobil Ayunda sudah terparkir di belakang bangunan klub malam kelas menengah kebawah. Dia bergegas keluar, berjalan arah ke samping yang mana terlihat anggota kru sibuk dengan tugas masing-masing.

“Ini peran penggantinya datang. Jangan sungkan-sungkan menggunakan jasa dia, wajib totalitas! Biar hasilnya sempurna.” Vinira berkacak pinggang, raut wajahnya masam.

Sang sutradara menghampiri peran pengganti yang sudah dia kenal meskipun tidak dekat. Ayunda di mata para pemain sinetron sampai para orang yang terlibat, pribadi sangat tertutup, jarang mau diajak ngobrol, selalu menolak ajakan apabila ada acara makan-makan sebagai bentuk perayaan syuting lancar, rating tayangan mengalami kenaikan.

“Gak perlu ganti pakaian. Nanti, kamu berlari dibawah hujan buatan, atur ekspresi seperti orang dikejar-kejar preman. Harus menjiwai kalau gak mau adegan diulang-ulang,” sang sutradara memberi arahan.

Ayunda mengangguk, tas tangannya dititipkan ke salah satu pemeran figuran yang sudah beberapa kali satu project dengan Vinira.

Sang artis berdiri di samping sutradara, mengamati layar juru kamera.

Ayunda mengeluarkan kaos sedikit ketat, berkancing depan dari dalam celana jeans biru tua. Rambutnya digelung asal sesuai arahan sang sutradara yang mengharuskannya bertelanjang kaki berlari di atas aspal.

Dalam hitungan mundur, sang pemeran pengganti berlari di bawah rain effect menggunakan pipa paralon yang dilubangi dan disambungkan ke selang air bertekanan tinggi untuk menciptakan efek hujan.

“CUT!” bukan seruan sang sutradara tetapi Vinira. “Hujannya kurang deras, kan skrip nya hujan lebat. Naikan lagi tekanan airnya!”

Ayunda sudah basah kuyup, dia diam saja, pun enggan melihat ke arah Vinira yang sengaja mau mengerjainya demi melampiaskan kekesalan akibat dia pulang kampung.

Adegan pun diulang sesuai keinginan sang artis yang bukan cuma memerankan tokoh utama, tetapi juga memiliki andil dalam biaya produksi – Guntara menjadi salah satu investor terbesar dalam sinetron keturunannya kali ini.

“Masih kurang! Kamu larinya lebih kencang lagi!” Vinira kembali protes setelah pengulangan adegan ketiga kalinya.

Sang sutradara protes, pemeran pengganti sudah basah kuyup lebih dari empat puluh menit lamanya. “Sudah bagus itu! Kamu gak lihat dia sudah menggigil, bisa-bisa pingsan!”

“Cuma pingsan kan? Bukan mati?”

.

.

Bersambung.

1
bunda fafa
keren...cara menyambut suami yg tepat ya gn yun 🥰
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
uluh2 jangan seneng dulu kalian begitu daksa mengeluarkan bom nya langsung duaaar jedeeer 🤣🤣

peluk dong peluk sih 🤗
Sumi yati69
makin seru pokoknya semangat author q menunggumu up 💪💪💪💪
Zeliii... S
ow so sweet.... bukan cuma butuh pelukan butuh mimik cucu juga...😘😘😘
bunda fafa
setelah itu km bakalan dihempaskan ke comberan setelah kebusukan dan trik murahan km terbongkar 🤣
bunda fafa
pintar si melinda ini gak asal kemakan berita murahan
Yul Kin
Butuh banget.... siap² bom meledak dan merdeka💪👍😍
bunda fafa
dan keluarga bekti auto jd gembel 🤣🤣
Engkar Sukarsih
bagus... daksa... bagus ...aku
suka cara kamu, buat keluarga Guntara hancur lebur lewat adik kandungnya sendiri 🤬🤬🤬
Engkar Sukarsih
tertawalah sepuasmu syafira🤬🤬 karena sebentar lagi kamu akan menangis darah 🙄🙄🙄🙄
jekey
q juga butuh pelukan daksa 😒😒😔😌
bunda fafa
hebat daksa...dia mencari celah melalui panji Krn di dlm keluarga guntara sedang terjadi perebutan kekuasaan antara ependi sm panji
bunda fafa
nah gt donk yun...belajar jd istri yg baik😁..ngomong2 Bu inggit sm pak basri tinggal dimana ya
Engkar Sukarsih
mau dong do peluk sayang sama bumil Ayunda 🥰🥰🥰🥰
bunda fafa
padahal kenyataannya si sapi lah pihak ke 3 nya
mmh nengmuti
nanti HBS lahiran Yunda nya malah gak mau ikut kerja malah pengen d rmh jga anak🤔🤣
bunda fafa
heleh 😁yun.. biasanya jg manggil daksa...bapaknya pepaya.. apalagi 🤣
Teti Hayati
Ternyata Melinda yg notabenenya mantan perawat.. lebih pintar dari Rudi dan antek-antek Guntara - Bekti...
bunda fafa
akhirnya bersua lewat udara Niar sm Yunda 🥰 kangen banget pastinya
bunda fafa
smart mom....abaikan semua gossip yun..yg jelas km aman di dkt suamimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!