NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kopi hangat

Suasana lorong gedung fakultas terasa lebih sesak dari biasanya pagi itu. Matahari baru saja naik setinggi jendela-jendela kaca, menyebarkan cahaya keemasan yang menyoroti debu-debu halus yang melayang di udara. Karin berjalan cepat sambil memeluk erat tumpukan berkas skripsi di dadanya. Napasnya sedikit memburu karena tadi pagi ia hampir terlambat bangun kesalahan fatal yang terjadi semalam saat ia terlalu asyik menonton film sampai lupa waktu, padahal Arkan sudah berpesan lewat pesan singkat sekitar pukul sepuluh malam agar segera beristirahat.

"Ya ampun, telat lagi, telat lagi..." gumamnya pelan, matanya menyapu sekeliling mencari ruangan dosen yang dituju. Ia harus mengumpulkan revisi bab dua sebelum jam istirahat dimulai, kalau tidak bisa-bisa jadwal sidangnya bakal mundur lagi.

Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan ruang sekretariat. Dari balik kaca jendela, terlihat sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri di meja resepsionis. Arkan. Pria itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dilipat rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan klasik di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya tetap datar dan dingin seperti biasa, namun saat sekretaris menyodorkan secangkir kopi, sudut bibirnya bergerak sedikit senyum tipis yang hanya bisa dilihat sekilas oleh siapa saja yang benar-benar memperhatikannya.

Karin buru-buru memutar badan, bersembunyi di balik tiang beton besar. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut ketahuan, tapi karena ada rasa canggung yang aneh setiap kali melihat Arkan di lingkungan kampus. Di sini ia hanyalah mahasiswi biasa, sedangkan Arkan adalah dosen yang ditakuti. Tak ada satu pun orang yang tahu bahwa di luar gerbang kampus, mereka adalah suami istri yang terikat kontrak satu tahun.

"Kamu ngapain ngumpet di situ?"

Suara berat di belakang telinganya membuat Karin hampir melompat kaget. Ia menoleh cepat dan mendapati Dinda, teman satu angkatannya yang berdiri sambil menahan tawa.

"Eh, Din... nggak, nggak ngumpet kok," jawab Karin sambil berusaha menata kembali napasnya, berkas di pelukannya nyaris terlepas. "Cuma... lagi cari jalan pintas aja."

Dinda menyipitkan mata, menatap ke arah ruang sekretariat lalu kembali ke wajah Karin. "Kamu lagi menghindari Pak Arkan ya? Biasanya kalau ada dia, kamu selalu keliatan gelisah gitu."

"Bukan menghindar, cuma nggak mau ganggu aja," elak Karin sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal. "Pak Arkan kan sibuk, nanti kalau aku ganggu malah dimarahin."

"Ah, mana mungkin," celetuk Dinda sambil berjalan beriringan dengannya. "Padahal Pak Arkan itu nggak sejahat yang orang bilang lho. Kemarin aku liat dia nolong anak baru yang jatuh di tangga, bahkan dia bawakan tasnya sampai depan ruang kelas. Cuma memang sifatnya tertutup aja, jadi orang-orang salah sangka."

Karin terdiam mendengar itu. Dalam hati ia mengiyakan perkataan temannya. Arkan memang punya sisi yang tak banyak orang tahu. Sisi yang sering Karin temukan saat mereka berdua di rumah sisi yang sabar, yang diam-diam menaruh obat di meja makan saat Karin demam, atau yang sengaja memasak makanan kesukaannya meski tak pernah mengakuinya. Tapi tentu saja hal itu tak bisa ia ceritakan pada siapa pun.

Mereka berdua berjalan menuju ruang baca. Sesampainya di sana, Karin memilih meja di pojok dekat jendela. Baru saja ia duduk dan membuka tas, ponsel di saku roknya bergetar pelan.

Arkan: Kamu sudah di kampus? Tadi aku lihat sosok mirip kamu di lorong depan sekretariat.

Karin menelan ludah. Jari-jarinya bergerak cepat mengetik balasan.

Karin: Iya, Pak... eh, maksudku, iya. Tadi lewat sebentar. Bapak lihat ya?

Beberapa detik kemudian pesan masuk lagi.

Arkan: Hati-hati jalan, jangan terburu-buru. Kamu sering lupa lihat kanan kiri.

Wajah Karin memanas seketika. Ia buru-buru menyembunyikan ponsel saat melihat Dinda menoleh ke arahnya.

"Siapa yang ngechat, Ra? Mukanya merah banget kayak kepanasan," goda Dinda sambil membuka buku catatannya.

"Bukan siapa-siapa, cuma... ibu nanya kabar," jawab Karin berbohong dengan suara sedikit bergetar. Ia segera mengambil pulpen dan menunduk pura-pura membaca berkas, berusaha menenangkan detak jantungnya yang makin tak karuan.

Siang harinya, kebetulan jadwal konsultasi Karin dengan pembimbingnya dibatalkan mendadak. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang dosen guna meminta tanda tangan persetujuan lain. Saat melangkah di depan ruangan Arkan, pintu yang sedikit terbuka membuatnya tak sengaja mendengar percakapan dari dalam.

"Arkan, kamu yakin nggak mau ikut reuni fakultas minggu depan? Banyak yang penasaran lho kenapa kamu tiba-tiba diam aja soal pernikahanmu," suara seorang pria terdengar, sepertinya itu teman lama Arkan.

Ada jeda sejenak sebelum suara Arkan terdengar tenang. "Bukan soal mau atau tidak. Pernikahan ini... masih tahap penyesuaian. Aku nggak mau orang lain ikut campur sebelum semuanya benar-benar matang."

"Tapi setidaknya kasih tau kalau kamu sudah beristri. Nanti malah ada yang terus-terusan nembak kamu, ribet kan?"

"Aku bisa urus itu sendiri," jawab Arkan singkat. "Dan satu hal lagi... tolong jaga rahasia ini. Aku nggak mau dia jadi bahan pembicaraan orang."

Karin berhenti melangkah. Dadanya terasa hangat membaca kalimat terakhir itu. Selama ini ia mengira Arkan merahasiakan pernikahan mereka hanya demi kepentingan sendiri dan aturan kontrak, tapi ternyata ada alasan lain ia tak ingin Karin terganggu oleh pandangan orang lain.

Belum sempat Karin berpikir lebih jauh, pintu ruangan terbuka lebar. Arkan berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan kening sedikit berkerut.

"Kamu berdiri di situ dari kapan?" tanyanya datar, meski matanya menyiratkan kekhawatiran.

"S-saya baru mau ngetuk pintu, Pak," jawab Karin gugup, menyodorkan kertas yang ia pegang. "Minta tanda tangan untuk surat izin penelitian."

Arkan mengangguk pelan, menyuruhnya masuk. Saat mereka berdua berhadapan di meja kerja, ruangan itu tiba-tiba terasa begitu sempit. Hanya ada suara gesekan pena saat Arkan menandatangani lembar demi lembar kertas.

"Terima kasih, Pak," ucap Karin saat kertas itu kembali ke tangannya. Ia berniat berbalik pergi, tapi langkahnya tertahan saat suara Arkan terdengar pelan.

"Jangan terlalu banyak berpikir soal apa yang kamu dengar tadi."

Karin menoleh perlahan. "Saya nggak berpikir apa-apa kok. Saya cuma... mau bilang terima kasih."

Arkan terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela. "Saya cuma menjaga kesepakatan kita. Dan... kamu mahasiswi saya, pantas kalau saya lindungi."

Kalimat itu terdengar alasan yang masuk akal, tapi entah kenapa bagi Karin rasanya lebih dari sekadar itu. Ia mengangguk pelan lalu berjalan keluar ruangan dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Sore itu, saat mereka pulang ke rumah masing-masing dengan waktu yang berbeda demi menjaga kerahasiaan, suasana di apartemen terasa lebih hangat. Arkan sudah menyiapkan teh hangat di meja makan lengkap dengan sepiring pisang goreng buatan sendiri.

"Kamu tadi keliatan capek sekali," kata Arkan saat Karin duduk di hadapannya. Ia tak lagi memakai baju dosen, melainkan kaos santai yang membuatnya terasa jauh lebih dekat.

"Lumayan banyak urusan di kampus," jawab Karin sambil menyesap teh hangat. "Pak, tadi... kalau boleh tau, kenapa Bapak begitu menjaga rahasia ini? Padahal saya tau rasanya berat juga buat Bapak harus sembunyi-sembunyi begini."

Arkan menatapnya lama, seolah sedang mencari kata yang tepat. "Kamu masih muda, Karin. Kamu punya masa depan yang panjang. Kalau sampai orang tau kamu menikah dengan dosenmu, banyak hal buruk yang bakal melekat padamu. Aku tidak mau kamu dihakimi tanpa tau kebenarannya. Biar nanti kalau waktunya sudah tepat, kita umumkan dengan cara yang baik."

Mata Karin terasa memanas. Selama ini ia selalu merasa dirinya yang paling banyak berkorban—meninggalkan kebebasan, menanggung beban utang orang tua, hingga harus berpura-pura asing di depan umum. Tapi hari ini ia sadar, Arkan juga punya caranya sendiri untuk menjaganya.

"Terima kasih, Kan," ucapnya pelan, kali ini tak lagi menggunakan sapaan resmi.

Arkan tersenyum tipis, senyum yang jarang orang lain lihat. "Sama-sama. Sekarang makan dulu, pisang gorengnya masih hangat. Nanti kalau sudah kering rasanya nggak enak."

Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai di ruang tengah. Tak ada topik berat, tak ada tuntutan. Hanya dua orang yang perlahan mulai mengenal satu sama lain, menyadari bahwa di balik topeng yang mereka pakai masing-masing, ada hati yang perlahan mulai berdenyut seirama. Dan meski rahasia ini masih menyelimuti mereka, Karin mulai merasa bahwa jalan yang mereka tempuh bersama mungkin tak sesepi yang ia kira di awal.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!