Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
019
Sinar matahari pagi di kota Los Angeles perlahan menerobos masuk melalui dinding kaca besar, menyinari ruang dapur penthouse mewah yang berdesain modern minimalis.
Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam pagi, namun aroma harum mentega yang meleleh, bawang putih, dan adonan panggangan sudah memenuhi seluruh sudut ruangan.
Di depan konter dapur yang bersih, Michaela berdiri dengan tenang.
Rambut panjangnya diikat asal ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang masih menyisakan beberapa jejak kemerahan samar dari malam panjang yang penuh gejolak.
Tangannya yang ramping bergerak dengan cekatan, mengaduk adonan roti dan membalik potongan daging asap di atas teflon tanpa membuang waktu.
Beberapa meter dari sana, di balik meja bar marmer hitam, Killian Vale-Knight duduk terdiam.
Sejak pukul empat pagi, pria itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya kembali. Ada rasa bersalah yang teramat besar dan menghimpit dadanya, berdenyut setiap kali dia mengingat kilasan kejadian semalaman penuh di atas ranjang mereka.
Semalam, setelah ketegangan obat kontrasepsi itu mereda menjadi keheningan yang canggung, Killian kembali kehilangan kendali dirinya.
Untuk kesekian kalinya, dia benar-benar merengkuh tubuh wanita yang sah menjadi istrinya itu secara utuh semalaman.
Hasrat yang bercampur dengan rasa ingin memiliki membuat Killian tidak membiarkan wanita di hadapannya beristirahat sekejap pun hingga fajar menyingsing.
Kini, Killian mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Dia merasa telah bertingkah laku kasar dan murahan, jauh dari prinsip kehormatan yang selalu dia pegang teguh sebagai seorang pria terhormat.
Tatapan mata elang Killian beralih, terkunci sepenuhnya pada punggung Michaela yang masih sibuk dengan adonannya.
Sudah lebih dari lima menit dia mengamati setiap pergerakan wanita itu. Ada sesuatu yang mengusik logika dan hatinya secara bersamaan.
Michaela tampak sama sekali tidak mengeluh.
Meskipun dia tidak tertidur semalaman penuh dan tubuhnya baru saja pulih dari masa-masa kritis, wanita itu tampak begitu kuat. Cara dia berdiri, cara dia bergerak mengitari dapur, semuanya memancarkan ketangguhan yang luar biasa.
Realitas ini sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini Killian ketahui dari layar ponselnya sebelum kecelakaan itu terjadi.
Di dalam riwayat pesan teks dan panggilan telepon selama berbulan-bulan yang lalu, wanita bernama 'Cecilia Lynch' yang dia kenal adalah sosok yang sangat rapuh.
Dia sering sekali mengeluh setiap hari tentang banyak hal.
Dia mengeluh bagaimana teman-teman di tempat kerja suka mengejek penampilannya, mengeluh tentang beban hidupnya yang berat, dan menceritakan betapa lemahnya dia menghadapi dunia luar.
Namun, wanita yang berada di hadapan Killian saat ini sama sekali berbeda. Killian bisa melihat dengan jelas bagaimana cara berjalan wanita itu sedikit pincang dan berhati-hati—sebuah reaksi alami karena menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya akibat penyatuan paksa mereka.
Namun, tidak ada satu pun desahan keluhan atau rintihan manja yang keluar dari bibirnya.
Dia menghadapi rasa sakit itu dengan kepala tegak dan ekspresi wajah yang datar, seolah-olah rasa sakit fisik adalah makanan sehari-harinya.
Melihat ketangguhan yang tak biasa itu, dinding kebencian yang dibangun Killian selama enam bulan ini mendadak runtuh sepenuhnya.
Dadanya terasa begitu sesak oleh rasa perih yang teramat sangat.
Ternyata hatiku tidak sekuat itu untuk membalas rasa sakitku, batin Killian, jemarinya mengepal kuat di atas meja marmer.
Inilah dirimu yang sebenarnya Tampa Bermain Peran. Dan Rasa cinta ini ternyata jauh lebih besar daripada dendamku saat melihat bagaimana dia sekuat itu menahan semuanya sendirian.
Mungkin... mungkin selama ini dia sering mengeluh padaku lewat telepon hanya karena dia tidak memiliki sandaran lain di dunia ini.
Dia hanya ingin terlihat lemah di depanku agar aku melindunginya dari organisasi terkutuk itu.
Penyesalan yang murni kini memenuhi rongga dada Killian, menggusur sisa-sisa amarah dan kecurigaan yang sempat membakar jiwanya.
...***...
Michaela masih sibuk menakar tepung dan menuangkan susu ke dalam mangkuk adonan, mencoba memfokuskan pikirannya agar tidak melayang pada rasa perih yang menjalar di tubuhnya setiap kali dia bergeser.
Namun tiba-tiba saja, sepasang lengan kekar dan hangat menyusup dari arah belakang, melingkari pinggangnya dengan sangat erat namun penuh kelembutan.
Tubuh Michaela tersentak kecil saat merasakan dada bidang yang kokoh menempel sempurna di punggungnya.
Itu Killian. Pria itu menyandarkan kepalanya di ceruk leher Michaela, menghirup dalam-dalam aroma wangi sabun mandi yang bercampur dengan aroma vanila dari adonan roti di tubuh wanita itu.
Refleks Michaela sempat membuatnya ingin menyikut lambung pria itu, namun dia menahannya.
Dengan sisa suara yang terdengar lelah, Michaela berbisik tanpa menoleh, "Bisakah nanti saja? Aku benar-benar lelah, Yin..."
Killian tidak melepaskan pelukannya. Dia justru semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Michaela, seolah takut jika dia melepaskannya setapak saja, wanita ini akan menghilang bagai asap.
"Maafkan aku..." bisik Killian lirih, suaranya terdengar bergetar di dekat telinga Michaela.
"Maafkan aku soal bagaimana aku menjanjikan neraka untukmu saat kita berada di altar pernikahan kemarin, Cecilia. Tapi setelah seharian penuh bersamamu, melihatmu... akhirnya aku menyerah pada egoku sendiri."
Killian menghembuskan napas hangatnya yang terasa menenangkan di kulit leher Michaela.
"Ternyata rasa sakitku karena mengira dikhianati kalah telak oleh rasa cinta yang kumiliki untukmu. Aku tidak bisa terus bertingkah seperti monster yang menyakitimu. Bisakah... bisakah kita memulainya kembali dari awal? Aku mohon padamu... Aku akan melakukan apa saja untuk menebus dua hari ini, dua hari di mana aku bertingkah bajingan dan menyakiti fisik serta batinmu."
Mendengar untaian kalimat itu, gerakan tangan Michaela yang sedang memegang spatula mendadak membeku.
Jiwanya tertegun. Dia bisa merasakan dengan sangat jelas getaran ketulusan yang murni dari detak jantung Killian yang berdegup kencang di punggungnya.
Pria ini tidak sedang bersandiwara. Dia benar-benar tulus mencintai sosok 'Cecilia Lynch' yang dia ketahui.
Di dalam keheningan itu, sudut hati Michaela yang terdalam perlahan mulai melunak.
Jika dia harus jujur pada dirinya sendiri, Michaela seakan sudah mulai jatuh cinta pada pria ini sejak pertama kali dia membuka mata dari koma.
Selama setengah tahun terbaring tak berdaya di bangsal rumah sakit, Killian adalah satu-satunya manusia yang berdiri di sampingnya dengan begitu baik dan penuh perhatian.
Pria itu menemaninya tanpa kenal lelah, menyuapinya, menggenggam tangannya saat dia kesakitan, dan membiayai seluruh fasilitas medis terbaik demi memastikan dia tetap hidup.
Pria itu telah memberikannya sebuah hidup baru yang layak, sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarga kandungnya sendiri.
Dua hari ini, dia hanya sedang menyalurkan rasa sakitnya akibat pengkhianatan Cecilia Lynch yang asli, batin Michaela, matanya menatap kosong ke arah teflon.
Tidak mungkin hanya karena dua hari keburukannya saat dia kecewa, aku melupakan berbulan-bulan kebaikannya yang telah menyelamatkan nyawaku dari ambang kematian.
Selama di rumah sakit, dia tidak pernah sekalipun bersikap kasar padaku. Bahkan saat melakukan penyatuan sakral semalam... dia tidak pernah memperlakukanku dengan kasar secara fisik, kecuali... kecuali lembaran uang yang menjijikkan itu.
Michaela memejamkan matanya sejenak. Di dalam benaknya, dia membisikkan sebuah kalimat maaf kepada pemilik identitas asli tubuh ini.
Maafkan aku, Cecilia Lynch... Pria ini terlalu berharga untuk dihancurkan oleh sindikatmu. Aku berjanji, aku yang akan menjaga suamiku sekarang.
Michaela menarik napas panjang, lalu perlahan memutar tubuhnya di dalam kungkungan lengan Killian.
Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang pria itu yang kini memancarkan kecemasan dan harapan yang rapuh. Wajah tajam Michaela melunak, digantikan oleh gurat kelembutan yang tulus.
"Maafkan aku juga, Yin... jika tindakanku atau kata-kataku selama ini membuatmu terluka begitu dalam," ucap Michaela dengan suara yang lembut dan tenang, menghapus seluruh dinding pembatas sedingin es yang dia pasang sejak semalam.
Mendengar jawaban itu, binar kebahagiaan yang instan langsung menyeruak di wajah tampan Killian.
Tanpa membuang waktu lagi, Killian langsung menarik tubuh Michaela ke dalam sebuah pelukan yang sangat erat.
Dia menyembunyikan wajahnya di bahu wanita itu, mendekapnya seolah-olah Michaela adalah harta paling berharga di dalam hidupnya.
Michaela membalas pelukan itu, menyandarkan dagunya di bahu kokoh Killian, merasakan kehangatan yang perlahan mengusir seluruh rasa sakit di hatinya.
Killian melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Michaela dengan jemarinya yang hangat.
"Maafkan aku, maafkan aku juga soal obat kontrasepsi di atas nakas itu juga," ucap Killian dengan nada penuh penyesalan, menatap mata Michaela dengan kesungguhan mutlak.
"Aku akan segera membuangnya ke tempat sampah. Aku tidak akan pernah memaksamu meminum benda itu lagi. Tapi, aku mohon padamu, berjanjilah satu hal padaku, Cecilia..."
Killian menatapnya dalam, "Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah kembali pada Madam Roses atau jaringan hitam itu lagi. Tetaplah di sisiku, di tempat yang aman. Aku akan melindungimu dengan seluruh kekuasaan dan nyawa yang kumiliki."
Michaela menatap mata pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
Meskipun nama yang disebut Killian bukan namanya, Namun Michaela tetap mengangguk pelan dengan seulas senyuman tipis yang menenangkan.
"Aku berjanji, Yin. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Killian mengembuskan napas lega yang teramat panjang, seolah seluruh beban berat yang menggelayuti pundaknya selama berbulan-bulan luruh begitu saja.
Senyum menawan yang selama ini hilang dari wajahnya kini kembali terukir dengan sangat cerah.
Michaela menepuk dada bidang Killian pelan dengan spatula di tangannya, mencoba mencairkan suasana yang sempat emosional.
"Sekarang, lepaskan aku dulu. Aku harus melanjutkan memasak sarapan kita sebelum rotinya gosong. Duduklah di sana dan tunggu dengan tenang."
Killian tertawa rendah, sebuah suara tawa yang begitu renyah dan penuh kebahagiaan.
Dia mengecup kening Michaela dengan lembut, lalu turun memberikan kecupan singkat namun penuh perasaan di bibir wanita itu.
Cup!
"Baiklah, Istriku," ujar Killian dengan nada menggoda, matanya mengerling manja sebelum dia melangkah mundur menuju kursi bar marmer.
"Aku akan duduk di sini dan menantikan masakan pertama dari tangan istriku yang cantik."
Michaela hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum geli, kembali berbalik menghadap kompor dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Di bawah hangatnya matahari pagi Los Angeles, sebuah babak baru pernikahan mereka yang sarat akan rahasia dan cinta terlarang baru saja dimulai dengan sebuah pelukan perdamaian.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨