Yuk jejak yang baik, like dan komentar yang membangun cerita Author lebih baik lagi.
ig : ny.fadli_
fb : ghassani
🌟🌟🌟
Dewi adalah wanita dengan jabatan khusus di agen BNN bisa terbilang orang kepercayaan kepala BNN.
Suatu hari dirinya ditugaskan menangkap, menggeledah bandar narkotika yang dimana targetnya adalah tunangannya yang saat itu Dewi kaget akan profesinya.
Suatu hari, Dewi berbicara empat mata pada tunangannya itu, namun tunangan nya menembak mati Dewi di sebuah ruangan, tepat di bagian dada tiga kali.
Mata Dewi masih melotot, memikirkan tunangannya itu untuk melepas profesinya, namun tidak menyangka dia memilih membunuhnya dan membuang dirinya ke laut.
Mata Dewi masih terbuka dan dendam ingin membalas semua perbuatan ini, Lalu ia bersumpah akan memberi perhitungan pada mantan tunangannya itu dan juga pemilik tubuh lemah ini, demi menjalani kehidupan baik di kesempatan hidupnya untuk tidak tertindas kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktiyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Sembilan
Aldo ..
"Tunggu disitu Juwita, mundur empat langkah!"
Aldo berteriak, Juwita menurut karena tidak ada pilihan. Hanya lima menit Aldo kembali membawa sebuah kampak, entah dari mana benda tajam sedikit karatan tersebut ia dapat.
Brag
Brag
Kreng
Kunci gembok pun terlepas, Aldo berhasil membuka gerbang yang tergembok tanpa kunci tersebut, Juwita pun keluar dengan sumringah.
"Makasih ya Do, untuk kamu datang tepat waktu."
"Udah aku bilang jangan sungkan untuk telepon, minimal tunggu aku! beruntung tadi aku cepat cepat kasih instruksi untuk hak karyawan papa mu aman kok."
"Kamu kok tahu aku disini?"
Aldo terdiam, dengan raut wajah tak enak ia pun jujur."Aku ikuti kamu sejak kamu turun dari mobil Pak Lorenzo. Tunggu Juwita ada yang aku ingin tanyakan ..?"
"Oh .. Soal apa?"
"Usia pak Lorenzo itu kan tua, kenapa kamu enggak panggil dia paman, om atau pak .. Aku beberapa kali dengar kamu memanggilnya nama."
DEG ..
'Seharusnya memang nama, usia asliku sama dengan Lorenzo. Hufft ..'
"Juwita, hey ...kok Bengong?" Aldo menyadarkan, mengipas satu telapak tangan ke wajah Juwita.
"Mm .. Dia sendiri yang minta panggil nama, biar akrab ga canggung. Secara dia formal kerja sama papa." Juwita lebih dulu jalan.
"Oh begitu, syukur deh."
Mendengar kata Syukur, Juwita hampir menaikan satu alis, dan tidak mau berfikir apa apa lagi. Yang ia mau adalah sampai rumah, namun saat Juwita ingin naik motor Aldo, tiba saja satu mobil berhenti.
"Eh .. kok dia datang juga?" lirih Aldo, yang saat ini baru saja Juwita duduk dibelakang.
JUWITA, AYO NAIK. BENTAR LAGI TURUN HUJAN!!
Teriakan Lorenzo membuat Aldo sebal sebenarnya, saat kaca pintu mobil dibuka. Memang sore itu sudah mendung, awan semakin gelap hitam dengan banyak burung burung terbang meliuk liuk di atas sana.
JLEGER ..
'Ah ..' teriak Juwita, saat petir dan kilat tiba.
"Aldo .. Aku ... !! kamu gak apa apa?" bisik Juwita tak enak hati.
"Hah, mau gimana lagi. Alam tidak memihak aku anterin kamu. Ga apa, udah bener tuh si Om bilang kamu naik mobil aja, sakit nanti kamu. Aku pakai jaket anti air kok, basah separuh ga masalah." senyum Aldo namun kecut saat Juwita menoleh ke arah Lorenzo.
"Ya udah, sampai ketemu besok ya! Thanks Do." Juwita menepuk bahu Aldo, lalu melepas helm dan memberikan lagi ke Aldo.
Hingga beberapa saat, suara klakson lembut bunyi dua kali, seolah pamit pada Aldo saat itu juga. Dan Juwita sudah di bawa pergi tidak di antar olehnya.
Mobil jalan hampir tak terlihat.
Tik
Tik
Percikan air hujan, turun kecil dan kini semakin membesar. Tapi Aldo masih diam, dia diam dan melepas jaket nya, seolah ia sengaja agar seluruh badan dan kulit tangannya tertusuk air hujan deras. Hanya menggunakan helm, memakai baju berlengan pendek, barulah Aldo menyalakan mesin untuk gas, bahkan ingin menyusul di mana mobil putih yang membawa Juwita di dalamnya.
Wrrr ..
Melintas begitu saja, mobil yang di bawa oleh Lorenzo sempat mendadak terhenti namun lanjut, banyak kendaraan lewat tapi jaraknya tidak dekat.
"Teman kamu hujan hujan an, basah basah kuyup begitu nyari penyakit namanya, ngebut nyari bahaya juga. Kalau enggak bawa motor harusnya semobil tadi" lirih Lorenzo, senyum miring.
"Ga kepikiran juga, tadi Aldo dah bantu aku keluar, harusnya aku pulang sama dia aja tadi ya. Jadi ga enak juga kalau gini, apa dia marah ya?"
"Emangnya tadi minta turunin di halte depan, bareng sama Dia. Kalau hubungan kamu spesial sama anak Rektor, ya .. Wajar juga kalau marah. Pasti sakit besok bolos, dasar anak zaman sekarang labil, ga pikir secara dewasa, bisa bisanya kalau sampai kamu kena hujan sakit gimana Juwita. Aku harus .. Beri alasan apa sama Tuan, kalau putrinya sakit."
Mendengar kata kata Lorenzo, yang awalnya bingung dan aneh sikap dua pria yang membantu memecahkan masalahnya, kini terkejut ucapan akhir.
"Tunggu .. Lorenzo, apa papa udah siuman?"
Mobil berhenti di sebuah minimarket, Lorenzo memarkir dan turun lebih dulu membawa payung, ia membuka pintu mobil untuk Juwita turun.
"Kita mau kok kesini, Lorenzo gimana papa udah siuman ..? Kamu belum jawab loh."
"Kita bicara sambil pop mie, hangatkan badan dulu. Ada kabar penting dan baik yang harus kamu dengar."
Juwita menurut ia meraih tangan Lorenzo dan menuju minimarket dengan satu payung, pikiran Juwita yang polos tak berfikir aneh aneh, tercengang saat pengunjung lain menatap Aneh.
'Kenapa semua liatin aku kaya gitu, apa ada yang aneh. Apa aneh karena sepayung sama pria macam Lorenzo, kalau di liat ga ada yang aneh, lagian Lorenzo juga enggak lagi pake celana pendek, baju sobek sebelah kaya waktu aku ke rumahnya.' batin Juwita, yang masuk lebih dulu tak peduli dengan orang lain.
Setelah lama, Juwita dan Lorenzo pun bicara sambil memakan pop mie, lalu Juwita meraih beberapa foto dan bukti lain yang ingin diberikan terkait dana gelap.
"Young Zak, orang nya ini! Dia kekasih Viona, adik tiri itu polos di rumah, di luar nyatanya berbeda. Hah .." jelas Juwita menghela satu nafas, masih mode menyeruput makanan.
"Kamu dapat dari mana, kenapa kamu tahu nama aslinya, dan orang terselubung anggota ini sangat bahaya Juwita." jelas Lorenzo tercengang melihat foto bukti yang diberikan.
"Ceritanya panjang! Yang jelas aku lebih mengenal Jacky, di foto ini Jacky. Apa bisa minta bantuan dengan tiga orang berpengaruh yang aku unjuk ini, ber nego dengan cara apapun."
"Tidak mudah melawan petinggi berpengaruh Juwita, berat jika endingnya pasti kita sendiri yang jadi korban."
"Hm .. Ber nego lah, memang sulit di zaman saat ini. Keadilan hanya bisa di dapat oleh orang berpengaruh, dan super kaya unlimited tanpa batas kekayaannya, tapi dengan satu kartu mati Jacky. Tiga orang ini tidak tahu jika Jacky membuat kesalahan besar, jika kita ber nego dan yang jadi tumbal adalah .." senyum Juwita, yang menatap foto Jacky.
"Young Zak! maksud kamu tiga petinggi tidak tahu nama Young Zak, adalah orang yang ia kerjakan sebagai pesuruhnya. Dan pria ini mengambil upeti lebih besar dari mereka, hah .."
"Tepat. Mereka tahunya Young Zak Dan Jacky adalah orang berbeda, nyatanya mereka satu orang. Sudah berapa lama menimbun uang. Aku hanya butuh mereka ada di pihak kita, saat nanti Jacky tidak benar jadi saksi di pengadilan."
"Benar benar cerdas kamu Juwita, sepertinya kamu bakat jadi detektif."
Juwita hanya bisa tersenyum, yang jelas ia hanya membutuhkan tiga orang berpengaruh ini di pihaknya, karena saat bertemu Zak ia sudah ke palang mengakui yang sebenarnya Juwita tidak tahu, dan baru melihat dari sebuah situs yang belum lama ia cari.
"Lorenzo gimana dengan papa, aku hampir lupa?"
"Ah benar, kesehatannya ada perkembangan. Tuan Steven sudah saya bawa ke tempat aman, bahkan keluargamu juga tidak akan pernah bisa menemukannya."
"Terimakasih banyak, kalau bukan karena kamu. Ah .. Kelak papa siuman, dan semua selesai, aku dan papa akan membalas semua kebaikan dan bantuan kamu di masa sulit. Pfft .." sedih Juwita, dan Lorenzo memberi satu tissue.
BERSAMBUNG ..
sikit2 pun xda ke, payahlah macam nie😪