Rara Artania, seorang remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah ke atas. Hidup hanya berdua dengan sang ibu yang bekerja serabutan.
Rara itulah sahabatnya memanggilnya gadis tangguh yang rela bekerja keras membantu sang ibu untuk menyambung hidup mereka.
Rara rela menukar waktu remaja untuk bekerja dan bekerja demi ia bisa melanjutkan sekolah kependidikan yang tinggi, agar ia dapat merubah nasib mereka untuk masa depannya menjadi lebih baik lagi, hingga suatu saat ia bertemu om-om tanpa sengaja membuat beberapa kesalahan, hingga mereka membuat negosiasi untuk saling menguntungkan membuat nikah kontrak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Berpikiran mesum
Rara yang merasakan ada sentuhan pada hidungnya segera membuka matanya. Ia segera mendorong tubuh Alex dari depan wajahnya.
"Om! Om selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan. Sudah aku lapar mau makan, om jadi makan tidak?" tanya Rara memasukkan seblak ke dalam mulutnya.
"Tidak, makanan tak enak saja, aku tak selera," sanggah Raka.
"Rasakan dulu baru berkomentar! Kalau tak mau ya sudah aku habiskan sendiri, tapi jangan salahkan aku jika om kelaparan," ucap Rara.
Alex yang menjaga gengsi atas ucapannya, ia pun menahan rasa lapar hingga perutnya berbunyi berkali-kali.
Rara yang mendengar suara krucuk-krucuk dari dalam perut Alex ia tertawa terbahak-bahak.
"Rasanya ada yang kelaparan ya. Emm nikmat sekali, benaran tak mau makan seblak ini?" ucap Rara menyodorkan seblak di depan mulut Alex.
Alex langsung melahapnya, kini ia mulai mengunyah pelan merasakannya. Ternyata enak juga ya makanan ini batin Alex menikmatinya.
"Sudah om, makan ini dari pada om mati kelaparan nanti," perintah Rara menyodorkan mangkuknya.
"Suapin!"
"Om, kan punya tangan mengapa tak makan sendiri saja," ketus Rara.
"Kalau tak mau suapin ya sudah, biarkan aku mati kelaparan saja. Aku sekarang juga sakit karena ulahmu," ucap Alex.
Rara yang merasa bersalah karena telah membuat kaki Alex bengkak, ia pun menyuapin Alex seblak sampai habis.
Selesai makan Rara segera mengerjakan tugas sekolahnya di sofa, sedangkan Alex hanya mengamati Rara dari balik majalah yang ia baca di atas kasur itu.
Rara yang merasa kelelahan mengerjakan banyak tugas akhirnya ia terlelap di atas sofa dengan buku ditangan kanannya.
Alex yang melihat Rara sudah tertidur pulas ia segera membopong tubuh Rara ke atas ranjang menidurkan dengan pelan, Alex segera menyelimuti Rara.
"Selamat tidur, Sayang. Lupakan harimu yang berat. Datanglah perlahan ke dalam pelukanku, sandarkan hatimu padaku. Yang aku inginkan adalah selembar awan untuk tempat tidur dan cerahnya kristal untuk bintang-bintang," bisik Alex ditelinga Rara.
"Ketika kamu tidur, semoga para malaikat memainkan lagu indah yang membawa mimpi yang cemerlang dan menyadarkan dirimu akan kesungguhan cinta tulusku. Tidak peduli seberapa jauh dirimu, kau akan selalu ada di pikiranku. Setiap hari kita bersama merupakan hari terbaik di dalam hidupku, aku akan membuatmu jatuh cinta denganku secara perlahan-lahan," lirih Alex mengecup kening Rara.
Alex segera berbaring disamping Rara melingkarkan tangannya pada pinggang Rara. Alex mengamati wajah cantik Rara hingga akhirnya ia terlelap dalam alam sadarnya.
Rara yang merasa berat pada perutnya seperti ada yang menindih tubuhnya ia segera membuka matanya secara paksa dengan mengusap dengan kedua tanganya, merasa kesadaranya kembali ia melihat Alex disampingnya memeluk tubuhnya dengan erat ia berteriak histeris.
Alex yang merasa telinganya sakit akibat teriakan Rara segera membuka matanya gusar.
"Kenapa sich sayang, pagi-pagi sudah berteriak seperti ini? Aku tidak tuli," tegur Alex menatap wajah Rara tanpa melepas pelukannya.
"Om, singkirkan tangan om dari tubuhku! Om itu, seenaknya saja, selalu mencari sela-sela saat aku tak sadarkan diri. Pasti dipikiranan om mau berbuat mesum kan? Menodaiku?" tanya Rara menatap sinis Alex dan berusaha menyingkirkan tangan Alex dari tubuhnya.
Alex segera mengunci tangan Rara yang mencoba menyingkirkan tangannya dengan menindih tubuh Rara.
Bersambung...