NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Sinta tidak pernah membayangkan dirinya menjadi bahan perdebatan di grup WhatsApp ibu-ibu pengajian.

Pagi itu, ponselnya tidak berhenti berbunyi.

Video dari kamera rumah Arga tersebar lebih cepat daripada foto yang ia kirim ke Bu Ningsih. Dalam video itu, suaranya jelas. Kalimat tentang malu, tentang Alya menguasai suami, tentang membawa orang-orang untuk doa dadakan, semuanya terekam tanpa potongan.

Yang paling buruk adalah wajah Arga.

Lelaki sakit itu berdiri sendiri dan berkata ia tidak ingin acara tanpa izin.

Tidak ada yang bisa memutar itu menjadi menantu durhaka.

Hadi Wiratama meletakkan tablet di meja makan dengan keras.

"Apa yang kamu pikirkan?"

Sinta duduk di kursi, matanya sembap. "Aku hanya mencoba menenangkan Alya."

"Dengan membawa Bu Ningsih dan rombongan?"

"Ratna bilang--"

Ia berhenti.

Terlambat.

Hadi menatapnya.

"Ratna bilang apa?"

Sinta menelan ludah. "Dia bilang Alya makin jauh. Kalau kita tidak turun tangan, nama Wiratama akan ikut rusak."

"Jadi kamu menerima arahan Ratna untuk mendatangi rumah Arga?"

"Bukan arahan. Saran."

"Sinta."

Suara Hadi rendah. Biasanya Sinta bisa menangis dan suaminya akan melunak. Pagi itu, Hadi tidak melunak.

Nabila duduk di ujung meja. Wajahnya pucat. Rafi tidak pulang semalam; ia menginap di kantor Karina dengan alasan keamanan. Untuk pertama kalinya setelah menikah, Nabila tidak tahu harus mencari suaminya lewat siapa.

"Papa, Mama cuma khawatir," katanya.

Hadi menoleh. "Kamu tahu soal ini?"

Nabila langsung diam.

Hadi mengerti.

Ia tertawa pendek, pahit. "Kalian benar-benar bekerja untuk keluarga Pradipta tanpa bertanya pihak mana yang akan membayar harganya."

Sinta tersinggung. "Mas, jangan bicara seperti kami pengkhianat. Aku ibu Alya."

"Kamu ibu yang datang dengan kamera orang lain."

Sinta menutup mulut.

Di saat yang sama, telepon rumah berbunyi. Sekretaris Hadi memberi tahu bahwa dua media meminta klarifikasi tentang video itu. Satu yayasan perempuan yang selama ini menjadikan Sinta pembina juga meminta rapat darurat.

Sinta berdiri. "Mereka tidak bisa begitu. Aku sudah membantu yayasan itu bertahun-tahun."

Hadi menatap istrinya. "Kamu membantu atau memakai nama Wiratama?"

"Mas!"

"Jawab."

Sinta tidak menjawab.

Nabila memegang ponsel. Pesan dari Ratna belum dibalas sejak tadi.

`Jangan panik. Biarkan publik melihat Alya menyerang ibunya sendiri.`

Namun publik tidak melihat itu.

Publik melihat seorang ibu membawa rombongan ke rumah pasien dan memaksa masuk atas nama doa.

Nabila mengetik.

`Bu, video lengkapnya keluar. Mama diserang balik. Mas Rafi juga belum pulang.`

Balasan Ratna singkat.

`Jangan ganggu saya dengan hal kecil. Pastikan Rafi diam.`

Hal kecil.

Nabila menatap ibunya yang mulai menangis di depan Hadi.

Untuk Ratna, ibunya hanya hal kecil.

Di kantor Karina, Rafi membaca pesan yang sama dari ponsel Nabila yang ia pinjam semalam untuk menyalin bukti.

Karina berdiri di depannya. "Kamu yakin mau menyerahkan ini?"

Rafi menatap layar.

"Kalau aku tidak menyerahkan, mereka akan terus memakai Nabila."

"Kamu masih ingin melindungi dia?"

Rafi tertawa pelan. "Aku tidak tahu. Aku marah. Tapi aku juga tahu dia masuk ke semua ini karena ingin aku dianggap."

Karina tidak lembut. "Niat tidak menghapus akibat."

"Aku tahu."

Pintu kantor terbuka. Alya masuk bersama Satria. Ia melihat Rafi yang belum mandi, kemejanya kusut, wajahnya seperti orang kehilangan tidur dan harga diri sekaligus.

"Kamu masih hidup," kata Alya.

Rafi mengangkat wajah. "Kamu kecewa?"

"Sedikit. Aku sudah siapkan pidato pendek kalau kamu mati bodoh."

Satria batuk menahan tawa.

Rafi tidak tersinggung. Mungkin karena ia tahu pantas mendapatkannya.

Ia menyerahkan flashdisk.

"Ini semua pesan Yoga, Daren, dan beberapa dari Bu Ratna. Aku juga salin dokumen yang mereka suruh tanda tangani."

Karina mengambilnya, lalu memasukkan ke laptop terpisah.

Alya duduk di seberang Rafi.

"Apa yang kamu mau?"

Rafi tampak bingung. "Apa?"

"Kamu menyerahkan bukti. Biasanya orang punya permintaan."

Ia menunduk.

"Aku mau tahu kenapa di hidupku rasanya selalu ada orang yang memutuskan aku harus kecil."

Alya diam.

Kalimat itu tidak ia duga dari Rafi.

Dalam hidup lalu, Rafi tidak pernah bertanya seperti itu. Ia hanya menerima dorongan Alya, menerima hasil, lalu suatu hari berdiri di puncak seolah memang lahir di sana.

Versi Rafi di depannya masih lemah, tetapi setidaknya ia mulai bertanya.

"Karena kamu membiarkan mereka," kata Alya.

Rafi mengangguk pelan. "Iya."

"Dan karena ada orang yang diuntungkan kalau kamu tetap lapar pengakuan."

"Nabila?"

"Bukan hanya Nabila."

Karina memutar salah satu rekaman suara. Suara Yoga terdengar jelas.

`Mas Daren bilang kalau Rafi tanda tangan, posisi yayasan daerah bisa kita kasih. Biar dia merasa naik. Yang penting nama dia masuk dulu.`

Rafi menutup mata.

Alya tidak menghiburnya.

Di rumah Wiratama, Hadi menerima email dari kantor hukum Karina. Somasi resmi. Isinya melarang Sinta, Nabila, atau pihak keluarga Wiratama memakai nama Alya dalam pernyataan publik, kegiatan yayasan, atau komunikasi dengan keluarga Pradipta tanpa izin tertulis.

Sinta membaca surat itu dan terduduk.

"Dia benar-benar memutus kita."

Hadi menatap surat itu lama.

"Tidak," katanya pelan. "Kita yang memutus dia lebih dulu. Dia hanya menulisnya dengan bahasa hukum."

Nabila berdiri di dekat tangga, mendengar kalimat itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menangis.

Karena air mata tidak cukup untuk menutup suara retak yang datang dari rumahnya sendiri.

Sore itu, Hadi menelepon Alya dari ruang kerjanya.

Alya menatap nama ayah angkatnya beberapa detik sebelum mengangkat.

"Pak Hadi."

Di ujung sana, Hadi diam sebentar. Panggilan itu terasa jauh lebih tua dari usia mereka.

"Kamu sehat?"

"Saya sibuk."

"Itu bukan jawaban."

"Jawaban yang lebih jujur daripada sehat."

Hadi menghela napas. "Saya ingin bertemu. Bukan untuk membahas somasi."

"Kalau tentang keluarga, saya tidak punya waktu."

"Tentang kamu."

Alya hampir tertawa, tetapi tidak jadi. Ia terlalu lelah untuk sinis.

"Pak Hadi, selama bertahun-tahun, pembahasan tentang saya selalu terlambat. Sekarang kalau Bapak ingin bicara, kirim agenda ke Karina. Saya tidak menerima percakapan yang tiba-tiba berubah menjadi permintaan mengalah."

"Alya."

Suara itu pelan. Untuk sesaat, ia terdengar seperti ayah yang benar-benar kehilangan anak.

Namun Alya sudah terlalu sering belajar bahwa rasa kehilangan orang tua kadang baru muncul setelah anak berhenti bisa dipakai.

"Saya tidak melarang Bapak menyesal," katanya. "Saya hanya tidak mau menjadi tempat Bapak membersihkan penyesalan itu."

Hadi tidak menjawab.

Alya memutus panggilan dengan tenang.

Di rumah Wiratama, Hadi menurunkan ponsel.

Sinta berdiri di pintu, wajahnya masih merah karena menangis.

"Dia bicara apa?"

"Dia meminta semua lewat Karina."

"Dia memperlakukan kita seperti musuh."

Hadi menatap istrinya. "Kita datang ke rumahnya seperti penyerang."

Sinta menggigit bibir. "Mas juga menyalahkanku?"

"Aku menyalahkan diriku dulu."

Kalimat itu membuat Sinta terdiam.

Di ponsel Hadi, pesan dari pengurus yayasan perempuan masuk. Rapat memutuskan Sinta diminta cuti dari posisi pembina sampai polemik selesai.

Hadi menunjukkan layar itu.

Sinta membaca. Wajahnya kosong.

Untuk pertama kalinya, hukuman tidak datang sebagai teriakan Alya.

Hukuman datang dari dunia yang selama ini Sinta percaya akan selalu membelanya.

Nabila mengetuk pintu kamar ibunya malam itu.

Sinta duduk di tepi ranjang, masih memegang ponsel.

"Mama makan dulu," kata Nabila.

"Kamu tahu rasanya dilihat seperti perempuan jahat oleh orang-orang yang dulu mencium pipimu di acara amal?"

Nabila tidak menjawab.

Sinta menatap putrinya. "Kamu harus hati-hati. Jangan biarkan Rafi makin dekat dengan Alya."

"Mas Rafi marah padaku."

"Laki-laki marah bisa dibujuk."

"Kalau dia tahu aku menerima pesan Bu Ratna?"

Sinta diam sebentar.

Lalu ia berkata, "Kamu istrinya. Menangislah sebelum dia bertanya terlalu banyak."

Nabila menatap ibunya.

Kalimat itu dulu terdengar seperti nasihat.

Malam itu terdengar seperti resep yang sudah terlalu sering dipakai sampai rasanya pahit.

Nabila keluar dari kamar tanpa membawa piring makan.

Di tangga, ia membuka pesan Ratna yang belum dijawab.

Untuk pertama kalinya, jarinya tidak langsung mengetik maaf.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!