Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
Sore itu langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, menyisakan sisa cahaya matahari yang perlahan meredup di balik gedung-gedung tinggi.
Angin sore bertiup sejuk, membawa sedikit debu jalanan yang berhembus pelan di gang sempit tempat kost Rima.
Di dalam kamar kostnya yang sederhana, Rima baru saja selesai melipat pakaian terakhir dan memasukkannya ke dalam tas besar serta dua koper yang sudah tertata rapi di sudut ruangan.
Ia duduk sebentar di tepi tempat tidur, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu menatap sekeliling kamar kecil yang selama tiga bulan ini menjadi tempat istirahatnya.
"Besok pagi aku benar-benar berangkat," bisiknya pelan pada diri sendiri. Rasanya masih belum percaya bahwa masa magang dan tinggal di Jakarta ini sudah berakhir begitu saja.
Pikiran Rima kembali melayang pada sosok Andre. Belum sempat berpamitan secara langsung dan juga belum sempat mengucapkan terima kasih atas segala kesempatan dan kebaikan yang selama ini beliau berikan.
Ada rasa sedih dan menyesal yang terselip di hatinya, namun ia berusaha mengikhlaskannya.
Mungkin memang belum rezekinya mereka bisa berbicara, mungkin dunia mereka memang terlalu berbeda untuk bisa saling berkomunikasi.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan namun tegas di pintu kayu depan kamar kostnya.
Rima segera bangkit berjalan menuju pintu, mengira teman kostnya atau tetangga yang ingin berpesan sesuatu sebelum ia berangkat besok.
Namun saat pintu terbuka lebar, napasnya seolah tertahan di kerongkongan, dan kakinya terasa kaku tak bisa bergerak.
Di depan pintu berdiri Andre. Pria yang biasanya tampak sangat rapi dan berwibawa dengan setelan jas resmi di kantor, sore ini mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru dongker yang dikancing rapi hingga kerah, namun lengan bajunya disingkat sebatas siku, memberikan kesan lebih santai namun tetap berkarisma.
Wajahnya terlihat sedikit lelah sehabis rapat yang panjang, namun matanya menatap Rima dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Campuran antara rasa gugup, gelisah, dan sorot mata penuh harapan begitu nyata hingga membuat jantung Rima berdegup kencang tak menentu.
"Pak Andre?" seru Rima hampir berbisik, matanya membelalak tak percaya. "Bapak... Bapak kok ada di sini? Bagaimana Bapak tahu alamat tempat saya?"
Andre menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri yang berpacu cepat.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa datang ke tempat kost seperti ini di luar jam kerja mungkin terasa canggung, bahkan berisiko disalahpahami.
Namun ia tidak punya pilihan lain. Besok Rima sudah pergi, dan ia tidak bisa membiarkan gadis itu berangkat tanpa mengetahui apa yang selama ini ia simpan rapat di dalam hatinya.
"Bolehkah saya bicara sebentar saja Rima?" tanyanya sopan sambil menunjuk kursi kayu panjang yang ada di teras kecil depan kamar kost.
"Saya tahu ini sudah bukan jam kerja, dan saya tahu kedatangan saya tiba-tiba ini pasti sangat mengejutkanmu. Tapi saya sungguh tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja tanpa kita berbicara dulu."
Rima masih kaget luar biasa, namun ia segera mengangguk pelan. "Tentu saja Pak. Silakan duduk di sini. Maaf ya tempatnya sederhana dan tidak nyaman seperti di kantor."
Mereka berdua duduk di kursi kayu itu, berjarak sedikit satu sama lain.
Suasana sempat hening sejenak, hanya terdengar suara langkah kaki tetangga yang pulang kerja dan suara kendaraan yang lewat di jalan utama gang.
Rima menunduk menatap ujung sandalnya, tak berani menatap mata Andre terlalu lama, sementara Andre menarik napas dalam-dalam berulang kali untuk mengumpulkan keberaniannya.
"Bapak mencari saya ada urusan pekerjaan apa?" tanya Rima akhirnya memecah keheningan, meski hatinya bergetar hebat.
"Apakah ada berkas laporan yang kurang lengkap? Atau ada kesalahan yang saya buat dan belum saya perbaiki?"
Andre segera menggeleng pelan, lalu menatap Rima dengan pandangan lembut namun sungguh-sungguh.
"Bukan soal pekerjaan Rima. Saya ke sini murni karena ingin bicara soal hati saya. Soal apa yang selama ini saya simpan sendiri, yang tak pernah saya sampaikan pada siapa pun, termasuk pada dirimu."
Rima menelan ludah dengan susah payah. Ia mulai merasa arah pembicaraan ini, namun ia tak berani berharap terlalu tinggi.
"Kamu pasti masih ingat hari pertama kita bertemu dengan cara yang sangat konyol," Andre mulai bercerita dengan suara pelan namun jelas, matanya menatap jauh ke arah langit senja seolah mengingat kembali momen itu.
"Saat hujan deras mengguyur kota, kamu berlari menaiki mobil saya dengan tergesa-gesa, mengira itu taksi yang sudah kamu pesan.''
''Saat itu saya sempat kesal sekaligus heran. Gadis mana yang begitu ceroboh sampai salah masuk mobil orang?''
''Tapi kemudian saya melihat wajahmu yang basah kuyup, matamu yang memelas meminta maaf sebesar-besarnya, dan entah kenapa rasa kesal itu perlahan hilang berganti rasa ingin tahu."
Ia berhenti sejenak, lalu kembali menatap wajah Rima lekat-lekat.
"Selama tiga bulan ini saya memperhatikanmu dari jauh. Saya melihat betapa rajinnya kamu bekerja meski sering melakukan kesalahan.''
"Betapa ramahnya kamu menyapa semua orang mulai dari satpam hingga direktur tanpa memandang pangkat.''
''Betapa tulusnya hatimu saat membantu teman yang kesulitan, dan betapa indahnya senyummu saat kamu berhasil menyelesaikan tugas yang sulit.''
''Lama-kelamaan, Rima, saya yang terbiasa hidup teratur sendirian ini, jadi sering mencari alasan sekadar untuk lewat di depan meja kerjamu.''
''Saya yang sudah berusia tiga puluh tahun, mengira sudah tidak akan pernah merasakan perasaan berdebar seperti anak muda lagi, ternyata salah besar."
Andre mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya bergetar namun mantap saat melontarkan kalimat yang paling berat sekaligus paling ingin ia ucapkan.
"Saya menyukaimu Rima. Bukan sekadar rasa kasihan karena kamu anak magang yang jauh dari orang tua, bukan sekadar perhatian sebagai pimpinan pada stafnya.''
'' Saya menyukaimu sebagai seorang pria yang kagum pada ketulusanmu, yang ingin melindungimu, dan yang ingin menemanimu melangkah lebih jauh.''
''Saya sadar betul bahwa dunia kita berbeda jauh. Saya hidup di lingkungan bisnis yang sibuk, sedangkan kamu masih kuliah, saya sudah berusia 30 tahun dan usia kita terpaut 9 tahun, saya tinggal di Jakarta, sedangkan kamu harus kembali melanjutkan kuliah di Jogja.''
''Saya tahu banyak hal yang menjadi penghalang, tapi perasaan ini benar-benar ada, dan saya tidak berniat memaksamu untuk membalasnya."
Suasana di teras itu kembali hening panjang. Rima duduk mematung, matanya memandang Andre tak percaya, perlahan air mata mulai menetes di pipinya tanpa ia sadari.
Ia sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi. Pria yang selama ini diam-diam ia kagumi, pria yang ia anggap terlalu jauh dan berbeda dari kehidupannya, ternyata menyimpan perasaan yang sama persis dengan apa yang ia rasakan.
"Pak Andre..." suaranya bergetar hebat saat mencoba menjawab. "Saya... saya sungguh tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar di luar dugaan saya.''
''Saya pikir Bapak hanya menganggap saya sebagai anak magang biasa yang harus dibimbing saja."
"Saya tidak meminta jawaban sekarang juga," cepat-cepat Andre menambahkan saat melihat keraguan dan kebingungan yang melintas di wajah Rima.
"Saya hanya ingin kamu tahu perasaan saya sebelum kamu pergi. Saya tidak ingin kamu berangkat ke Jogja dengan pikiran bahwa tidak ada orang lain yang peduli dan mengharapkan kehadiranmu selain teman dan keluargamu. Pikirkanlah baik-baik nanti di sana, Rima. Saya bersedia menunggu."
Rima menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap Andre dengan tatapan yang campur aduk antara senang, bingung, dan takut.
Hatinya berteriak ingin menerima, namun akal sehatnya masih menahan diri karena banyak hal yang belum pasti.