"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merayu Roman
"Ini pesanan kuenya juragan" ucap Kenanga
Kue itu di pesan Roman karena dia belum pernah merayakan ulang tahun Rani, Rani selalu ingin tahu bagaimana rasanya ulang tahun karena dulu ibunya sering membuatkan kue bolu untuk Rani setiap kali Rani berulang tahun meskipun dengan cara sembunyi sembunyi.
"Terima kasih, ini bagus sekali dan anak saya pasti menyukainya" ungkap Roman
"Juragan, motornya juga sudah mulai di perbaiki, mungkin besok sudah bisa di bawa" ucap Panji
"Alhamdulillah, kalau begitu saya pinjam motor bengkel ini satu hari lagi" jawab Roman
"Pakai saja, masih ada satu motor lagi ko kalau untuk bengkel" jawab Dimas yang sekarang melihat Roman sudah lebih lepas tidak seperti orang yang punya banyak beban lagi.
"Terima kasih" jawab Roman
"Kak, anak kak Roman sudah usia berapa tahun?" tanya Dirga
"Sudah lima tahun" jawab Roman
"Kebetulan, ada sekolah TK baru yang dibuka di kampung ini, jaraknya di dekat warung Cici, bersebelahan dengan SD kampung Curug ini, mungkin kakak mau mendaftarkan anak kakak" ucap Dirga
"Tidak, anak kak Roman tidak suka keluar rumah, dia orangnya pendiam dan tidak suka bergaul" jawab Roman
"Justru karena itu kak, anak kak Roman harus sekolah, supaya dia belajar bersosialisasi, belajar berteman dengan teman seusianya, jangan sampai masa kecilnya hanya di isi di rumah saja tanpa tahu dunia luar" ungkap Dirga
"Iya Roman, Dirga jadi guru di sana nanti, pelajaran agamanya akan lebih di perbanyak karena sekolah itu milik Dirga, seperti sekolah Diniyah dan anak kamu bisa sekalian sekolah agama di sana, pulangnya sore dan itu bisa kamu gunakan untuk bekerja di pagi hari dan menjemput anak kamu di malam hari" ucap Dimas
Roman berpikir cukup keras, entah kenapa ucapan Dimas selalu membuatnya tertarik bahkan Roman sekarang berpikir kalau Dimas memang seorang dukun sakti seperti yang di ucapkan para warga yang sering datang untuk meminta bantuan masalah mistis dari Dimas.
"Iya kak, nanti Dirga jemput ke sekolah deh, sudah ada sepuluh anak yang ikut, kalau Rani ikut jadi dua belas" bujuk Dirga
"Ko dua belas, harusnya sebelas dong?" tanya Roman
"Anaknya kak Panji kan ikut juga" jawab Dirga
"Dia juga paksa anak saya juragan, padahal anak saya sudah hampir enam tahun tapi sama Dirga di minta masuk TK dulu katanya" adu Panji membuat Roman terkekeh.
"Baru lima tahun lebih empat bulan, jauh ke enam kak" jawab Dirga
Roman juga menatap Dirga, dia jadi ingat pada adik adiknya yang ada di Jakarta sekarang, ketiga adiknya juga punya energi positif seperti Dirga, tapi Radiah menghambat cita cita anak anaknya sampai Roman nekat meminta mereka untuk pergi dengan modal uang yang dia tabung sejak remaja, bahkan adik adiknya sekarang sudah punya keluarga sendiri di sana, ada yang jadi teknisi komputer, seorang pegawai negeri dan penjual bakso di sana, tapi mereka semua tak pernah lupa pada Roman, selalu mengirim kabar mereka meskipun hanya lewat sambungan telepon.
"Setidaknya aku sudah menggantikan peran ayah untuk adik adikku yang lain, meskipun Radini sama sekali tidak menghormati aku" batin Roman
Roman harus pamit, dia akan mencoba untuk membawa Rani keluar dari rumah itu kalau Luca tidak melukai Rani, tapi kalau saat Rani keluar Luca melukainya, Roman terpaksa untuk kembali mengurung Rani di dalam kamar mereka.
Mereka kembali beraktifitas karena Dimas ingin memastikan kalau kamera yang dia pasang bekerja dengan baik dan tidak ketahuan Luca, bahkan Dimas sudah meminta Kenanga untuk menyalurkan energinya ke dalam kamera yang akan secara otomatis mengisi daya ketika mesin motor di menyala jadi Dimas tidak perlu khawatir kalau baterai kamera itu habis.
"Sepertinya juragan Roman tertarik untuk menyekolahkan anaknya" ucap Restu
"Iya, gue lihat juga tadi dia sudah mulai tidak hati hati lagi, dia lebih banyak bicara dengan kita bahkan menatap penuh kasih sayang pada Dirga, mungkin ingat adik adiknya yang lain" ungkap Gibran
"Pasti karena anak ini pantang menyerah" ucap Sadam menepuk bahu Dirga
"Dirga mau ke dalam rumah dulu ya kak, mau bantu yang lain pindahan, kan Tante Rania juga sudah pindah lagi ke rumah Om Lingga" pamit Dirga
"Iya, nanti kirim pesan sama kak Dimas Kania sedang apa, tadi dia tidak mau buka pintu" jawab Dimas
"Iya kak" jawab Dirga lalu pergi ke arah rumah Bintang
"Ngomong ngomong Gilang kemana?" tanya Dimas
"Kak Gilang pamit pulang sebentar, katanya mau ambil beras lagi, yang di sini habis" jawab Kenanga
"Warungnya semakin ramai sekarang, makanya dia sibuk, tadi juga gue lihat Roman pesan nasi Padang" ucap Dimas
"Iya, ayam kecap tadi pesannya" jawab Astri yang sekarang menjaga warung makan Gilang.
"Sayang aku juga mau makan dong, lapar" ucap Restu
"Mau makan apa sayang?" tanya Astri
"Nasi Padang juga sayang, tapi sama rendang ya sayang" jawab Restu
"Rendang! Sahara juga mau rendang ya sayang, jangan pakai lengkuas ya sayang, kemarin Sahara tertipu lengkuas sayang" celetuk Sahara yang berada di atas etalase warung kopi Sadam.
"Astaghfirullah, gue salah ngomong" keluh Restu
"Lo kan memang selalu salah sayang" ledek Panji
Sahara masih bersikap ketus pada Dimas, dia duduk di depan warung Gilang tapi Dimas sama sekali tidak memanggilnya, Dimas bahkan santai memakan makanan yang dia pesan untuk makan siang tanpa melirik Sahara sama sekali.
Kenanga menyadari itu dan dia tahu ini pasti karena masalah tadi pagi Dimas menggoda Sahara dan membuat Sahara kesal.
"Dimas makan nggak nawarin Sahara, Sahara kesal" gerutu Sahara menghentakkan kakinya.
"Kamu buat salah apa memangnya?" tanya Kenanga
"Tidak buat salah apa apa, Dimas yang salah bilang Sahara tidak menarik, terus Sahara balas saja dengan makan kue yang Dimas buat untuk Kania, terus Kania marah karena merasa tidak di sayang Dimas karena kue bagian Kania Sahara makan hihihihi..." jawab Sahara
"Pantas saja kak Dimas marah, kamu usil, harusnya kamu tahu kan kalau kamu sama kak Kania itu sama di mata kak Dimas, makanya kak Dimas buat kuenya dua, satu untuk kamu dan satu untuk kak Kania, eh kamu malah ambil bagian kak Kania ya jadi kak Dimas marah" ucap Kenanga
"Begitu ya? tapi Sahara lakukan itu karena Sahara kesal, Dimas usil sama Sahara dan Sahara balas, adil dong" jawab Sahara
"Iya memang adil, tapi kak Dimas usil hanya mulutnya saja kan, tidak mengambil makanan kamu atau mengganggu kamu kalau sedang berduaan dengan raja Gandra" ucap Kenanga