Dia menikah, semata-mata hanya untuk terbebas dari siksaan keluarga. Namun, nyatanya, semua itu tidak sesuai harapan. Pernikahan dini yang dipaksakan, bukanlah pernikahan impiannya.
Seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan
Rumah sakit, tempat yang selalu ingin dihindari Wulan. Bau obat-obatan menyengat, lalu lalang pasien dengan berbagai kondisi, belum suara jerit tangis yang menguar, sebuah kondisi yang tak ingin Wulan jumpai. Namun, kini di sinilah ia berada, di dalam sebuah ruangan cukup luas dengan perlengkapan selayaknya rumah sendiri.
Wulan mengedarkan pandangan, tak ada luka serius di tubuhnya. Hanya ada beberapa goresan karena gesekan, juga memar. Yang paling menonjol adalah bekas telapak tangan di pipi. Helaan napasnya terasa berat dan panjang, untuk luka yang tak seberapa saja Sandi tidak mengizinkannya untuk banyak bergerak.
"Mas!" Sandi yang tengah sibuk menatap ponsel di tangan, segera mendongak ketika panggilan Wulan terdengar.
"Ada apa?" tanyanya yang kemudian meletakkan ponsel di atas lemari kecil samping ranjang Wulan.
Wulan beranjak duduk, hari sudah mulai petang dan dia ingin segera pulang.
"Kita pulang, ya. Aku tidak perlu dirawat di sini," rengek Wulan memelas pada Sandi.
Laki-laki itu terdiam, memperhatikan sebelah pipi Wulan yang nampak membesar. Bekas jari Salsa masih sangat jelas terlihat, ada jejak kebiruan di sudut bibirnya.
"Tunggu hasil visum, itu akan menjadi bukti untuk menuntut orang yang sudah melukaimu," jawab Sandi sambil meraih tangan Wulan dan menggenggamnya.
Mendengar itu, Wulan menelan saliva. Dia tidak menyangka Sandi akan menuntut mereka. Terlebih orang yang sudah melakukan itu adalah Salsa, adik tirinya. Susi juga Hardi sudah pasti tidak akan senang dan akan semakin membenci dirinya.
"Mas, sudahlah. Tidak usah menuntut mereka. Mereka sama sepertiku, hanya seorang pelajar. Jika mereka dituntut maka mereka akan kehilangan waktu untuk belajar," pinta Wulan meski takut dia harus mengatakannya kepada Sandi.
"Tidak! Jika itu dulu mungkin, iya. Sekarang tidak! Walimu sudah jatuh ke tanganku, aku tidak akan membiarkan siapapun berbuat seenaknya terhadapmu. Aku tidak peduli siapa orangnya, mereka harus bertanggungjawab atas apa yang sudah terjadi," tegas Sandi membuat Wulan tak dapat berkutik.
Ia menatap kedua manik sang suami, begitu keras dan tajam. Namun, di dalamnya ada banyak perhatian untuk Wulan. Kepedulian yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya, kini bisa dirasakan jua.
"Apakah Salsa yang sudah menamparmu?" tanya Sandi setelah beberapa saat hening menemani mereka. Tangannya mengusap pipi Wulan lembut, ada kesedihan terpancar dari kedua manik itu dan Wulan sangat jelas melihatnya.
Wulan bereaksi, matanya membulat tak menyangkan Sandi akan dengan mudah tahu pelaku yang menyebabkannya harus masuk rumah sakit.
"Da-dari mana Mas tahu?" Wulan menunduk, berkilah pun percuma karena dari sorot mata Sandi, laki-laki itu tahu segalanya.
"Ternyata benar. Jadi, selama ini dia selalu semena-mena terhadapmu. Kali ini, aku pastikan dia akan mendapatkan balasan. Siapapun yang berani berurusan denganku, tidak akan pernah bisa lolos," ujar Sandi membuat Wulan meneguk ludah sendiri.
Garis wajah yang keras begitu menakutkan, menciutkan nyali siapa saja yang berhadapan dengan seorang Sandi Mahardika. Sungguh, Wulan tidak menginginkan masalah yang terjadi diperpanjang. Selama ini saja, tidak ada yang pernah tahu apalagi peduli terhadap apapun yang terjadi.
"Istirahatlah, jika dokter mengatakan kamu boleh pulang, kita akan pulang." Sandi tersenyum, mengusap lengan Wulan dengan lembut.
Sungguh sebuah perhatian yang didamba Wulan. Hatinya selalu merasa iri setiap kali melihat Salsa yang begitu diperhatikan kedua orang tuanya ketika sakit. Sementara Wulan, untuk sekedar beristirahat saja tidak diizinkan.
Ia mengangguk patuh, memberikan senyuman termanisnya sebelum merebah di ranjang. Wulan memposisikan tubuh miring, menghadap Sandi, menatap rupa paripurna seorang laki-laki baik hati. Digenggamnya tangan sang suami, didekatkan pada bibirnya. Dikecup penuh cinta, mengalirkan kehangatan pada hati Sandi.
Wulan bersyukur, laki-laki yang menikahinya adalah Sandi. Bukan orang lain. Ia mulai terpejam, rasa sakit di seluruh tubuh mengundang rasa kantuk. Tertidur sepertinya akan menghilangkan itu semua.
Tidurlah, Wulan. Sudah cukup kamu menanggung kesedihan seorang diri selama ini. Ada aku yang akan melindungimu dari mereka. Maaf karena aku belum mampu berdiri di depanmu secara langsung.
Sandi mengusap dahi Wulan yang tertutup rambut, mengecup tautan tangan mereka penuh sesal. Rencana untuk sembuh sudah dibuatnya, tapi dia harus meninggalkan Wulan sendiri. Maka sebelum itu, Sandi ingin membereskan setiap masalah yang akan terjadi di kemudian hari.
Tangannya menyapu sudut bibir Wulan dengan hati yang perih. Dia gadis yang begitu kuat, menerima penindasan tanpa mengeluh. Bahkan, pandai menyembunyikan rasa sakit.
"Ada apa?" Sandi bertanya ketika Wulan kembali membuka matanya.
"Aku tidak bisa tidur. Aku lapar, Mas," lirih Wulan dengan wajah yang memerah.
Sandi terkekeh, untuk kemudian segera menghubungi seseorang memintanya untuk membawakan makanan. Tak perlu waktu lama, seseorang datang mengetuk pintu. Laki-laki berseragam rapi masuk sambil menenteng sebuah tas belanja berisi makanan.
"Ini pesanan Anda, Tuan," katanya. Lalu, berbalik setelah Sandi menerima benda tersebut.
"Duduklah," pinta Sandi yang mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas tersebut.
"Makanan mahal lagi?" celetuk Wulan ketika melihat makanan di depannya.
Sandi tidak menjawab, melainkan membuka bungkus kotak tersebut dan menyerahkannya kepada Wulan.
"Perlu aku suapi? Aku takut tanganmu sakit," tawar Sandi menahan makanan tersebut.
Wulan terkekeh, menerimanya dengan cepat. Melahap perlahan, merasai makanan mewah yang selama ini hanya dia lihat dan tak pernah sampai di lidahnya.
"Ternyata makanan mewah memang enak rasanya, pantaslah mahal harganya," komentar Wulan setelan menelan suapan pertamanya.
Sandi tersenyum, melihat wajah Wulan yang berbinar saja sudah membuat hatinya bahagia.
"Tapi aku lebih suka masakan istriku sendiri. Rasanya lebih lezat dari makanan di restoran mahal sekalipun," sahut Sandi tak berbohong sama sekali.
Wulan menghentikan gerakan mengunyahnya, menatap Sandi tak percaya.
"Benarkah?" tanyanya antusias. Sandi mengangguk yakin.
"Jika begitu, ayo kita pulang. Aku akan masakkan makanan kesukaan Mas," ucap Wulan lagi dengan wajah yang berseri.
Sandi kembali terkekeh, menggeleng pelan. Selama ini hanya masakan bibi art di rumah atau restoran yang mampir di lidahnya. Ibu dan sang kakak tak pernah sekalipun menyambangi dapur.
"Habiskan makananmu, dan tidurlah." Sandi menepuk kaki Wulan. Memperhatikan cara gadis itu makan, membuatnya ikut merasa lapar.
"Mas mau makan juga?" Tanpa sadar Sandi mengangguk.
"A ...." Wulan menyodorkan tangannya yang berisi makanan, menyuapkan ke dalam mulut Sandi. Keduanya terlihat bahagia, seperti pasangan yang saling jatuh cinta.
****
Wulan terlelap setelah mengisi perut dan meminum obat. Sandi menjaga sambil menunggu kabar dari Pak Andri. Disapunya wajah Wulan, tersenyum hangat bibir itu. Wulan benar-benar membawa kebahagiaan pada hidupnya. Tangis gadis itu adalah derita untuk hatinya.
Pintu berderit, Sandi melirik cepat. Sosok sang supir masuk melangkah membawa berita yang ditunggunya.
"Bagaimana?" tanya Sandi segera.
"Mereka semua sudah berada di sini, Tuan."