NovelToon NovelToon
Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
​Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
​Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pasukan Inti dan Persenjataan Baru

​Matahari pagi bersinar terang, namun suhu udara terasa aneh—lebih dingin dari biasanya, seolah bumi sendiri sedang menyesuaikan diri dengan hukum alam yang baru.

​Yudha melangkah keluar dari bengkel utamanya. Jubah tebalnya berkibar pelan, menutupi rompi zirah tulang putih di dadanya dan lengan mekanis pekat di tangan kanannya. Aura yang dipancarkannya kini jauh lebih menekan. Setiap langkahnya tidak bersuara, namun memancarkan wibawa absolut yang membuat siapa pun secara naluriah ingin menundukkan kepala.

​Di halaman pabrik, tatanan baru telah berjalan dengan sangat rapi.

​Kelompok pekerja kasar di bawah pengawasan Arya sedang membongkar sisa-sisa mobil yang ditarik dari jalan raya, memisahkan besi tua dari bahan yang mudah terbakar. Asap tipis mengepul dari area dapur, membawa aroma bubur daging yang dimasak dari sisa kaleng swalayan. Di sudut lain, Kumbang Baja Pengangkut berdiam diri layaknya patung raksasa, menghemat energi sambil menunggu perintah selanjutnya.

​Perhatian Yudha tertuju pada bagian tengah halaman.

​Lin Tian dan Lin Chen sedang berlatih tanding dengan tangan kosong. Gerakan mereka bukan lagi sekadar pukulan jalanan, melainkan wujud nyata dari ilmu bela diri kuno yang telah disempurnakan oleh atribut Sistem. Setiap kali kepalan tangan Lin Tian mengayun, terdengar suara angin yang terbelah. Lin Chen merespons dengan kelenturan tubuh yang luar biasa, membelokkan tenaga kakaknya dan membalas dengan tendangan yang mematikan.

​Energi murni dari inti kristal yang mereka serap mengalir di sepanjang jalur urat nadi mereka, menyatukan napas, pikiran, dan otot menjadi satu kesatuan mesin tempur.

​"Cukup," suara datar Yudha memotong sesi latihan mereka.

​Meski tidak diucapkan dengan keras, suara itu langsung menembus pendengaran kedua bersaudara tersebut. Mereka seketika menghentikan gerakan, mengatur napas sejenak, lalu berlari mendekat dan berlutut dengan satu kaki di hadapan Yudha.

​Bara, yang sedang mengawasi penambahan barikade di dekat gerbang, melihat hal itu dan bergegas ikut berlari menghampiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Hormat kami, Ketua!" ucap mereka serempak.

​Yudha menatap ketiga orang itu. Lin bersaudara telah mencapai puncak Tingkat 3, sementara Bara baru saja menembus Tingkat 2. Di mata para penyintas biasa, mereka adalah dewa pelindung. Namun di mata Yudha yang telah melihat Papan Peringkat regional, kekuatan ini belumlah cukup.

​"Berdiri," perintah Yudha.

​Ketiganya bangkit. Yudha berjalan memutari mereka, tatapannya yang tajam seolah menelanjangi setiap kelemahan di tubuh mereka.

​"Sistem telah memberikan pengumuman baru malam tadi," kata Yudha perlahan. "Sebuah Reruntuhan Peradaban Kuno akan terbuka di pusat kota dalam waktu kurang dari dua hari. Benda yang ada di dalamnya bisa menentukan siapa yang akan menjadi penguasa mutlak di wilayah ini. Dan kita akan mengambilnya."

​Bara menelan ludah. "Pusat kota, Ketua? Jaraknya jauh, dan tempat itu dulunya adalah pusat populasi terpadat. Jumlah monster di sana pasti ribuan... belum lagi manusia dari kelompok lain."

​"Tepat," potong Yudha dingin. "Mulai hari ini, kompetisi sesungguhnya dimulai. Kalian tidak hanya akan membunuh monster bodoh yang bergerak berdasarkan insting. Kalian akan membantai manusia yang memiliki kekuatan sistem, kecerdasan, dan kelicikan."

​Yudha menatap Lin Tian dan Lin Chen.

​"Kalian berdua memiliki fondasi ilmu bela diri yang kuat, dan tubuh kalian telah dimurnikan. Mulai detik ini, kalian kuangkat menjadi Murid Inti dari Tatanan Besi Hitam. Tugas kalian bukan lagi menjaga tembok, melainkan menjadi pisau bedahku untuk memotong jantung musuh di luar sana."

​Kedua bersaudara itu melebarkan mata. Di dalam tradisi yang mereka anut, menjadi murid inti berarti diakui sepenuhnya sebagai penerus dan pemegang kuasa tertinggi di bawah sang pemimpin.

​"Kami tidak akan mengecewakan kepercayaan ini, Ketua!" seru Lin Tian dengan suara bergetar karena bangga.

​Yudha lalu menoleh pada Bara. "Dan kau, Bara. Ototmu besar, tapi pikiranmu lamban. Namun kau punya nyali untuk berdiri di garis depan. Kau kuangkat menjadi Murid Luar. Pimpin pasukan penjaga gerbang. Jika ada satu ekor monster pun yang menembus tembok ini saat aku pergi, aku akan mencabut tulang belakangmu."

​"S-siap! Markas ini akan seaman brankas baja, Ketua!" janji Bara dengan keringat dingin menetes di pelipisnya.

​Yudha merogoh sebuah kantong kanvas panjang yang sejak tadi ia sandarkan di dinding bengkel. "Kekuatan fisik murni memiliki batas. Kalian membutuhkan senjata yang bisa menyalurkan energi dari dalam jalur urat nadi kalian."

​Ia melemparkan sebuah benda panjang ke arah Lin Tian. Pemuda itu menangkapnya dengan sigap.

​Itu adalah sebuah tombak sepanjang dua meter. Namun gagangnya tidak terbuat dari kayu atau besi biasa, melainkan dari tulang pilar Algojo Zirah Tulang yang telah diukir dan dipadatkan menggunakan kekuatan kelas mekanik Yudha. Ujung tombak itu berkilau putih, sangat tajam, dan dikelilingi lilitan kawat tembaga tipis yang terhubung ke sebuah kristal energi kecil di pangkalnya.

​[Tombak Penembus Tulang (Peringkat Menengah)]

​"Alirkan tenaga murnimu ke gagangnya. Tombak itu tidak akan patah meski kau menabrakkannya ke dinding baja," ucap Yudha.

​Lin Tian mengelus gagang tulang itu dengan gemetar. Saat ia memusatkan tenaga ke tangannya, ujung tombak itu mendengung pelan, memancarkan aura ketajaman yang mengerikan. "Ini... ini adalah mahakarya luar biasa. Terima kasih, Ketua!"

​Yudha kemudian melemparkan dua bilah pedang melengkung ke arah Lin Chen. Pedang itu ditempa dari sisa baja swalayan yang disatukan dengan cakar Pengintai Kulit Besi. Senjata itu berwarna abu-abu gelap, nyaris tidak memantulkan cahaya.

​"Ringan, mematikan, dan menyerap suara," jelas Yudha. "Cocok untuk pergerakanmu yang mengandalkan kecepatan dan serangan titik buta."

​Terakhir, ia menendang sebuah senjata berat ke kaki Bara. Sebuah gada baja segi enam dengan Inti Energi kotor tertanam di tengahnya. Senjata itu sangat mirip dengan palu lama milik Bara, namun dirakit dengan presisi teknis tingkat tinggi, bukan sekadar tempelan kasar.

​"Gada Kejut. Hantamkan ke tanah, dan energi di dalamnya akan menciptakan gelombang lumpuh dalam radius dua meter. Gunakan itu untuk menjaga gerbang," titah Yudha.

​Ketiga pria itu menatap senjata baru mereka dengan kekaguman yang nyaris menjadi pemujaan. Mereka mengerti bahwa ketua mereka bukanlah manusia biasa. Ia adalah pencipta hukum, senjata, dan jalan evolusi mereka.

​"Bara, kembali ke gerbang. Awasi para pekerja," usir Yudha. Bara segera membungkuk dan berlari kembali ke posnya.

​Yudha melangkah mendekati Lin Tian dan Lin Chen. Sorot matanya menjadi jauh lebih kelam.

​"Kita akan berangkat menuju pusat kota dalam satu jam. Hanya kita bertiga, bersama Kumbang Pengangkut," kata Yudha pelan, memastikan suaranya tidak terdengar oleh pekerja lain.

​"Dengarkan baik-baik. Reruntuhan itu pasti sudah diawasi oleh kelompok-kelompok besar dari berbagai penjuru kota. Kita tidak akan masuk dari pintu depan layaknya pahlawan bodoh."

​Yudha menarik tudung jaketnya ke atas kepala, menyembunyikan sebagian wajahnya dalam bayang-bayang.

​"Kita akan menyelinap ke dalam, membiarkan mereka saling bunuh untuk memperebutkan remah-remah, dan pada saat yang tepat... kita akan mengambil inti wilayah itu, menguras habis isinya, dan memusnahkan siapa pun yang berani menghalangi jalan kita. Mengerti?"

​"Mengerti, Ketua!" jawab mereka berdua, mata mereka menyala oleh niat membunuh yang murni.

1
REY ASMODEUS
lanjut thor
Aisyah Suyuti
good
REY ASMODEUS
karya ini menarik untuk dinanti kelanjutannya. petualangan di dunia apocalipse sungguh membawa aroma baru untuk kalian yang haus ketegangan dan pertempuran epik. 10 Jempol untuk karya terbarumu othor badhot
REY ASMODEUS: othornya salh 🤣🤣🤣. othor bhodat
total 1 replies
REY ASMODEUS
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!