Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan Nayyara masih tetap mencintai dalam diam. Dan hanya doa yang bisa dijadikan senjata untuk memohon agar disatukan oleh lelaki yang dicintainya.
Banyaknya lamaran yang datang tak berujung, ia tolak dengan halus demi menjaga cintanya.
Lantas bagaimana dengan lelaki itu? Apakah memiliki perasaan yang sama kepada Nayyara? Atau malah sudah mempunyai calon istri?
Baca dan temukan jawabannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktaviani027, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sick Twin 2
Usai berbicara dengan Faiz dan melihat kondisi Nayya, Arya pun segera keluar dan kembali ke kamar rawat milik Adiba.
"Abang habis lihat Nayya ya" ujar Adiba di balik masker oksigennya dan mendapat anggukan dari Arya.
"Gimana keadaan Nayya bang?" Arya hanya menggeleng menandakan jika Nayya tidak baik-baik saja.
"Nayya masih koma" ujarnya sedikit lesu dan duduk di kursi.
"Kenapa Nayya bisa koma ya bang? Emang Nayya habis kecelakaan atau kenapa gitu" ujarnya sembari mengubah posisinya menjadi setengah duduk.
"Iya, jadi sore tadi, Nayya kecelakaan terus janinnya nggak bisa di selamatkan" penjelasan Arya membuat mata Adiba memanas dan seperti akan mengeluarkan cairan dari atas sana.
"Dan, yang lebih mengejutkan lagi, janin yang ada dalam kandungan Nayya itu adalah anak hasil hubungannya dengan Faiz, bukan lelaki yang meniduri Nayya waktu itu" jelasnya lagi.
"Kasihan Nayya ya bang, padahal usianya masih muda banget tapi udah dapet ujian seberat ini, rasanya Adiba pengen ambil Nayya dari mas Faiz, biar Nayya nggak di abaikan gitu aja" gumamnya sedikit kesal.
"Nggak bisa gitu Adiba, Nayya sudah bukan tanggungjawab abang, kamu dan ibu, Nayya sudah jadi tanggungjawabnya Faiz. Jadi biarkan mereka menyelesaikan permasalahannya sendiri, kita bantu apa yang perlu di bantu" nasihatnya yang mendapat anggukan dari Adiba.
"Yaudah sekarang tidur, abang mau pulang ambil baju Diba dulu"
Setelahnya Arya segera pulang ke rumah dengan menaiki taksi, sesampainya di rumah Arya segera mengambil beberapa baju milik Adiba secukupnya untuk ia bawa ke rumah sakit.
***
Keesokan harinya Adiba bangun tak mendapati abangnya di kamar rawatnya, mungkin saja abangnya masuk pagi atau mengurus ibunya yang di rumah sendirian.
Adiba segera mengambil handphonenya dilihatnya jam di handphonenya itu menunjukkan pukul tujuh pagi, Adiba segera menghubungi rekan kerjanya dan meminta izin untuk tidak masuk beberapa hari sampai dirinya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Usai menghubungi rekan kerjanya, Adiba menoleh ke kanan, terdapat nampan berisi makanan dari rumah sakit. Karena dari semalam Adiba tak makan, alhasil dirinya segera melahap makanan itu meski tersisa setengah karena Adiba kurang suka dengan masakan rumah sakit.
Setelahnya dirinya segera menghubungi iparnya 'Faiz' menanyakan di mana Nayya di rawat.
Setelah Faiz memberitahu, Adiba segera beranjak dari ranjangnya sembari membawa infus dan memakai sendal kemudian berjalan pelan menuju ruang ICU. Tak peduli banyaknya pasang mata yang menatapnya, juga menawarkan bantuan padanya tapi Adiba tolak karena sungkan.
Setelah berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, sampailah di depan ruang ICU, dirinya melihat dari luar, ada Azizah, ibunda Faiz di dalam.
Adiba pun segera masuk dan menemui Azizah di dalam.
"Adiba, kok bisa sampai sini, dirawat juga? Kamu kenapa?" tanya Azizah bertubi-tubi.
"Asmanya kambuh bu, jadi Adiba di suruh rawat inap di sini" jelasnya kemudian Azizah berdiri dan menyuruh Adiba untuk duduk karena tak tega melihat Adiba yang terus berdiri sembari memegang infusnya.
Setelah duduk, Azizah membantu menggantungkan infus di tiang infus yang ada di samping brankar Nayya.
"Udah makan?" tanya Azizah yang dibalas anggukan oleh Adiba.
"Ya sudah ibu mau keluar dulu ya, mau beli makan buat sarapan" ujarnya kemudian pergi meninggalkan ruang ICU itu dan pergi ke kantin untuk sarapan.
Adiba duduk di kursi memandangi tubuh kembarannya yang terbaring lemah di atas brankar, tak ada pergerakan sedikitpun, kecuali dadanya yang kembang kempis menandakan dirinya masih bernapas.
"Nay, cepet bangun ya, Diba ada di sini, nanti kalau mas Faiz jahat lagi sama Nay, bilang sama Adiba biar Adiba marahin balik" ujar Adiba sedikit terkekeh dan mengulas senyum, kemudian dirinya menidurkan kepalanya tepat di samping tangan Nayya. Dan tangan kanannya yang terdapat infus itu menggenggam tangan kembarannya 'Nayya' hingga tak selang lama, mata itu mulai terpejam.
Di sisi lain, Arya tengah berada di kantor polisi, dirinya ingin tahu siapa pelaku tabrak lari yang sudah membuat Nayya sampai koma.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang polisi yang tengah duduk di depan komputernya.
"Selamat siang pak, saya mau menanyakan terkait pelaku tabrak lari di depan minimarket kemarin itu, apa sudah di temukan pelakunya?" tanya Arya kemudian.
"Kami dari kepolisian masih terus melacak keberadaan pelaku, dan dari hasil yang kami peroleh, sepertinya pelaku kabur ke luar kota" jelasnya yang diangguki oleh Arya.
"Baik pak terima kasih atas informasinya, nanti kalau pelakunya sudah tertangkap bapak hubungi saya ya, saya kakaknya korban" ujarnya yang diangguki oleh polisi itu. "Kalau begitu saya permisi dulu" lanjutnya.
"Baik pak, silahkan" usai dipersilahkan untuk keluar, Arya segera menaiki dan menjalankan motornya menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana dirinya segera memarkirkan motornya dan masuk rumah sakit dan menemui Adiba di kamar rawatnya.
Namun saat sampai di sana, Arya tak menemukan Adiba. Dirinya mencari di sudut-sudut ruangan dan kamar mandi, tapi Adiba tak kunjung menampakkan diri.
Alhasil dirinya segera pergi ke ruang ICU, 'semoga aja benar Adiba ada di sana' batinnya kemudian dengan setengah berlari dirinya melewati lorong-lorong rumah sakit dan tibalah dirinya di ruang ICU.
Netranya menangkap seorang perempuan paruh baya yang duduk di kursi tunggu, sembari memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di dinding.
"Bu" panggil Arya sembari duduk di samping Azizah. Mendengar itu, Azizah pun segera membuka matanya dan mengucek matanya pelan.
"Cari Adiba ya?" tanya Azizah kemudian, Arya pun hanya mengangguk dan Azizah menunjukkan dimana Adiba berada.
Saat dirinya berdiri di depan pintu ICU, tatapannya berubah menjadi sendu, terlihat dari luar, Adiba tertidur di kursi samping ranjang Nayya. Dengan kepala yang ia tidurkan di samping tangan Nayya dan tangan Adiba yang menggenggam tangan Nayya.
Arya segera masuk dan menghampiri Adiba dan menepuk pelan pundaknya.
"Diba, hey, ayo bangun, balik ke kamar, kalau kamu tidurnya kaya gini badannya bisa sakit semua" ujarnya pelan, Adiba pun tampak menggeliat dan mengucek matanya pelan.
"Tapi Adiba pengen sama Nayya bang, Adiba pengen nemenin Nayya di sini" ujarnya beralih menatap Nayya dengan mata berkaca-kaca, seolah berat meninggalkan Nayya dalam keadaan seperti ini.
"Iya tapi Diba kan juga lagi sakit, besok lagi aja ya kalau Diba udah sembuh" ujarnya yang kemudian diangguki oleh Adiba, Arya pun segera menuntun Adiba kembali ke kamar rawatnya.
"Masker oksigennya mau di pakai lagi nggak?" tanya Arya saat mereka sudah sampai di kamar rawat Adiba.
"Nggak usah bang, udah nggak sesek lagi kok" setelahnya Adiba memejamkan matanya kala kantuk mulai menghampiri.