Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Pagi audit independen dimulai, Rumah Besar Sie bangun lebih cepat daripada biasanya.
Mobil-mobil datang sebelum matahari naik tinggi. Orang-orang berjas membawa laptop, map hitam, dan wajah yang terlalu bersih untuk disebut santai. Kepala pelayan membagi staf menjadi tiga bagian. Satu untuk ruang rapat, satu untuk dapur, satu untuk memastikan tamu tidak tersesat ke area keluarga.
Nana masuk bagian ketiga.
"Tugasmu mudah," kata kepala pelayan. "Berdiri di lorong samping. Kalau ada tamu bertanya toilet, antarkan. Kalau ada yang mau masuk ruang kerja Pak William tanpa pendamping, tahan."
"Kalau mereka memaksa?"
"Panggil saya."
Nana mengangguk, meski dalam hati ia tahu orang yang memaksa biasanya tidak menunggu dipanggilkan siapa pun.
Kertas kecil itu masih tersembunyi di jahitan kantong seragamnya.
Jangan percaya audit itu.
Kalimat itu membuat setiap tamu terlihat seperti pertanyaan.
Albert datang dari taman belakang membawa buku tua di tangan. Ia berhenti saat melihat Nana berdiri terlalu kaku dekat lorong.
"Pagi, Nana."
"Pagi, Paman Albert."
"Kau terlihat seperti penjaga pintu istana."
"Saya cuma diminta berdiri di sini."
"Kadang berdiri di tempat yang tepat lebih penting daripada berlari jauh." Albert tersenyum, lalu menatap nampan kecil di meja samping. "Teh untuk tamu?"
"Iya."
Ia mengambil satu cangkir, tapi tidak minum. "Jangan takut pada orang audit. Mereka terlihat galak karena dibayar untuk tidak tersenyum."
Nada suaranya hangat. Terlalu mudah dipercaya.
Nana hampir ingin bertanya tentang ketukan jari, tentang tulisan di kertas, tentang kenapa seseorang memperingatkannya agar tidak percaya audit yang ia usulkan. Namun Stella muncul dari ujung lorong sebelum Nana sempat membuka mulut.
"Paman Albert, Papa mencari Paman."
"Aku ke sana." Albert meletakkan kembali cangkir tanpa setetes pun diminum. "Jaga lorong ini baik-baik, Nana."
Stella mendekat setelah Albert pergi. "Kau pucat."
"Kurang tidur."
"Masih memikirkan Koko Steven?"
Nana menoleh cepat. "Kenapa harus dia?"
Stella tersenyum kecil. "Karena orang yang sekali melihatnya biasanya sulit berhenti bertanya."
"Aku lebih sulit berhenti bertanya tentang audit."
Senyum Stella memudar sedikit. "Ada apa?"
Nana meraba jahitan kantongnya. Ia hampir mengeluarkan kertas itu.
Lalu ia ingat wajah Stella saat berkata Albert seperti tiang rumah.
"Tidak apa-apa," ucap Nana akhirnya. "Aku hanya tidak mengerti kenapa orang-orang kaya butuh begitu banyak map untuk saling tidak percaya."
Stella tertawa pelan. "Itu pertanyaan paling masuk akal hari ini."
Ia pergi membantu Tamara menerima tamu dari Jakarta.
Menjelang siang, lorong samping mulai sepi. Kebanyakan tamu sudah masuk ruang rapat. Nana berdiri sambil menghitung langkah orang yang lewat. Auditor berjalan dengan sepatu bersih dan langkah lurus. Staf Sie Group terburu-buru tapi tetap tahu arah. Pelayan membawa nampan dengan bahu sedikit turun.
Lalu seorang pria berjaket kurir masuk dari pintu samping.
Ia membawa kotak cokelat kecil dan memakai kartu tamu di dada. Sepatunya kotor, tapi kotorannya tidak sama dengan lumpur halaman. Debu kering, seperti dari jalan besar. Tangannya tidak memegang kotak seperti kurir biasa. Terlalu ringan. Terlalu siap dilepas.
"Paket untuk ruang audit," katanya.
Nana melihat kartu tamunya. Tertulis nama perusahaan pengiriman, tapi tali kartunya terpasang terbalik. Foto di kartu juga terlalu baru, masih mengilap tanpa gores.
"Lewat depan," kata Nana.
"Saya diminta antar cepat."
"Lewat depan."
Pria itu tersenyum tidak sabar. "Adik, ini kerjaan orang dewasa. Jangan bikin susah."
Nana tidak bergerak.
Ia pernah melihat senyum seperti itu di pasar. Senyum orang yang berharap lawannya malu sebelum sempat curiga.
"Kalau begitu tunggu kepala pelayan."
Pria itu menghela napas, lalu menoleh ke arah ruang rapat seolah mencari saksi. Dalam gerakan kecil itu, Nana melihat jempol kirinya menekan sisi kotak dua kali.
Sama seperti Albert.
Bukan pola yang sama, tapi terlalu sengaja.
Nana melangkah ke samping, pura-pura memberi jalan. Saat pria itu melewatinya, ia menyenggol nampan kosong di meja. Nampan jatuh berisik. Pria itu refleks menahan kotak dengan kedua tangan.
Pada saat itu, Nana sudah mengambil kartu tamu dari dadanya.
Gerakannya cepat, bersih, hampir tanpa suara.
"Hei!" Pria itu baru sadar ketika tali kartu terlepas dari lehernya.
Nana mundur dua langkah, mengangkat kartu itu. "Kalau kartumu asli, marahnya nanti saja."
Wajah pria itu berubah.
Ia menaruh kotak di meja, lalu berbalik untuk pergi. Terlalu cepat untuk orang yang benar-benar hanya mengantar paket.
Nana membuka mulut hendak memanggil kepala pelayan, tapi sebuah tangan lebih dulu menahan pintu samping dari luar.
Seorang pria bertubuh tegap masuk. Kemejanya sederhana, matanya tenang, dan cara berdirinya membuat lorong sempit itu mendadak seperti pos pemeriksaan.
"Terima kasih sudah menunggu," katanya kepada pria berjaket kurir.
Kurir itu pucat.
Nana menggenggam kartu tamu lebih erat.
Pria tegap itu melirik Nana. "Kartu itu boleh saya lihat?"
"Siapa Bapak?"
"Irwan Ying."
Nama itu belum pernah Nana dengar, tapi dari cara pria berjaket kurir menunduk, Nana tahu Irwan bukan staf biasa.
Irwan mengambil kartu dari tangan Nana, lalu melihat bagian belakangnya. Ada stiker kecil berbentuk lingkaran hitam.
"Bagus," gumamnya.
"Bagus?" ulang Nana.
"Kalau kau membiarkan dia lewat, kami harus mengejarnya sampai ruang dokumen."
Irwan membuka kotak itu sedikit. Di dalamnya bukan dokumen, bukan hadiah, melainkan benda hitam sebesar power bank dengan kabel pendek melingkar rapi.
"Bukan bom," katanya sebelum Nana sempat mundur. "Alat penyadap. Kalau ditempel di bawah meja rapat, semua pembicaraan hari ini bisa keluar dari rumah ini sebelum makan siang selesai."
"Kami?"
Irwan menatapnya sebentar. "Kau benar-benar belum tahu apa-apa."
Pintu ruang rapat terbuka. Steven berdiri di sana, satu tangan di saku, wajahnya tetap malas seperti biasa. Di belakangnya, William dan Albert tampak sedang berbicara dengan auditor, seolah tidak ada apa pun terjadi.
Steven menatap kotak di meja, lalu kartu di tangan Irwan.
"Tanganmu cepat juga untuk mengambil yang bukan milikmu," katanya kepada Nana.
Nana menegang. "Saya mencegah dia masuk."
"Aku tidak bilang itu salah."
Irwan menahan pria berjaket kurir dan membawanya ke arah garasi samping. Tidak ada keributan. Tidak ada teriakan. Rumah besar itu menelan kejadian seperti menelan rahasia lain.
Steven berjalan mendekat.
"Besok pagi," katanya. "Ikut Irwan."
"Untuk apa?"
"Tim Lilin ingin melihat apakah tangan cepatmu bisa dipakai untuk hal yang lebih berguna daripada mencuri dompet."
Nana menatapnya.
Di ruang rapat belakang Steven, Albert masih tersenyum pada para auditor.
Dan kali ini, Nana tidak tahu mana yang lebih berbahaya. Kotak yang hampir masuk, atau senyum Albert yang tetap terlalu tenang setelah kotak itu gagal.