NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter / Tamat
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Di seberang sana, layar ponsel Kenzo mendadak gelap dan menampilkan tulisan sambungan terputus.

Pria itu menurunkan ponselnya perlahan. Bukannya marah atau murka karena mainan berharganya mencoba membangkang, sudut bibir Kenzo justru tertarik ke atas, membentuk senyuman miring yang sangat dingin.

"Dasar nakal," gumam Kenzo lirih dengan kilat mata yang berkilat jenaka sekaligus berbahaya.

Kenzo langsung mengetik sebuah perintah singkat dan menghubungi Mario—salah satu anak buah kepercayaannya yang lain.

Di luar dugaan Liana, taksi biru yang begitu kebetulan lewat di depan lobby tadi bukanlah sebuah kebetulan.

Itu adalah bagian dari skenario cadangan Kenzo. Mario sudah bersiap di sana, menyamar dengan mengenakan seragam sopir taksi lengkap dengan topi yang menutupi sebagian wajahnya.

"Bawa dia ke markas bahaya. Dan ikat kedua kakinya agar dia tidak bisa kabur lagi," perintah Kenzo dengan nada suara yang sangat tenang namun tak terbantahkan.

"Baik, Bos. Dimengerti," jawab Mario di ujung telepon sebelum mematikan sambungan.

Kenzo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jubah dokternya.

Ia merapikan kerah bajunya di depan cermin lorong, lalu mengembuskan napas ringan.

Dengan langkah tegap yang sangat santai, ia berjalan kembali menuju ruang poli kandungan untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, memeriksa para pasien yang sudah mengantre.

Tidak ada sedikit pun gurat kepanikan di wajah tampannya.

Kenzo bekerja dengan sangat tenang dan fokus yang luar biasa. Ia sangat yakin, Liana tidak akan pernah bisa pergi jauh darinya lagi. Ke mana pun wanita itu berlari, seluruh jalan setapak di kota ini telah berada di bawah kendalinya.

Jantung Liana serasa hampir melompat keluar dari dadanya.

Pemandangannya yang tadi tertuju ke jalanan kota kini berubah menjadi horor saat menyadari pemandangan di luar jendela kini berganti menjadi pepohonan lebat yang tidak ia kenali.

Taksi itu melaju kencang, meninggalkan kebisingan kota dan memasuki jalanan terjal yang sepi.

"Pak! Ini bukan jalan ke arah stasiun!" teriak Liana panik, suaranya bergetar hebat.

"Kamu mau membawa saya ke mana?!"

Sang sopir—Mario—tidak memberikan jawaban sepatah kata pun.

Ia bahkan tidak menoleh, membuat kecurigaan Liana berubah menjadi ketakutan mutlak.

Saat Liana mencoba meraih tuas pintu, sebuah bunyi klik yang tajam terdengar; pintu taksi terkunci secara otomatis dari sistem pusat.

Taksi itu melaju kencang melewati sebuah gerbang besi raksasa yang tertutup rapat, bukan menuju stasiun atau bandara seperti yang diharapkannya.

Di depan mereka, sebuah bangunan megah bergaya gotik berdiri angkuh di tengah hutan terpencil.

Liana menatap papan nama besi yang terpasang kokoh di gerbang: Black Cobra.

Mario akhirnya menoleh sedikit, memberikan seringai dingin yang mengerikan melalui kaca spion tengah.

"Tentu saja bukan, Nona. Ini adalah rumah yang sudah disiapkan Bos untuk Anda."

Liana mematung. Ini bukan penthouse mewah tempat ia disekap semalam. Ini adalah markas utama, tempat yang lebih kelam dan jauh lebih terisolasi.

"Ini bukan tempat yang semalam..." lirih Liana, suaranya nyaris tenggelam oleh desis ban taksi yang berhenti tepat di depan pintu utama gedung tersebut.

Begitu mobil berhenti, pintu belakang terbuka secara otomatis.

Dua orang pria bertubuh besar dengan setelan serba hitam sudah menunggu di luar.

Liana berusaha membuka pintu di sisi lain, namun sia-sia; pintu itu sudah terkunci mati.

Tanpa memberinya kesempatan untuk melawan, Mario keluar dari kursi pengemudi dan menarik paksa Liana dari mobil, menyeretnya menuju pintu masuk bangunan megah yang dingin itu.

Liana meronta sekuat tenaga, namun cengkeraman Mario di pergelangan tangannya terlalu kuat.

"Lepaskan! Kenzo! Keluar kamu, pengecut!!" teriak Liana memanggil pria itu, namun hanya suara burung hutan dan langkah kaki mereka yang menggema di kesunyian markas tersebut.

Mario menarik Liana keluar dari taksi dengan kasar.

Liana berusaha sekuat tenaga untuk melawan, menendang, dan mencoba melarikan diri, namun Mario dengan cekatan memegang erat kedua lengannya dan menyeret tubuh lemasnya masuk ke dalam mansion megah bergaya gotik tersebut.

Liana diseret menyusuri lorong-lorong dingin yang minim cahaya, hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang didesain khusus sebagai kamar pribadi Kenzo di markas utama ini.

Begitu pintu terbuka, bulu kuduk Liana langsung meremang.

Kamar itu sangat luas, didominasi warna hitam dan merah gelap yang pekat.

Di salah satu sudut ruangan, terpajang berbagai alat siksa BDSM yang tertata rapi di dinding—pecut kulit, penutup mata, hingga tali-tali kekang yang mengerikan.

Semuanya menegaskan sisi gelap Kenzo yang sesungguhnya.

Tanpa memedulikan tangisan Liana, Mario membawa wanita itu ke tengah ruangan.

Ia mengambil sebuah borgol besi tebal berlapis bulu hitam yang terhubung langsung dengan rantai kokoh yang tertanam kuat di lantai marmer kamar tersebut.

"Bos memerintahkan ini agar Anda tidak lagi bermain petak umpet," ujar Mario dingin tanpa ekspresi saat ia mengunci rantai tersebut di pergelangan kaki Liana dengan bunyi klik yang mematikan harapan.

Setelah memastikan kuncinya terpasang sempurna, Mario berbalik dan melangkah pergi tanpa memedulikan jeritan Liana.

Pintu baja tebal di ujung ruangan ditutup dengan bantingan keras, menyisakan kesunyian yang mencekam.

Liana ditinggalkan sendirian di ruangan yang dingin, megah, namun teramat menyesakkan itu.

Tidak ada jendela di sana, hanya lampu temaram yang menerangi interior kamar yang mengerikan. Pintu baja tebal itu terkunci rapat dari luar.

Liana mencoba meronta, menarik kakinya sekuat tenaga hingga kulit pergelangan kakinya memerah di balik lapisan bulu borgol tersebut.

Namun, rantai besi itu terlalu kuat dan tidak bergeming sedikit pun.

Air mata Liana mengalir deras membasahi pipinya.

Di tengah keputusasaannya, ia akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan: kali ini, Kenzo tidak lagi berpura-pura menjadi dokter kandungan yang baik dan perhatian.

Sosiopat itu telah sepenuhnya melepaskan topeng ramahnya, menunjukkan jati dirinya sebagai pemimpin Black Cobra yang kejam.

Malam tiba, suasana mansion gotik di tengah hutan itu berubah menjadi sangat sunyi dan mencekam.

Hanya ada suara desau angin malam yang samar dari luar dinding batu yang tebal.

Di dalam kegelapan yang temaram, Liana mendengar langkah kaki berat yang perlahan namun pasti mendekati pintu ruangannya.

Setiap ketukan sepatu pantofel itu di lantai lorong bagaikan detak lonceng kematian bagi kebebasannya.

Krieeet...

Suara derit pintu baja yang terbuka lambat menggema ngilu di keheningan kamar.

Cahaya lampu yang terang menerobos masuk, membentuk siluet tinggi seorang pria dengan setelan jas hitam yang berdiri tegak di ambang pintu.

Pria itu menatap Liana yang meringkuk di sudut ruangan dengan tatapan predator yang sangat puas.

"Aku sudah bilang, Sayang," suara bariton Kenzo yang berat dan serak memecah keheningan, mengirimkan gelombang ketakutan instan ke sekujur tubuh Liana.

"Ke mana pun kamu berlari, kamu akan selalu berakhir di pelukanku."

Kenzo melangkah masuk ke dalam kamar. Tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Liana, ia meraba panel dinding di sampingnya dan mengunci pintu baja itu di belakangnya dengan bunyi desis sistem digital yang mengunci mati.

Pria itu berjalan mendekat dengan santai namun mengintimidasi.

Tangannya bergerak ke leher, perlahan melepaskan dasi hitamnya dengan gerakan yang sangat tenang. Liana mencoba menjauh, menyeret kakinya yang dirantai, mundur hingga punggungnya menabrak dinding marmer yang dingin. Ia terjebak sepenuhnya, tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri.

Kenzo berlutut di hadapan Liana yang gemetar hebat.

Sebelum Liana sempat berteriak, Kenzo dengan cepat namun lembut mengikatkan dasi hitam tersebut ke sekeliling kepala Liana, menutup mata wanita itu sepenuhnya dari dunia luar.

Pandangan Liana seketika menjadi gelap gulita. Kehilangan indra penglihatannya membuat detak jantungnya berpacu berkali-kali lipat lebih cepat.

Ia hanya bisa merasakan deru napas hangat Kenzo yang kini merayap di sekitar ceruk lehernya, membisikkan kepemilikan mutlak dari sang monster yang sesungguhnya.

1
Muft Smoker
wah udh tamat aja kak ,, kirain nunggu little cobra gede dulu ,,
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,

sehat2 selalu kak ,,
Muft Smoker
astagaaaa ,, org lgi pda sibuk nangis ,, si bumil malah asik berenang😂😂😂😂😂
Bunga Andthea
huhuhu cepet bgt tamat nya kak,
my name is pho: 🥰🥰
Nantikan novel yang lainnya ya kak
terima kasih
total 1 replies
Bunga Andthea
huwaa kakak ny baik bgt hari ini triple up
Muft Smoker
lanjuuut kak
Arumi
psikopat 😭
Muft Smoker
duuuh deg2an iikh ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
Bunga Andthea
dobel up kak
Muft Smoker
semoga ad keajaiban ,, sebelum bnr2 jauuun Liana bisa di selamatkan ,,
Bunga Andthea
up lgi kak
Bunga Andthea
dobel up dong kak
Muft Smoker
nah kan Rista akhirnya km menemukan sosok yg baik ,, meski ia salah satu anggota geng motor ,,
Muft Smoker
udh Rista jgn iri dg Liana Krn punya suami kyak kenzoo ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
🍒WINA🍒
Kenzo dalam keadaan kena obat perangsang telah menodai liana, kasian nasibnya liana ingin menolong org yg terluka apes diperkosa...

liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
Bunga Andthea
lagi kak dobel up kak
Bunga Andthea
sedih bgt liat keadaan Liana,
sumpah kak Lo bikin deg degan
Muft Smoker
yaaa kak ,, masa pemeran utama meninggoy ,, 😱😱😱😱😱😱
Inarairlan 0811
Kania or Rista ka
my name is pho: Kania kak.
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Bunga Andthea
ehh ehh tor jngan main" ya ini kenapa jdi gini liana nya
sri hastuti
lah kok spt itu thor, selamatkan liana thor, kl tdk bisa jd monster itu kenzo ,bisa diterjang semuanya , kenapa baru bahagia sebentar sdh spt ini 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!