NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Kalau Daren adalah tipikal orang yang selesai akan membaca Al Quran minimal sebentar, maka Zakia adalah seorang manusia yang selesai sholat dini hari dilanda kantuk yang sangat luar biasa.

Kepala Zakia sampai tertunduk-tunduk saat mendengar suara Daren, ia ingin bangkit tapi terlanjur segan dengan pria itu. Tapi ditahan di sini pun dirinya tidak sanggup.

Sedangkan Daren yang melihat itu menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil, bacaan Alqurannya telah selesai dan ditutup.

Daren menatap Zakia, wanita itu menunduk begitu dalam sampai akhirnya Daren memanggilnya, "Kia." Tidak ada jawaban sama sekali.

"Kia," panggil Daren lagi. Jarinya menyentuh bahu Zakia dan menggoyangkannya sedikit.

Bugh

Kepala Zakia terjatuh ke bahu Alden, dengkuran halus terdengar dari bibir wanita itu, Daren yang menghadapi itu sempat menahan nafas sebentar. Diam-diam, Daren memperhatikan wajah tidur Zakia yang sedang menggunakan mukena, tanpa sadar Daren menghela nafas atas semua kejadian pada hari ini.

"Zakia," panggil Daren lagi. Kali ini terdengar lebih lembut dan pelan, Zakia akhirnya merespon dan menggeliat kecil di bahu kokoh Daren.

Lagi-lagi Daren menahan nafasnya, sialnya lagi Daren merasakan sesak luar biasa karena jantungnya berdegup kencang atas kejadian semua ini.

"Kia bangun, jangan tidur di sini," titah Daren.

"Apaansih Ga? Ribet bener lo!" kesal Zakia. Zakia akhirnya membuka matanya dan menggeliat dikit sambil melihat Daren.

Seketika mata Zakia membola, ia melihat apa yang jadi sandarannya, ternyata bahu sang suami. Cepat-cepat Zakia mengangkat kepalanya lalu bergerak mundur.

"Duh sorry bang, maaf ya kalau ganggu," ujar Zakia tidak enak.

Dengan tatapan yang masih sempoyongan, Zakia pun mencoba bangkit, lagi dan lagi bahu Daren ia jadikan pegangan supaya tidak jatuh. Daren melirik tangan Zakia yang memegang bahunya, lalu pandangannya mengarah ke bawah, kepada kaki Zakia.

Entah bagaimana kondisi kaki wanita itu, yang pasti Daren sedikit. khawatir, jika. dibiarkan pasti akan semakin parah.

"Ealah mukenanya belum. dilepas!" kesalnya. Bagaimana tidak kesal, Zakia sudah berjalan ke arah kasir dan tinggal meletakkan tubuhnya, tapi ia baru sadar bahwa tubuhnya masih dibaluti mukena.

Alhasil, mau tak mau Zakia kembali ke posisi Daren dan duduk. kembali di depan pria itu. Daren memperhatikan setiap kegiatan istrinya pada malam ini. Jari-jemari Daren bermain pelan, apalagi saat merasa debaran jantung yang semakin kencang.

Zakia yang sedang melipat mukena sadar akan Daren yang menatapnya. Ia pun memicingkan mata, "Bang Daren ngapain liatin gue kayak gitu?"

Daren terkesiap, "Ha? Iya muka lo ngantuk bener kayak anak ayam," jawab Daren asal. Ia membuka pecinya kemudian melepas kancing bajunya satu persatu, Zakia yang menyaksikan itu langsung mengalihkan pandangan.

"Eh, maaf Zak, ga bermaksud gue," ujar Daren. Ia langsung menutup tubuhnya dan bangkit dari hadapan Zakia.

Zakia tak lagi menjawab, ia merapikan mukena yang ia pakai lalu bergegas naik ke atas kasur. Sebelum menutup mata, Zakia ingin mengatakan satu hal kepada Daren, "Nanti kalau mau tahajjud lagi ajak gue ya bang," pinta Zakia. Zakia merubah arah kepalanya kini berhadapan dengan Daren.

"Gue dari dulu pengen tahajjud, tapi ga ada temen, jadinya takut heheh."

Daren ikut tersenyum, selimut hangat sudah menutupi ke dua tubuh mereka, ditambah lagi dengan obrolan dan tawa Zakia yang terdengar hangat, suasana yang dingin seketika menjadi berapi-api bagi Daren.

"Gue tadi mau bangunin, tapi takut ganggu elonya, eh ga taunya malah kebangun sendiri," ujar Daren jujur.

Zakia memangguk, "iya gue paham kok, makanya besok-besok bangunin gye aja, gue gapapa kok, gue malah seneng," ungkap Zakia.

"Ya udah deh kalau gitu, entar gue bangunin bair kita tahajjud bareng." Zakia kembali menangguk dengan mata yang mulai sayu, tak lama kemudian pelan-pelan mata indah itu ditutupi oleh kelopak dan bersiap masuk ke dalam mimpi.

Sedangkan sang pria dihadapannya hanya bisa memperhatikan, memperhatikan sembari kembali tersenyum.

'Kuat terus ya Zakia, gue ada di samping lo, kita cari sama-sama orang yang udah bikin lo kayak gini,' batin Daren. Selang berapa menit kemudian, Daren ikut terjun ke alam mimpinya sendiri. Malam pertama yang indah menurut Daren, karena diawali dengan melakukan ibadah sunnah pada dini hari.

*****

Pada pagi ini Zakia sudah bersiap dengan celana kulot berwarna hitam serta baju kaos berwarna pink, tak lupa dengan sendal kodok berwarna hitam miliknya, rambut dicepol asal dan tangan yang berkacak pinggang.

Di belakangnya ada Daren yang menggunakan style santai sama. seperti istrinya, hanya menggunakan celana bahan. pendek berwarna hitam serta kaos berwarna coklat,

Daren sengaja berdiri di belakang Zakia untuk melindungi wanita itu, keadaan pasar sedang ramai dan untuk jaga-jaga supaya tidak ada yang berniat jahat kepada Zakia.

"Bang Daren mau makan cumi?" tanya Zakia sambil menunjuk cumi besar di depannya..

"Ambil aja," jawab Daren singkat.

"Beli berapa?"

"Terserah mau berapa."

Zakia menimang sebentar, bingung juga ingin beli berapa. Secara dia gemar makan cumi, tapi segan jika beli banyak, apalagi ini pakai uang Daren.

"Setengah kilo aja bu cuminya," kata Zakia.

Daren mengernyit, setengah kilo? Bukankah itu terdengar sedikit?

"Dikit banget itu, kasi satu kilo aja buk," kata Daren begitu melihat cumi setengah kilo yang dikatakan Zakia. Ibu penjual cumi itu terkekeh pelan.

"Pengantin baru ya?" tanyanya. Zakia terdiam sebentar dan mengangguk.

"Haha gapapa, wajar itu kalau masih baru masih bingung ngatur kebutuhan rumah berapa, karena tinggL berdua, udah punya anak? Belum kan?" tanya si ibu.

"Belum bu," jawab Zakia. Ia tersenyum kecil, tapi sebenarnya gugup, saking gugupnya sampai memainkan ujung baju Daren.

"Iyalah, ibu do'ain semoga cepat dapet momongan ya Nak," kata si ibu. Ibu penjual cumi pun memberikan cumi satu kilo untuk Zakia. Zakia menerima itu dan membuka dompetnya ingin membayar, tapi pergerakannya terhenti saat sebuah dompet tebal berwarna coklat disodorkan ke arahnya.

Zakia mendongak dengan tatapan heran, Daren yang melihatnya jadi gemas sendiri, padahal jelas-jelas Daren kepala rumah tangga, bisa-bisanha Zakia ingin membayar makanan yang seharusnya ditanggung oleh Daren.

"Nih pakai uang gue, gue suami lo, udah tugas gue ngasi nafkah kan?" kata Daren. Zakia megerjap sebentar, matanya berkedip dan tangannya ragu-ragu mengambil dompet itu.

Bagaimanapun Zakia itu orang yang terbiasa memberi, jadi ketika ia diberi rasa sungkan itu tiba-tiba muncul, jikalau ditolak pasti Daren juga yang akan malu, jadi lebih baik diterima dulu dan diperhitungkan lagi di rumah nantinya.

"Duh makasih ya Nak, ibu-ibu do'akan cepat dapat momongan deh."

"Hehehe aamiin, makasih do'anya ya buk," sahut Daren. Zakia hanya bisa tersenyum dan beranjak pergi dari sana.

"Belanjaannya sini gue yang pegang," pinta Daren. Ia mengambil plastik berisi cumi itu dari tangan Zakia, kini tangan Daren berisi belanjaan, sedangkan Zakia tugasnya hanya membeli dan membayar.

"Kita beli apa lagi?" tanya Zakia.

"Ga tau, udah lengkap semua emang?" tanya Daren

Zakia memperhatikan belanjaan di tangan Daren, ada cabai, bawang, bumbu dapur dan berbagai macam lauk lainnya. Baik itu ikan, ayam ataupun seafood, sepertinya sudah cukup untuk stok satu minggu ke depan.

"Udah cukup ini, pulang aja ya kita ya?"

"Ya udah, ayok pulang," jawab Daren singkat. Zakia dan Daren beranjak menjauh dari kerumunan orang, tanpa mereka tahu di sudut pasar ada seseorang yang memperhatikan interaksi ie dua pasangan yang baru menikah itu.

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!