NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Maya tidak pingsan.

Ia hampir berharap dirinya pingsan, karena kesadaran penuh membuat setiap kata dalam surat itu menancap lebih dalam. Perempuan yang ia panggil Ibu seumur hidup bukan ibu kandungnya. Perempuan bernama Alya pernah menitipkannya dalam keadaan takut dan terluka. Pak Surya mungkin benar.

Hidup Maya seperti lantai yang baru saja ditarik dari bawah kakinya.

Raka membawanya duduk di ruang tamu rumah lama. Ia menyuruh Bima yang berjaga di luar memanggil dokter, tapi Maya menolak.

"Saya tidak sakit."

"Wajahmu pucat."

"Karena saya baru tahu hidup saya bukan seperti yang saya kira."

Raka diam.

Maya memegang gelang bayi kecil itu. Warnanya sudah kusam. Ada huruf M terukir sangat halus.

"Kenapa Ibu tidak pernah bilang?"

"Mungkin dia ingin melindungimu."

"Dari apa?"

"Dari orang yang membuat Alya takut."

Maya menutup mata.

Ia ingin marah pada ibunya, tapi tidak bisa. Perempuan itu membesarkannya dengan cinta. Mengikat rambutnya sebelum sekolah. Menyisihkan lauk terbaik untuknya. Menjaga Dimas saat Maya bekerja. Kalau ia bukan ibu kandung, justru pengorbanannya menjadi lebih besar.

Air mata jatuh ke gelang bayi.

"Dia tetap ibu saya."

"Tentu."

Maya menatap Raka. "Kalau Pak Surya benar ayah saya, kenapa dia tidak menemukan saya?"

"Kita belum tahu."

"Kalau dia tidak mencari?"

"Dia bilang mencari."

"Orang kaya selalu punya cara mencari."

Raka tidak membantah.

Kalimat itu juga benar.

Maya tertawa kecil, pahit. "Lihat saya. Lima puluh tahun hidup sebagai anak orang lain, lalu saat saya hamil di usia tua, baru ada kemungkinan ayah kandung muncul."

"Kamu tidak wajib menerimanya."

"Tapi saya ingin tahu."

"Aku akan bantu mencari."

Maya menggenggam surat itu.

"Jangan beri tahu Pak Surya dulu."

Raka menatapnya. "Kenapa?"

"Saya belum siap melihat wajahnya kalau dia benar-benar ayah saya. Saya juga belum siap kalau dia bukan."

"Baik."

Mereka membawa surat, foto, dan gelang bayi ke apartemen. Dokter datang memeriksa tekanan darah Maya. Hasilnya sedikit naik, tapi masih terkendali. Dr. Laila menatap Raka dengan wajah memperingatkan.

"Saya tidak tahu konflik apa lagi yang terjadi, tapi Bu Maya harus benar-benar istirahat."

Raka menjawab, "Mulai hari ini, tidak ada tamu."

Maya langsung berkata, "Mas Raka."

"Kamu dengar dokter."

"Saya dengar. Tapi jangan menjadikan saya tahanan lagi."

Dr. Laila melihat keduanya, lalu berkata diplomatis, "Tamu boleh dibatasi tanpa membuat pasien merasa dikurung."

Raka tampak tidak puas, tapi tidak membantah dokter.

Setelah dokter pergi, Maya duduk di ranjang dengan surat di pangkuan. Raka menelepon penyelidik pribadi untuk menelusuri Alya, akta lahir, dan hubungan dengan Pak Surya. Semua dilakukan dari ruang kerja dengan pintu terbuka, agar Maya bisa mendengar dan tidak merasa disembunyikan.

Menjelang malam, Dimas datang lagi.

Kali ini ia tidak naik. Ia hanya menitipkan pesan lewat keamanan.

`Saya ingin bicara soal dokumen Ibu. Ada orang yang menanyakan akta lahir Ibu ke saya. Saya takut.`

Raka membaca pesan itu, lalu wajahnya mengeras.

"Sabrina bergerak."

Maya yang duduk di sofa langsung menoleh.

"Dia tahu?"

"Kemungkinan besar."

"Bagaimana?"

"Dia pasti mendengar sesuatu di rumah sakit."

Maya memegang surat itu lebih erat. "Apa yang dia inginkan?"

"Kalau Pak Surya benar ayahmu, posisimu mengancamnya."

"Mengancam?"

"Sabrina selama ini dianggap putri tunggal Surya Dharma. Pewaris sosial, bisnis, dan nama keluarga. Kalau kamu muncul sebagai darah kandung..."

Raka tidak melanjutkan.

Maya mengerti.

Dunia Sabrina akan berguncang.

"Saya tidak menginginkan hartanya."

"Itu tidak penting. Yang penting adalah dia takut kamu bisa memilikinya."

Maya bersandar lelah.

"Saya hanya ingin tahu siapa saya."

Raka duduk di sampingnya.

"Kamu Maya."

Ia menoleh.

Raka berkata, "Sebelum Pak Surya. Sebelum Alya. Sebelum Sabrina. Kamu tetap Maya."

Maya menatapnya lama.

"Mas Raka semakin pandai bicara."

"Aku terpaksa berkembang."

Ia hampir tersenyum.

Ponsel Raka berbunyi. Bima.

Raka mengangkat dengan speaker karena Maya meminta semua terbuka.

"Pak, Dimas sudah kami amankan di kantor hukum. Dia mengaku seseorang dari pihak Sabrina menawarkan uang untuk mencari akta lahir Bu Maya dan surat-surat lama. Dia belum menyerahkan apa pun, tapi Vina tahu lokasi rumah lama."

Maya menutup mata.

Vina.

Lagi.

Bima melanjutkan, "Ada hal lain. Orang yang memotret rumah Bu Maya sore tadi tertangkap kamera lingkungan. Kami sedang lacak."

Raka berkata dingin, "Perketat penjagaan rumah itu. Tidak ada yang masuk."

"Baik, Pak."

Panggilan selesai.

Maya berdiri tiba-tiba.

"Saya ingin menyimpan surat ini di tempat aman."

"Aku punya brankas."

"Bukan kotak biskuit?"

Raka menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak menemukan surat, Maya membuat lelucon.

Raka berdiri. "Brankas lebih sulit dicuri."

"Tapi kurang kreatif."

"Aku akan beli kotak biskuit baja."

Maya tertawa pelan.

Tawa itu pendek, tapi cukup membuat Raka bernapas lebih lega.

Mereka menyimpan surat dan gelang bayi di brankas ruang kerja. Maya melihat pintu baja itu tertutup, lalu merasa sedikit lebih aman.

Malamnya, ia tidak bisa tidur.

Raka duduk di sisi ranjang membaca laporan penyelidik awal. Maya berbaring miring menghadapnya.

"Mas Raka."

"Hmm."

"Kalau ternyata Pak Surya ayah saya, apakah hidup saya akan berubah lagi?"

"Ya."

Jawaban itu jujur.

Maya menghela napas.

Raka menurunkan berkas.

"Tapi kali ini kamu tidak menghadapinya dari bawah. Kamu berdiri di sampingku."

Maya tersenyum lemah.

"Mas selalu kembali ke kalimat itu."

"Karena kamu sering lupa."

Maya memejamkan mata.

Di tempat lain, Sabrina berdiri di ruang kerja pribadinya. Di mejanya ada salinan foto rumah Maya, laporan singkat tentang Alya, dan pesan dari orang suruhannya.

Ia membaca satu kalimat berulang-ulang:

`Alya pernah melahirkan bayi perempuan sekitar lima puluh tahun lalu. Bayi itu hilang sebelum dicatat resmi oleh keluarga Surya.`

Sabrina meremas kertas itu.

Matanya merah.

"Tidak," bisiknya. "Aku tidak akan membiarkan perempuan itu mengambil semuanya."

Ia mengambil ponsel dan menelepon Dimas.

Namun nomor Dimas tidak aktif.

Sabrina membanting ponsel ke meja.

Kalau Dimas mulai takut, ia perlu orang lain.

Orang yang lebih rakus.

Ia membuka daftar kontak dan berhenti pada nama Bu Ratna.

Senyumnya kembali.

"Seorang ibu yang kehilangan cucu pasti mudah diberi musuh," gumamnya.

Sabrina tidak menelepon saat itu juga. Ia menunggu sampai malam, sampai amarah biasanya lebih mudah dibentuk menjadi keputusan.

Ia mengenal Bu Ratna dari cerita Dimas. Perempuan itu keras, takut miskin, dan paling takut kehilangan kendali atas anak serta cucunya. Orang seperti itu tidak perlu diberi kebenaran. Mereka hanya perlu diberi bagian kebenaran yang paling melukai.

Di apartemen, Maya menyimpan surat ibunya di laci meja samping tempat tidur. Raka memasang kode tambahan pada pintu dan meminta Bima mencari catatan kelahiran lama di rumah sakit daerah.

"Kalau ini benar, hidupmu tidak akan sama," kata Raka.

Maya menutup laci. "Hidupku sudah tidak sama sejak kamu menarik tanganku di depan penghulu."

Raka terdiam.

Maya menatapnya, lalu menambahkan, "Tapi aku tidak mau lari dari kebenaran hanya karena orang lain bisa memakainya untuk menyakitiku."

Di tempat lain, Sabrina akhirnya menekan tombol panggil.

Bu Ratna menjawab dengan suara ketus.

Sabrina tersenyum.

"Bu, saya tahu kenapa Maya berani mengambil Dimas dari Ibu."

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!