"Matilah aku!" Bora segera menggetuk kepalanya dan berusaha ingin kabur karena tendangan mautnya baru saja berhasil bersarang pada kaca belakang mobil mewah yang baru saja melewati dirinya.
Penasaran dengan kisah cinta Bora si tomboi dan Auriga CEO Judes yang unyu-unyu sekaligus nyeselin?!
Buruan pantengin kisahnya di sini manteman...
With luv
Othsha ❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Othsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KCJ - 29
Bora merasa sakit hati mendengar perkataan dari Auriga, tetap ia berusaha menutupinya.
"Besok aku flight pagi, jadi kalo besok aku udah engga ada di apartemen tandanya aku udah berangkat," ujar Auriga saat makan siang. Kedua gadis yang ada di depannya hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun.
Tak lama wajah Miguel muncul di ruang tamu mereka yang membuat Agnia mencibir. Setelah Auriga memberitahukan hasil keputusannya terkait dengan penempatan kerja Agnia, Miguel menatap Agnia yang ternyata sedang menatapnya sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Mulai Senin, Agnia akan bekerja di bawah pengawasan kamu. Jadi pastikan semua hal tentang Agnia juga dibuat seperti halnya untuk Bora!" ujar Auriga yang langsung mendapat anggukan dari Miguel.
Sebenarnya Miguel hendak protes karena ia sama sekali tak ingin bekerja dan memiliki bawahan dengan tipe wanita seperti Agnia, karena bagi Miguel Agnia itu adalah perempuan yang merepotkan. Ia juga tidak menyukai tipe Agnia yang terkesan berani dan terlalu banyak bicara.
Ahh, mimpi apa kemarin, kenapa Auriga malah membuat aku punya bawahan perempuan macam Agnia?! batin Miguel kesal.
****
Bora tak bisa memejamkan mata karena menyadari bahwa setelah hari itu, ia tak akan bisa melihat Auriga selama dua bulan lebih dua minggu. Perasaan sedih kembali menggelayuti dirinya. Setelah kepulangan Miguel, Auriga mengurung diri di kamarnya dan hanya keluar saat makan malam.
Ahhh, mungkin tadi adalah kesempatan terakhir aku melihat kamu! Saat kamu kembali dari Bali umur kontrak kita hanya tinggal empat bulan lagi! batin Bora sembari memandang langit-langit kamarnya. Ia merasakan nelangsa karena pemikirannya sendiri.
Lagi-lagi Bora berakhir di sofa "kebangsaan" yang selalu menjadi tempat dirinya merenung sembari menyesap secangkir teh yang selalu menjadi sekutu abadi saat harus menghabiskan malam-malam sepinya.
"Kamu engga kerja besok? Ngapain ngelamun di situ sendirian?" ujar seseorang dari belakang Bora yang membuat gadis itu terkejut. Bora memegangi dadanya karena jantungnya yang berdegup kencang.
"Aduhhh, Pak. Bisa mati muda saya kalo bapak ngejutin kayak gitu!" seru Bora yang tak bisa menutupi kekesalannya.
"Salah kamu sendiri ngapain melamun sambil matiin lampu kayak gini? Lagian harusnya kamu dengar waktu aku buka pintu!" seru Auriga tak terima karena Bora terkesan menyalahkan dirinya.
"Kalo orang melamun bisa dengar, namanya engga melamun kali, Pak!" ujar Bora lirih tetapi masih bisa di dengar oleh Auriga. Auriga mengabaikan kata-kata Bora, dan melangkah menjauhi gadis itu untuk menghidupkan lampu.
Bora langsung memeriksa penampilannya. Ia takut bahwa ia kembali mengenakan pakaian tidur yang tipis. Ia menghela nafas lega karena malam itu ia menggunakan piyama lengan panjang.
Bora kembali menatap ke arah luar jendela, tanpa memperdulikan Auriga yang terlihat sibuk mencari sesuatu. Bora penasaran karena kegiatan yang dilakukan oleh atasannya itu.
"Bapak lagi nyari apa?" tanya Bora sembari mendekati Auriga.
"Kemana semua obat yang ada di kotak P3K?" tanya Auriga yang terlihat kesal.
"Ohhh, udah saya buang, Pak. Habis semua obatnya udah expired, tapi saya lupa beli stoknya. Saya udah catat kok semua nama obat-obatnya, besok saya belanja! Emang bapak perlu obat apa? Bapak sakit?" tanya Bora yang tanpa sadar mengulurkan tangannya ke arah dahi Auriga yang membuat lelaki itu terkejut.
Bora terkejut karena mendapati suhu tubuh Auriga sangat tinggi. Bora langsung menarik tangan Auriga dan memintanya duduk di sofa. Bora langsung bergegas mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuh tunangannya itu.
" 39 derajat Pak, tinggi banget. Ehmm, bapak baring dulu di kamar ya. Saya ambilkan stok obat saya dulu, sekalian saya buat kompres untuk bapak!" ujar Bora yang langsung menuntun Auriga menuju kamar lelaki itu.
Bora bersyukur karena malam itu Auriga menuruti semua perkataannya. Auriga sudah meminum obat yang diberikan oleh Bora. Ia juga sudah dikompres oleh Bora. Hal itu membuat dirinya mengantuk. Auriga pun tertidur.
Bora masih setia menemani Auriga di kamarnya karena setiap 10 menit sekali, gadis itu mengganti kompres yang ia letakkan di dahi Auriga. Bora menatap Auriga dengan lamat, baru kali ini ia melihat penampakan Auriga yang sedang tidur.
Tampan, luar biasa tampan! Walau pucat, kenapa kamu tetap keliatah tampan sih, Auri? batin Bora yang ingin sekali menyentuh bulu mata lentik milik atasan sekaligus tunangan kontraknya itu. Tetapi Bora berusaha menahan diri, karena ia tak ingin Auriga terbangun karena ulahnya.
Bora menghubungi Miguel dan menceritakan kondisi Auriga. Bora meminta Miguel untuk membatalkan penerbangan Auriga karena kondisi Auriga yang tidak memungkinkan untuk berangkat kembali ke Bali.
Miguel sempat ragu, tetap Bora bersikeras dan mengatakan bahwa ia yang akan bertanggung jawab bila Auriga marah. Ia juga meminta Miguel untuk menghubungi dokter yang bisa memeriksa kondisi Auriga malam itu, karena demam Auriga tak kunjung turun.
Aku engga akan ngebiarin kamu pergi dengan kondisi kayak gini!
****
Satu jam kemudian, Miguel datang bersama dokter keluarga Miguel. Sang dokter memeriksa kondisi Auriga dan menyarankan agar Auriga di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bora membangunkan Agnia, dan mereka berempat berangkat ke rumah sakit.
"Pak Auriga, mengalami keletihan dan sepertinya pola makan beliau tidak teratur!" jelas sang dokter kepada Miguel, Bora dan Agnia setelah Auriga dipindah ke ruang rawat inap.
Setelah kepergian sang dokter, Bora meminta Miguel untuk pulang karena Miguel harus bekerja esok hari. Ia mengatakan bahwa dirinya dan Agnialah yang akan bergantian menjaga Auriga. Miguel awalnya merasa keberatan, tetapi Bora berhasil meyakinkan lelaki itu bahwa mereka akan menjaga Auriga dengan baik.
Agnia berjalan bersama Miguel menuju ke mobil milik lelaki itu untuk mengambil tas uang berisi perlengkapan mereka untuk menginap di rumah sakit. Mereka berjalan dalam diam, tetapi kemudian Agnia mendekat dan menarik lengan baju Miguel yang membuat lelaki itu menoleh.
"Kak, nanti bisa engga nemenin aku balik ke ruangan Kak Auriga?" tanya Agnia lirih yang membuat Miguel menaikkan sebelah alisnya karena bingung saat mendengar perkataan dari Agnia.
"Takut!!! Kenapa sepi banget di sini!" bisik Agnia yang membuat Miguel menyadari situasi mereka saat itu. Miguel tersenyum geli karena mengetahui salah satu kelemahan dari gadis ceriwis yang ada di sampingnya itu.
Agnia kembali merapatkan dirinya ke arah Miguel, yang membuat lelaki itu berdecak kesal.
"Kamu itu umur aja tua, tapi kenapa penakut banget sih? Sesak tau dirapat terus kayak gini!" keluh Miguel yang membuat Agnia mencibir.
Agnia malah semakin berani dengan memeluk lengan Miguel dengan kedua tangannya yang membuat lelaki itu terkejut.
"Kalo emang takut itu liat umur, Pak..., engga banyak laki-laki yang ngajak pacarnya nonton film horor, biar bisa modus meluk pacarnya!" gerutu Agnia sembari memaksa Miguel yang berdiam diri untuk kembali berjalan.
Dasar cewek aneh!
****
mampir juga yaa di karyaku.....
terima kasih /Smile/
Othsha berterima kasih banget buat dukungannya. Semoga dimana pun kakak berada tetap sehat, bahagia dan sukses ya.
Mohon dukungannya untuk karya Othsha lainnya bila berkenan ya....
Sekali lagi mamaci banyak. Maaf juga engga bisa balas komennya satu per satu ya..🥰🥰🥰🥰
Apakah itu Auri,yng manggil Bora???
Pantas saja Auriga tidak menyukai Harjun,,,,,bnyk hal yng membuat bertanya2 ttng sepak terjang Harjun yng bisa bermusuhan dngn Auriga
Andai iya,,,untung cpt diajak pergi sblm semuanya bubrahh!!