Reuni, ajang bertemunya kembali dengan kawan lama. Tidak jarang, ajang ini dijadikan momen pamer kekayaan dan kekuasaan. Apakah mungkin, kisah cinta lama dapat bersemi kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim Kondangan
Pov : Tompi
Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjalin komunikasi dengannya. Wanita yang telah menghancurkan hatiku dengan gampangnya. Mencampakanku dengan mudahnya, dan kini kudengar kabar dia telah bertunangan dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Tega sekali wanita itu. Sungguh, aku membencinya. Aku merasa ada yang salah denganku. Kenapa otak dan hatiku selalu merindukannya. Ini tidak pantas kulakukan. Dia sudah akan menjadi milik orang lain, lagi, dan aku hanya mampu diam.
"Ndan, jangan lupa hari ini ada undangan ke kondangan Ndan Ridwan. Di Wisma Halim jam sebelas." Bawahanku mengingatkanku agenda hari ini.
Aku mengangguk, bingung harus pergi atau tidak. Istri Ridwan juga seorang bidan. Kira-kira aku akan bertemu dengannya atau tidak disana? Malas sekali jika aku sampai bertemu.
Aku dipanggil ke ruangan atasanku, siapa? Ya siapa lagi, Tugas Haryanto. Iya kakakku yang super menyebalkan itu memanggilku entah ada urusan apa. Aku memberinya hormat sebelum duduk. Lalu bicara santai dengannya.
"Makan, kakakmu menitipkan ini untukmu. Dia kasihan melihatmu makin hari makin kurus. Sebenarnya kamu itu makan atau tidak?" tanyanya.
Aku mengambil kotak bekal itu. Sepotong sandwich yang lengkap dengan sayuran dan sausnya. Segera kumakan di hadapan mas Tugas. Enak, rasanya seperti roti tawar yang diberi mayonaise.
"Nanti ke kondangan?" tanyanya lagi. Aku malas bicara dengannya, aku hanya mengangguk.
"Sama siapa? Nih, aku berikan gandengan." Mas Tugas menyodorkan padaku foto wanita yang kukenal. Wina, anak teman mamah.
Hadeh, capek aku. Mereka masih saja berusaha mengenalkanku pada wanita. Hatiku masih berantakan. Aku tidak mau seseorang membereskannya untukku. Aku tidak ingin membuat wanita itu terluka karena membereskan lukaku.
Sudah cukup pusing dan sesak hatiku dengan bayangan tentang wanita itu. Perempuan yang namanya tidak boleh kusebut lagi.
"Ogah, Mas tahu kan bagaimana sikap Wina? Makin repot kalau sampai aku bertemu lagi dengannya. Awas saja kalau sampai itu terjadi, aku laporkan kak Tisha."
"Kamu ini tukang mengadu! Begitu saja mau dilaporkan! Dasar!" Mas Tugas tidak terima dengan ancamanku.
"Ya makanya, tidak usah repot mengenalkanku dengan wanita ini itu. Nanti, ada saatnya aku menemukan yang sejalan denganku," tegasku membuat kakakku tertawa.
"Siapa? Widya?"
Aku berdecak, "Jangan sebut namanya, Mas!"
Mas Tugas malah tertawa. "Kamu belum bisa move on dari dia? Pola percintaanmu sama Widya dari dulu itu suka, jalani, bubar. Gitu kok mbok ulangi lagi. Nggak capek?"
Aku diam tidak menjawabnya. Bibirku sudah manyun menanggapi orang itu.
"Ada yang ingin dibicarakan lagi tidak?" Aku sudah sangat ingin keluar dari ruangannya.
"Nggak, nanti berangkat sama kami saja. Gandeng Rania saja daripada kamu seorang diri."
Aku hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan atas ucapannya. Mas Tugas ini sebenarnya sayang padaku. Hanya, cara pengungkapannya yang aneh.
Waktunya kondangan, Rania kutarik masuk ke mobilku. Dia protes. Kenapa harus ia yang menjadi gandenganku.
"Nanti kalai disana ada cowok, aku dikira punya selera sama om-om!" Hadeh, ponakan satu ini ceriwis sekali.
"Kamu nggak kasihan sama Om? Sendirian luntang lantung gitu?" Aku meminta belas kasihan dari Rania.
Dia menggeleng. "Kenapa harus putus sama tante Widya?"
Aku diam tidak menjawab pertanyaannya. Kami sudah sampai di acara kondangan itu. Kuminta ponakanku segera turun. Lalu berjalan bersamaku.
Kenapa harus berpapasan dengannya sih? Siapa lagi? Wanita yang memutuskanku sedang menulis daftar hadir disana. Dia bersama Gandi.
"Om Tompi," sapanya kubalas dengan kata hai.
Wanita itu menoleh ke arah kami. Mata kami beradu sesaat. Segera kupalingkan wajah berpura-pura mencari ponsel. Setelah dia masuk, aku menulis namaku.
"Om, hati aman?" tanya Rania padaku.
"Aman," kujawab sembari menahan getaran itu.
Gandi menghampiriku lagi. Dia meminta nomorku, alasannya untuk meminta bantuanku saat tidak bisa materi tentang matematika. Kasih tidak ya? Melihat wajahnya yang sangat memohon, aku tidak tega. Akhirnya kuberikan nomorku.
"Mamahmu tidak sama gandengannya, Gan?" tanyaku sedikit penasaran, hanya sedikit.
"Gandengannya? Siapa?" Gandi malah bingung dengan pertanyaanku.
"Tunangannya, calon papahmu."
"Mamah nggak jadi tunangan sama om Han. Anaknya om Han nggak setuju, mundur tanggalnya." Gandi menjelaskannya padaku. Berarti kabar yang kudengar tidak sepenuhnya benar.
"Makasih ya, Om. Ran, foto ke pengantin sama mamah yuk!" Gandi mengajak Rania berfoto bersama dengan pengantinnya.
Rania menarik tanganku. Salah orang aku menggandeng Rania. Mereka malah mau mempertemukanku dengannya.
"Tante, foto yuk!" Rania mengajaknya berfoto.
"Nanti saja, makan dulu saja. Antriannya masih mengular, Nduk." Suaranya sedikit sengau. Dia kenapa? Sakit? Ah, apa peduliku? Biarkan saja.
Aku memilih mendekati sate ayam. Ternyata dia juga mengikutiku. Kucoba untuk mengabaikannya.
"Apa kabar, Tom?" tanyanya padaku.
"Baik," jawabku datar.
"Kamu masih marah sama aku?" tanyanya lagi.
Aku memejamkan mata sebentar lalu menegaskan padanya agar tidak mengakrabkan diri lagi denganku. Seperti janjiku saat keluar dari rumah makan itu, kembali menjadi asing.
Aku memilih bergabung bersama dengan teman-temanku. Mereka memintaku menyumbangkan suara emasku untuk sebuah lagu. Baiklah, kuturuti keinginan mereka. Aku memilih lagu dengan judul Nemen, kalian tahu kan?
Ini gambaran perasaanku padanya. Harusnya dia tahu, cintaku itu nomor satu. Seenaknya dia mengingkari janji. Kurang apa aku padanya? Usahaku sudah mati-matian. Begitupun dengan perhatianku.
Aku berusaha sekuat tenaga mendapatkan restu Gandi. Memberontak pada mamah. Meninggalkan rumah. Tapu akhirnya, aku ditinggalkan olehnya seorang diri. Adilkah itu untukku?
Nyatanya, dia membalasku dengan kejam. Meninggalkanku tanpa memikirkan sedikitpun perasaanku. Perasaanku tersampaikan lewat lagu itu.
Kulihat dia hanya diam menikmati lagu yang kubawakan. Dasar wanita tidak berperasaan. Aku kecewa pada putusannya. Kenapa harus memilih berakhir? Apa sudah tidak ada alur lain yang harus membuat kami berpisah?
Sudah cukup, aku harus segera pergi dari sini. Aku mencari Rania, memintanya untuk segera bersalaman dengan yang punya hajat. Saat akan turun, mas Tugas dan kak Tisha meminta kami untuk foto dulu.
Baiklah, aku turuti saja keinginan mereka. Rasanya aku ingin mencubit kak Tisha. Dia malah mengajak wanita itu naik dan berfoto bersama kami.
"Rania sama Mami. Om mu biarkan sama tante Widya dan Gandi." Enteng sekali kalimat kak Tisha ini. Nggak tahu apa ada hati yang makin berantakan disini?
Widya menolak berfoto denganku. Kak Tisha tetap memaksa. Antrean makin mengular. Kuminta dia segera merapat denganku. Kalian tahu? Kakiku gemetaran berada di dekat tubuhnya. Kalau sudah halal, pasti kupeluk pinggangnya.
"Gan, tukar posisi, Nak. Mamah disitu saja." Dia meminta anaknya mendekat padaku.
Setelah sesi foto selesai, kami segera turun panggung. Gandi membantu mamahnya turun. Kusodorkan tanganku untuk membantunya, ah sial! Kenapa tanganku begitu aktif? Kenapa harus kuberikan bantuan padanya?
"Makasih," ucapnya.
Aku tidak menjawabnya.
"Makanlah dengan teratur, Mas."
Kalimat itu, siapa yang mengucapkannya? Dia? Memanggilku apa tadi? Apa ini? Kenapa kamu suka sekali mempermainkan hatiku Widya?
alhamdulillah...
pinus kaliiikkkkk
wkwkwk
ini mmg abangnya yg gimanaaaa gituh
bikes!!
bikin kesel!!!
fighting!!!!!
wkwkwk
kereeeen!!!!?