Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung Sang Nenek, Kanaya rela menjadi ibu pengganti bagi pasangan suami istri Yuga Tjandra dan Zielin.
Tak mau melahirkan diluar ikatan pernikahan, Kanaya meminta suami dari Zielin itu menikahinya secara siri dan sepakat untuk bercerai begitu anak yang dikandungnya telah lahir.
Bagaimanakah kisah rumah tangga mereka selanjutnya, jika Yuga akhirnya juga mencintai Kanaya? Relakah Zielin membagi suaminya dengan ibu pengganti untuk anak mereka?
Jangan lupa rate ⭐lima dan follow akun medsos author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RK - Chapter 29
Malam semakin larut. Bukannya semakin sepi suasa di bar milik Mona itu justru semakin ramai. Tekanan pekerjaaan dan mengikuti trand pergaulan pablik figur yang sering di share melalui media sosial membuat bisnis yang menjual minuman dan kesenangan itu semakin diminati di kalangan atas. Mona sudah menjalankan bisnis itu lebih dari sepuluh tahun.
Mona juga bukan berasal dari kaluarga kaya, awalnya dia juga hanya seseorang yang ingin mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Namun, sebuah kejadian buruk membuat wanita yang mimiliki usia tak lagi muda itu akhirnya memilih terjun ke dunia bisnis haram itu.
"Bos, ada orang yang mencari Anda." Pria dengan tato di lengan itu melapor kepada Sang pemilik bar.
"Siapa?"
"Tidak tahu Bos, dia hanya bilang ingin berbicara empat mata dengan Anda," jawab pria itu.
"Siapa ya? Apa dia anak buahnya Yuga?" batin Mona.
"Ya sudah. Suruh saja dia masuk!" suruh Mona.
"Baik, Bos."
Tidak lama anak buah Mona itu datang bersama dengan seseorang. Dia adalah seorang pria berwajah tampan yang memiliki garis wajah tegas. Dari penampilan yang terlihat, Mona bisa menyimpulkan jika pria itu bukanlah orang sembarangan.
"Siapa kamu? Ada apa mencariku?" tanya Mona kepada pria yang baru datang tersebut.
Pria dengan wajah yang ditutup dengan masker itu memiliki sorot mata yang dingin dan menakutkan. Ia melirik anak buah Mona yang sedang berdiri di dekat pintu dan Mona tahu apa maksudnya.
"Kamu pergilah dari sini!" suruh Mona kepada anak buahnya yang berdiri di dekat pintu.
"Baik, Bos. Permisi." Pria bertato itu pun menjauh meninggalkan tempat tersebut.
"Dia sudah pergi. Sekarang katakan, ada perlu apa kamu mencariku!" Mona menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Aku hanya butuh sedikit informasi darimu." Lelaki itu duduk di kursi kosong yang ada di hadapan Mona.
"Informasi? Informasi tentang apa?" Dahi Mona mengernyit.
"Kamu kan yang menjual Kanaya kepada Yuga?"
"Aku tidak menjual siapa pun, aku hanya menunjukan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang banyak untuknya," ralat Mona.
"Apa pun istilahnya, tetap saja kamu menjual wanita itu demi kepentinganmu karena buktinya, kamu juga mendapatkan transferan uang yang jumlahnya tidak sedikit kan dari Yuga dan istrinya?" Pria itu kembali berujar.
"Tidak usah bertele-tele, katakan saja apa yang kamu inginkan!" jawab Mona.
"Aku hanya ingin tahu, dimana nenek dari Kanaya dirawat? Aku ada sedikit keperluan dengannya!"
Mona memicing. "Kenapa kamu ingin tahu dimana neneknya Kanaya dirawat?" tanyanya.
"Itu bukan urusanmu. Kamu cukup memberitahuku dimana nenek wanita itu dirawat. Jika tidak, aku akan melaporkan bisnis ilegalmu ini kepada pihak yang berwajib," ancam orang tersebut.
Mona menghela napas panjang, ia tahu pasti ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh pria di depannya kepada nenek Kanaya. Namun, dia juga tidak bisa mengorbankan bisnisnya demi nenek Kanaya tersebut.
"Dia dirawat di rumah sakit Medika Husada, kamar VVIP no 4 ruang Cempaka," jawab Mona.
"Naya, maafkan aku. Semoga nenekmu tetap dalam keadaan baik setelah ini," batin Mona.
"Thanks buat infonya."
Setelah mendapatkan jawaban dari Mona, pria bermasker itu pun pergi dari sana.
***
Pukul 03.00 Zielin mendapat telepon dari seseorang. Dia segera mencari tempat yang sepi untuk menjawab telepon tersebut.
"Bagaimana? Sudah berhasil?" tanya Zielin.
"Belum."
"Kenapa bisa belum berhasil? Dia kan hanya nenek tua yang tidak bertenaga. Harusnya kamu bisa dong menyingkirkan dia," sentak Zielin. Dia begitu kesal karena sang kekasih belum berhasil menjalankan misi darinya.
"Zi. Penjagaan tua bangka itu begitu ketat. Jangan untuk masuk dan memberinya pelajaran, untuk mendekati kamarnya saja tidak bisa. Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa nenek itu dirawat dengan penjagaan yang ekstra ketat?" pria diujung sana berbalik menyalahkan Zielin.
"Dijaga ketat? Aku malah belum mengetahui soal ini."
Iya, Zielin memang tidak bohong. Dia tidak pernah tahu bagaimana kondisi tempat nenek Kanaya dirawat karena ia tidak pernah mencari tahu.
"Iya. Ada sekitar 4 orang yang berjaga di luar pintu kamar dan ada perawat khusus yang menemaninya selama 24 jam penuh. Jadi, sulit bagiku untuk mendekati apalagi menyingkirkan wanita tua itu," jelas lelaki diujung sana.
"Ya sudah. Sekarang tidak usah melakukan hal apa pun dulu sampai aku menemukan cara buat menyingkirkan wanita tua tersebut."
"Oke."
"Sekarang, aku tutup dulu ya. Aku tidak mau Mas Yuga curiga."
"Zi." Panggil lelaki itu.
"Kapan kita akan bertemu lagi? Aku sudah sangat kangen dengan tubuhmu?"
"Sayang. Seperti katamu waktu itu, sekarang kita harus menjaga jarak dan berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai Mas Yuga mengetahui rahasia kita lalu membuangku. Aku tidak mau kehilangan kemewahan ini," jawab Zielin.
"Oke, baiklah. Tapi, setelah semua aman, kamu harus segera menemuiku."
"Iya."
"By, Zi. Love you."
"Bye juga Sayang. Love you too."
Zielin mematikan ponselnya. Dia harus segera kembali ke kamar sebelum Yuga terbangun dan mencarinya. Namun, pada saat ia berbalik sudah ada Kanaya di belakangnya.
Deg.
"Apa Kanaya mendengar pembicaraanku tadi? Bagaimana kalau dia melaporkan hal ini kepada Mas Yuga?" batin Zielin.