Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Desa Pinggiran yang Terlupakan
Matahari pagi menyinari Desa Windu Sari dengan lembut. Desa kecil itu terletak di kaki Gunung Berbunga, tempat di mana bunga-bunga bermekaran sepanjang tahun. Udara pagi terasa segar dengan aroma bunga dan tanah basah embun. Burung-burung berkicau menyambut hari yang baru.
Di sebuah rumah kayu sederhana di ujung desa, asap tipis mengepul dari cerobong dapur. Seorang nenek tua dengan rambut putih keperakan sibuk menggiling kedelai di atas batu besar. Gerakannya terampil meskipun usianya sudah lanjut. Nenek itu bernama Mira, satu-satunya penjual tahu di seluruh desa.
"Nenek, aku sudah bangun!"
Suara ceria seorang anak laki-laki terdengar dari dalam rumah. Beberapa saat kemudian, seorang bocah gemuk dengan pipi tembem dan rambut acak-acakan keluar dari pintu. Matanya masih setengah terpejam dan di sudut bibirnya ada bekas air liur kering. Pakaiannya longgar dan agak kusut, seperti biasa.
Bobon, begitu nama bocah itu, mengucek matanya dan menguap lebar. Perutnya berbunyi keras.
"Nenek, aku lapar," kata Bobon sambil menepuk perutnya yang bulat.
Nenek Mira tertawa kecil. "Sudah kubilang jangan makan terlalu banyak semalam. Tapi kau tidak pernah dengar."
"Tapi aku lapar, Nek."
"Cuci muka dulu. Baru sarapan."
Bobon mengangguk malas dan berjalan ke sumur di halaman belakang. Dia mengambil gayung dan menyiram wajahnya dengan air dingin. Dia menggigil sedikit, tapi rasa kantuknya segera hilang. Dia melihat bayangannya di permukaan air dan tersenyum.
"Dasar Bobon gendut," katanya pada dirinya sendiri sambil tertawa.
Dia kembali ke dapur dan duduk di kursi kayu yang sudah tua. Nenek Mira meletakkan semangkuk besar bubur hangat dengan tahu goreng di atasnya di hadapannya. Mata Bobon berbinar.
"Terima kasih, Nenek."
Bobon mulai makan dengan lahap. Bubur hangat bercampur tahu goreng yang renyah adalah makanan favoritnya. Dia makan dengan suara yang cukup keras, tapi Nenek Mira tidak pernah marah. Dia hanya tersenyum melihat cucu angkatnya itu makan dengan penuh semangat.
"Kau hari ini akan membantu Nenek menjual tahu di pasar?" tanya Nenek Mira sambil duduk di seberang Bobon.
"Mau, Nek. Tapi aku mau makan dulu."
"Kau sudah makan tiga mangkuk, Bobon."
"Oh, sudah tiga? Aku masih lapar, Nek."
Nenek Mira menggeleng-gelengkan kepala, tapi di matanya ada kasih sayang yang tulus. Dia menghabiskan tehnya dan mulai menyiapkan keranjang tahu untuk dijual. Bobon menghabiskan mangkuk keempatnya sebelum akhirnya berdiri dan membantu neneknya mengangkat keranjang.
"Berat, Nek. Kenapa tidak pakai gerobak saja?" tanya Bobon sambil mengangkat keranjang itu dengan satu tangan seolah-olah itu ringan.
Nenek Mira memperhatikan cucunya dengan tatapan tajam. Keranjang itu berisi hampir seratus potong tahu dan beratnya pasti lebih dari lima puluh kilogram. Tapi Bobon mengangkatnya tanpa kesulitan sama sekali. Hal seperti ini sudah sering terjadi. Nenek Mira tidak pernah bertanya. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kita jalan kaki saja. Gerobak rusak, ingat? Sudah seminggu belum diperbaiki."
"Oh ya. Nenek, nanti aku perbaiki gerobaknya."
"Kau bisa?"
"Pasti bisa. Aku Bobon."
Nenek Mira tertawa. "Kau yang bisa apa? Yang kau bisa hanya makan."
Bobon menggaruk kepalanya dengan malu. "Aku juga bisa membantu Nenek."
"Ya, ya. Ayo pergi. Nanti pasar tutup."
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang berliku menuju pasar desa. Rumah-rumah warga mulai terlihat. Beberapa dari mereka sudah membuka toko atau warung kecil. Desa Windu Sari adalah desa yang damai. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Penduduknya sekitar tiga ratus jiwa. Mereka hidup dari bertani, berdagang, dan membuat kerajinan tangan.
Sepanjang jalan, orang-orang menyapa Nenek Mira dan Bobon. Ada yang memanggil Bobon dengan julukannya.
"Hei, Bobon Gendut! Mau ke pasar lagi?"
"Ayo jualan tahu! Nanti beli aku satu."
"Bobon, kau makan banyak lagi hari ini?"
Bobon menjawab setiap sapaan dengan senyuman lebar. Dia melambai ke kanan dan ke kiri. Orang-orang di desa mengenalnya sebagai anak bodoh yang baik hati. Tidak ada yang benar-benar serius mengejeknya. Mereka semua tahu Bobon tidak mengerti ejekan. Dia selalu menganggap semua perkataan sebagai kebaikan.
Pasar desa mulai ramai ketika mereka tiba. Para pedagang sudah membuka lapak mereka. Sayuran, ikan, daging, kain, dan berbagai kebutuhan sehari-hari dijual di sini. Bobon dan Nenek Mira mengambil tempat di sudut pasar, di bawah pohon rindang.
Nenek Mira meletakkan keranjang tahunya dan mulai mengatur dagangan. Bobon duduk di sampingnya dengan mata berbinar menatap lapak jajanan di seberang.
"Jangan melotot begitu. Nanti orang takut beli tahu kita," canda Nenek Mira.
"Aku tidak melotot, Nek. Aku hanya melihat."
"Kau melihat makanan."
"Tidak, Nek. Aku lihat lapaknya. Bagus sekali."
Nenek Mira tertawa. "Sudahlah, bantu Nenek menjual tahu. Nanti kalau laku, Nenek belikan kue."
Mata Bobon berbinar. "Benar, Nek?"
"Iya, benar. Sekarang kerjakan tugasmu dulu."
Bobon segera duduk tegak dan mulai berteriak mempromosikan tahunya. Suaranya yang keras dan ceria menarik perhatian orang-orang.
"Tahu! Tahu segar! Tahu Nenek Mira paling enak se-desa! Beli tahu, dapat senyum gratis!"
Nenek Mira terkekeh mendengar gaya promosi Bobon. Dalam waktu singkat, banyak orang berdatangan. Mereka tidak hanya membeli tahu, tapi juga tersenyum melihat keluguan Bobon. Dalam satu jam, tahu mereka hampir habis.
"Tinggal tiga potong lagi, Nek," kata Bobon dengan bangga.
"Bagus. Kau benar-benar pembantu yang hebat."
"Aku hebat, Nek. Nenek bilang begitu."
"Aku bilang kau hebat makan."
"Tidak, Nek. Nenek bilang aku hebat."
Nenek Mira tertawa dan mengelus kepala Bobon. Saat itulah sekelompok anak laki-laki mendekati lapak mereka. Ada lima anak dengan usia antara sepuluh hingga tiga belas tahun. Pemimpin mereka adalah anak besar dengan rambut cepak dan mata yang licik. Namanya Darman.
"Oh, lihat siapa di sini. Bobon Gendut lagi jualan tahu," kata Darman dengan nada mengejek.
Bobon tersenyum. "Hai Darman! Mau beli tahu? Tinggal tiga."
"Aku tidak mau tahu busukmu. Tapi aku mau tahu di mana kau menyembunyikan uang jualanmu."
Ucapan Darman membuat Nenek Mira mengerutkan dahi. "Darman, jangan usil. Pergilah kau bermain."
Darman tidak mendengar. Dia mendekati Bobon dan mendorong bahu Bobon. Bobon bergoyang sedikit tapi tetap tersenyum.
"Kau ini aneh, Bobon. Kenapa kau selalu tersenyum? Kau tolol apa gila?" tanya Darman sambil menepuk-nepuk pipi Bobon.
"Senyum karena aku senang, Darman. Nenek Mira akan belikan aku kue."
Darman dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. "Dengar dia! Tolol banget. Mau dibelikan kue."
Teman Darman yang bernama Joko menendang keranjang tahu yang sudah hampir kosong. Tahu terakhir jatuh ke tanah dan kotor. Nenek Mira marah dan menghardik mereka.
"Kalian ini keterlaluan! Pergi sekarang atau aku panggil kepala desa!"
Darman mendorong Nenek Mira. Nenek itu hampir jatuh, tapi Bobon cepat menangkap neneknya. Wajah Bobon berubah. Senyumnya hilang. Matanya berubah kosong. Ada sesuatu yang berbeda. Kehangatan di wajahnya menghilang, digantikan oleh kekosongan yang aneh.
"Jangan dorong Nenek Mira," kata Bobon dengan suara datar.
Darman mengerutkan kening. "Kau mau apa, gendut? Kau mau kena pukul?"
Tapi Darman tidak sempat memukul. Tiba-tiba, Bobon mendorong Darman dengan satu tangan. Dorongan itu tidak keras, tapi Darman terlempar. Dia terbang sejauh sepuluh meter dan mendarat di tumpukan sayuran milik pedagang lain. Teman-temannya terkejut. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi.
Bobon berdiri di sana dengan wajah kosong. Dia menatap Darman tanpa ekspresi. Tangannya masih terentang. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin. Beberapa orang yang melihat mulai berbisik.
"Kalian harus pergi," kata Bobon lagi. Suaranya lemah tapi terdengar jelas.
Teman-teman Darman melarikan diri. Mereka meninggalkan Darman yang masih terkejut di tumpukan sayuran. Darman bangkit dengan susah payah dan menatap Bobon dengan mata ketakutan. Dia tidak mengerti bagaimana bocah gendut yang bodoh itu bisa mendorongnya sejauh itu.
"Kau... kau iblis!" teriak Darman sambil berlari.
Bobon tetap berdiri di tempatnya dengan tatapan kosong. Nenek Mira mendekatinya dengan hati-hati. Dia mengusap punggung Bobon dengan lembut.
"Bobon, sudah. Mereka pergi. Kau tidak apa-apa?"
Bobon berkedip beberapa kali. Wajahnya kembali normal. Senyumnya muncul lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Nenek, tadi aku lihat Darman terbang," kata Bobon dengan nada bingung. "Kok bisa ya?"
Nenek Mira tersenyum sedih. "Mungkin dia jatuh sendiri."
"Oh, begitu ya. Nenek, tahu kita tinggal dua. Yang satu jatuh kotor. Jadi tinggal dua yang bisa dijual. Nenek masih mau belikan aku kue?"
Nenek Mira mengelus rambut Bobon yang acak-acakan. "Tentu, Bobon. Nanti Nenek belikan kue. Tapi sekarang kita pulang dulu."
"Kenapa, Nek?"
"Karena pasar sudah ramai dan kita sudah hampir habis. Lagipula, sepertinya hari ini akan hujan."
Bobon melihat ke langit. Langit masih cerah dan biru. Tapi dia tidak bertanya lagi. Dia hanya mengangguk dan membantu neneknya membereskan dagangan.
Dalam perjalanan pulang, Bobon berjalan dengan senyum cerah sambil membawa dua tahu yang tersisa. Nenek Mira berjalan di sampingnya dengan pikiran yang berat. Dia melihat cucu angkatnya itu dan mengingat hari pertama dia menemukan Bobon sepuluh tahun lalu di pinggir hutan.
Saat itu Bobon masih bayi. Bayi itu terbaring di bawah pohon besar dengan pakaian compang-camping dan tubuh penuh tanda-tanda aneh. Tanda-tanda itu berbentuk segel, tujuh segel di sekujur tubuhnya. Nenek Mira yang saat itu sedang mencari kayu bakar menemukannya. Dia membawa pulang bayi itu dan merawatnya tanpa banyak bertanya. Dia tidak tahu siapa orang tua Bobon, atau dari mana bayi itu berasal.
Yang dia tahu, Bobon berbeda. Bayi itu tidak pernah menangis. Dia hanya tersenyum. Ketika mulai tumbuh besar, kekuatannya mulai terlihat. Bobon bisa mengangkat benda berat tanpa sadar. Dia bisa berlari sangat cepat. Tapi anehnya, Bobon juga bodoh. Dia sulit mengingat, sulit belajar, dan sering terlihat linglung.
Suatu hari, seorang tabib keliling melihat tanda segel di tubuh Bobon. Tabib itu mengatakan bahwa anak ini bukan anak biasa. Tanda itu adalah segel kekuatan kuno. Seseorang atau sesuatu telah mengunci kekuatan besar di dalam diri Bobon. Tabib itu juga mengatakan bahwa ada kemungkinan Bobon pernah menjadi seseorang yang hebat, tapi kekuatan dan ingatannya tersegel.
Nenek Mira tidak mengerti semua itu. Dia hanya tahu Bobon adalah cucunya dan dia mencintainya.
"Bobon," panggil Nenek Mira.
"Iya, Nek?"
"Kau merasa sakit? Atau ada yang aneh dengan tubuhmu?"
Bobon menggeleng. "Tidak, Nek. Aku sehat. Kenapa bertanya?"
"Tidak apa-apa. Nenek hanya ingin memastikan."
Bobon tersenyum. "Nenek, aku lapar."
"Kau selalu lapar, Bobon."
"Iya, Nek. Karena aku Bobon."
Nenek Mira tertawa. Dia tidak bisa menahan tawa. Bobon memang selalu polos, selalu ceria, dan selalu lapar. Tapi di balik semua itu, Nenek Mira tahu bahwa suatu hari kekuatan yang tersegel di dalam tubuh Bobon akan terbuka. Dan ketika itu terjadi, dunia akan berubah.
Mereka tiba di rumah dan Nenek Mira segera menyiapkan makanan untuk Bobon. Sementara Bobon makan dengan lahapnya, Nenek Mira duduk di sudut ruangan dan menatap lukisan tua yang tergantung di dinding. Lukisan itu menggambarkan seorang pendekar gagah dengan pedang berkilau. Di sekeliling tubuh pendekar itu ada tujuh lingkaran cahaya. Tujuh segel.
Nenek Mira tidak pernah tahu siapa pendekar dalam lukisan itu. Tapi dia yakin, ada hubungan antara Bobon dan lukisan itu. Bobon mirip dengan pendekar itu. Bukan wajah, tapi aura. Sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Bobon," panggil Nenek Mira pelan.
Bobon mendongak dari makanannya. Mulutnya penuh nasi dan tahu. "Ya, Nek?"
"Kalau suatu hari kau tahu siapa dirimu sebenarnya, apa kau akan tetap tinggal dengan Nenek?"
Bobon mengunyah makanannya pelan. Ekspresinya serius untuk pertama kalinya. "Nenek, aku Bobon. Aku tinggal dengan Nenek. Aku tidak mau pergi."
Nenek Mira tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Kau memang anak yang baik, Bobon. Nenek sayang kau."
"Nenek, jangan nangis," kata Bobon sambil bangkit dan memeluk neneknya. "Bobon sayang Nenek. Bobon tidak akan pergi. Bobon mau jualan tahu sama Nenek terus."
Nenek Mira memeluk balik Bobon. Di pelukan itu, dia merasakan kehangatan yang luar biasa. Bobon mungkin bodoh, tapi hatinya murni. Tidak ada kebohongan, tidak ada kepalsuan.
Di luar rumah, langit mulai mendung. Angin berhembus kencang membawa aroma tanah dan rumput. Hujan akan segera turun.
Nenek Mira melepaskan pelukannya dan melihat ke luar jendela. Awan gelap mulai mengumpul di atas Gunung Berbunga. Ada sesuatu di udara, sesuatu yang terasa tidak biasa. Nenek Mira tidak tahu bahwa di kejauhan, di balik gunung yang jauh, sekelompok pengemis berjubah lusuh sedang menatap ke arah desanya. Salah satu dari mereka tersenyum tipis dan berkata, "Segelnya mulai retak. Burung itu akan segera terbang."
Bobon tidak tahu apa-apa. Dia kembali ke makanannya dan menikmati setiap suapan dengan senang hati. Di matanya yang polos, tidak ada kegelapan. Tidak ada kenangan masa lalu. Yang ada hanya tahu, Nenek Mira, dan perut laparnya.
Tapi di suatu tempat di kedalaman pikirannya yang tersegel, ada suara samar yang berbisik.
"Kau akan ingat, Bobon. Kau akan ingat semuanya. Dan kau akan menangis."
Bobon berhenti makan sejenak. Dia mengerutkan kening dan melihat sekeliling ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya Nenek Mira yang sedang membersihkan meja.
"Ada suara aneh," gumam Bobon pelan. "Tapi mungkin aku hanya lapar."
Dia melanjutkan makannya. Di luar, hujan mulai turun. Tetesan air membasahi tanah kering dan menciptakan aroma yang menenangkan. Bobon duduk di kursinya, menikmati setiap suapan, dan tersenyum seperti biasa. Dia tidak tahu bahwa hidupnya akan segera berubah. Dia tidak tahu bahwa dunia persilatan sedang bergerak dan mencarinya.
Yang Bobon tahu hanyalah bahwa dia masih lapar.
Nenek Mira berdiri di depan jendela, menatap hujan yang semakin deras. Dia menggenggam kalung di lehernya, kalung tua dengan ukiran berbentuk burung yang sedang terbang. Matanya tajam dan penuh keraguan.
"Kekuatan itu mulai terbangun," bisik Nenek Mira. "Berikan aku waktu yang cukup, Tuhan. Biarkan dia menikmati kedamaian ini lebih lama. Biarkan dia tetap menjadi Bobon sebelum dia harus menjadi seseorang yang lain."
Hujan semakin deras. Petir menyambar di kejauhan. Bobon tertidur di kursinya setelah makan, dengan mulut setengah terbuka dan senyuman di bibirnya. Nenek Mira menutupnya dengan selimut dan mencium keningnya.
Dan di dahi Bobon, tepat di antara kedua alisnya, sebuah pola samar mulai terlihat. Pola berbentuk lingkaran dengan tujuh garis. Tiga dari garis-garis itu tampak retak.
Malam tiba dan desa menjadi sunyi. Hujan terus mengguyur. Di tengah kegelapan, sepasang mata mengintip dari balik semak di luar rumah mereka. Pengemis tua itu masih di sana, menatap rumah kayu sederhana dengan tatapan penuh arti.
"Kau adalah harapan terakhir, Pendekar Dewata," bisik pengemis itu. "Atau kau adalah kehancuran. Aku datang untuk memastikan. Tapi sepertinya... waktumu belum tiba."
Pengemis itu pergi menghilang dalam hujan. Esok harinya, Bobon akan bangun seperti biasa, makan seperti biasa, dan menjual tahu seperti biasa. Dia tidak akan pernah tahu bahwa dunia persilatan sudah mulai bergerak karena dirinya.
Tapi di suatu tempat di perutnya, ada sedikit rasa aneh. Rasa lapar yang tidak biasa. Bukan lapar makanan, tapi lapar akan sesuatu yang hilang. Sesuatu yang lupa.
Bobon menggeliat dalam tidurnya dan berkata, "Tahu... aku mau tahu..."
Dia tersenyum dalam tidurnya. Itu adalah senyuman terakhir Bobon sebelum mimpinya berubah menjadi mimpi buruk tentang pria berjubah putih yang berlumuran darah. Tapi Bobon tidak akan ingat mimpi itu. Seperti biasa, Bobon tidak ingat apa pun.
Besok adalah hari baru. Dan hari baru itu akan membawa pertemuan yang akan mengubah segalanya.
Ilustrasi