Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pai Anggur
Marco's POV
Hari ini hari Sabtu. Kantor libur karena memberlakukan sistem lima hari kerja. Namun, aku sudah bangun sejak pagi-pagi sekali. Mungkin karena kebiasaan.
Begitu selesai mandi dan berpakaian rapi, aku berencana untuk minum kopi di kafe lantai dasar apartemen, tapi sebelumnya aku menyempatkan untuk menelepon kekasih hatiku.
“Pagi, Sayang! Kamu sudah bangun?”
“Udah, dong! Aku udah mandi, udah sarapan juga. Sekarang lagi mau bantuin Mama buat kue.”
Anetta begitu bersemangat menjawab. Mungkin dia tidak ingin aku meledeknya lagi seperti tempo hari, ketika aku datang ke rumahnya dan menemukan dirinya belum bangun tidur.
Aku tertawa mendengarkan jawaban antusiasnya itu. Lalu, tiba-tiba Anetta mengaktifkan mode panggilan video. Aku pun mengaktifkan kamera depan hape dan menjawab panggilan videonya.
“Kamu mau ke mana? Kok, rapi banget?” tanyanya begitu panggilan video kuaktifkan.
“Rapi?” Refleks aku langsung mengamati penampilanku sendiri. Aku hanya memakai setelan kaus berkerah dan celana denim. Biasanya kalau sedang santai juga aku mengenakan setelan seperti ini.
“Iya, kok, pagi-pagi udah rapi aja. Mau ke mana?” tanyanya lagi.
“Aku cuma mau sarapan di kafe bawah.”
“Sendiri?” tanyanya lagi. Kali ini membuat aku sedikit mengernyit.
“Iya, sendiri, Sayang. Kamu curiga aku janjian dengan perempuan lain?” godaku.
Anetta terkekeh di seberang sana. “Cuma tanya …” jawabnya. “Sayang …” panggilnya kemudian.
“Ya?”
“Kamu enggak usah minum kopi dulu, deh.” Ini kenapa tumben sekali Anetta pakai acara melarang-larang aku minum kopi segala? Namun, dia yang sepertinya tahu isi pikiranku, melanjutkan kalimatnya. “Kamu mau asam lambungnya kumat lagi?”
Ah, ya! Asam lambung. Untung saja Anetta segera mengingatkanku mengenai itu. Agak sulit bagiku yang terbiasa menikmati kopi hitam di pagi hari untuk menghindarinya.
“Oke, oke. Aku tidak jadi minum kopi,” Akhirnya aku memilih menyerah saja. “Aku boleh ke rumah kamu? Mau bantuin kamu sama Mama buat kue,” kataku.
“Kamu mau ke sini?” tanyanya dengan mata berbinar. Duh, kalau saja tidak terhalang layar hape, kupastikan sudah kucubit gemas pipinya itu.
“Boleh tidak?” desakku.
“Ya pasti boleh, Sayang! Aku tunggu, ya? Kamu hati-hati di jalan,” katanya sebelum akhirnya kujawab dengan anggukan tak kalah antusias juga.
Aku mematikan hape dan dengan segera menyambar kunci mobil dari atas meja. Tidak sabar untuk bertemu dengan gadisku.
~
Anetta menyambutku dengan penuh semangat ketika aku sampai di rumahnya. Kemudian dia menuntunku langsung ke dapur. Di sana, sudah ada mamanya yang sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue.
“Hai, Tante!” sapaku begitu masuk ke dapur.
“Hai, Nak Marco! Gimana kabar kamu, sehat?” seru mama Anetta.
“Sehat, Tante,” jawabku. Lalu aku balik bertanya pada beliau. “Tante bagaimana?”
“Seperti yang kamu lihat.” Beliau kini memutar badan perlahan. “Tante sehat dan masih bersemangat untuk membuat kue hari ini!”
Aku tersenyum melihat keceriaan mama Anetta.
“Nak Marco suka pai?” Aku mengangguk. “Kalau gitu, bantuin Tante sama Netta, ya?”
“Baik, Tante!”
Lalu dengan sigap aku menghambur untuk bergabung bersama mereka, berkutat dengan tepung dan mentega serta teman-temannya, mempersiapkan adonan kulit, serta krim isian pai. Aku belum mendapat ide, pai seperti apa yang akan kami buat hari ini.
“Netta, ambilkan anggur di kulkas, Sayang!” seru mama Anetta pada anak gadisnya yang baru saja selesai mencampur beberapa jenis krim untuk isian pai.
Anetta segera melangkah ke arah kulkas dan mengambil satu keranjang anggur merah dari sana. Lalu dia mampir ke bak pencuci piring untuk membersihkan anggur-anggur tersebut. Setelah selesai, dia membawa anggur-anggur tersebut ke meja makan dan memotongnya tipis-tipis.
Anetta memasukkan anggur yang telah menjadi irisan tipis itu ke dalam krim kocok yang telah disiapkan sebelumnya. Setelah buah dan krimnya menyatu, dia kemudian menuangkan krim tersebut ke atas adonan kulit pai yang telah dibentuk di dalam loyang aluminium berukuran sedang.
Mama Anetta memasukkan loyang yang telah berisi ke dalam oven. Lalu, sambil menunggu painya matang, kami mengobrol.
“Omong-omong, Om ke mana, Tante?” Aku bertanya sambil menyesap teh chamomile yang diseduh oleh Anetta.
Menurutnya, teh dengan kandungan tanaman bunga kamomil itu dapat membantu mencegah terjadinya asam lambung. Mengingat kemarin aku hampir semaput akibat naiknya asam lambungku, jadilah Anetta tidak mengizinkan aku untuk minum kopi hitam seperti biasanya.
“Om sedang dinas ke luar kota selama seminggu. Dua hari lalu berangkat,” jelas mama Anetta. Beliau sesekali mengintip proses pemanggangan painya melalui pintu kaca oven.
“Oh, pantas tidak kelihatan dari pagi …” gumamku.
Ting!
Suara oven berbunyi, menandakan proses pemanggangan telah selesai. Aroma harum khas adonan yang dipanggang menguar ke seluruh ruangan.
Mama Anetta meletakkan pai yang masih panas itu di atas meja makan yang telah dialasi sehelai serbet. Pai yang masih mengepul itu sangat menggoda untuk dicicipi.
“Kita harus tunggu sebentar lagi sampai painya dingin. Kalau masih panas gini kita potong, kulit painya akan retak. Jadi biar dia set dulu,” jelas mama Anetta.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit dan dirasa cukup untuk kulit painya set, Anetta mengambil pisau besar khusus untuk memotong pai tersebut. Dia mengambil satu potongan pai dan menaruhnya di atas piring, lalu menyodorkannya ke hadapanku.
Aku memotong ujung pai dengan garpu kecil, mengambil sedikit krim yang berisi irisan anggur, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Rasanya manis sekali!
“Enak, ya?” tanya Anetta.
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Enak!" seruku girang. Lalu, aku berpaling pada mama Anetta. "Painya enak sekali, Tante!” pujiku lagi.
Tiba-tiba saja, Anetta berkacak pinggang di sebelahku, kemudian bersuara. “Kok, cuma Mama yang dipuji? Aku, kan, juga bantu …” gerutunya.
Aku tergelak, tidak tahan melihat ekspresi galak yang dibuat-buat Anetta. Dia merajuk karena aku hanya memuji mamanya, padahal aku memang sengaja ingin menggodanya.
“Kamu cuma ngaduk krim sama anggur gitu, kok!” seru mama Anetta sambil mencibir.
“Ya, kalau takaran krim sama anggurnya enggak pas juga enggak bakalan enak, Ma!” cibir gadis yang sedang mengambek itu.
Tawaku masih belum reda. Namun, setelah sesaat kemudian berhasil menguasai diri, aku membujuk kekasihku yang sudah mengerucutkan bibir itu.
“Aku cuma bercanda, Sayang. Pai ini enak kok, adonan kulit buatan Tante dan krim yang kamu buat juga enak. Semuanya berpadu dengan pas di mulut," ujarku.
Aku mengusap pundak Anetta dengan sayang, berusaha meredakan kekesalannya—yang aku tahu itu hanya dibuat-buat saja.
“Kamu ikhlas, enggak, mujinya?” Bibirnya masih mengerucut.
“Ikhlas …” Lalu aku memotong lagi pai anggur itu, lalu menyodorkannya ke depan wajah Anetta. “Sini, aku suap. Kamu harus coba sendiri, pai buatan KAMU dan MAMA KAMU yang enak ini.” Aku memberikan penekanan saat mengucapkan kata ‘kamu’ dan ‘mama kamu’, masih menggoda Anetta.
Keningnya masih berkerut, tapi tetap membuka mulutnya untuk menerima suapan pai yang kuberikan.
“Enak, kan?” tanyaku.
“Heemmpph,” gumam Anetta. Tidak jelas terdengar, karena mulutnya masih sibuk mengunyah.
“Iyalah, enak. Sendoknya bekas aku!” seruku, yang dibalas dengan tinjuan halus di lenganku. Dari siapa lagi, kalau bukan gadisku yang sekarang sedang melotot ini.
“Mama tinggal, deh! Enggak mau ganggu anak muda lagi mesra-mesraan.”
Mama Anetta tersenyum simpul sambil berlalu dari dapur. Anetta memberikanku cubitan bertubi-tubi di lengan dan perutku. Bukannya kesakitan, aku malah merasa geli karena perut merupakan area sensitif buatku. Sedikit saja sentuhan di sana, akan membuat bulu romaku berdiri.
“Malu, ih, sama Mama. Kamu, tuh!” cerocos Anetta sambil terus mencubitku.
“Tidak apa-apalah, Sayang. Mama kamu pasti mengerti, kok!”
Saat Anetta bersiap mendaratkan sebuah cubitan lagi, aku menangkap tangannya dan menarik tubuhnya hingga terduduk di pangkuanku. Jarak kami sangat dekat saat ini, membuat aku bisa melihat semburat halus di wajah Anetta dengan jelas.
Sesaat kemudian, aku mengecup pipinya singkat. Wajahnya semakin merona, lalu berusaha bangkit dari pangkuanku. Dia menarik sebuah kursi dan mendekatkannya ke arahku.
Dia menyendok pai anggur lagi, lalu sebelum menyuapkannya ke mulutnya sendiri, dia mengomel. “Kamu enggak lihat-lihat tempat, deh ....”
“Jangan ngambek, dong, Sayang.” Aku menyelipkan anak rambut yang berserakan di sekitar kening Anetta ke belakang telinganya. “Nanti malam aku mau ajak kamu makan malam berdua. Mau, ya?”
Seketika Anetta menoleh, lalu seperti menimbang-nimbang. Hingga akhirnya menjawab, “Oke.”
“Aku jemput jam tujuh, ya.” Anetta mengangguk. “Kalau gitu, aku pamit dulu, ya. Sampai ketemu nanti, Sayang.”
Aku mengecup pipi Anetta sebelum bangkit dari dudukku, lalu kami bersama-sama ke teras, menyusul mamanya yang sedang mengurusi tanaman hiasnya.
“Saya pamit, ya, Tante. Nanti malam mau izin bawa Anetta keluar.”
“Iya, Nak Marco. Hati-hati di jalan, ya.”
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍