Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Khawatir
Celine memijat pelipisnya, ia tersenyum manis. Berusaha tetap tegar, walau dadanya bergemuruh. Ekor matanya menatap ke arah Ares yang sedang membaca buku di mejanya, tampak tidak terganggu dengan kondisi kelas yang mendadak ribut karena gerutuan Berlian.
"Kita ke UKS aja yuk, mana tahan kamu kalau di sini. Was-was aku!" seru Berlian menggenggam lengan Celine erat.
"Enggak usah," Celine berusaha melepaskan genggaman Berlian.
"Aku masih bisa tahan kok, cuman dingin aja. Malas banget nanti kalau harus ngulang kuis Bu Yanti. Tahu sendiri kan ibu itu gimana?" Celine tertawa pendek, berusaha dimengerti.
"Tapi keadaanmu jauh lebih mengkhawatirkan Celine."
"Aku kuat kok, udah minum obat juga kok. Mana tahu nanti waktu kuis, karena kerasnya otak mikir jadi lebih mendingan. Hehe," katanya nyengir. "Jangan khawatir, aku beneran udah ngerasa lebih fit dari pada tadi malam. Tinggal demamnya doang dikit."
"Oke," Akhirnya Berlian duduk di bangkunya, menatap cemas ke arah Celine. "tapi nanti kalau ada apa-apa langsung bilang, jangan sampe tumbang duluan."
Celine menanggapi dengan jempol yang diacungkan.
Keras kepala banget, pikir Ares dari seberang. Dia menutup bukunya lantas mengalihkan pandangan ke arah Celine. Tepat saat itu guru masuk ke dalam kelas, menyapa seluruh murid dengan lembaran soal yang langsung dibagikan.
"Udah tahu kan peraturannya?" tanya Bu Yanti. "Jangan ada yang coba-coba buat nyontek atau bersuara, awas aja ketahuan. Nilai kalian gak bakal ibu selamatkan. Jawab dengan jujur, sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki. Gak ada gunanya bohongin diri sendiri."
Gambaran jantung di lembaran soal membuat Celine pusing tujuh keliling. Dia menopang kepalanya dengan dahi mengerut. "Apa sih ini, malah nambah pusing ternyata," kata Celine. Biologi memang tak pernah menyenangkan di bayangannya.
Ada sepuluh soal, Celine mengerahkan seluruh pikirannya untuk menjawab semampunya. Kelas begitu sangat sunyi, hanya terdengar langkah kaki Bu Yanti yang berjalan mengelilingi barisan, memeriksa adakah kecurangan kecil yang diperbuat oleh muridnya.
"Wajahmu pucat sekali Celine, apa kamu sedang kurang sehat?" tanya Bu Yanti, ia membenarkan kacamatanya begitu berhenti di meja Celine.
"Hanya panas dikit Bu,"
"Masih sanggup?"
Celine tersenyum, ia mengangguk lalu menjawab dengan sopan, "Masih Bu."
Bu Yanti kembali melanjutkan langkah.
Satu jam telah berlalu, Celine meletakkan pulpennya begitu guru mengerahkan seluruh murid untuk berhenti menulis. Hela napas lega terdengar dari mulutnya, soal terakhir telah berhasil dia jawab. Benar atau salah, ia serahkan pada yang maha kuasa.
"Baik anak-anak, sekarang kumpulkan lembaran soalnya. Setelahnya duduk masing-masing dengan tenang di bangku. Jangan ada yang keluar!" titah Bu Yanti.
Celine menitip kertasnya pada Berlian, rasanya tidak sanggup untuk berdiri lagi karena kepalanya terasa berat. Ia mengulum bibir bawahnya, pagi ini memang terasa jauh lebih dingin. Kepalanya berdenyut nyeri, matanya memanas dan detik berikutnya ia menjatuhkan wajahnya di meja.
Salah seorang siswi menjerit, "Celine!"
Jantung Ares berdetak dua kali lebih cepat, tanpa aba-aba kakinya melangkah maju. Menerobos kerumunan yang mengelilingi meja Celine. Berlian mencoba membangunkan perempuan itu, tidak ada reaksi.
"Minggir!" kata Ares, ia menggendong tubuh Celine atas perintah Bu Yanti.
"Cepat-cepat bawa ke UKS! Aduh, jangan dikerumuni, beri jalan. Balik ke bangku masing-masing, semuanya! Biar Ares saja yang mengantar." kata Bu Yanti tegas, bahkan Berlian yang hendak menghampiri ke UKS juga tak dibiarkan pergi.
Ares menyelimuti tubuh Celine yang bergeser tidak nyaman. Ia duduk di salah satu bangku, menarik kedua tangan Celine untuk digenggam. Sangat dingin. "Bodoh banget," katanya. "sebenarnya apa yang ada di otakmu itu."
Dia mengambil waslap yang sudah dicelupkan ke baskom air dingin. Memerasnya kemudian meletakkannya di dahi Celine. Melakukannya berulang kali, sampai Ares merasa Celine sudah jauh lebih baik. Raut wajahnya sudah membaik.
Ia menyimpan waslap dan memandang Celine, Ares hendak pergi sebentar, tetapi tangannya sudah terlebih dahulu digenggam oleh Celine yang masih menutup mata.
"Jangan pergi, jangan tinggalin aku!"
"Aku pergi sebentar beli makanan,"
Celine membuka mata, tampak sendu. Sepertinya kesadarannya belum benar-benar kembali ketika memohon pada Ares, "Di sini aja, jangan sama cewek itu."
Ares tercengang, hidung perempuan itu tampak memerah seolah menahan isak tangis. "Gak bisa kah kamu bilang suka aku aja? Kenapa harus Jasmine!" serunya dengan tarikan napas tersenggal.
Laki-laki itu berdecak kesal, tidak menanggapi ocehan Celine. Ia mengelus pundak Celine, membenarkan rambutnya. "Tidur lagi gih, jangan banyak pikiran. Aku di sini, gak ke mana-mana," ujarnya. "Kamu jangan takut untuk sesuatu hal yang tidak berarti."
Di balik tirai yang menutup akses dari luar, seseorang berhenti dengan rasa kesal yang menghujam pikirannya. Dia mengepalkan tangan, perkataan Ares pagi tadi terngiang jelas dalam pikirannya. Berulang bak kaset rusak yang tidak dapat dimatikan.
Rasa suka itu terucap langsung dari mulut Celine, membuktikan bahwa Gabriel sudah kalah sejak awal.
"Kurang ajar banget sial, nyuri start mulu," Ia berbalik pergi. "Apa yang dilihat Celine dari pria ini sih?"
***
Celine membuka matanya perlahan, kepalanya sudah jauh lebih ringan dari yang dia rasakan terakhir kali. Ia menarik napas panjang, menahannya beberapa detik kemudian menghembuskannya perlahan. Senyum simpul terpatri di wajahnya. Seperti ada sesuatu yang membuat beban di pundaknya berkurang.
"Bagaimana perasaanmu, sudah jauh lebih baik?" Ares menyibak tirai pembatas, ia membawa nampan makanan di tangannya. Sebuah roti tawar dan potongan buah yang dibentuk rapi. Terlalu monoton di mata Celine dan tidak menggugah selera.
"Kamu tidur cukup lama ya, sampai pukul setengah tiga. Banyak sekali jam pelajaran yang kamu lewatkan, sekarang makan dulu biar ada tenaga untuk kuis berikutnya," katanya dengan nada menyindir. Celine tertawa pendek, mengulum bibirnya dengan mata yang bergerak liar ke kanan dan ke kiri. Tidak sanggup berpikir, kenapa Ares berada di UKS, bersamanya.
"A–Aku,"
"Makan aja!" potong Ares tidak mau ditolak.
Celine juga tidak berniat menolak, kesempatan disodori makanan oleh orang yang dia suka tidak akan dilewatkan. Ia menerima nampan itu dengan bibir bergetar malu, mengambil roti tawar dan menggigitnya.
"Ini enak," ujarnya bohong, roti ini tidak memiliki rasa. Dia meraih segelas susu putih dan meneguknya.
"Maaf merepotkan."
Ares menggeleng, ia duduk di bangku. Memperhatikan Celine yang makan terlampau hati-hati, seolah kesalahan kecil saja akan membuat Ares memutar badannya, berlalu pergi meninggalkannya seorang diri.
"Kamu yang membawaku ke sini?"
"Siapa lagi?" Ares balik bertanya.
"Makasih," kata Celine tulus.
Ares berdehem singkat, ia bangkit berdiri dan menatap Celine dari atas ke bawah. Seolah menilai. "Kamu di sini saja, aku akan memberitahu guru mata pelajaran selanjutnya. Kalau enggak, hubungi saja orang tuamu untuk menjemput. Kurasa kamu butuh istirahat lebih banyak." ujarnya.
Celine mengangguk saja, rona samar tersampir di pipinya. Dia peduli padaku? pikirnya.
Salut banget sih author lucu gemes