NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Bu Laras Datang ke Kantor

Lantai eksekutif Wijaya Group tidak pernah seramai pagi itu.

Sejak pukul sembilan, Dita sudah berlari kecil dari meja ke pantry, dari pantry ke ruang meeting, lalu kembali ke meja Ratna.

"Bu Ratna, Bu Laras benar-benar datang?"

Ratna memeriksa daftar tamu gala amal.

"Katanya begitu."

"Dengan kursi roda?"

"Kalau beliau mau. Tapi kemungkinan besar beliau menolak."

Dita menahan tawa.

"Aku takut salah menyapa."

"Sapa saja dengan sopan. Kalau beliau meledek, jangan dimasukkan hati."

Rendi yang lewat membawa map langsung menyahut, "Kalau diledek Bu Laras, berarti diterima keluarga."

Ratna mengangkat alis.

"Mas Rendi berpengalaman?"

"Tidak, Bu. Saya hanya mengamati dari jauh dan berusaha selamat."

Tawa kecil pecah.

Sejak Ratna bekerja di sana, suasana meja sekretariat berubah sedikit. Bukan karena ia paling hebat. Ia masih sering bertanya cara memakai sistem, masih salah menekan printer, masih harus mencatat istilah kantor. Tapi ia membawa ketenangan yang aneh. Jika file hilang, ia mencari pola. Jika tamu datang marah, ia memberi air lebih dulu. Jika staf panik, ia bertanya satu per satu.

Namun tidak semua orang senang.

Di ujung pantry, dua staf dari divisi komunikasi berbisik.

"Katanya Bu Laras datang khusus untuk dia."

"Iya. Aku dengar dia calon istri Pak Arga."

"Umurnya berapa? Lima puluh?"

"Serius? Pak Arga kurang apa?"

Ratna mendengar. Ia sedang mengambil air panas.

Dulu ia akan pura-pura tidak dengar. Hari ini ia menutup termos, lalu menoleh.

"Pak Arga kurang waktu untuk mendengar gosip kalian. Jadi sebaiknya kalian kembali kerja sebelum beliau benar-benar kekurangan kesabaran."

Dua staf itu pucat.

"Maaf, Bu."

Ratna mengangguk dan kembali ke meja.

Di ruangannya, Arga melihat dari balik kaca. Hanif berdiri di sampingnya dengan tablet.

"Ratna semakin cepat menjawab," kata Hanif.

Arga tidak mengalihkan pandangan.

"Bagus."

"Pak, soal panggilan..."

Arga menoleh.

Hanif langsung memperbaiki kalimat, "Maksud saya, di kantor kami tetap memakai Bu Ratna, kan?"

"Di kantor, iya."

"Baik."

Hanif menunduk, tapi sudut bibirnya bergerak.

Arga pura-pura tidak melihat.

Pukul sepuluh lewat sedikit, lift khusus terbuka. Bu Laras keluar tanpa kursi roda, hanya memakai tongkat elegan dan didampingi perawat. Ia mengenakan kebaya modern hijau tua, rambut putihnya disanggul, wajahnya berseri seperti orang datang ke pesta.

Seluruh lantai berdiri.

"Selamat pagi, Bu Laras."

Bu Laras mengibaskan tangan.

"Pagi. Jangan tegang begitu. Aku belum jadi hantu perusahaan."

Beberapa staf tertawa canggung.

Ratna cepat mendekat.

"Bu, dokter mengizinkan jalan sejauh ini?"

"Dokter tidak perlu tahu semua hal."

"Bu Laras."

"Nah, mulai cerewet. Bagus."

Bu Laras menggandeng lengan Ratna seolah itu hal paling wajar di dunia.

Bisikan langsung bergerak seperti angin.

Arga keluar dari ruangannya.

"Mama."

"Apa? Aku datang melihat calon tempat perang Ratna."

"Tempat kerja, Ma."

"Sama saja."

Ratna berbisik, "Bu, semua orang melihat."

Bu Laras malah mengangkat suara.

"Bagus. Biar mereka lihat. Ini Ratna, orang yang merawatku lebih teliti daripada anakku sendiri. Kalau ada yang meremehkan dia karena usia, silakan bicara padaku. Aku juga tua, tapi masih bisa membuat orang kehilangan pekerjaan kalau perlu."

Lantai itu mendadak sunyi.

Ratna hampir menutup wajah.

"Bu..."

Arga mengusap pangkal hidung.

"Mama."

Bu Laras tersenyum puas.

"Apa? Aku hanya memberi pengumuman kesehatan lingkungan kerja."

Dita menunduk menahan tawa. Rendi pura-pura batuk.

Bu Laras lalu melihat meja Ratna.

"Rapi. Tapi kursinya kurang nyaman. Arga, ganti kursinya."

"Ma, semua kursi sama."

"Punggung Ratna tidak sama dengan anak umur dua puluh lima. Ganti."

Ratna cepat berkata, "Tidak perlu, Bu. Kursinya nyaman."

Bu Laras menatapnya.

"Kamu ini masih suka menolak hal baik."

Ratna diam.

Arga berkata pada Hanif, "Ganti kursi ergonomis untuk meja Bu Ratna. Dan cek meja staf lain yang butuh."

Bu Laras tersenyum menang.

"Nah. Kalau begini baru anakku."

Peristiwa kecil itu cukup membuat gosip berubah arah. Menjelang makan siang, orang-orang tidak lagi bertanya kenapa Ratna bisa masuk. Mereka bertanya hubungan Ratna dengan Bu Laras sedekat apa.

Sore harinya, Arga memanggil Ratna ke ruangannya. Begitu pintu tertutup, Ratna menatapnya dengan wajah lelah.

"Arga, ibumu hampir membuatku ingin bersembunyi di bawah meja."

Arga terdiam sebentar mendengar namanya tanpa "Pak". Lalu ia berkata, "Aku sudah memperingatkan Mama."

"Aku yakin beliau mendengarkan lalu melakukan sebaliknya."

"Benar."

Ratna akhirnya tertawa kecil.

Arga menyodorkan segelas air.

"Kamu marah?"

"Tidak. Malu, iya. Tapi aku tahu beliau bermaksud melindungi."

"Cara Mama melindungi memang seperti pengeras suara masjid."

Ratna menahan tawa.

"Jangan bicara begitu tentang ibumu."

"Itu fakta."

Mereka saling tersenyum sebentar.

Lalu Arga menjadi lebih serius.

"Ratna, setelah hari ini, gosip mungkin makin besar."

"Aku tahu."

"Kalau kamu ingin menjaga jarak di kantor, aku bisa atur."

Ratna menatapnya. Dulu ia akan langsung memilih mundur agar tidak merepotkan. Tapi ia lelah mengecilkan diri demi kenyamanan orang lain.

"Tidak. Aku tidak melakukan kesalahan."

Arga mengangguk pelan.

"Baik."

"Tapi di kantor, tetap panggil aku Bu Ratna. Nanti Dita bisa pingsan kalau mendengar kamu memanggil namaku saja."

Sudut bibir Arga bergerak.

"Baik, Bu Ratna."

Ratna menunjuknya.

"Itu untuk di luar."

"Baik, Ratna."

Wajah Ratna panas, tapi ia tidak menunduk.

Di luar ruangan, Dita yang hendak mengetuk berhenti karena mendengar suara tawa kecil dari dalam.

Ia mundur pelan, membawa map kembali ke meja.

Rendi bertanya, "Kenapa?"

Dita berbisik, "Jangan ganggu. Sepertinya lantai ini akan punya cerita panjang."

Di ruang pantry, cerita itu memang mulai bergerak lebih cepat daripada lift kantor. Ada yang bilang Ratna akan menjadi komisaris baru. Ada yang bilang Arga hanya kasihan karena Ratna pernah merawat Bu Laras. Ada juga yang berbisik lebih pelan, mengira perempuan seusia Ratna tidak mungkin menarik hati pria seperti Arga tanpa alasan tersembunyi.

Hanif masuk saat dua staf sedang tertawa kecil.

"Kopi mesin rusak?" tanyanya datar.

Mereka langsung diam.

"Kalau tidak, kembali kerja. Gosip tidak masuk KPI."

Setelah mereka pergi, Hanif membuat kopi untuk dirinya sendiri dan menatap koridor yang menuju ruang Arga. Ia sudah lama bekerja dengan Arga. Ia tahu bosnya bukan laki-laki yang mudah digerakkan rasa kasihan. Arga bahkan sering terlalu dingin untuk urusan yang membutuhkan perasaan.

Justru karena itu Hanif paham, sikap Arga kepada Ratna bukan belas kasihan.

Di dalam ruangannya, Ratna membuka map kerja dan memaksa diri membaca angka. Ia mendengar bisik-bisik itu. Tentu saja. Perempuan yang bertahun-tahun hidup di rumah Hendra tahu cara mendengar hinaan yang disembunyikan di balik suara rendah.

Namun hari itu ia tidak pergi.

Ia membalik halaman berikutnya dan mulai mencatat.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!