NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Daren datang dua hari kemudian.

Ia tidak membawa Ratna.

Itu sudah cukup menunjukkan bahwa kunjungannya bukan sekadar menjenguk adik sakit.

Ia datang pukul empat sore, setelah jam kantor, memakai kemeja biru tua dan jam tangan mahal yang sengaja tidak terlalu mencolok. Daren Pradipta selalu pandai tampil sebagai lelaki waras di tengah keluarga rumit. Tidak terlalu sombong, tidak terlalu rendah hati. Cukup hangat untuk disukai, cukup dingin untuk ditakuti bawahannya.

Alya menyambutnya di ruang tamu.

Bukan Arga.

Daren melihat itu dan tersenyum.

"Alya. Atau sekarang saya harus memanggilmu Nyonya Arga?"

"Alya cukup."

"Arga?"

"Istirahat."

"Aku ingin menemuinya."

"Nanti. Kalau dia ingin."

Daren tertawa pelan. "Kamu benar-benar mengambil alih."

"Aku hanya menjawab tamu."

"Aku kakaknya."

"Tamu keluarga tetap tamu kalau masuk rumah ini."

Senyum Daren tidak hilang, tetapi matanya berubah.

"Boleh duduk?"

"Silakan."

Mereka duduk berhadapan. Sari mengantar teh, lalu segera pergi setelah melihat isyarat Alya. Tidak ada Marni di ruang itu. Sejak aturan baru, Marni lebih sering berada di dapur atau gudang, seolah rumah yang dulu ia kuasai tiba-tiba penuh pintu terkunci.

Daren mengangkat cangkir. "Aku dengar hasil lab awal membuat Ayah marah."

"Kabar keluarga Pradipta cepat."

"Kami keluarga besar."

"Keluarga besar biasanya banyak telinga."

Daren tersenyum. "Dan kamu rupanya tidak takut telinga."

"Tergantung telinganya tersambung ke siapa."

"Tajam sekali."

"Terima kasih."

Daren meletakkan cangkir. "Alya, aku datang bukan untuk bertengkar."

"Bagus."

"Aku ingin memahami situasi. Mama merasa disudutkan. Dokter Hamzah merasa reputasinya dirusak. Ayah marah. Arga tiba-tiba menolak semua sistem perawatan yang selama ini berjalan. Dan kamu, orang yang baru masuk, berada di tengah semuanya."

"Bukan di tengah. Di depan."

Daren diam sebentar.

"Kamu sadar ucapan seperti itu membuat orang gelisah?"

"Orang yang melakukan hal benar tidak perlu terlalu gelisah."

"Dunia tidak sesederhana itu."

"Memang. Karena itu kita pakai bukti."

Daren menatapnya lebih lama.

"Apa yang kamu inginkan?"

Alya hampir tersenyum.

Pertanyaan yang sama. Semua orang kuat selalu ingin cepat tahu harga seseorang.

"Arga sehat."

"Hanya itu?"

"Untuk sekarang."

"Kamu tidak tertarik pada posisi?"

"Posisi apa?"

"Istri putra pendiri Pradipta Group bisa meminta banyak hal."

"Aku sudah punya hal yang kubutuhkan."

"Apa?"

"Akses."

Daren menegang sedikit.

Alya melihat.

"Tenang," katanya. "Aku belum meminta saham."

Daren tertawa lagi, tetapi kali ini suaranya tidak sehangat tadi. "Kamu bercanda seolah itu lucu."

"Aku tidak bercanda."

Hening turun.

Daren mencondongkan tubuh. "Alya, kamu pintar. Aku akui itu. Tapi Pradipta Group bukan rumah Wiratama. Di sini, setiap langkah punya akibat."

"Aku mengandalkan itu."

"Maksudmu?"

"Kalau langkahku tidak punya akibat, aku buang-buang waktu."

Daren menatapnya tanpa senyum.

Pintu ruang tamu terbuka.

Arga masuk dengan tongkat.

Alya langsung berdiri setengah langkah, lalu berhenti. Ia tidak mendekat karena Arga tidak meminta bantuan. Arga melihat gerakan kecil itu. Matanya melunak sesaat, lalu kembali datar saat menatap Daren.

"Kak."

Daren berdiri. "Arga. Kamu terlihat lebih baik."

"Semua orang mengatakan itu seolah kecewa."

"Jangan begitu. Aku senang."

"Aku tahu."

Arga duduk di kursi samping Alya, bukan di hadapan Daren. Pilihan tempat duduk itu kecil, tetapi jelas.

Daren melihatnya.

"Aku datang karena khawatir."

"Khawatir pada kesehatanku atau pada Mama Ratna?"

"Dua-duanya. Kamu tahu Mama keras kepala, tapi dia merawatmu lama."

"Aku juga tahu aku diberi obat tanpa catatan lama."

"Itu sedang diperiksa."

"Maka tunggu hasilnya sebelum membela."

Daren menarik napas. "Arga, jangan biarkan kemarahan membuatmu lupa hubungan keluarga."

Arga tertawa pendek. "Keluarga?"

Alya meliriknya. Napas Arga mulai lebih cepat.

Ia berkata pelan, "Arga."

Arga berhenti.

Satu kata dari Alya cukup membuatnya menahan diri.

Daren melihat itu.

Matanya bergerak dari Arga ke Alya.

"Menarik."

Alya menatapnya. "Apa?"

"Arga mendengarkanmu."

"Pasien sering mendengarkan orang yang tidak meracuninya."

Arga batuk kecil karena hampir tertawa.

Daren menahan ekspresi.

"Alya, aku ingin bicara empat mata dengan adikku."

"Tidak."

"Kamu menjawab untuknya?"

Arga berkata, "Dia menjawab sama seperti jawabanku."

Daren menatap Arga. "Kamu berubah."

"Aku berhenti minum obat."

"Kamu juga mulai mempermalukan Mama."

"Mama mempermalukan dirinya sendiri."

Suara Arga tenang, tetapi Alya melihat jarinya mencengkeram tongkat.

Daren berkata, "Hati-hati. Ayah mungkin sedang marah, tapi kalau kamu terus membuat rumah ini berantakan, dia juga bisa lelah."

"Itu ancaman?"

"Peringatan."

Alya mengambil map tipis dari meja dan meletakkannya di depan Daren.

"Kalau begitu saya juga punya peringatan."

Daren tidak menyentuh map itu. "Apa ini?"

"Daftar tanggal ketika Arga dijadwalkan hadir di rapat keluarga atau pembahasan perusahaan, lalu pada malam sebelumnya dosis obat cair dinaikkan."

Wajah Daren tidak berubah.

Terlalu tidak berubah.

"Kamu mendapatkan ini dari mana?"

"Sumber."

"Sumber ilegal?"

"Kalau Anda ingin membahas legalitas, kita bisa undang pengacara."

Daren akhirnya membuka map.

Matanya membaca cepat.

"Ini tidak membuktikan apa pun."

"Belum."

"Korelasi bukan sebab-akibat."

"Betul. Karena itu saya mengumpulkan bukti pembayaran, catatan dokter, dan rekaman."

Daren menutup map.

"Kamu tidak tahu apa yang kamu masuki."

"Saya tahu lebih banyak daripada yang Anda harapkan."

Daren menatap Arga. "Kamu membiarkan istrimu menyerang keluarga sendiri?"

Arga menjawab, "Aku membiarkan istriku mencari tahu kenapa aku dibuat tidak berguna."

"Tidak ada yang membuatmu tidak berguna."

"Kamu yakin?"

Daren diam.

Alya menyela sebelum emosi Arga naik. "Mas Daren, kalau Anda datang untuk berdamai, caranya mudah. Dukung pemeriksaan independen. Minta Dokter Hamzah menyerahkan catatan lengkap. Minta Bu Ratna berhenti menghubungi staf rumah ini. Setelah hasil keluar, kita bicara lagi."

"Dan kalau aku tidak mau?"

"Maka Anda terlihat seperti orang yang takut hasilnya keluar."

Wajah Daren mengeras.

Untuk pertama kalinya sore itu, topeng hangatnya retak.

"Kamu sangat percaya diri."

"Tidak. Saya hanya punya posisi yang jelas."

"Sebagai istri Arga?"

"Sebagai orang yang memegang bukti awal."

Daren berdiri.

"Aku harap kamu tidak menyesal."

Arga menatapnya. "Kak."

Daren berhenti.

"Lain kali kalau datang, jangan membawa kekhawatiran palsu. Aku terlalu lelah untuk mendengarnya."

Daren pergi tanpa menjawab.

Setelah pintu tertutup, Arga langsung bersandar dan memejamkan mata. Napasnya berat.

Alya mengambil air. "Kamu terlalu banyak bicara."

"Dia kakakku."

"Justru karena itu emosimu naik."

"Dia tahu."

"Tahu apa?"

"Tentang obat. Mungkin bukan semua. Tapi dia tahu aku dibuat tidak hadir setiap kali perlu."

Alya duduk di sampingnya. "Kita akan buktikan."

Arga membuka mata.

"Kamu sengaja menunjukkan map itu?"

"Iya."

"Kenapa? Bukankah seharusnya disimpan?"

"Aku ingin lihat reaksinya."

"Dan?"

"Dia tidak terkejut pada isi. Dia hanya bertanya sumber."

Arga tertawa tanpa senang. "Kakakku memang efisien."

"Kamu baik-baik saja?"

"Tidak."

Jawaban itu jujur.

Alya diam.

Arga menatap langit-langit. "Dulu aku berharap dia setidaknya tidak ikut."

"Sekarang?"

"Sekarang aku berharap dia cukup pintar untuk menyelamatkan diri sebelum aku benar-benar bisa berdiri."

Alya melihat api itu lagi.

Lebih besar daripada kemarin.

"Kalimatmu makin sehat," katanya.

Arga menoleh.

"Itu pujian?"

"Anggap saja."

"Kamu pelit sekali."

"Kamu pasien yang cerewet."

Arga tersenyum lelah.

Di luar rumah, mobil Daren pergi meninggalkan halaman.

Di dalam, Alya mengambil map lain.

"Sekarang kita lanjut."

Arga mengerang pelan. "Kamu tidak punya belas kasihan?"

"Punya. Karena itu aku hanya memberimu dua puluh halaman malam ini."

"Alya."

"Ya?"

"Kalau aku selamat dari keluargaku, mungkin aku mati karena istriku."

Alya berdiri.

"Setidaknya penyebabnya jelas."

Arga tertawa.

Dan kali ini, tawa itu tidak berubah menjadi batuk.

Di luar pintu, Lilis yang hendak masuk membawa obat berhenti sebentar. Ia mendengar tawa itu, lalu menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca.

Selama tiga bulan bekerja di rumah ini, ia hanya pernah mendengar Arga mengerang, batuk, atau memberi jawaban pendek. Tawa itu membuat rumah besar yang dingin terasa seperti punya penghuni.

Alya melihat Lilis dari ekor mata, tetapi tidak menegurnya. Biarkan mereka mendengar. Rumah yang terlalu lama dikuasai ketakutan perlu suara baru untuk percaya bahwa sesuatu memang berubah.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!