NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 23: Sepiring Iga Bakar Pengubah Suasana

Sabtu malam yang penuh drama di dermaga tua itu akhirnya terkubur oleh malam, menyisakan ketenangan baru yang jauh lebih kokoh di kediaman Arthur.

Pagi hari Minggu datang dengan atmosfer yang berbeda.

Tidak ada lagi kecurigaan yang menggantung di udara; ketegangan yang biasa menyelimuti rumah ini luruh bersama pengakuan Adrian yang terang-terangan semalam.

 Sang profesor kaku itu kini benar-benar mulai memperhatikan setiap jengkal pergerakan Gisella dengan binar mata yang tak lagi dingin.

Gisella terbangun dengan tubuh yang jauh lebih rileks.

 Dia berkaca di depan cermin kamar nomor dua, mendapati pipinya merona tipis begitu mengingat ucapan Adrian semalam tentang

"utang dua lagu piano klasik".

"Fokus, Gisella. Hari ini adalah hari Minggu. Waktunya memberi sedikit penghargaan untuk rumah ini setelah badai kemarin,"

gumamnya sembari mengikat rambut cokelatnya menjadi sanggul acak yang kasual.

Dia melangkah turun ke dapur dengan rencana besar.

Sesuai dengan Poin Pertama mengenai Manajemen Nutrisi dan Kesehatan, Gisella tahu bahwa makanan sehat tidak melulu harus berupa sup sayuran bening yang membosankan.

Terkadang, kesehatan mental dan suasana hati juga membutuhkan "asupan kebahagiaan" dari hidangan yang kaya rasa, namun tetap diolah dengan perhitungan nutrisi yang cermat.

Hari ini, Gisella memutuskan untuk memasak menu yang sangat dia kuasai di duniaku yang dulu: Iga Bakar Madu Ketumbar dengan Sambal Tomat Panggang.

Sejak pukul sepuluh pagi, aroma harum yang luar biasa mulai menguar dari arah dapur, menyusup melalui celah-celah pintu kayu ek dan memenuhi seluruh koridor lantai bawah.

Itu adalah perpaduan aroma ketumbar yang disangrai, bawang putih panggang, manisnya madu hutan alami, dan semburat wangi jahe yang hangat.

Gisella dengan cekatan mengoleskan bumbu marinasi pada iga sapi pilihan yang sudah di presto hingga empuk.

Dia memastikan lemak berlebih pada daging telah dipangkas habis sebelum proses pemanggangan, sehingga hidangan ini tetap aman untuk tekanan darah Adrian.

"Sret."

Suara pintu geser dapur terbuka.

 Gisella menoleh sembari memegang kuas bumbu.

 Di ambang pintu, Valerie berdiri dengan hidung yang kembang kempis, menghirup aroma yang memenuhi ruangan.

Gadis muda itu mengenakan celana jins pendek dan kaus longgar, wajahnya tampak sangat kontras dengan ekspresi beringasnya saat menuduh Gisella di ruang makan dua hari lalu.

"Gisella..." panggil Valerie, suaranya terdengar agak ragu dan canggung. "Kau... kau masak apa? Aromanya sampai ke lantai dua."

Gisella tersenyum ramah, tidak membawa sisa-sisa perdebatan mereka kemarin.

 "Aku sedang membuat iga bakar madu ketumbar untuk makan siang, Valerie. Kau suka iga sapi?"

Valerie mengerjap.

Gengsinya sebagai nona muda keluarga Arthur sempat bergolak, namun perutnya yang keroncongan akibat aroma masakan itu mengkhianati harga dirinya.

Dia melangkah masuk ke dapur, mendekati konter.

"Aku... aku suka. Tapi biasanya Bibi Martha hanya membuatkannya dalam bentuk sup karena Kak Adrian tidak suka makanan yang terlalu berminyak atau dibakar sampai gosong."

"Jangan khawatir,"

Gisella mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka.

 "Iga bakar ini dipanggang dengan api kecil tanpa minyak kelapa, dan bagian luarnya di karamelisasi menggunakan madu hutan asli, bukan gula rafinasi. Ini sangat sehat dan dagingnya sangat empuk hingga bisa lepas dari tulangnya hanya dengan garpu."

Valerie menatap potongan iga yang mendesis di atas wajan pemanggang anti-lengket.

Air liurnya hampir menetes. Sikap defensifnya runtuh total.

"Boleh aku... membantumu menyiapkan piring?"

Gisella tertegun sejenak, lalu senyuman hangat merekah di wajahnya. Ini adalah kemajuan besar.

"Tentu saja, Valerie. Tolong ambil piring porselen hijau besar di lemari atas, dan bantu aku menata selada air di pinggirannya."

Tepat pukul dua belas siang, meja makan panjang kediaman Arthur telah dipenuhi oleh hidangan.

Nyonya Arthur duduk di kursinya dengan wajah berseri-seri, menatap sepiring besar iga bakar yang berkilau kecokelatan di tengah meja, ditemani mangkuk berisi sambal tomat yang tidak terlalu pedas dan semangkuk nasi merah organik yang pulen.

Adrian turun ke ruang makan beberapa menit kemudian.

 Pria itu melepaskan kacamata peraknya, mengusap pangkal hidungnya yang lelah setelah membaca jurnal ilmiah di ruang kerja sejak pagi.

 Namun, begitu matanya menangkap pemandangan di meja makan—terutama melihat Valerie yang sedang asyik mengobrol dan tertawa kecil bersama Gisella sambil menata sendok—langkah kaki sang profesor terhenti.

Ada rasa hangat yang mendadak memenuhi dada Adrian.

Pemandangan ini adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan dana riset jutaan dolar sekalipun. Rumahnya yang dulunya sunyi dan penuh kecurigaan, kini terasa begitu hidup.

"Adrian, duduklah, Nak. Gisella dan Valerie memasak hidangan yang luar biasa hari ini,"

puji Nyonya Arthur dengan suara keibuannya yang lembut.

Adrian mengambil tempat duduk di kepala meja.

 Tatapan matanya langsung terkunci pada Gisella yang hari ini tampak sangat segar dengan celemek linennya.

"Iga bakar? Apakah ini masuk dalam protokol Manajemen Nutrisi, Nyonya Arthur?"

tanya Adrian dengan nada rendah yang sarat akan godaan samar.

Gisella menggeser sepiring iga bakar porsi khusus ke hadapan Adrian.

 "Ini adalah iga bakar dengan kalkulasi nutrisi yang presisi, Profesor. Lemaknya sudah kubuang, dan manisnya berasal dari madu yang baik untuk stamina tubuhmu. Cobalah sebelum kau melayangkan protes ilmiah."

Adrian mengambil garpu dan pisaunya. Sesuai perkataan Gisella, begitu pisau itu menyentuh permukaan daging, serat-serat daging sapi itu terpisah dengan sangat mudah tanpa perlawanan.

Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, perpaduan rasa gurih rempah ketumbar dan manisnya madu meledak di lidahnya, disusul oleh tekstur daging yang begitu lembut dan lumer.

Adrian terdiam selama beberapa detik.

"Bagaimana, Kak? Enak, kan? Aku yang membantu menata seladanya!" sahut Valerie

dengan antusias, melupakan fakta bahwa dia biasanya sangat jaim di depan kakaknya.

Adrian mendongak, menatap Gisella yang sedang menanti reaksinya dengan binar mata penuh kemenangan.

"Secara organoleptik... hidangan ini memiliki keseimbangan tekstur dan rasa yang sempurna. Dagingnya mengalami pelunakan kolagen yang ideal. Ini adalah modifikasi kuliner yang sangat sukses, Gisella."

Gisella tertawa renyah, suara tawa yang kini menjadi melodi favorit Adrian di rumah ini.

"Terima kasih atas penilaian laboratorium lidahmu, Adrian. Sekarang, habiskanlah."

Makan siang hari itu berlalu dengan suasana yang sangat cair.

Sepiring iga bakar itu benar-benar menjadi pengubah suasana yang magis.

Valerie tidak lagi menjaga jarak dari Gisella;

gadis itu bahkan mulai meminta tips kepada Gisella tentang cara merawat kulit wajah agar tampak secerah kulit kakak iparnya.

 Nyonya Arthur terus tersenyum, merasakan beban di hatinya sebagai seorang ibu runtuh melihat keharmonisan anak-anaknya.

Sore harinya, pukul lima tepat.

Sesuai dengan janji malam sebelumnya dan Poin Keempat aturan mereka, Gisella sudah bersiap di depan piano hitam besar.

Buku partitur bersampul kulit hitam pemberian Adrian sudah terbuka.

 Hari ini, dia memilih memainkan lagu Waltz in C-sharp minor, Op. 64 No. 2 karya Chopin—sebuah melodi yang penuh dengan perubahan tempo yang dramatis namun terdengar sangat anggun.

Adrian melangkah masuk ke ruang tengah tepat saat nada pertama mengalun.

 Pria itu tidak lagi mengenakan pakaian kerja; dia memakai sweter rajut hitam longgar yang membuatnya tampak lebih kasual.

Dia berjalan perlahan, lalu duduk di ujung sofa kulit yang terletak hanya dua meter dari posisi piano.

Adrian menopang dagunya dengan tangan, matanya tidak lepas dari jemari lentik Gisella yang menari di atas tuts gading putih.

Di bawah cahaya lampu sore yang keemasan, dia memperhatikan bagaimana bros perak pemberiannya berkilau di dada Gisella, bergerak mengikuti helaan napas wanita itu saat menghayati melodi.

Lagu pertama selesai.

Tanpa jeda, Gisella mengalihkan halaman partiturnya dan mulai memainkan lagu kedua demi membayar "utang" atas keterlambatannya kemarin malam.

Melodi kali ini adalah Romance de Amour, sebuah lagu bernuansa spanyol yang lembut, melankolis, dan sarat akan perasaan mendalam.

Ruangan itu diselimuti oleh keindahan yang magis hingga nada terakhir memudar di udara malam.

Gisella menurunkan tangannya dari tuts piano, mengembuskan napas panjang, lalu menoleh menatap Adrian.

Dia terkejut saat mendapati pria itu sudah tidak lagi duduk di sofa.

Adrian sudah berdiri tepat di samping kursi pianonya, menatapnya dengan tatapan mata yang begitu pekat, begitu melelehkan.

"Dua lagu yang sangat indah, Gisella. Utangmu lunas dengan bunga yang melimpah,"

ucap Adrian, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, bergema di keheningan ruang tengah.

Gisella tersenyum tipis, bersiap untuk berdiri dari kursinya.

 "Kalau begitu, aku harus kembali ke kamar untuk—"

Namun, sebelum Gisella bisa beranjak, Adrian mengulurkan tangan kanannya, menahan bahu Gisella dengan lembut namun kokoh, memaksanya untuk tetap terduduk.

Pria itu kemudian berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer di samping kursi piano, membuat posisi wajah mereka kini berada dalam tingkat horizontal yang sejajar.

Jarak di antara mereka terkikis habis.

Gisella bisa merasakan kehangatan tubuh Adrian dan aroma mint segar yang menguar dari napas pria itu.

"Adrian... ada apa?"

 tanya Gisella, jantungnya kembali berkhianat, berdetak menggila di dalam rongga dadanya.

Adrian tidak langsung menjawab.

 Dia menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata cokelat jernih Gisella, lalu tangannya bergerak perlahan, menggenggam telapak tangan kanan Gisella yang berada di atas pangkuannya.

 Jemari panjang Adrian menyusup di antara jemari Gisella, mengunci genggaman mereka dengan erat.

"Mulai hari ini, aku menghapus draf perceraian itu dari pikiranku, Gisella," ucap

Adrian dengan nada suara yang sangat tegas, sebuah pernyataan mutlak yang tidak menerima bantahan dari hukum sains mana pun.

"Kau bilang kau adalah orang asing yang terjebak di tubuh ini, dan kau berniat pergi dalam tiga minggu. Tapi aku tidak peduli. Sepiring iga bakar di meja makan tadi, tawa Valerie, dan dua lagu piano yang kau mainkan barusan... semuanya membuktikan bahwa tempatmu adalah di sini, di rumah ini, di sampingku. Aku tidak akan membiarkan takdir atau kontrak kertas mana pun membawamu pergi dari sisiku."

Gisella terpaku, matanya membelalak menatap ketulusan yang teramat masif di dalam manik mata elang Adrian.

Es di hati sang profesor tidak hanya telah mencair, melainkan telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh api asmara yang kini siap membakar dan mengubah seluruh alur cerita tragis novel ini menjadi sebuah takdir baru yang mereka tulis bersama.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!