Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Bab 4
Hujan gerimis turun di luar. Jendela kantin yang terbuat dari kaca patri buram warisan zaman Belanda yang tidak pernah direnovasi menampilkan pemandangan halaman kampus yang basah dan abu-abu. Pohon-pohon trembesi di sepanjang jalan setapak bergoyang pelan diterpa angin. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutupi kepala dengan tas, mencari tempat berteduh.
Di sudut kantin, di meja paling belakang yang biasanya dipakai anak-anak basket buat meeting, Lusi duduk sendirian. Tangannya menggenggam segelas es teh yang sudah mulai mencair. Di depannya, sepiring nasi goreng yang baru dimakan setengah. Bukan karena kenyang. Tapi karena perutnya sudah tiga hari ini menolak menerima makanan dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan oleh medis.
Cinta.
Atau tepatnya, gegayuhan istilah Jawa yang sering dipakai ibunya dulu: mengharapkan sesuatu yang belum tentu jadi miliknya.
Sudah tiga bulan sejak pertemuan di anak tangga itu. Tiga bulan sejak Irawan membersihkan ludah dari sepatunya. Tiga bulan sejak lesung pipi itu muncul di hidupnya dan menolak untuk pergi. Dan dalam tiga bulan itu, Lusi sudah menjelma menjadi seseorang yang bahkan ia sendiri tidak kenali: seorang gadis yang setiap pagi sengaja lewat depan kelas Manajemen, yang mulai rajin memakai pelembab bibir rasa stroberi, dan yang tiba-tiba bisa menghabiskan tiga jam hanya untuk memilih warna jilbab yang mungkin disukai Irawan.
Padahal, jauh di luar sana, di sebuah desa terpencil di lereng Gunung Lawu, ada seorang lelaki tua yang masih hidup dan bisa menghancurkan seluruh kota hanya dengan satu mantra. Lelaki tua itu bernama Ki Sarowang Prawangsa dukun sakti yang namanya ditakuti dari Banyuwangi sampai Cirebon, yang konon bisa memanggil hujan di musim kemarau dan mencelakakan orang hanya dengan menyebut namanya.
Lelaki tua itu adalah kakek buyut Lusi.
Tapi tidak ada yang tahu. Tidak ada satu pun mahasiswa di Universitas Adiloka yang akan menduga bahwa gadis pendiam, penakut, dan sering jadi korban bullying itu adalah darah daging dukun paling legendaris di tanah Jawa. Lusi sendiri sengaja menyembunyikannya. Bukan karena malu. Tapi karena pesan ibunya sebelum meninggal: "Jangan bilang siapa-siapa siapa kakek buyutmu. Dunia luar belum tentu siap."
Jadi Lusi memilih jadi gadis biasa. Cuma gadis biasa yang sekarang sedang jatuh cinta.
"Lus!"
Suara itu.
Jantung Lusi langsung berdetak dua kali lebih cepat. Ia mendongak. Dan di sana, di pintu masuk kantin, Irawan berdiri dengan rambut basah terkena gerimis. Di belakangnya, tiga orang laki-laki yang selalu mengikutinya ke mana-mana teman-teman se-gengnya, yang Lusi sudah hafal nama dan wajahnya meski belum pernah diajak bicara.
Dimas. Si tinggi kurus yang selalu pakai topi bisbol, ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen, dikenal sebagai aktivis kampus yang vokal dan karismatik. Pacarnya, Sinta, adalah salah satu selebgram dengan followers lima puluh ribu.
Rendy. Yang gendut dan selalu tertawa. Pemilik usaha clothing line kecil-kecilan yang lumayan sukses. Bapaknya anggota DPRD DIY, jadi uang sakunya bisa buat beli motor NMax.
Dan Bayu. Si pendiam yang tatapan matanya selalu membuat Lusi tidak nyaman. Berbeda dengan dua lainnya, Bayu jarang bicara. Tapi setiap kali Lusi melirik, mata Bayu selalu sudah menatapnya lebih dulu. Seperti sedang mengamati. Seperti sedang menilai. Seperti predator yang sedang menghitung kapan waktu yang tepat untuk menerkam.
"Eh... Kak Irawan..." Lusi berusaha bersuara senormal mungkin. Gagal.
"Ih, dipanggil Kakak lagi." Irawan berjalan mendekat, menyeka rambutnya yang basah dengan tisu. Lesung pipinya muncul. "Udah tiga bulan kenal masih formal aja. Panggil Wan aja, kali."
Tiga temannya mengikuti di belakang. Dimas langsung menyerobot kursi di samping Lusi, membuatnya sedikit tersentak. Rendy duduk di seberang, langsung mencomot kerupuk dari piring nasi goreng Lusi tanpa permisi. Bayu memilih berdiri, menyender di dinding dengan tangan disilangkan di dada. Matanya masih menatap Lusi, dan kali ini ada sesuatu di tatapan itu. Sesuatu yang lapar.
"Sendirian aja, Lus?" tanya Dimas sambil menyengir lebar. Senyumnya terlalu lebar, seperti salesman asuransi yang baru ketemu target nasabah. "Mbak-mbak cantik kayak gini kok nggak ada yang nemenin?"
"A... aku memang biasa sendiri, Kak..."
"Wah, sayang banget." Dimas melirik Irawan. Kedipan mata terjadi di antara mereka. Sekilas. Tapi Lusi menangkapnya. "Wan, lo sering-sering ngajak Lusi main dong. Kasian tuh anaknya keliatan kesepian."
Irawan tertawa kecil. "Dimas, lo tuh kalo ngomong suka nggak ada filter."
"Emang kenapa? Gue cuma bilang fakta."
Lusi menunduk. Pipinya terasa panas. Entah karena malu atau karena ada sesuatu dalam cara Dimas berbicara yang membuatnya merasa... diobservasi. Seperti mereka sedang menilainya. Memeriksanya. Memastikan sesuatu.
Tapi perasaan itu cepat berlalu begitu Irawan menarik kursi dan duduk tepat di sampingnya. Bahunya nyaris menyentuh bahu Lusi. Aroma parfum kayu-kayuan dari tubuhnya tercium jelas maskulin, tapi lembut.
"Eh, Lus. Sabtu nanti ada acara wayang kulit di Alun-Alun Utara. Kakek gue yang dalang. Lo mau nonton?"
Tawaran itu jatuh seperti bom di kepala Lusi.
Dia ngajak gue. Dia ngajak gue. DIA NGAJAK GUE.
"S... Sabtu?"
"Iya. Ada acara tahunan dari Dinas Pariwisata. Kakek gue tiap tahun selalu tampil. Seru deh, ceritanya Bima Suci. Lo pasti tau kan, Bima? Suaminya Arimbi?" Irawan nyengir. "Cocok nih buat lo."
Dimas terkekeh. Rendy ikut-ikutan, meskipun keliatan nggak ngerti apa yang lucu. Bayu masih diam. Masih menatap. Masih seperti patung yang kebanyakan menilai.
"A... aku..." Lusi menelan ludah. "Boleh, Kak… eh, Wan. Aku mau."
Tenang, Lus. Jangan keliatan terlalu antusias. Santai. Cool. Cool...
"Okee! Nanti gue jemput jam enam ya. Kost lo di daerah Prawirotaman kan?"
Lusi membeku. Dia tahu alamat kostku? "Ko...kakak tahu?"
"Lo pernah cerita waktu itu. Pas di tangga, inget nggak? Lo bilang kost lo deket angkringan Lik Man." Irawan mengangkat bahu santai. "Gue sering lewat sana. Enak sih nasgor-nya."
Dia ingat.
Dari semua hal yang Lusi ucapkan hari itu dengan suara bergetar dan terbata-bata Irawan ingat di mana ia tinggal. Perasaan hangat menjalar di dada Lusi. Seperti madu yang dituangkan perlahan ke dalam teh. Manis. Menenangkan. Membius.
Kalau Lusi tahu bahwa madu itu sebenarnya racun, mungkin ia akan berhenti meneguknya saat itu juga.
Sabtu malam. Alun-Alun Utara Surabaya.
Malam minggu, alun-alun sisi utara seperti lautan manusia lampu warna-warni dari tenda-tenda makanan memercikkan cahaya ke monumen bambu runcing membuat pilar-pilar itu berubah warna, kuning, merah, biru, seperti bambu-bambu yang menari.
Langit malam itu cerah. Ratusan bintang berkelap-kelip di atas alun-alun yang dipenuhi penonton. Panggung besar dari bambu dan kain hitam didirikan di sisi selatan, dihiasi ornamen wayang raksasa yang dilukis dengan cat emas. Gamelan sudah mulai ditabuh, menciptakan irama yang magis dan menghipnotis. Suaranya bergema di antara dua pohon beringin kembar yang berdiri seperti penjaga di tengah alun-alun.
Lusi berdiri di samping Irawan, di barisan depan penonton. Jantungnya berdebar bukan karena gamelan. Bukan karena wayang. Tapi karena bahu Irawan yang sesekali menyentuh bahunya setiap kali mereka bergerak.
"Lihat, itu kakek gue."
Irawan menunjuk ke arah panggung. Seorang lelaki tua berwajah bijaksana duduk di belakang kelir layar putih tempat bayangan wayang dimainkan. Tangannya yang keriput menggerakkan wayang dengan luwes, sementara suaranya yang dalam melantunkan dialog dalam bahasa Jawa kuno yang indah.
\[BERSAMBUNG…\]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥